by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Curhat ( 11 )

Bahagianya aku hari ini. *lebay* Tadi gw kontrol ke psikiater dengan kondisi bagaia. Ya terserahlah mau dibilang gw hypomanik, tapi gw sekarang hypomaniknya lebih realistis daripada dulu. Kalau dulu pengen ini itu, akhirnya meledak dan minum obat banyak-banyak. Sekarang akal gw lebih bisa dipake dan gw lebih menyesuaikan keadaan. Ini yang disebut kemajuan.

Gw juga sudah resmi jadi sarjana dan akan diwisuda April nanti. Setelah itu perjalanan gw masih panjang untuk menjadi dokter. 2 tahun pendidikan di RS akan gw tempuh. Ya Allah, semoga depresiku tidak kambuh lagi sehingga aku bisa mencapai cita-citaku. Seandainya kambuh, tolong beri aku kekuatan agar aku bisa senantiasa bersama-Mu, berada dalam lindungan-Mu, dan mendapat bantuan-Mu. Amiiin..

Inti dari Curhat ( 11 ) ini adalah gw hanya ingin berbagi kebahagiaan. Sekaligus menghabiskan waktu karena bingung mau ngapain. Hehe. Sekarang ( dan beberapa hari ini ) gw sedang nganggur soalnya. Kuliah sedang off. Cuma ngurus-ngurus untuk wisuda aja. Jadi banyak waktu luang. Pengen rasanya pergi kursus memasak tapi bingung dimana. Lagian kayaknya hanya keinginan sesaat aja deh. Sayang duitnya juga. Mening belajar masak sama mama aja dirumah.

Well, semoga semuanya juga berbahagia ya.. CU.

Curhat ( 10 )

Senangnya gw depresi telah hilang ( saat ini ). Ya nggak tau apakah bakal datang lagi atau nggak. Semoga sih nggak. Hehe. Saat ini gw gak tau lah ya apakah gw normal atau hypomania. Hasrat shopping ada, tapi gak separah dulu. Gw juga masih bisa tidur nyenyak walaupun susah untuk memulai tidur karena rasanya gak butuh tidur. Tapi overall, I'm happy.

Besok gw akan pergi ke Singapore bersama keluarga. Sudah lama gw merindukan saat-saat seperti ini. Liburan bersama.Terakhir kali gw pergi sekeluarga lengkap mungkin bertahun-tahun lalu. Mengingat semuanya sama-sama sibuk. Tapi kali ini Alhamdulillah ada kesempatan. Bokap gw sudah pensiun dan adek gw sedang libur sekolah. Gw sendiri juga sedang libur menunggu wisuda gw. Jadi, tepatlah waktunya.

Gw berharap sekali dalam keadaan bahagia seperti ini, depresi gw tidak muncul lagi. Karena kebahagiaan, ketenangan, kestabilan, dan kontrol diri penuh adalah harapan gw disaat depresi. Saat ini gw mendapatkan semuanya. Tapi tolong depresi jangan kembali lagi..

Gw memandang hidup lebih optimis. Gw lebih peduli dengan masa depan gw. Gw yakin akan cerah. Optimis boleh kan.. Tentunya dengan usaha gw. Gw niat untuk melanjukan pendidikan dokter gw di RS dan mengejar gelar dokter. Saat ini sebutan untuk gw dokter muda / koas. Semoga dalam 2 tahun kedepan gelar dokter bisa gw dapatkan.

Ada yang memberi komen bertanya apakah dalam dunia kedokteran, ada tes kejiwaan untuk calon dokter. Membaca pertanyaan itu gw jadi ingat sebuah hal. Apa jadinya kalau dokter gila.. Nah, menurut gw jawabannya seperti ini. Memang ada tes kejiwaan sebelum menjadi dokter. Kalau ada yang menyimpang, akan didiskusikan dengan dokter jiwa / psikiater di kampus. Tentunya ada standar sendiri untuk melihat separah apa gangguan yang diderita dan apakah mengganggu tanggung jawabnya sebagai dokter. Jika diperlukan terapi, mungkin akan dilakukan. Bagaimana dengan gw ? Gw sendiri belum tau. Tapi psikiater gw mengatakan perlahan gw akan stabil dan kembali normal karena dibantu psikoterapi dan obat-obatan. Sehingga pada saatnya gw mulai bekerja di RS sebagai dokter muda, gw sudah stabil dan normal. Bisa bertanggung jawab penuh dengan tugas gw. Gw pun pastinya sadar diri dan tidak memaksakan kehendak gw. Gw memahami diri gw dulu apakah gw siap. Temen-temen gw yang normal aja pada takut untuk koas, apalagi gw.. Tapi kembali, semua sudah diatur Allah. Jadi ya gw menjalani saja seperti air mengalir. : )

Tulis dan Raih Mimpimu..


Manusia pada dasarnya memang pemimpi. Dalam arti, memiliki segudang impian baik yang masuk akal dan tidak masuk akal. Yang dimaksud disini adalah mimpi yang masih memungkinkan untuk dicapai. Karena memang sakit hati rasanya saat kita bermimpi terlalu aneh yang tidak mungkin dicapai. Pikir dulu pakai logika sebelum bermimpi. Nah, walaupun kadang impian kita dikendalikan yang namanya hypomania / mania, jangan langsung menyerah pada saat depresi. I know it's hard to reach it when depression is coming. But, everything is possible. Impossible = I'm possible. Jadi, cobalah catat dan tulis mimpimu, cobalah untuk meraihnya.. Gw akan menuliskan impian gw disini.



Saat ini gw dalam keadaan bahagia dan optimis. Gw ingin suatu hari disaat gw depresi, gw membaca ulang tulisan ini dan berharap semua baik-baik saja dan masa depan cerah. Impian gw adalah menjadi dokter. Itu impian gw sejak kecil. Gw ingin memakai jas putih dengan stetoskop menggantung di leher. Gw ingin membantu sesama manusia yang membutuhkan pertolongan. Gw ingin suatu hari nanti gw berjalan dengan jas putih gw, masuk ke ruang praktek, membantu pasien, dan merasakan ketulusan senyum pasien saat gw bisa menolongnya. Gw harap itu semua bisa menjadi nyata walaupun gw harus berjuang untuk meraihnya. Menurut gw itu masih mungkin. Ada juga seorang Bipolar yang berhasil menjadi dokter. Jadi, gw rasa gw juga bisa..

Bagaimana jika impian itu tak pernah tercapai ? Memang berat rasanya. Sedih saat pertama pasti dirasa. Tapi ingatlah Allah punya rencana yang lebih baik untuk anda. Terkesan bullshit gw menuliskan ini karena disaat depresi gw mengerti kalian ( sesama penderita bipolar ) tidak akan terpengaruh dengan tulisan ini. Tapi apa salahnya mencoba. Kita memang tak tahu apa yang akan terjadi dengan gejolak mood dan masa depan kita. Tapi daripada tidak memulai untuk merancang masa depanmu, lebih baik memulainya walaupun kecil. Masa depan adalah rancangan kita sendiri. Buatlah yang bagus, lalu pasrahkan pada Allah.. : )

Meraih Sarjana



Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah kewajiban yang tidak susah diraih. Sebagian lainnya mungkin sedikit tertatih untuk meraihnya. Dan perlu diingat, ada sebagian lain yang harus berjuang keras. Gw, termasuk dalam golongan terakhir. Perlu perjuangan sampai akhirnya gw bisa jadi sarjana.

Begini ceritanya..

Seperti yang beredar pada masyarakat, kuliah kedokteran tidak lah seperti kuliah jurusan lainnya. Mahasiswa kedokteran harus belajar dari mayat, praktikum dengan cacing, mengudek-ngudek (maaf ) kotoran manusia, dan hal lainnya. Memang itu semua kenyatannya.

Tahun pertama gw kuliah dari pagi sampai sore, belum lagi praktikum biokimia, kimia, biologi, dan banyak lainnya. Pergi subuh pulang maghrib sudah jadi hal yang biasa bagi gw. Lelah iya. Tapi menjadi dokter adalah impian gw. Jadi gw jalani saja dengan ikhlas.

Tahun kedua, mulai ada praktikum anatomi. Gw harus menghafal bagian-bagian tubuh manusia sampai bagian terkecil dari tulang terkecil. Sedikit lebih santai dari tahun pertama, tapi tetaplah berat. Saat itulah gw belajar bagaimana jantung bekerja, apa yang terjadi saat kita bernafas, mengapa kita sakit perut dan apa obatnya. Alhamdulillah sampai tahun kedua gw masih lancar.

Tahun ketiga, pada awalnya semua baik-baik saja. Kuliah dan organisasi lancar. Sampai akhirnya ada masalah keluarga yang menjadi pemicu munculnya depresi gw, yang pada akhirnya menjadi gangguan bipolar. Tahun inilah gw berjuang untuk bertahan ditengan badai. Berkali-kali tidak lulus ujian karena depresi, tidak bisa konsentrasi saat kuliah, her ujian ini itu, ujian praktikum terbengkalai, dan banyak kendala lainnya. Tahun ini juga gw belajar mati-matian sampai nangis-nangis karena susah sekali untuk fokus dan konsentrasi. Berat rasanya mendapat cobaan disaat kita tidak siap. Tapi apa daya gw harus melaluinya.

Pada akhirnya semua berlalu sampai gw berada dalam fase hypomania yang tidak gw sadari. Gw mengejar semua pelajaran dan praktikum. Gw berhasil melewati 6 semester. Lalu di semester 7, depresi gw kambuh lagi. Saat itulah gw mulai berjuang lagi sampai akhirnya pada hari disaat gw menulis post ini, gw ujian untuk terakhir kalinya dalam rangka mendapat gelar sarjana kedokteran. Dan gw insyaallah lulus. Jadi resmilah gw jadi sarjana. 

Mungkin teman-teman gw melihat gw aneh karena sering bolos dikala gw depresi. Terkesan tidak peduli dengan kuliah. Tapi walaupun memang iya gw depresi dan susah menjalankan ini semua, gw berhasil melewatinya. Gw berhasil lolos dari badai untuk sementara. Karena badai itu belum selesai. Perjalanan gw menjadi dokter masihlah panjang.. Tapi, gw hanya ingin berbagi, bagaimanapun kondisi anda, Allah tahu rencana yang terbaik untuk anda. Jadi janganlah berputus asa dan menyerah pada keadaan.. Pasti ada jalan jika ada kemauan dan niat yang kuat. Putus harapan kadang muncul ditengah jalan seperti yang gw alami. Tapi anggaplah itu hanya bisikan setan. Masa depan kita, kita sendiri yang menentukan..

Gw bersyukur dan berterima kasih sekali Allah masih memberikan kemudahan untuk gw. Walaupun perjalanan gw masih panjang dan depresi bisa kembali menyerang gw, gw akan tetap berjuang.. May God bless you all.. : )


Note : Tampaknya gw sedang normal atau hypomania ini.. Alhamdulillah depresi berkurang setelah dosis obat ditambah. Hehehe.


Curhat ( 9 )

Well, semakin hari depresi gw semakin berat. Gw tidak lagi peduli dengan ujian gw ( yang merupakan kesempatan terakhir gw biar bisa lulus ), gw tidak lagi excited mendengar kata wisuda dan sarjana, gw kehilangan passion hidup gw.

Gw bisa tidur berjam-jam saking bosannya. Gw bahkan nggak mandi selama 2 hari lebih. Gw tidak lagi tertarik untuk melakukan kegiatan yang biasanya membuat gw senang. Kalau diajak jalan-jalan ke mall / karaoke / makan diluar pun gw tak merasa bahagia. Bener-bener ini fase depresi yang paling membosankan.

Anehnya, gw merasa bosan dengan kedepresian gw ini, tapi motivasi dan semangat gw tak cukup untuk bangkit. Setiap malam gw resah. Hampir seperti "gaduh-gelisah" yang merupakan kegawatdaruratan psikiatri. Gw hampir dibawa ke RS Jiwa karena gw gak tenang, nendangin barang, mukulin lemari, jedotin kepala ke tembok dan hal bodoh lainnya. Nyokap gw sampai gak tahan ngeliat gw begini. Tapi inilah diri gw sekarang.. Gw juga gak tau kenapa gw bisa begini. Sempet terpikir kalau gw semestinya bangkit dan tidak begini terus. Tapi ya itu, gw tak punya cukup keinginan atau niat untuk bangkit. Depresi telah menggerogoti diri gw dan kini gw benar-benar terjatuh..

Entah kapan gw akan bangkit. Gw sudah ke psikiater 2 kali, melakukan terapi relaksasi, dosis obat gw ditambah, dan usaha lainnya. Tapi gw masih begini juga. Sekarang gw hanya berharap tiba-tiba gw bangun dengan kondisi normal / hypomania. Membuat gw bersemangat melanjutkan ujian gw dan mendapat gelar sarjana. Tapi entah kapan waktu itu datang..

True Story : Mengubah Mimpi Buruk Menjadi Mimpi Indah. Gangguan Bipolar Membuatku Lebih Mengenal Diri Sendiri.



Itulah judul buku yang dikarang oleh Tarjum, seorang penderita Gangguan Bipolar. Gw sudah baca habis isi buku ini. Membaca buku ini rasanya seperti membaca pengalaman diri sendiri. Tak sedikit pengalamannya menghadapi bipolar yang dituliskan dalam buku ini gw rasakan juga. Gw mengerti bagaimana perasaannya saat harus mengerjakan tugas sekolah dikala depresi. Gw merasakannya banget..

Dengan membaca buku ini, gw merasa lebih bersyukur dengan keadaan gw. Gw bisa didiagnosis dengan tepat dan diobati. Alhamdulillah juga orang tua gw masih sanggup membeli obat-obatan yang harganya tak murah. Gw tau masih banyak orang diluar sana yang jauh lebih menderita daripada gw..

Gw salut dengan saudara Tarjum yang akhirnya sukses setelah melewati masa-masa sulit dengan gangguan bipolar. Gw juga salut Mas Tarjum bersedia membagi kisahnya ke dalam sebuah psikomemoar. Kisah lainnya juga bisa dibaca di curhatkita.blogspot.com

Untuk rekan-rekan yang sama-sama menderita gangguan bipolar ataupun tidak, gw merekomendasikan untuk membaca buku ini. Buku ini bisa dibilang membantu merubah stigma negatif orang tentang gangguan jiwa. Kadang seorang dengan gangguan jiwa dianggap sebelah mata. Dibilang agamanya tidak kuat lah, nggak sanggup menghadapi masalah lah, tapi ya sebenarnya nggak seperti itu. Banyak faktornya. Udah gw jelaskan juga di post sebelumnya "Bagaimana Rasanya Mengalami Gangguan Jiwa". 

Ya begitulah. Selamat membaca !