by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Aku dan Diri 'Baru'-Ku


Aku adalah seorang gadis berusia 19 tahun. Selama 17 tahun aku hidup, banyak kisah suka duka yang kualami. Mulai dari kritis saat baru lahir, pindah-pindah sekolah saat TK dan SD, masalah di SMA, menghadapi kegagalan, masalah pergaulan, dan banyak lainnya. Tapi aku boleh bangga dengan diriku karena aku bisa melewati masa-masa itu. Kini aku kuliah di Fakultas Kedokteran semester 7.

Selama semester 1 sampai 5, aku dikenal sebagai seorang mahasiswi yang pintar, bersahabat, dapat dipercaya, aktif organisasi, rajin, dan bertanggung jawab. Ya walaupun ada yang mengatakan aku jutek, pendiam, dan prestasiku biasa saja, tapi secara garis besar aku adalah orang yang berkelakukan baik dan berkepribadian menyenangkan.

Kehidupanku berubah di usia yang ke-18. Saat itu aku sudah berubah dari seorang remaja labil menjadi dewasa yang mulai matang. Atas dasar itu, mama mulai percaya untuk berbagi masalahnya denganku. Semua ia ceritakan mulai dari masa lalu, keuangan, keinginan, impian, deritanya, hubungannya dengan papa, masalah adik, dan banyak masalah lainnya. Aku tidak menyangka bahwa selama ini mama menyimpan beban berat dan kisah dukanya sendirian.

Pada awalnya aku berniat membantu meringankan beban mama. Aku mencoba menghibur dan memberi mama semangat. Di waktu yang tepat, aku mencoba menggali lebih dalam untuk mencari akar permasalahan mama agar bisa memberi solusi. Tetapi, semakin dalam kugali, semakin banyak fakta yang terungkap. Semakin kaget juga aku dengan kenyataan itu. Aku tidak bisa menerima keadaan yang selama ini disembunyikan. Itulah awalnya bagaimana aku bisa sampai depresi. Saat itu bulan Desember tahun 2009.

Selama 2 bulan lebih aku mengalami depresi. Awalnya ringan. Tapi karena masalahnya belum selesai, depresiku semakin berat. Semua gejala depresi kualami. Aku tidak bisa lagi menjalankan aktifitas sehari-hari dan kuliahku kacau. Akhirnya, pada bulan Februari tahun 2010, mama membawaku ke psikiater. Aku minum obat anti-depresi selama kurang lebih 4 bulan.

Merasa kondisiku sudah membaik, aku berhenti meminum obat anti-depresi tanpa konsultasi terlebih dahulu. Keputusan itu kuambil karena aku merasa sudah normal dan bisa kembali beraktifitas. Buat apa merusak tubuh dengan meminum obat.. Saat itu, aku merasa hidupku sangatlah bahagia. Senang rasanya bisa bangkit dari depresi. Aku mencoba banyak hal baru, hutang nilai kuliahku terbayar, kembali aktif berorganisasi, dan membantu teman-teman yang sedang ada masalah. Saat itu aku merasa percaya diriku meningkat dan sangat optimis bahwa masa depanku cerah.

Tapi, kebahagiaan itu hanya bertahan selama 1 bulan. Kebahagiaan yang tadinya kurasa berubah menjadi kesedihan yang tiba-tiba. Mood aku kacau. Aku tidak lagi bisa mengontrol diriku. Satu waktu aku merasa senang, di waktu lain aku sedih tanpa sebab. Rasa itu datang silih berganti tak dapat diduga. Kadang aku merasa ada amarah yang sangat besar dan aku tidak tahu harus melampiaskannya kemana. Beberapa kali aku mencakar-cakar tanganku sendiri dan merusak barang di sekitarku. Aku bukanlah diriku lagi.

Lalu aku kembali menemui psikiater. Kali ini aku diberi obat untuk menstabilkan mood. Aku sangat terbantu dengan obat itu. Walaupun tidak sepenuhnya kembali seperti diriku, paling tidak aku bisa melakukan aktifitas sehari-hari. Tapi lagi-lagi, aku berhenti meminum obat. Kebetulan, aku juga mengalami gangguan hormon yaitu Sindrom Ovarium Polikistik. Keadaan itu mengharuskan aku meminum banyak obat juga. Aku muak dengan semuanya dan ingin mencoba mencari diriku tanpa bantuan orang lain atau obat-obatan.

Aku berusaha dan terus berusaha. Tapi, bukannya perbaikan yang kudapat, malah kondisiku lebih buruk dari sebelumnya. Pada puncaknya, bulan September tahun 2010, aku meminum obat untuk Sindrom Ovarium Polikistik yaitu Glucophage XR sebanyak 9 butir. Aku melakukan itu tanpa sebab yang jelas. Aku tidak ingin bunuh diri dan tahu obat itu tidak menyebabkan aku mati. Aku hanya ingin mencobanya. Tidak tahu kenapa.

Mood aku juga semakin kacau. Rasa senang dan sedih kembali datang bergantian tanpa peringatan. Aku bisa saja bangun pagi dengan optimis, menjalankan aktifitas, bersenang-senang, dan sorenya tiba-tiba merasa sangat sedih dengan hidupku seperti tidak ada harapan lagi. Aku tidak tahu mengapa. Kadang amarah itu juga datang kembali. Awalnya aku coba alihkan dengan membuat scrapbook, menggambar, olahraga, dan bermain musik. Tapi lama-lama strategi itu tak lagi bisa menahan amarah dan rasa kesalku. Aku kembali melukai diri dan merusak barang. Kuliahku kembali kacau. Berat rasanya untuk melaksanakan sesuatu yang menjadi kewajiban dan tanggung jawabku

Kadang disaat senang, aku mencurahkan isi hatiku kedalam sebuah tulisan. Disaat sedih, aku baca tulisan itu dan aku sendiri bingung bagaimana aku bisa menulis itu. Rasanya seperti ada 2 sisi di dalam diriku yang berlawanan. Keduanya muncul bergantian tapi aku tidak bisa mengontrolnya.

Akhirnya aku kembali menemui psikiater. Kali ini aku berkomitmen untuk menjalankan rencana terapi dengan tuntas. Aku kembali diberi obat untuk menstabilkan mood dan rutin berkonsultasi. Alhamdulillah perlahan aku mulai menemukan titik terang tentang diriku yang ‘baru’ ini.

Tadinya, aku menyalahkan mama karena beliau yang membuat aku pertama depresi. Aku kecewa dan benci dengan diri ‘baru’-ku ini. Tapi, setelah menjalankan terapi, aku mulai bisa menerima keadaan. Aku ikhlas dengan kondisiku sekarang. Ini adalah kehendak Allah. Bukan keinginanku atau keinginan mama. Ini adalah cobaan yang Allah berikan untukku, karena Allah tahu aku mampu. Allah sayang padaku dan Ia ingin aku menjadi manusia yang lebih baik dan bersyukur melalui diriku yang ‘baru’.

Sosok ‘baru’ yang ada dalam diriku sekarang adalah sebuah gangguan mood yang disebut dengan Bipolar tipe II. Penyebabnya tidak diketahui dengan pasti. Tapi daripada aku bertanya mengapa, berandai-andai, menyalahkan, dan menuntut keadaan, kurasa lebih baik aku menerima diri ‘baru’-ku ini dan menjalani hidup bersamanya. Dengan meminum obat dan rutin berkonsultasi, diri ‘baru’-ku lebih terkontrol.

Saat ini aku belum sepenuhnya pulih. Tapi aku tak ingin menyerah. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menyelesaikan apa yang telah kumulai. Aku sudah setengah jalan untuk mencapai tujuanku, yaitu menjadi dokter. Aku akan mencapainya. Walaupun panggilan jiwa yang dulunya ada kini berubah menjadi sebuah rasa takut, tapi aku yakin ini adalah bagian dari proses aku mendapatkannya kembali dan memahami arti panggilan jiwa itu sesungguhnya. Aku akan tetap yakin.

Aku tahu Allah menurunkan manusia ke bumi untuk diberi cobaan. Dengan itu, maka manusia akan lebih bersyukur dan sabar, sehingga ditinggikan derajatnya. Tetapi, Allah tidak akan memberi cobaan diluar kemampuan hamba-Nya. Jadi aku yakin aku mampu. Allah juga menyebutkan bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan. Aku tahu bahwa setiap masalah ada jalan keluarnya. Semoga keyakinanku ini bisa menjadi penyemangatku menghadapi cobaan yang Allah berikan.

Satu hari nanti, aku akan kembali membaca tulisan ini dengan rasa bahagia yang sesungguhnya. Mungkin aku akan menitikkan air mata karena aku telah berhasil melewatinya. Aku akan  tersenyum mengingat bagaimana aku menghadapi cobaan demi cobaan sampai akhirnya aku bisa membaca lagi tulisan ini. Aku yakin akan ada hari itu. Maka, aku harus menjalani hari ini walaupun berat. : )