by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Curhat ( 3 )


Tak banyak hal yang terjadi belakangan ini. Tapi sekalinya datang sebuah hal, gw langsung merasa sedih dan kesal.

Pertama, masalah keluarga. Gw gak tahan mendengar keluhan nyokap. Dia bilang betapa lelahnya dia setiap hari harus mengurus semuanya sendirian. Mulai dari mengantar adik gw ke sekolah dan tempat les, mengurus usaha kostan, urusan renovasi rumah, mengatur keuangan, dan tugas ibu rumah tangga lainnya. Bokap gw menyerahkan semua kepada nyokap. Pokoknya yang penting bokap cari duit dan melakukan hal yang menyenangkan yaitu golf. Lalu bagaimana dengan gw ? Gw sempet depresi mendengarnya. Sedih. Bersalah. Hati gw teriris. Dulu gw bisa membantu nyokap gw meringankan bebannya walaupun sedikit. Minimal, gw tidak merepotkan nyokap untuk mengurus gw. Tapi, beberapa hari lalu bokap bilang kalau gw harus bisa mengontrol diri gw. Dia bilang kadang di malam hari nyokap gw menangis karena terpukul dengan kondisi gw ini. Bayangkan saja bagaimana perasaan gw sekarang. Untuk mengurus diri saja gw perlu dukungan. Satu-satunya yang akan setia mendukung gw pastilah keluarga. Terutama nyokap. Dia yang selalu ada di samping gw memberikan dukungan. Bokap hanya sekedar mendengar kabar dari nyokap tentang gw. Adik gw tidak terlalu tahu masalah ini. Teman-teman dekat gw juga punya urusan masing-masing. Gw tidak bisa sepenuhnya mengandalkan mereka. Jadi ya gw sedih aja.. Gw merasa sendirian. Tapi, walaupun gw sekarang jarang solat karena takut berpikir aneh seperti yang gw ceritakan di Curhat ( 1 ), gw masih berdzikir, masih berusaha dan berdoa kepada Allah. Masih ada Allah yang gw punya. Semoga Allah mendengar doa gw..

Kedua, masalah tanggung jawab gw. Selain kuliah mendengar dosen, ada semacam diskusi kelompok yang harus gw jalani. Gw sering bolos diskusi itu. Kenapa ? Karena gw takut tiba-tiba kesal, lelah, atau apalah itu dan gw tidak bisa mengontrolnya. Masalahnya, teman diskusi gw itu tetap memberikan gw tanggung jawab untuk mengerjakan tugas kelompok. Mereka memang tidak tahu gw Bipolar II. Dan gw pun bukannya tidak ingin mengerjakan tugas bagian gw, tapi gw hanya terlalu lelah dan belum bisa dibebani tugas itu. Yang gw rasa sekarang, sangatlah berat untuk melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab gw. Gw hanya ingin melakukan apa yang gw suka selama gw dalam proses pengobatan bersama psikiater. Diharapkan dalam 6 bulan setelah terapi gw bisa kembali normal seperti diri gw dahulu. Bipolar II gw bisa teredam walaupun harus tetap minum obat untuk mencegah kekambuhan. Gw sudah berkomitmen dengan diri gw untuk mengikuti rencana terapi. Gw ingin kembali normal dan melanjutkan apa yang telah gw mulai. Terutama kuliah. Gw masih ingin menjadi seorang yang sukses walaupun tidak menjadi dokter. Allah tahu yang terbaik untuk gw. Saat ini gw hanya butuh pengertian. Sebenarnya ini sebuah dilema sih. Kalau gw cerita ke teman diskusi gw, belum tentu mereka bisa mengerti keadaan gw. Karena saat ini stigma mereka masih negatif. Ada juga nanti gw tambah dianggap aneh. Tapi kalau gw nggak cerita, mereka akan tetap memberi gw tanggung jawab karena dianggap mampu. Lalu gw tidak bisa memenuhi, dan gw dianggap sebagai anggota kelompok yang tidak bertanggung jawab. Gw tidak tahu harus bagaimana. Gw sudah usaha sebisa gw untuk mengerjakan tugas itu. Gw juga fokus kepada terapi gw agar gw bisa kembali mengerjakan tanggung jawab gw. Biarlah waktu dan Allah yang menjawabnya.

Hmmm, gw akui gw memang merasa takut, khawatir, dan cemas. Gw takut solat karena ingat saat peristiwa saat gw solat muncul ide bunuh diri. Gw takut bepergian sendirian karena pernah mengalami serangan panik. Gw mencoba sekali untuk pergi shopping sendirian. Hasilnya, saat shopping gw aman-aman saja. Tapi setelah itu gw merasa tenaga gw masih berlebih dan bingung harus ngapain lagi, jadinya kesal sendiri pengen meluapkan amarah. Gw tidak tidur semalaman. Gw kelimpungan dan tidak tenang. Rasa seperti itu sangat menyiksa. Gw juga takut untuk pergi diskusi dan kuliah, karena khawatir gw lepas kendali dan teman-teman gw menganggap gw aneh. Gw takut dengan hidup gw. Makanya gw hanya melakukan apa yang gw mau dan sukai selama proses terapi ini. Gw yakin seiring berjalannya waktu, perlahan gw akan kembali seperti diri gw yang dulu. Gw yang bertanggung jawab dan bisa menyelesaikan masalah tanpa beban.