by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Meraih Sarjana



Mungkin bagi sebagian orang hal ini adalah kewajiban yang tidak susah diraih. Sebagian lainnya mungkin sedikit tertatih untuk meraihnya. Dan perlu diingat, ada sebagian lain yang harus berjuang keras. Gw, termasuk dalam golongan terakhir. Perlu perjuangan sampai akhirnya gw bisa jadi sarjana.

Begini ceritanya..

Seperti yang beredar pada masyarakat, kuliah kedokteran tidak lah seperti kuliah jurusan lainnya. Mahasiswa kedokteran harus belajar dari mayat, praktikum dengan cacing, mengudek-ngudek (maaf ) kotoran manusia, dan hal lainnya. Memang itu semua kenyatannya.

Tahun pertama gw kuliah dari pagi sampai sore, belum lagi praktikum biokimia, kimia, biologi, dan banyak lainnya. Pergi subuh pulang maghrib sudah jadi hal yang biasa bagi gw. Lelah iya. Tapi menjadi dokter adalah impian gw. Jadi gw jalani saja dengan ikhlas.

Tahun kedua, mulai ada praktikum anatomi. Gw harus menghafal bagian-bagian tubuh manusia sampai bagian terkecil dari tulang terkecil. Sedikit lebih santai dari tahun pertama, tapi tetaplah berat. Saat itulah gw belajar bagaimana jantung bekerja, apa yang terjadi saat kita bernafas, mengapa kita sakit perut dan apa obatnya. Alhamdulillah sampai tahun kedua gw masih lancar.

Tahun ketiga, pada awalnya semua baik-baik saja. Kuliah dan organisasi lancar. Sampai akhirnya ada masalah keluarga yang menjadi pemicu munculnya depresi gw, yang pada akhirnya menjadi gangguan bipolar. Tahun inilah gw berjuang untuk bertahan ditengan badai. Berkali-kali tidak lulus ujian karena depresi, tidak bisa konsentrasi saat kuliah, her ujian ini itu, ujian praktikum terbengkalai, dan banyak kendala lainnya. Tahun ini juga gw belajar mati-matian sampai nangis-nangis karena susah sekali untuk fokus dan konsentrasi. Berat rasanya mendapat cobaan disaat kita tidak siap. Tapi apa daya gw harus melaluinya.

Pada akhirnya semua berlalu sampai gw berada dalam fase hypomania yang tidak gw sadari. Gw mengejar semua pelajaran dan praktikum. Gw berhasil melewati 6 semester. Lalu di semester 7, depresi gw kambuh lagi. Saat itulah gw mulai berjuang lagi sampai akhirnya pada hari disaat gw menulis post ini, gw ujian untuk terakhir kalinya dalam rangka mendapat gelar sarjana kedokteran. Dan gw insyaallah lulus. Jadi resmilah gw jadi sarjana. 

Mungkin teman-teman gw melihat gw aneh karena sering bolos dikala gw depresi. Terkesan tidak peduli dengan kuliah. Tapi walaupun memang iya gw depresi dan susah menjalankan ini semua, gw berhasil melewatinya. Gw berhasil lolos dari badai untuk sementara. Karena badai itu belum selesai. Perjalanan gw menjadi dokter masihlah panjang.. Tapi, gw hanya ingin berbagi, bagaimanapun kondisi anda, Allah tahu rencana yang terbaik untuk anda. Jadi janganlah berputus asa dan menyerah pada keadaan.. Pasti ada jalan jika ada kemauan dan niat yang kuat. Putus harapan kadang muncul ditengah jalan seperti yang gw alami. Tapi anggaplah itu hanya bisikan setan. Masa depan kita, kita sendiri yang menentukan..

Gw bersyukur dan berterima kasih sekali Allah masih memberikan kemudahan untuk gw. Walaupun perjalanan gw masih panjang dan depresi bisa kembali menyerang gw, gw akan tetap berjuang.. May God bless you all.. : )


Note : Tampaknya gw sedang normal atau hypomania ini.. Alhamdulillah depresi berkurang setelah dosis obat ditambah. Hehehe.