by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Mama


Mama dimataku, adalah sosok yang begitu hebat. Dengan kondisiku yang menderita gangguan bipolar, mama adalah seorang yang sabar, mendukung penuh, semangat, penyayang, pengasih, kuat, dan tegar. Mungkin masih banyak kata-kata yang bisa menggambarkan dirinya. Kadang aku merasa hanya bisa merepotkan mama saja dengan penyakitku ini. Aku berpikir lebih baik mama tidak melahirkan aku ke dunia. Tapi mama mengandungku selama 9 bulan bulan, merawatku selama 19 tahun, dan mama bilang, "Susah di dunia masih ada yang membantu, tapi kalau di akhirat tak ada yang bisa membantu.." Lalu dengan senyumnya, mama memelukku dan memberikan aku dukungan untuk melawan manik depresiku. Oh mama, tak ada kebaikan di dunia ini yang bisa menandingi kebaikanmu untukku. Terima kasih mama.. Aku cinta padamu..

Curhat ( 4 )


Belakangan ini jadwal di kampus gw banyak liburnya. Asyik sih sebenernya, tapi bagi gw malah menjadi sebuah masalah sendiri. Gw gampang bosan ! Disaat libur, gw melakukan banyak hal sesuai dengan list kerjaan yang gw buat. Tapi setelah selesai, jeng jeng.. Rasa bosan mulai datang. Gw udah kehabisan ide untuk melakukan apa lagi. Selain itu, gw juga sudah mulai hilang minat dengan kegiatan yang biasa gw lakukan. Hmmmh, mencari yang baru pun tidak tertarik. Antara depresi tapi punya tenaga yang tidak tersalurkan. 

Kemaren gw kuliah hanya sejam. Sorenya gw mulai resah. Soalnya hari ini libur. Gw kelimpungan mikirin apa lagi yang harus gw lakukan. Dulu gw bisa tidur kalau sudah mentok. Tidur adalah salah satu cara ampuh disaat emosi gw berasa mau meledak. Tapi sekarang gw mengalami gangguan tidur. Tidur gw tipis. Tidur-tidur ayam ya istilahnya.. Sebentar-sebentar bangun, dan susah untuk mulai tidur lagi. Jadi pas bangun gw gak seger, masih ngantuk. Mau tidur lagi susah. Fiuuh. Menderita..

Well, kemaren juga gw saking gundahnya kepikiran untuk bunuh diri lagi. Disaat seperti itu gw berusaha membaca kembali tulisan-tulisan penyemangat gw di blog ini, dan percuma, gw tetap menganggapnya sebagai bullshit. Akhirnya gw telpon nyokap, berdzikir, dan alhamdulillah setelah perjuangan berat gw bisa tenang dan berusaha tidur. Hari ini gw bangun dengan mood yang gw rasa normal. Gak bersemangat dan gak sedih. Biasa aja. Tapi ya who knows apa yang akan terjadi beberapa jam bahkan menit lagi.. Hehe. Semoga mood gw tetap terkontrol. : )

Benarkah Tuhan Itu Tidak Adil ?



Mungkin kita sebagai manusia pernah mengatakan bahwa Tuhan tidak adil, tidak pemurah, tidak pengasih, dan tidak penyayang. Benarkah itu ? Coba pikir lagi.

Saya sendiri awalnya berpikiran sama. Saya menuduh Tuhan tidak adil karena memberi saya masalah. Saya menuduh Tuhan tidak pemurah, pengasih, dan penyayang karena tidak pernah mengabulkan doa saya. Tapi setelah saya pikir lebih jauh, ternyata saya salah.

Dari dulu saya berdoa meminta kemudahan agar bisa menjadi seorang dokter yang sukses. Memang 3 tahun pertama perjalanan saya mulus. Tapi ternyata saya harus menerima bipolar sebagai bagian dari diri baru saya. Kini perjalanan saya menjadi dokter tak semulus dahulu. Saya menyalahkan Tuhan. Tapi, kini saya justru bersyukur.

Saya menyadari bahwa doa saya, isinya meminta kemudahan. Lalu Allah memberi saya kesulitan. Bukankah itu sebuah bentuk kasih sayang Tuhan kepada saya ? 

Coba lihat QS 94 ayat 5-6. Disebutkan dua kali bahwa setelah kesulitan akan ada kemudahan. Jadi, sesuai kan dengan doa saya ?

Betapa sayangnya Tuhan kepada saya karena telah mendengar doa yang setiap hari saya ucapkan, lalu mengabulkannya. Tuhan memang mempunyai cara sendiri dalam mengabulkan doa kita. Tinggal bagaimana kita bisa menyadarinya. Semua akan lebih mudah jika diawali dengan rasa syukur. 

Saya bersyukur dengan keadaan saya yang sekarang walaupun harus berjuang melawan mood swing yang ekstrem. Seiring berjalannya waktu, saya menjadi lebih bijak dan hati saya bisa merasakan kasih sayang Tuhan itu. Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan. Kini, saya meminta untuk diberi kekuatan dalam menghadapi kesulitan.

Bagaimana dengan Anda ? : )

True Story : Manic. Perjuangan Melawan Manik Depresi

Saat jalan-jalan di toko buku, kebetulan gw menemukan buku berjudul "Manic : Perjuangan Melawan Manik Depresi.". Langsung gw ambil dan beli buku itu. Untuk temen-temem sesama penderita bipolar atau temen lain yang penasaran sama bipolar, bisa beli buku ini. Kayaknya bagus kalau penasaran kaya apa sih yang dirasain penderita bipolar. Oh iya, nama pengarangnya Terri Cheney.


Tapiiii...

Hati2 ya kalau masih belum stabil. Gw sendiri cuma baca 1 bab pertama. Kenapa ? Karena saat baca buku ini, gw malah tambah larut dengan bipolar gw. Ada ide untuk ngikutin jejak itu si penulis buku untuk shopping dan bunuh diri karena merasa 'senasib'. Jadi, kalau merasa dirinya belum kokoh atau siap, mening nggak usah baca. Kalau gw dikhawatirkan malah jadi tambah merasa sakit dan susah bangkit. Tapi kalau kuat mungkin bisa sharing gimana rasanya setelah baca buku ini..

Semoga membantu dan bisa nambah referensi bacaan anda.. : )

Jawaban

Beberapa hari yang lalu gw ngeliat post di curhatkita.blogspot.com tentang bipolar. Ini jawaban gw tentang post itu..

2 Pertanyaan Tentang Bipolar Yang Belum Terjawab Tuntas

Dalam ilmu psikiatri, faktor penyebab gangguan jiwa itu banyak dan kompleks. Nggak bisa dinilai dari satu aspek saja. Ada beberapa faktor diantaranya, bawaan lahir ( genetik ), kelainan saat lahir ( kurang oksigen misalnya.. ), budaya, kepribadian yang terbentuk sejak kecil, dan beban psikosoial penyebab stres.

Bipolar akan tetap ada dalam diri penderitanya walaupun sudah normal. Dengan obat-obatan, aktifitas sosial / olahraga, kegiatan spiritual, dan psikoterapi, bipolar bisa sembuh dan penderitanya normal. Istilahnya remisi total. Tapi kemungkinan untuk kambuh tetap ada. Makanya disebut gak akan bisa hilang. Bedanya dengan skizofrenia, kalau skizofrenia gejalanya akan tetap ada walaupun ringan. Istilahnya remisi parsial.

http://curhatkita.blogspot.com/2010/12/apakah-bisa-mengontrol-bipolar-tanpa.html

Apakah Bisa Mengontrol Bipolar Tanpa Obat

Menurut saya mungkin saja bisa. Tapi perlu diingat kemungkinan kambuh tetap ada. Dan saya sendiri sebagai orang bipolar merasa lebih normal setelah minum obat. Selama ini saya hidup hanya dalam mimpi.. Setelah minum obat jadi realistis dan merasa seperti orang lain pada umumnya. Kita tak pernah tahu bagaimana rasanya jadi orang normal sebenarnya karena pada dasarnya kita berbeda..

http://curhatkita.blogspot.com/2010/12/2-pertanyaan-tentang-bipolar-yang-belum.html

Semoga jawaban gw membantu. Sekalian liat-liat juga bloh curhatkita.blogsport itu yang punya blognya juga dulu penderita bipolar. : )




Overdosis Obat



Hmmmm, hidup gw memang serba tak terduga.. 2 hari yang lalu gw baru saja keluar dari RS setelah dirawat selama 3 hari, karena overdosis obat. Yup, gw menelan mood stabilizer gw sebanyak 10 butir sekaligus dalam satu malam. Begini ceritanya..

Sabtu, 13 November 2010

Gw bangun dengan semangat. Gw merasa bahagia. Berhubung dirumah sedang tidak ada pembantu, gw melakukan pekerjaan rumah sehari-hari. Gw menyuci baju orang-orang serumah, bersihin kamar, beresin kulkas, dan lainnya. Saat itu gw merasa diri gw sembuh dan sudah normal. Bebas dari mood sing dan blablabla-nya. Kenapa ? Karena gw pikir tumben banget gw tanpa disuruh mau melakukan banyak hal seperti itu. Siang hari setelah semua kerjaan gw selesai, turun hujan lebat. Entah kenapa gw pengen menikmati hujan. Jadi gw duduk di teras belakang sambil memandang hujan. Gw memandangi rintik hujan sambil mendengar lagu Starry Night. Tiba-tiba saja gw inget semua masalah gw. Kalau sudah begini, susah bagi gw untuk mengontrol mood dan menggunakan akal. Mungkin terlihat sepele bagi kalian yang normal. Tapi bagi gw ini susah. Mood gw naik turun begitu saja tak menentu. Gw sedih. Gw nangis sendiri. Gw merasa kesepian. Gw merasa tidak ada harapan. Lalu gw mencoba menuliskan perasaan gw dengan menulis di blog ini. Bisa dilihat di Curhat ( 3 ). Setelah menulis itu gw merasa lebih lega. Lalu gw berpikir untuk pergi keluar rumah. Dengan mood seperti itu, gw takut untuk pergi sendirian. Jadi gw berniat mengajak orang tua gw. Saat itu nyokap tertidur lelap karena kelelahan. Bokap pergi main golf. Hmmmh, yasudah gw batalkan niat gw. Gw menonton TV, bermain game, tidur sesaat, makan, nonton TV lagi, main musik, dan kegiatan lainnya yang biasanya ampuh meredam mood gw. Tapi kali ini, semakin gw coba meredam mood, gw semakin kesal. Kesal yang amat sangat. Gw cuma pengen tenang. Titik. Hanya ingin tenang tidak merasakan kesal, sedih, atau apalah itu. Tapi tak ada yang membuat gw tenang. Akhirnya gw menusuk-nusuk sebuah bantal dengan gunting, lalu merobeknya dengan cutter. Tidak puas juga, gw mencakar tangan gw sampai merah-merah. Masih tidak puas juga, akhirnya gw melakukan kembali hal yang menurut gw ampuh walaupun menyiksa. Meminum obat banyak-banyak. Setelah itu gw langsung tidur karena sudah puas dan kekesalan gw terlampiaskan. Malam harinya tak terjadi apa-apa. Gw tidur dengan nyenyak

Minggu, 14 November 2010

Gw terbangun saat adzan subuh berkumandang. Gw duduk dan berniat kekamar mandi. Tapi, saat gw berdiri, badan gw langsung terhempas lagi ke kasur. Wah, ada apa ini, pikir gw. Gw coba berdiri sekali lagi, semua rasanya berputar. Gw gak bisa fokus. Gw kehilangan kordinasi untuk berjalan. Kepala gw terasa ringan sekali. Gawat. Lalu gw menelepon nyokap gw untuk meminta bantuan. Saat itu juga gw dibawa ke UGD sebuah RS oleh nyokap bokap gw. Sampai rumah sakit, gw langsung ditangani dokter. Dia bertanya kenapa gw minum obat sebanyak itu, gw gak bisa menjawab. Gw bilang saja kesal dan sedih. Lalu setelah memeriksa gw, dokter itu bengong memandangi gw. Dalam hati gw, aduh ini dokter malah bengong, do something dong ! Gw antara pengen tertawa, kesel, pusing, lemes, pokoknya campur aduk deh. Saat itu gw demam, nadi gw sangatlah cepat, nafas gw lemah, dan merasa tidak nyaman di daerah perut. Nadi gw terus dimonitor, gw dipasangi infus dan diberi obat injeksi. Entah apalah yang dia kasih. Yang penting gw merasa lebih tenang.

Sayup-sayup diluar, gw mendengar sang dokter berbicara dengan nyokap gw. Dokternya bertanya, obat apa itu yang gw minum. Ya memang sih banyak dokter umum yang tidak mengenal obat-obatan psikiatri. Nyokap gw menjawab mood stabilizer. Lalu mereka menelepon psikiater gw. Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya telepon itu diangkat juga. Psikiater gw juga kaget. Akhirnya gw diminta untuk pindah rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut. Gw dipindahkan ke RS lain dimana psikiater gw praktek.


Gw dibawa ke RS itu dengan ambulans. Ini pertama kalinya gw naik ambulans. Sumpah, gak enak. Haha. Grujuk-grujuk gimana gitu. Soalnya gw pusing banget. Sampai di RS kedua, gw masuk di UGD-nya lagi. Dokter disana sudah diberi tahu kondisi gw. Tapi setelah dia melihat kondisi dan memeriksa gw, lagi-lagi itu dokter bengong ngeliatin gw. Kali ini gw benar-benar tersenyum menahan tawa. Lucu aja. Udah dua dokter bingung melihat gw.

Tak lama, datang dokter lain. Kali ini dokter anestesi, dan dia tidak bengong seperti dua dokter sebelumnya. Dia mengajak gw ngobrol. Dia juga melaporkan keadaan gw ke psikiater gw yang sedang berada di jalan untuk menemui gw. Alhamdulillah gw masih nyambung kalau diajak ngomong.

Setelah itu gw dipindahkan ke bagian rawat inap. Ini ke-3 kalinya gw dirawat sepanjang hidup gw. 2 kali saat masih kecil karena sakit ‘wajar’, dan saat ini karena ‘nggak wajar’. Psikiater gw datang dan dia heran kok gw bisa melakukan hal ini. Lalu kami bercerita seperti saat konsultasi biasa.

Malamnya, gw dikasih obat jenis baru. Ini obat terenak yang pernah gw minum. Setelah gw minum obat itu, gw tertidur sangatlah pulas. Nyenyak senyenyak-nyenyaknya.. Bahkan tidur gw berlanjut sampai jam 1 siang. Hahaha.

Senin, 15 November 2010

Gw bangun dan sadar sepenuhnya pada pukul 1 siang. Sebelumnya gw sempet bangun beberapa kali untuk minum obat, sarapan, dan pengecekan vital sign oleh perawat disana. Tapi ya antara sadar dan nggak. Hehe. Hari ini gw mulai bosan. Paling ya hanya bisa nonton TV. Beruntung malamnya, infus gw dilepas. Jadi lumayan lah bisa lebih bebas bergerak. Walaupun infus dilepas, gw belum boleh pulang. Psikiater gw kembali datang. Malamnya gw diberikan obat yang sama. Tapi esok hari gw tidur cukup sampai jam 9 pagi.

Selasa, 16 November 2010

Hari ini berjalan seperti biasa. Gw sudah mulai bisa berjalan normal. Tapi ya masih tidak bisa jauh-jauh. Kalau kelelahan, masih pusing dan berdebar-debar. Sebelumnya, gw sempet merasa sedih. Jadi, pagi setelah gw bangun, gw sarapan dan minum obat. Setelah itu gw tiba-tiba sadar kalau gw bego banget melakukan hal ini. Baru ‘ngeh’ lah.. Kok gw bego banget minum obat banyak-banyak. Dulu juga pernah tapi setelah itu muntah dan semua kembali normal ( baca Aku dan Diri ‘Baru’-Ku ). Tapi kali ini efeknya membuat gw dirawat 3 hari, naik ambulans segala, ditangani 4 dokter, 2 diantaranya sampai bengong gak tau harus ngapain. Ya Allah, memalukan.

Disaat itu juga, nyokap gw menasehati gw dengan hal yang sudah gw ketahui. Gw diharuskan menerima keadaan, berpikir realistis, optimis, dan tidak melakukan hal bodoh. Kalian bisa lihat sendiri gw sudah pernah menuliskan tentang itu semua di blog ini. Artinya gw benar-benar sudah melaksanakannya kan ? Tapi kalau lagi ‘kacau’ ya gw sendiri gak tahu.. Gw menganggap tulisan gw itu bullshit. Omong kosong. Gw hilang kontrol. Gw menjadi sedih mendengar nyokap berkata seperti itu. Saat itu gw sedang lepas kontrol dan butuh dukungan untuk tetap bisa menjalani hidup. Gw lelah dengan nasehat. Saat mood gw bagus, gw melaksanakan itu semua. Tapi kalau tiba-tiba gw hilang kontrol, ya gw tidak tahu apa-apa. Kenapa gw hilang kontrol pun gw gak tahu. Mungkin memang karena bipolar. Mungkin karena penyebab lainnya. Dan gw sudah berusaha kerasa untuk melawannya.


 Orang hanya melihat bodohnya gw. Melihat kebegoan gw. Meremehkan gw. Mereka tidak melihat bagaimana gw berusaha mengontrol mood gw dengan susah payah. Menahan agar tidak lepas kendali. Berusaha mengalihkan agar diri gw terkontrol. Meminum obat. Berkonsultasi ke psikiater. Itu semua usaha gw. Setiap hari gw adalah prestasi bagi gw. Karena bisa saja gw benar-benar bunuh diri. Tapi Allah masih memberikan gw kesempatan. Gw berusaha kerasa untuk menggunakan kesempatan itu. Tapi ada kalanya gw hilang kendali. Saat itulah gw butuh dukungan. Bukan cacian dan omelan.

Saat psikiater gw datang berkunjung, gw ngumpet di balik gorden kamar rumah sakit. Gw menatap keluar jendela sambil mendengar lagu Starry Night. Tapi akhirnya gw keluar dan mau bercerita dengannya. Karena gw ingin diri gw menjadi diri yang lebih baik. See ? Gw  berusaha bukan ?

Sore harinya gw diizinkan pulang. Gw dibekali obat dan diminta istirahat serta banyak minum. Obatnya disimpan sama nyokap. Gw juga jadi ditemenin nyokap 24 jam. Gak enak juga sih diawasi 24 jam. Ya tapi gw mengerti bagaimana khawatirnya nyokap gw. Terima kasih mama. : )

Semoga ini benar-benar terakhir kalinya gw nekat nelen obat banyak-banyak. Gw juga gak pengen lagi. Tapi ya who knows. Semoga Allah tetap melindungi gw. Amiiin.

3 hari berlalu. Itulah cerita gw overdosis obat. Saat gw menulis ini, gw masih sedikit keliyengan. Terutama kalau kelelahan. Jadi daritadi gw tidur-tiduran aja. Untung mood gw terkontrol. Jangan ditiru ya ! Hehe.


Curhat ( 3 )


Tak banyak hal yang terjadi belakangan ini. Tapi sekalinya datang sebuah hal, gw langsung merasa sedih dan kesal.

Pertama, masalah keluarga. Gw gak tahan mendengar keluhan nyokap. Dia bilang betapa lelahnya dia setiap hari harus mengurus semuanya sendirian. Mulai dari mengantar adik gw ke sekolah dan tempat les, mengurus usaha kostan, urusan renovasi rumah, mengatur keuangan, dan tugas ibu rumah tangga lainnya. Bokap gw menyerahkan semua kepada nyokap. Pokoknya yang penting bokap cari duit dan melakukan hal yang menyenangkan yaitu golf. Lalu bagaimana dengan gw ? Gw sempet depresi mendengarnya. Sedih. Bersalah. Hati gw teriris. Dulu gw bisa membantu nyokap gw meringankan bebannya walaupun sedikit. Minimal, gw tidak merepotkan nyokap untuk mengurus gw. Tapi, beberapa hari lalu bokap bilang kalau gw harus bisa mengontrol diri gw. Dia bilang kadang di malam hari nyokap gw menangis karena terpukul dengan kondisi gw ini. Bayangkan saja bagaimana perasaan gw sekarang. Untuk mengurus diri saja gw perlu dukungan. Satu-satunya yang akan setia mendukung gw pastilah keluarga. Terutama nyokap. Dia yang selalu ada di samping gw memberikan dukungan. Bokap hanya sekedar mendengar kabar dari nyokap tentang gw. Adik gw tidak terlalu tahu masalah ini. Teman-teman dekat gw juga punya urusan masing-masing. Gw tidak bisa sepenuhnya mengandalkan mereka. Jadi ya gw sedih aja.. Gw merasa sendirian. Tapi, walaupun gw sekarang jarang solat karena takut berpikir aneh seperti yang gw ceritakan di Curhat ( 1 ), gw masih berdzikir, masih berusaha dan berdoa kepada Allah. Masih ada Allah yang gw punya. Semoga Allah mendengar doa gw..

Kedua, masalah tanggung jawab gw. Selain kuliah mendengar dosen, ada semacam diskusi kelompok yang harus gw jalani. Gw sering bolos diskusi itu. Kenapa ? Karena gw takut tiba-tiba kesal, lelah, atau apalah itu dan gw tidak bisa mengontrolnya. Masalahnya, teman diskusi gw itu tetap memberikan gw tanggung jawab untuk mengerjakan tugas kelompok. Mereka memang tidak tahu gw Bipolar II. Dan gw pun bukannya tidak ingin mengerjakan tugas bagian gw, tapi gw hanya terlalu lelah dan belum bisa dibebani tugas itu. Yang gw rasa sekarang, sangatlah berat untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab gw. Gw hanya ingin melakukan apa yang gw suka selama gw dalam proses pengobatan bersama psikiater. Diharapkan dalam 6 bulan setelah terapi gw bisa kembali normal seperti diri gw dahulu. Bipolar II gw bisa teredam walaupun harus tetap minum obat untuk mencegah kekambuhan. Gw sudah berkomitmen dengan diri gw untuk mengikuti rencana terapi. Gw ingin kembali normal dan melanjutkan apa yang telah gw mulai. Terutama kuliah. Gw masih ingin menjadi seorang yang sukses walaupun tidak menjadi dokter. Allah tahu yang terbaik untuk gw. Saat ini gw hanya butuh pengertian. Sebenarnya ini sebuah dilema sih. Kalau gw cerita ke teman diskusi gw, belum tentu mereka bisa mengerti keadaan gw. Karena saat ini stigma mereka masih negatif. Ada juga nanti gw tambah dianggap aneh. Tapi kalau gw nggak cerita, mereka akan tetap memberi gw tanggung jawab karena dianggap mampu. Lalu gw tidak bisa memenuhi, dan gw dianggap sebagai anggota kelompok yang tidak bertanggung jawab. Gw tidak tahu harus bagaimana. Gw sudah usaha sebisa gw untuk mengerjakan tugas itu. Gw juga fokus kepada terapi gw agar gw bisa kembali mengerjakan tanggung jawab gw. Biarlah waktu dan Allah yang menjawabnya.

Hmmm, gw akui gw memang merasa takut, khawatir, dan cemas. Gw takut solat karena ingat saat peristiwa saat gw solat muncul ide bunuh diri. Gw takut bepergian sendirian karena pernah mengalami serangan panik. Gw mencoba sekali untuk pergi shopping sendirian. Hasilnya, saat shopping gw aman-aman saja. Tapi setelah itu gw merasa tenaga gw masih berlebih dan bingung harus ngapain lagi, jadinya kesal sendiri pengen meluapkan amarah. Gw tidak tidur semalaman. Gw kelimpungan dan tidak tenang. Rasa seperti itu sangat menyiksa. Gw juga takut untuk pergi diskusi dan kuliah, karena khawatir gw lepas kendali dan teman-teman gw menganggap gw aneh. Gw takut dengan hidup gw. Makanya gw hanya melakukan apa yang gw mau dan sukai selama proses terapi ini. Gw yakin seiring berjalannya waktu, perlahan gw akan kembali seperti diri gw yang dulu. Gw yang bertanggung jawab dan bisa menyelesaikan masalah tanpa beban.

Potensi Dibalik Keterbatasan



Beberapa dari anda mungkin pernah menyaksikan salah satu iklan produk rokok, dimana sang bintang iklan mengucapkan sebuah kalimat yang menurut saya maknanya dalam.

“Dari keterbatasan, lahir kreativitas.”

Mendengar kata itu, reaksi pertama saya adalah tersenyum lebar. Saya menghubungkan kalimat itu dengan kondisi saya sekarang. Saya dan Bipolar II. Pada awalnya, saya menganggap Bipolar II yang ada pada diri saya ini sebagai sebuah keterbatasan. Saya kehilangan kontrol atas diri saya karena mood swing yang saya alami. Saya takut untuk melanjutkan hidup, takut ‘ngamuk’ saat merasa terganggu, dan takut tiba-tiba ‘aneh’ didepan teman-teman. Saya merasa diri saya dibatasi oleh Bipolar II.

Tapi, setelah saya berpikir lebih luas, dibalik keterbatasan yang saya miliki, tersimpan potensi yang besar. Disaat saya bahagia, saya mempunyai banyak ide yang saya tuangkan dalam gambar, tulisan, dan musik. Disaat saya sedih, saya juga mencoba mengurangi kesedihan dengan menggambar, menulis, atau bermain musik. Bukankah itu bentuk sebuah kreativitas ?

Mungkin saat ini kegiatan yang dapat saya lakukan terbatas. Berat rasanya jika saya harus melaksanakan kewajiban yang menjadi tanggung jawab saya. Terutama kuliah. Usaha saya dalam mencapai cita-cita menjadi terhambat. Tapi di sisi lain, saya bisa menghasilkan karya dari ide-ide yang bermunculan dalam pikiran saya. Jika saya memanfaatkan sisi lain itu, saya bisa saja menjadi seniman, penulis, atau komposer. Karena selain diberikan ‘penyakit’, Tuhan memberikan saya anugerah berupa kreativitas. Bukan bermaksud untuk menyombongkan diri, tapi belum tentu orang normal bisa menghasilkan karya seperti yang saya buat.

Tak hanya kreativitas, potensi yang tersimpan bisa berupa energi untuk melakukan hal yang produktif, semangat serta optimisme untuk mencapai cita-cita, pemecahan masalah yang brilian, ide dalam berbisnis, dan banyak lainnya. Tinggal bagaimana anda menggalinya.

Sekarang lihat buktinya. Sebelumnya, saya sudah menuliskan tentang selebriti yang memiliki gangguan Bipolar. Memang benar kan bahwa walaupun mereka hidup dengan bipolar, mereka bisa menghasilkan karya besar yang dikenang masyarakat. Jadi, dengan penanganan yang tepat, gangguan Bipolar II bisa diubah dari sebuah penyakit menjadi aset yang menguntungkan. Selain selebriti yang saya sebutkan dalam tulisan saya, masih banyak penderita Bipolar II lain yang menghasilkan karya dalam dunia seni, politik, bisnis, dll. Anda bisa mencari lebih lanjut lewat Google atau mesin pencari lainnya.

Bagaimana dengan pembuktian ilmiahnya ? Saat mencari di Google, saya menemukan buku yang membenarkan hal ini. Diantaranya buku berjudul “The Hypomanic Edge : The Link Between ( A Little ) Craziness and ( A Lot of ) Success in America” dan “Bipolar II : Enhance your Highs, Boost Your Creativity, and Escape the Cycles of Recurrent Depression”. Saya sendiri belum membacanya, tapi berdasarkan review dan ringkasan singkat kedua buku tersebut, memang benar bahwa Bipolar II berkaitan dengan kesuksesan serta kreatifitas. Selain buku, ada juga penelitian dalam ilmu psikiatri yang menyimpulkan kebenaran hubungan Bipolar II dengan kesuksesan dan kreatifitas. 

Saya juga menemukan beberapa artikel yang mengatakan hal sama. Berikut kutipannya :

Hypomania can also have a benefit in creativity and productive energy. Many have cited it as a gateway to their success, and an incredibly large number of people with creative talents have experienced hypomania or other symptoms of bipolar disorder. Classic symptoms of hypomania include mild euphoria, a flood of ideas, endless energy, and a desire and drive for success.( 1 )

Though this psychopathology is not for one to wish, one interesting association with bipolar disorder is the creativity of those afflicted. This is not the normal creativity experienced by the above-average people ( on the scale of creativity ). This creativity is the creative genius, which is so rare, yet an inordinate percentage of the well-known creative people were / are afflicted with manic depression. One common feature in mania or hypomania is the increase in unusually creative thinking and productivity. They understand a part of art, music, and literature which normal people do not attempt.( 2 )


 Bagaimana ? Tuhan adil kan ? Itulah mengapa dalam Al-Quran, manusia diperintahkan untuk selalu bersyukur. Ada kelebihan dibalik kekurangan. Ada hikmah dalam setiap kejadian. Sesungguhnya hidup tidak sepenuhnya ditentukan takdir Tuhan. Hidup adalah pilihan. Bagaimana anda menjalankan hidup dengan takdir yang Tuhan berikan adalah pilihan anda.


Starry Starry Night


Pertama kali gw denger istilah “Starry Starry Night” yaitu saat gw nonton film The Runaways. Adegannya, Dakota Fanning merenung di dalem mobil sambil ngeliat keluar dari kaca jendela diiringi  lagu yang ada kata “Starry Starry Night”-nya. Rasanya pas liat adegan itu, kok lagunya pas banget di gw. Entah kenapa. Pas aja.

Setelah gw cari tahu lebih lanjut, ternyata lagu itu berjudul Vincent dinyanyikan oleh Don McLean. Bercerita tentang seorang seniman terkenal bernama Vincent van Gogh. Abis itu gw cari lagi tentang Vincent van Gogh. Ada lukisan karya dia judulnya “Starry Starry Night”. Entah kenapa juga gw ngerasa diri gw seperti ada didalam lukisan itu.


 Bisa dilihat pada gambar, gw mendeskripsikan lukisan itu kira-kira begini. Bongkahan batu hitam itu adalah diri gw. Yang kuat, kokoh, dan berdiri tinggi tegak. Kota di bawahnya adalah kehidupan gw. Walaupun gw batu yang kuat, kokoh, dan berdiri tegak, tapi sebenarnya di sisi lain pada batu itu ( sisi yang berlawanan dari sisi yang dilukiskan alias dibaliknya ), sebenarnya batu itu menunjukan ekspresi sedih karena rapuh. Hanya bisa berharap kepada bintang untuk mendapatkan ketenangan, karena pikirannya bergulung-gulung seperti awan di lukisan itu. Warna birunya juga gw banget. Antara kelam tapi indah.

Tapi memang iya loh, gw merasa sangat bahagia dan tenang saat melihat bintang. Pertama kali merasakan hal itu pas lagi di Bandung. Sayangnya cuma sebentar. Sedih banget waktu itu gak nikmatin bintang lama-lama. Abis sekarang susah banget nyari momen yang pas untuk ngeliat bintang. Pernah sampai gw hampir ketiduran di kebon belakang rumah karena keasikan lihat bintang.

Yang lucu, gw juga baru tau kalau si Vincent van Gogh itu bipolar juga. Ya gak tau sih ada hubungannya apa nggak. Tapi kalau gw sih ngerasa sehati aja kaya dia. Nah lirik lagu yang dinyanyikan Don McLean itu juga gw banget. Rasanya kaya Don McLean nyanyi untuk gw. Ini kutipannya..

Now I understand what you tried to say to me,
How you suffered for your sanity,
How you tried to set them free.
They would not listen, they did not know how.
Perhaps they'll listen now.

For they could not love you,
But still your love was true.
And when no hope was left in sight
On that starry, starry night,
You took your life, as lovers often do.
But I could have told you, Vincent,
This world was never meant for one
As beautiful as you.

Gw sih Alhamdulillah Cuma kepikiran untuk bunuh diri doang. Gak sampai gw coba. Semoga aja nggak ya. Well, intinya gw suka deh sama lukisan dan lagu ini.

Oh iya, satu lagi yang menurut gw lucu. Pas nyokap gw lagi hamil gw, dia ngefans banget sama Sinead O’Connor. Kalau ditanya alasannya jawabannya gak tau. Pokoknya ngefans. Dan ternyata oh ternyata, si Sinead O’Connor itu bipolar juga. Kebetulan atau…?

Curhat ( 2 )


Udah jam setengah satu malam tapi gw gak pengen tidur. Padahal tadi jam 9 ngantuk. Sampai kamar malah pengen melakukan banyak hal termasuk nge-blog.


Btw, sekarang gw lagi *dengan sok tahu* menerka-nerka kapan dan kenapa gw bipolar. 



Pertama, mulai dari lahir, gw lahir dengan masalah pada saat persalinan. Jadi gw kekurangan oksigen gitu. Itu salah satu faktor penyebab gangguan jiwa yang muncul pada saat dewasa.



Kedua, bukannya sombong ya, tapi gw bisa dibilang sebagai anak yang berbakat. Kata nyokap, gw bisa jalan, ngomong, dan baca lebih cepat dari anak seusia gw. IQ gw dulu pas SMP sekitar 135.



Ketiga, gw juga adalah seorang yang kreatif. Waktu kelas 5 SD, gw bikin buku kumpulan cerpen yang jadi trend di sekolah. Gw bisa menggambar, design, main musik, bikin puisi / cerpen, pokoknya yang berbau kreatif deh. Setiap hasil karya yang gw buat orang bilang bagus.



Keempat, sejak gw SD kelas 5 itu juga, gw ngerasa kalau masa depan gw cerah. Yakin dan optimis banget gw bakal jadi dokter sukses. Padahal perjalanan gw setelah itu sangatlah panjang. Anehnya, ya ada aja peristiwa kebetulan yang mendukung proses pencapaian cita-cita itu. Jadi gw semakin yakin.



Kelima, penelitian membuktikan bahwa gen untuk kecerdasan dan kecenderungan mengalami gangguan jiwa itu sama. Faktanya coba aja cari di google kalau orang genius, pinter, kreatif rata-rata mengalami gangguan jiwa salah satunya bipolar.



Keenam, khayalan gw sangatlah tinggi. Malah gw ngerasa masa depan gw itu bakal seperti yang gw khayalkan. Dan gw yakin banget itu bakal terjadi. Gak tau deh ini ada hubungannya sama bipolar apa nggak.



Ketujuh, nyokap gw selalu bilang, gw kalau lagi ngomong cepet banget.



Kedelapan, gw bosenan. Gw selalu pengen coba hal baru. Gw punya banyak ide dan imajinasi yang beberapa gw coba realisasikan, tapi sejauh ini gak ada satupun yang benar-benar terealisasi. Gw pernah les ini itu, niat bikin distro, nerbitin majalah, bikin blog kesehatan, dll. Satupun gak ada yang bener-bener serius gw kerjain.



Kesembilan, gw baru inget kalau sebelum gw depresi pada bulan Desember 2009, gw pernah mengalami episode mirip manik. Jadi, gw ceritanya abis bertobat. Dan rasanya bahagia banget pas gw bisa menemukan Allah. Sumpah itu hidup gw yang paling bahagia. Hal kecil dan sepele pun gw anggap sebagai anugrah sampai gw bisa menangis bahagia. Mungkin aja itu udah menjelang manik. Who knows..



Hmmmm, baru segitu yang muncul di pikiran gw. Mungkin gw harus tanya lagi ke psikiater gw ya.



Oh iya, hari ini gw bangun dengan mood bagus. Rasanya pengen jalan-jalan. Kalau nggak jalan, gw ngamuk. Akhirnya gw jalan sendirian dan shopping sampai ngabisin uang sejuta lebih. Biasanya gw belanja heboh gini selalu sama nyokap bokap. Kali ini sendiri, pake duit sendiri juga. Yang penting gw bahagia.. Hehe.

Curhat ( 1 )


Well, ini saatnya aku mencurahkan apa yang kurasa belakangan ini. Ngomong-ngomong, kita ganti bahasanya dari Aku menjadi Gw yah. Biar gak resmi-resmi amet gitu. Hehe.

Gw baru aja pulang diskusi di kampus. Otot gw tegang banget, otak gw capek, kayaknya ada bagian dari pikiran gw yang nolak dan bilang "Udah udah gw udah capek.." Gw gak tau siapa dalam diri gw yang ngomong kaya gitu. Mungkin si depresi. Sekarang gw memang dikontrol obat. Jadi kadang normal, kadang hipomanik, kadang depresi. Gak jelas.

2 hari yang lalu gw seperti mendapat hidayah bahwa gw adalah umat pilihan-Nya dan inilah cobaan yang harus gw terima dari Allah. Gw ikhlas menerimanya. Dan gw merasa optimis kalau masa depan gw akan cerah setelah gw melewati cobaan ini. Gw merasa bahagia. Gak lama kemudian, gw bingung mau ngapain karena rasanya tenaga gw berlebih tapi emosi gw berasa mau meledak. Semua kegiatan yang biasanya ampuh meredam rasa itu udah gw lakukan. Gw bingung mesti ngapain lagi, akhirnya gw kembali mencakar-cakar tangan gw dan menonjok kayu tempat tidur. Setelah puas, gw solat. Gw berpikir dengan solat gw akan lebih tenang. Tapi tiba-tiba setelah solat, pas lagi berdoa, gw berpikir untuk mengakhiri hidup aja soalnya gw gak sanggup kalau Allah memberikan gw cobaan terus. Setelah solat itu gw nangis-nangis karena capek dan sedih dengan hidup gw. Gw benci dengan cobaan gw ini. Itu terjadi setelah gw solat loh.. Dimana-mana orang solat pasti lebih tenang. Kok gw malah pengen bunuh diri.

Saat gw menulis ini, gw merasa lagi normal. Capek gw sudah berkurang. Kalau gw pikir-pikir kejadian 2 hari yang lalu itu, aneh banget rasanya. Dalam hari yang sama dengan jeda waktu beberapa menit gw bisa mengalami hal yang sangat berlawanan gitu. Ya tapi itulah bipolar. Gw udah usaha dengan minum obat, rutin ke psikiater, dan tetap berpegang pada agama kok. Nyatanya itulah yang terjadi dengan gw. Mau diapain lagi..

Gw kan suka mencurahkan isi hati gw ke tulisan, di laptop gw ada file yang berisi tulisan gw. Saat gw sedang senang, gw menuliskan kata-kata untuk memotivasi diri gw. Lalu saat sedih, gw baca kata-kata itu dan gw bingung sendiri bagaimana gw bisa menuliskan kata-kata itu. Gw gak termotivasi sama sekali. Malah berpikir kalau kata-kata itu cuma omong kosong. Padahal itu gw juga yang nulis. Hmmmh. Entahlah. Tapi itu yang gw rasa.

Buat kalian sesama bipolar mungkin ada yang ingin menceritakan pengalaman kalian. Buat kalian yang normal, ya gw cuma ingin menceritakan apa yang gw rasa. Daripada tenaga gw dipakai untuk mencakar atau merusak benda, lebih baik gw menulis kan. : )

Selebriti dengan Gangguan Bipolar


Aku memang tidak sendirian. Banyak penderita Gangguan Bipolar diluar sana. Termasuk para selebriti terkenal yang ternyata juga memiliki Gangguan Bipolar. Berikut adalah ulasannya yang dikutip dari DetikHealth.

Britney Spears
Dugaan bahwa bintang pop ini mengalami gangguan bipolar mencuat ketika fotonya dengan kepala plontos beredar di internet. "Perilakunya yang tidak menentu menunjukkan Spears memiliki gangguan bipolar," ungkap seorang psikolog, Robert Butterworth dalam sebuah wawancara dengan US Weekly. Sementara itu cover story majalah People edisi Januari 2008 juga menyebut beberapa perilaku lainnya yang menguatkan dugaan tersebut. Di antaranya adalah hiperseks, kemampuan membuat keputusan yang buruk serta cenderung impulsif.


Kurt Cobain
Musisi grunge yang namanya meroket bersama band Nirvana ini mengakhiri hidupnya dengan tragis pada umur 27 tahun. Sebelumnya, Cobain tercatat berulang kali melakukan upaya bunuh diri. Pada tahun 2002, majalah Time memasukkan namanya sebagai salah satu Manic Geniuses atas kontribusinya dalam bidang seni. Sebagai catatan, salah satu judul hits Nirvana, Lithium merupakan nama obat yang dipakai sebagai pengendali mood pada penederita gangguan bipolar.



Marilyn Monroe
Dugaan mati bunuh diri terhadap bintang rupawan era 1960-an ini memang masih kontroversial, dan sepertinya akan tetap demikian. Namun dalam film dokumenter berjudul Marilyn Monroe: The Final Days(2001), dr Hyman Engelberg MD yang merupakan dokter pribadi sang bintang memberikan kesaksian. "Dia mengalami manik depresif. Dia mempunyai masalah emosional, moodnya berubah dengan sangat drastis," ungkapnya.


Sinead O'Connor
Satu lagi bintang pop yang menggunduli kepalanya adalah Sinead O'Connor. Saat tampil di The Oprah Winfrey Show tahun 2007, ia terang-terangan mengaku didiagnosis bipolar sejak usia 37 tahun. Sebelumnya, ia pernah mencoba bunuh diri tepat di ulang tahunnya yang ke-33. Sampai sekarang, musisi kelahiran 8 Desember 1966 itu harus mengkonsumsi obat antidepresi dan pengendali mood.


Vincent van Gogh
Pada abad ke-19 ketika van Gogh masih hidup, istilah gangguan bipolar memang belum dikenal. Namun pelukis legendaris ini diketahui memiliki gangguan mental termasuk fluktuasi mood yang luar biasa. Sebuah kritik seni yang dimuat Washington Post tahun 1998 mengatakan demikian, "Saat moodnya naik, ia melukis dengan penuh keyakinan diri dan luapan energi yang menggambarkan kemarahan. Saat moodnya turun, lukisannya banyak menggambarkan keragu-raguan dan rasa takut."


Sumber :
http://www.detikhealth.com/read/2010/05/16/153005/1357913/766/selebriti-dan-gangguan-bipolar

Gangguan Mood Bipolar




Definisi

Gangguan bipolar (GB) merupakan gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup.

Epidemiologi

Prevalensi GB I selama kehidupan mencapai 2,4%, GB II berkisar antara 0,3%-4,8%, siklotimia antara 0,5%-6,3%, dan hipomania antara 2,6%-7,8%. Total prevalensi spektrum bipolar, selama kehidupan, yaitu antara 2,6%-7,8%.

Manifestasi Klinik

Di bawah ini adalah jenis-jenis GB sesuai dengan kriteria diagnostik yang terera dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders IV-Text Revision ( DSM-IV TR ).

Episode Manik

Paling sedikit satu minggu (bisa kurang, bila dirawat) pasien mengalami mood yang elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat atau lebih bila hanya mood iritabel) yaitu:

- grandiositas atau percaya diri berlebihan
- berkurangnya kebutuhan tidur
- cepat dan banyaknya pembicaraan
- lompatan gagasan atau pikiran berlomba
- perhatian mudah teralih
- peningkatan energi dan hiperaktivitas psikomotor
- meningkatnya aktivitas bertujuan ( sosial, seksual, pekerjaan dan sekolah )
- tindakan-tindakan sembrono ( ngebut, boros, investasi tanpa perhitungan yang matang ).

Gejala yang derajatnya berat dikaitkan dengan penderitan, gambaran psikotik, hospitalisasi untuk melindungi pasien dan orang lain, serta adanya gangguan fungsi sosial dan pekerjaan.

Episode Depresi Mayor

Paling sedikit dua minggu pasien mengalami lebih dari empat simtom/tanda yaitu:

- mood depresif atau hilangnya minat atau rasa senang
- menurun atau meningkatnya berat badan atau nafsu makan
- sulit atau banyak tidur
- agitasi atau retardasi psikomotor
- fatig atau berkurangnya tenaga
- menurunnya harga diri
- ide-ide tentang rasa bersalah, ragu-ragu dan menurunnya konsentrasi
- pesimis
- pikiran berulang tentang kematian, bunuh diri ( dengan atau tanpa renacana ) atau tindakan bunuh diri.

Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan atau mengganggu fungsi
personal, sosial, atau pekerjaan.

Episode Campuran

Paling sedikit satu minggu pasien mengalami episode mania dan depresi yang terjadi secara bersamaan. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood disforik), iritabel, marah, serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri, insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan.

Episode Hipomanik

Paling sedikit empat hari, secara menetap, pasien mengalami peningkatan mood, ekspansif atau iritabel yang ringan, paling sedikit tiga gejala (empat gejala bila mood iritabel) yaitu:

- grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
- berkurangnya kebutuhan tidur
- meningkatnya pembicaraan
- lompat gagasan atau pikiran berlomba
- perhatin mudah teralih
- meningkatnya aktivitas atau agitasi psikomotor
- pikiran menjadi lebih tajam
- daya nilai berkurang

Tidak ada gambaran psikotik ( halusinasi, waham, atau perilaku atau pembicaran aneh), tidak  memerlukan hospitalisasi dan tidak mengganggu fungsi personal, sosial, dan pekerjaan. Sering kali dilupakan oleh pasien tetapi dapat dikenali oleh keluarga.

Siklus Cepat

Siklus cepat yaitu bila terjadi paling sedikit empat episode – depresi, hipomania atau mania – dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat jarang mengalami bebas gejala dan biasanya terdapat hendaya berat dalam hubungan interpersonal atau pekerjaan.

Siklus Ultra Cepat

Mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam beberapa hari. Gejala dan hendaya lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit diatasi

Simtom Psikotik

Pada kasus berat, pasien bisa mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik yang paling sering yaitu:

- halusinasi ( auditorik, visual, atau bentuk sensasi lainnya )
- waham ( keyakinan yang tidak sesuai realita )

Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania sedangkan waham nihilistik terjadi pada episode depresi. Ada kalanya simtom psikotik tidak serasi dengan mood. Pasien dengan GB sering didiagnosis sebagai skizofrenia.

Klasifikasi

Gangguan Mood Bipolar I

Terdiri dari episode manik dan depresi mayor. Bisa juga episode campuran.

Gangguan Mood Bipolar II

Terdiri dari episode depresi mayor dan hipomanik.

Gangguan Siklotimia

Paling sedikit selama dua tahun, terdapat beberapa periode dengan gejala –gejala hipomania dan beberapa periode dengan gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi kriteria untuk gangguan depresi mayor. Tidak ada episode depresi mayor, episode manik, episode campuran, selama dua tahun gangguan tersebut.

Pengobatan

Pengobatan Gangguan Bipolar dapat menggunakan Stabilisator Mood ( Litium, Valproat, Lamotrigin ), Antipsikotika Atipik ( Risperidon, Olanzapin, Quetiapin, Aripripazol ), Antidepresan. Pemberian obat-obatan dilakukan dibawah pengawasan dokter spesialis kesehatan jiwa ( psikiater ). Selain itu juga dilakukan Intervensi Psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive behavioral therapy (CBT), terapi keluarga, terapi interpersonal, terapi kelompok, psikoedukasi, dan berbagai bentuk terapi psikologi atau psikososial lainnya. Intervensi psiksosial sangat perlu untuk mempertahankan keadaan remisi.



Sumber :
Panduan Tatalaksana Gangguan Bipolar oleh PDSKJI ( Perhimpunan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia ).