by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Curhat ( 17 )

Ya Allah, apa yang terjadi dengan diri gw... *sambil masang muka sedih*

Kemaren gw keluar RS dengan semangat. Malamnya gw nge-blog, dan bisa tidur nyenyak. Lalu paginya gw masih merasa ok, sampai tiba-tiba gw inget ujian gw minggu depan. : (

Sumpah rasanya gak sanggup, seperti dulu, otak gw menolak. Padahal dalam hati kecil gw berkata gw harus bisa melewatinya dan melanjutkan pendidikan gw di RS. Tapi otak gw berkata gak mampu. Depresi gw masih mendominasi akal gw. Gw benci sama rasa kaya gini. Benci banget. Disaat gw ingin menggapai impian gw namun depresi tiba-tiba menyerang gw. Dan ya anda tahu sendiri melawan depresi tak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu, support, obat, dan lingkungan yang positif. Apakah gw akan bisa bertahan belahar dan ujian ? Gw gak tau karena hari ini gw merasa nggak sanggup..

Ya Allah, tolong tunjukkan jalan yang terbaik darimu. Ridhoilah jalan yang kupilih. Hilangkan semua keluh kesah resah gelisah-ku ya Allah.. Hanya kepada-Mu aku bisa meminta..

Sumpah deh benci banget perasaan kaya gini. Mau nangis juga air mata udah gak bisa mengalir lagi.. Whatever deh..

Curhat ( 16 )

Well, hari ini gw baru pulang dari RS karena overdosis obat lagi. Kisahnya udah gw tuliskan disini. Dan hari ini gw merasa mood gw normal. Tapi banyak ide yang meluap. Semuanya sudah dituangkan di blog ini. Kalau udah baca, kasih komen ya.. Hehe.

Mungkin ada yang bertanya-tanya kok gw berani sih nulis kisah pribadi gw dan mempostnya di internet, mengungkap identitas pula.. Jawaban gw, karena itulah gw apa adanya. Gw bersyukur dan ini adalah rencana Tuhan. Daripada gw simpan sendiri dan numpuk di otak, lebih baik gw bagikan kepada orang lain. Semoga bermanfaat. Apakah gw takut dengan judge orang dengan gw ? Jawabannya tidak. Orang kan hanya melihat dari luarnya. Mereka kan tidak merasakan apa yang gw rasa. Gw harap apa yang terjadi pada gw ini menjadi pembelajaran dan inspirasi untuk siapa saja yang membacanya. Lalu kok hebat ya gw berani menulis ini semua. Jawabannya, mungkin saja karena saat ini penyakit bipolar gw lagi kambuh. Gw lagi hipomanik. Hahaha. Jadi banyak inspirasi, ide meluap, dan energi bertambah. Makanya gw salurkan saja kesini. Daripada gw jedotin kepala ke tembok atau marah-marah ga jelas, lebih baik kan disalurkan ke sesuatu yang bermanfaat.

Oke akhirnya gw capek juga setelah nulis di blog ini. See you later ya.. : )

Stigma dan Hal Lain Tentang Bipolar serta Skizofrenia

Stigma

Tak perlu dijelaskan lagi, sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap orang dengan masalah  kejiwaan ( ODMK ) itu buruk. Dibilang nggak kuat agama lah, mentalnya jelek lah, dan banyak lainnya. Padahal ini semua salah. Alasannya, penyebab gangguan jiwa itu kompleks. Tidak hanya karena kurang  iman atau nggak kuat mental. Wong psikiater aja sampai sekarang masih melakukan penelitian. Lalu kenapa orang bisa begitu mudahnya menganggap odmk itu ber-image buruk ?

Mungkin pengetahuan mereka minim akan hal ini. Lalu bagaimana mengatasinya ? Mulai dari diri kita sendiri. Jangan merasa minder dengan gangguan jiwa yang anda miliki. Tak perlu memberi tahu orang-orang gangguan apa yang anda miliki jika anda merasa tidak nyaman, yang penting anda peduli akan hal ini dan mulai menyebarkan informasi. Kalahkan stigma itu.. Bersama pasti bisa. Ya nggak ?

Lalu bagaimana dengan mereka yang menjadi korban stigma masyarakat selama ini ? Tak usah berkecil hati. Mereka yang mencaci anda kan tidak merasakan apa yang anda rasa., bagaimana anda melewati hari-hari anda. Anda adalah seorang pemenang. Paling tidak pemenang atas diri anda sendiri. Buktinya anda bisa melewati detik demi detik dan tetap bertahan. Tetaplah bersabar.. Karena pertolongan Tuhan akan datang bersama kesabaran. Setelah kesulitan akan ada kemudahan. Tuhan tidak memberi cobaan pada umatnya diluar kemampuannya.

Jadikan stigma salah masyarakat itu penyemangat anda. Buktikan bahwa anda bisa menjalankan hidup normal seperti orang lain. Contohnya saya, saya seorang calon dokter. Kalau dipikir, mana ada sih orang yang mau berobat dengan dokter yang sakit jiwa ? Tapi hal itu menjadi penyemangat saya disaat down, "Saya akan menjadi dokter sukses dan membuktikan bahwa penderita bipolar bisa jadi orang sukses.." Kalimat itu saya ucapkan berkali-kali setiap ingin berangkat kuliah. Dengan begitu, diharapkan secara tidak sadar kalimat itu merekam ucapan saya dan menjadikannya sebuah dorongan semangat. Tentunya saya bisa berkata seperti itu dengan dukungan dari teman-teman sesama penderita. Jadi, cari dukungan, buatlah kalimat yang positif tentang impian anda dan berusahalah untuk mencapainya. Jangan mau dimakan oleh stigma masyarakat yang jelas-jelas salah.

Apa sebenernya Bipolar itu ? Apa bedanya dengan Skizofrenia ?

Sebelumnya, saya jelaskan dulu, sumber yang saya ambil disini adalah panduan diagnosis dari PPDGJ-III dan DSM IV. Kalau mau tahu apa itu cari aja sendiri di google, dijamin pusing bacanya. Hehe. *kidding* Lalu, saya akan memaparkan perbedaan antara Bipolar dan Skizofrenia secara singkat dan yang saya tulis disini hanya yang menurut saya penting. Jangan jadikan tulisan saya ini sebagai pedoman diagnosis. Setuju ? Mari kita mulai..

Dalam PPDGJ-III, Bipolar masuk kedalam kategori "Gangguan Suasana Perasaan ( Mood [ Afektif ] )" Dalam DSM-IV, Bipolar masuk kedalam kategori "Gangguan Mood".

Sedangkan Skizofrenia, dalam PPDGJ-III masuk kedalam kategori "Skizofrenia, Gangguan Skizotipikal dan Gangguan Waham".Dalam DSM-IV masuk kedalam kategori "Skizofrenia dan Gangguan Psikotik Lain".

Persamaan antara Bipolar dan Skizofrenia, dalam PPDGJ-III adalah, keduanya masuk ke dalam kategori "Gangguan Mental Psikotik".

Definisi Bipolar adalah gangguan jiwa yang bersifat episodik dan ditandai oleh gejala-gejala manik, hipomanik, depresi, dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur hidup.

Definisi Skizofrenia adalah gangguan alam pikir, perasaan dan perilaku yang mencolok sampai yang tersamar. Berasal dari kata "Scheizen" yang berarti pecah, dan "Phren" yang berarti jiwa.

Gejala Bipolar adalah perubahan mood secara ekstrem dari manik ( keadaan mood yang meninggi ) ke depresi ( keadaan mood yang menurun ). Kapan seseorang disebut manik atau depresi sudah saya jelaskan sebelumya pada post berjudul "Gangguan Mood Bipolar".

Gejala Skizofrenia terdiri dari gejala positif ( delusi atau waham, halusinasi, kekacauan alam pikir, gaduh, gelisah, tidak dapat diam, mondar-mandir, agresif, dll. ) dan gejala negatif ( alam perasaannya tumpul dan datar, menarik diri dari lingkungan, kontak empsional yang miskin, sukar diajak bicara, dan pendiam, pasif, apatis, sulit dalam berpikir abstrak, pola pikir stereotipe, tidak ada dorongan kehendak, keinginan, tidak mau berupaya, kehilangan nafsu ).

Persamaan antara Bipolar dan Skizofrenia berdasarkan penelitian, sama-sama bersifat genetik, adanya gangguan zat kimia pada otak, dan ada stressor psikososial.

Persamaan antara Bipolar dan Skizofrenia, sama-sama harus didiagnosis oleh psikiater sehingga dapat diberikan terapi yang tepat.

Obat yang biasa diberikan pada penderita Bipolar adalah Mood Stabilizer ( Litium, Valproat, Lamotrigine ) dan Antipsikotik Atipikal ( Risperidone, Olanzapine, Quetiapin, Aripirazole ). Selain itu dapat diberikan anti depresan jika dibutuhkan.

Obat yang biasa diberikan pada penderita Skizofrenia adalah Antipsikotik baik yang tipikal dan atipikal. Perbedaannya, pada Antipsikotik Atipikal, gejala positif dan negatif dapat dihilangkan, memulihkan fungsi kognitif, dan mengurangi gejala ekstra-piramidal ( kedua tangan gemetar, kaku saat berjalan, otot leher tegang, dll ).

Persamaan antara Bipolar dan Skizofrenia adalah obat-obatannya harus sepengetahuan dokter / psikiater. Sama-sama harus diminum secara rutin sesuai petunjuk dokter / psikiater. Dan mungkin akan tetap minum obat walaupun sudah sembuh untuk mencegah kekambuhan. Walau begitu, fakta membuktikan bahwa ada penderita Bipolar dan Skizofrenia yang stabil dan tidak kambuh tanpa obat-obatan.

Persamaan antara Bipolar dan Skizofrenia, proses penyembuhan keduanya tidak hanya dengan obat. Tapi pengobatan holistik atau menyeluruh yang mencakup obat-obatan, psikoterapi, psikososial, dan psikoreligius.

Intinya ?

Mmmm, apa ya intinya ? Jadi bingung sendiri. Pokoknya para ODMK, apapun nama penyakitnya, jangan menyerah ! Mari kita rubah stigma negatif menjadi positif bersama-sama, tunjukan bahwa kita juga bisa melakukan kegiatan layaknya orang normal. Oke ? Kalau ada pertanyaan silakan ajukan di komen. Dan CMIIW ya.. : )

Overdosis Obat, Lagi



Mungkin ada yang udah baca kisah gw overdosis obat di post gw bulan November 2010. Nah kali ini gw mengalaminya lagi. Yap, gw overdosis obat mood stabilizer untuk kedua kalinya.

Rabu, 18 Mei 2011

Hari ini gw lewati dengan suka cita. Pagi-pagi gw bangun dan pergi kuliah. Siangnya gw mengerjakan tugas kelompok. Sorenya gw kembali ke rumah. Seperti biasa, gw browsing internet, buka facebook, blog, dll. Malamnya, gw merasa tidak enak. Gw 'aware' kalau tampaknya gw akan lepas kendali. Jadi gw mulai menggunakan teknik coping gw. Dengerin lagu yang tenang sambil relaksasi dan dzikir. Lalu karena masih merasa tidak enak, gw mencoba melukis. Satu gambar dari crayon selesai. Lalu gw menggambar lagi dengan cat air sampai totalnya ada 4 gambar. Tapi gw masih merasa tidak enak. Dan tiba-tiba, gw kepikiran untuk minum obat banyak-banyak lagi. Pikiran ini terlintas begitu saja dan gw sama sekali tidak memikirkan apa bahaya yang akan timbul. Jadi gw ke kamar mama untuk mengambil kunci lemari dimana obat gw disimpan. Kali ini mama sedang tidur di kamar yang lain. Jadi gw bisa mengambil obat itu dengan lancar. Lalu gw mengambil sebotol air putih dan kembali ke kamar gw. Dengan tenangnya gw menelan 15 butir mood stabilizer ( Lamictal ) tanpa memikirkan bahayanya. Aneh ya.. Siangnya gw baik-baik saja lalu malamnya gw bisa lepas kendali. Lebih mirisnya, hari itu adalah hari ulang tahun perkawinan mama papa. What a day..

Kamis, 19 Mei 2011

Pukul 4 pagi gw terbangun dengan rasa mual dan ingin muntah. Otomatis gw mencoba duduk di tempat tidur berniat ke kamar mandi. Tapi, baru duduk saja gw terhempas kembali ke tempat tidur karena pusing sekali. Ya istilah awamnya pusing 7 keliling, istilah kerennya vertigo. Saat itulah gw ingat bahwa gw meminum 15 butir mood stabilizer sebelum gw tidur. Gw mencoba berdiri untuk kekamar mandi. Gagal. Sama sekali tidak bisa berdiri. Akhirnya gw muntah di lantai kamar. *udah gak usah dibayangin.jijik* Setelah itu gw coba tidur lagi. Lalu tiba2 gw terbangun karena gw terjatuh dari tempat tidur. Kaget dan sakit. Gw juga gak tau kenapa bisa jatoh gitu. Padahal gw kalau tidur kan gak lasak. Akhirnya gw mencoba bangun untuk pindah ke kasur lagi. Tapi, gagal lagi saudara-saudara.. Untuk duduk aja susah. Lalu akhirnya berhasil duduk tapi gw muntah dan akhirnya terhempas ke lantai lagi. Damn. Gawat ini. Gw berusaha meminta pertolongan. Tapi hp gw ada dibawah bantal di kasur. Gw mencoba menggapai hp gw. Ada kali sejam-an gw nyari hp. Yang keambil remote ac sama dompet. Kemana hp dan iPod gw.. Setelah berusaha keras, ternyata hp gw ada di kolong tempat tidur. -.-" cape deh. Gw susah2 nyari diatas kasur ternyata hp-nya nggak jauh dari tempat gw terhempas. Mungkin hp-nya ikut jatoh pas gw jatoh. Setelah berhasil mendapat hp, gw mencoba menelepon mama. Berkali-kali gw pencet nomor salah karena layar hp terlihat berputar saking pusingnya. Susah untuk fokus. Tak lama setelah adzan subuh, mama datang dan panik.

"Papaaaa.. Papaaa." Mama memanggil papa karena bingung melihat anaknya terhempas dilantai lantai dengan muntah disekitarnya *beneran deh gak usah dibayangin* Papa akhirnya datang membantu gw duduk dan mama menelepon ambulans. Itu ambulans lama amet datangnya. Gw capek duduk tapi gak bisa naik untuk berdiri. Terlalu pusing.. 


Sambil menunggu ambulans itu, berdasarkan cerita mama, katanya gw antara sadar dan nggak. Mata gw terbuka sebentar lalu tertutup. Gw juga gak sepenuhnya inget apa yang terjadi. Mama juga bilang kalau gw seperti bicara tapi nggak jelas dan kacau. Mirip orang mengigau. Entahlah mungkin benar karena gw gak inget. Setelah ambulans dateng, 2 paramedis masuk kekamar dan langsung memeriksa vital sign gw ( tensi, suhu, nadi, nafas ) dan memberi gw infus. Setelah itu gw merasa antara tidur dan terbangun. Sepanjang perjalan dari kamar ke ambulans, ambulans ke RS, gw merem. Akhirnya sampai di sebuah rumah sakit dekat rumah. Tapi sesampainya di UGD, gw ditolak untuk dirawat karena disana tidak ada dokter psikiatri. Jadi gw dioper ke RSCM.

Sampai di RSCM, gw masuk di UGD-nya. Tapi itu UGD penuh dan banyak pasien mengantri disana. Akhirnya setelah menelepon psikiater gw, seorang residen ( dokter yang lagi ngambil spesialisasi ) psikiatri datang melihat kondisi gw. Berhubung gw-nya setengah2 gitu, akhirnya residen itu bertanya kepada mama. Gw hanya bisa bilang "Pusing banget dok.." selebihnya gak inget. Gw juga merasa seperti sedang mimpi. Berkali-kali gw bertanya, "Mama dimana ? Aku mimpi nggak ma ?" sambil mencubit pipi sendiri. Itu bener-bener antara sadar dan nggak deh..

Berhubung UGD-nya penuh dan gw butuh penanganan segera, akhirnya psikiater gw datang dan membantu gw untuk mencari kamar perawatan. Sayangnya semua penuh, dan gw dioper lagi ke RSCM Kencana. Itu looh, RSCM versi swasta yang gedungnya bagus dan kelasnya internasional. Memang lebih mahal. Tapi daripada gw kenapa-napa jadi dioper kesana. 

Sampai sana, gw ditangai dokter yang sama saat gw overdosis pertama kalinya. Untungnya itu dokter baik banget dan masih inget gw. Jadi gw ditolongin sama dia. Selain memantau vital sign, kadar oksigen darah, dan fungsi jantung, tindakan lainnya adalah NGT ( Naso Gastric Tube ). Semacam selang yang dimasukin dari hidung hingga bisa masuk lambung. Hal itu dilakukan untuk mencuci lambung gw yang mungkin jadi iritasi atau  whatever karena obat yang gw minum. Dan itu gak enak banget rasanya. Untung dokter itu baik dan bersedia menemani gw selama gw dipasang NGT. Mama papa sudah nggak sanggup ngeliat gw dan mereka menunggu diluar. Gw juga sempet ngobrol sebentar sama dokter itu, lalu tertidur. Kebangun lagi ngobrol dan tertidur lagi.

Oh ya, selain NGT, gw juga diambil darahnya. Totalnya ada 4 tusukan karena 2 tusukannya gagal. Masang infus juga gagal ditangan kanan jadi dipindah ke tangan kiri. Nambah lagi 2 tusuk. Pokoknya setelah gw hitung mulai dari gw diinfus dirumah sampai boleh pulang, ada 11 tusuk. Mamiiii..

Setelah gw lebih stabil, gw dipindahkan ke kamar perawatan. Malamnya psikiater datang dan gw gak bisa menceritakan kejadian karena masih pusing. Intinya sehari itu gw pusing luar biasa sampai gak bisa berdiri. Hanya tidur di kasur RS antara sadar dan nggak.

Jumat, 20 Mei 2011

Gw masih pusing, tapi lebih mendingan dari kemaren. Gw udah bisa melihat dengan fokus. Kemaren kan semua terasa berputar.. Hari ini psikiater visit dan gw bisa menjelaskan kronologi kejadian. Gw sudah sadar sepenuhnya dan nyambung kalau diajak ngomong. Tapi masih pusing jika duduk dan berdiri. Selain psikiater, dokter penyakit dalam juga datang melihat kondisi gw. Intinya hari ini gw sudah sadar, bisa ngomong. bisa makan minum, dan gak muntah lagi.


Sabtu, 21 Mei 2011

Keadaan gw membaik. Tapi masih pusing kalau berdiri. Duduk sudah bisa. Tak banyak yang terjadi hari ini. Hanya psikiater yang visit. Kali ini gw berdiskusi dengan psikiater dan mama. Jadi kami membicarakan kejadian ini bersama-sama. Terus, salah satu infus gw juga sudah dihentikan. Jadi gw dikasih 2 infus pas di UGD, nah yang satu udah boleh dilepas. Satu lagi masih dipasang.

Minggu, 22 Mei 2011

Hari ini infus gw sudah dilepas dan gw dipindahkan dari RSCM Kencana ke RSCM lama. Alasannya karena biaya dan dokternya lebih banyak di RSCM lama. Gw pindah dan ternyata kamarnya lebih besar walau bayarannya lebih murah. Sorenya psikiater visit dan ya begitulah gw menjalan psikoterapi.

Malamnya, entah kenapa perasaan gw gak enak dan tiba-tiba benci sama mama. Padahal kan mama baik sekali sudah merawat gw. Aneh sekali malam itu. Gw tiba-tiba bete tak ada angin tak ada hujan. Mungkin itu yang disebut irritable. Tiba-tiba marah kepada orang yang disayangi tanpa alasan yang jelas. Akhirnya gw pancing emosi gw untuk lepas. Gw coba untuk menangis. Gw mendengarkan lagu sedih dan membuat puisi. Maksud gw biar bisa nangis dan lega. Tapi setelah nangis malah jadi tambah sedih. Gw akhirnya memhubungi psikiater gw. Tak lama, 2 orang residen psikiatri datang membantu gw meluapkan emosi dan mengeluarkan uneg-uneg. Gw merasa lebih baik setelah itu. Lalu gw minum obat dan tidur. Untung gw segera mendapat pertolongan dari residen itu. Kalau tidak, gw bisa ngamuk dan marah-marah malam itu. 

Senin, 23 Mei 2011

Gw sudah pulih. Bisa berdiri dan melakukan aktivitas sendiri. Pusing gw sudah hilang. Setelah psikiatri visit, gw diperbolehkan pulang. Selama diperjalanan, gw baru menyadari betapa bahayanya apa yang gw lakukan ini. Terserah orang lain mau bilang gw dodol, bego, whatever tapi memang gw saat menelan obat itu tidak kepikiran dengan bahayanya. Hanya ingin memuaskan diri dengan obat-obatan. Gw juga tidak mengerti kenapa yang terlintas harus minum obat banyak-banyak. Harusnya gw kapok dong.. Secara gw pernah dirawat juga karena hal yang sama. Nggak masuk akal, tapi itulah kenyatannya. Gw juga gak niat untuk bunuh diri. Semua ini diluar kontrol gw..

Kesimpulannya...

Pertama, jangan main-main dengan penyakit anda terutama Bipolar. Gw memang terlihat stabil dan sehat-sehat saja pada siang hari. Tapi bisa berubah di malam hari. Itulah bipolar, perubahan mood yang drastis, bisa  datang kapan saja, dan kita tidak pernah tau separah apa serangan yang muncul. Jadi, bagi anda yang merasa bipolar, segeralah kunjungi psikiater dan meminta pertolongan, walaupun sakit anda ringan dan sepele. Karena Bipolar tidak mengenal siapa, kapan, dan dimana. Semua bisa terjadi tidak terduga dan diluar kendali.

Kedua, jangan sok tahu dengan apa yang terjadi pada diri anda. Apalagi sudah ada yang menyuruh anda berobat ke psikiater. Berarti mereka tahu anda 'berbeda' dan butuh pertolongan. Kadang memang gejala bipolar membuat penderitanya merasa lebih percaya diri dan merasa paling benar disaat manik atau hipomanik. Bisa saja yang anda anggap normal, adalah suatu kondisi yang tidak normal.

Ketiga, menyambung kesimpulan kedua, anda mungkin tidak bisa menilai diri anda sendiri. Itulah gunanya teman, orang tua, psikiater, dan orang-orang dari lingkungan sekitar. Mereka semua melihat apakah ada perubahan pada diri anda. Mereka akan berusaha memberikan pertolongan pada anda. Mereka menyayangi anda dan tak ingin melihat anda sakit. Mereka peduli dan ingin anda kembali seperti dahulu. Maka hargailah usaha mereka walau anda tetap merasa diri anda yang benar.

Keempat, tak usah berkecil hati jika kenyataannya anda sakit. Anda tidak sendirian. Banyak yang bisa membantu anda. Terimalah apa adanya dan tetap bersyukur. Setelah kesulitan ada kemudahan. Manusia tidak akan diuji diluar kemampuannya. Dan bantuan akan datang bersama kesabaran..

Kelima, perlu diingat bahwa penanganan bipolar tidak hanya dari satu sisi. Tetapi bersifat holistik ( menyeluruh ). Yaitu obat, psikoterapi, religi, dan kemauan dari diri sendiri. Jika salah satunya terlewat, maka kemungkinan kambuhnya besar atau tingkat keparahannya tinggi. Syukur jika bisa stabil. Tapi suatu waktu bisa saja anda menjadi tiba-tiba depresi atau manik dan lupa berpikir sebelum bertindak. Seperti apa yang terjadi pada saya. Bukannya menakut-nakuti, hanya saya ingin anda berpikir lebih luas tentang bipolar sehingga bisa mengontrol diri sendiri.

Semoga pengalaman gw ini tidak terjadi kepada siapapun di dunia ini. Cukup gw yang menjadi pembelajaran kalian semua dan untuk gw sendiri. Mari sama-sama kita bangun hal yang positif. Berbagilah dengan orang yang anda percaya. Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri. 

Semoga bermanfaat, ditunggu komennya.. ;D

Laporan Acara Psikoedukasi Bipolar di Klinik Empati RSCM 1

Kemarin, tepatnya hari Jumat tanggal 13 Mei 2011, ada acara psikoedukasi bipolar yang diadakan di Klinik Empati RSCM. Kebetulan gw dateng. Dan mungkin ini laporan dari acara tersebut 'versi gw'. : )

Ini pertama kalinya gw datang ke sebuah pertemuan yang isinya orang bipolar semua. Kadang suka disebut Kaum Bipolariyah. *lol* Walaupun ada juga orang tua / caregiver penderita bipolar yang datang. Inilah pertama kalinya gw bertemu dengan teman-teman sesama bipolar secara langsung. Tadinya kan hanya lewat dunia maya, kini kami semua dipertemukan untuk psikoedukasi bipolar.

Acara dimulai dengan games yang dipimpin oleh dr. Vita. Semua tampak semangat mengikuti games ini. Jadi kami dibagi menjadi 3 kelompok, setiap kelompok diberikan kata, yaitu hidup indah, bahagia, dan senang. Nah tugas kami mengurai setiap huruf dari kata itu dengan kata / kalimat yang baru, sesuai dengan isi hati kami. Jadi pada akhirnya akan terbentuk semacam sajak pendek yang dibacakan masing-masing kelompok. Tampaknya suasana hati kami semua sedang gembira. Terlihat dari hasil sajak yang dibacakan oleh wakil kelompok, semua tentang kebahagiaan. Hehe.

Setelah itu baru masuk ke materi tentang Bipolar yang dijelaskan oleh dr. Azhari dan dr. Sisy ( mmmm, mohon maaf ya kalau ada yang salah sebut nama ). Dalam penjelasan ini dipaparkan apa itu bipolar, apa penyebabnya, dan bagaimana gejalanya. Pengobatan bipolar akan dibahas pada pertemuan berikutnya. Tapi tampaknya para peserta yang hadir gak tahan ingin bertanya tentang obat-obatan. Jadilah sesi tanya jawab tentang obat-obatan dan beberapa hal lain dengan dr. Vita. 

Setelah itu, kami diberi tugas. Jadi, dr. Vita memberikan beberapa pertanyaan untuk kami. Beberapa yang saya ingat antara lain, "Bipolar membuat hidup saya menjadi sulit ketika...." lalu ada "Bipolar membuat hidup saya menjadi lebih mudah ketika....." selanjutnya, "Dengan bipolar, saya berpikir..." ada juga "Dengan bipolar, saya merasa....." dan seterusnya sampai pada akhirnya, muncul pertanyaan "Apakah hidup saya bipolar ?" Maksud dari pertanyaan-pertanyaan ini adalah agar kami mengetahui apa yang kami rasa dan apa yang kami butuhkan. Dengan memahami kapan bipolar membuat saya menjadi susah / mudah, apa yang saya pikir / rasa ketika bipolar, kita diharapkan lebih aware dengan gejala bipolar kita sendiri. 

Nah, pada pertanyaan terakhir, "Apakah hidup saya bipolar ?" ada yang menjawab ya dan ada yang tidak. Saya sendiri menjawab tidak. Alasan saya, bipolar hanya bagian dari hidup saya. Tapi saya masih memiliki diri saya yang sebenarnya.. Ternyata, memang itu jawaban yang diharapkan oleh dr. Vita. Jadi, saat itu mindset kami dirubah. Yang tadinya merasa hidupnya dikontrol oleh bipolar, diharapkan bisa menyadari bahwa masih ada bagian dari diri yang sebenarnya. Jadi bukan hidupnya bipolar. Intinya begitu.

Hmmm apa lagi ya, mungkin itu dulu yang saya sampaikan. Saya harap jika ada pertemuan selanjutnya, teman-teman yang belum datang bisa menyempatkan diri untuk datang. Kan beda kalau dateng sendiri dengan baca laporannya disini aja. Hehe. Acara ini benar-benar bermanfaat. Khususnya untuk orang awam yang masih bingung dengan bipolar, atau penderita yang masih bingung dengan gejala yang dia alami. Jadi, datanglah jika ada pertemuan berikutnya. Rencananya pertemuan ini akan dibuat 1 bulan sekali.

Acara diakhiri dengan monolog dari Mbak Tifa. Setelah itu kami ngobrol-ngobrol sambil makan snack yang telah disiapkan. Sekian laporan dari saya. : )

*ngomong-ngomong, kenapa tadinya pake gw terus ujung-ujungnya jadi saya yah.. haha bodo lah.*

Btw, special thanks to dr. Ezra yang telah memberikan gw dukungan penuh untuk melanjutkan pendidikan dokter gw dan mengambil spesialisasi psikiatri. Beneran deh jadi lebih optimis menatap masa depan. Hihi. Thanks ya dok.. Terima kasih juga untuk teman-teman bipolar yang juga mendukung gw. Semoga bipolar gw terkontrol, dan cita-cita, impian, serta harapan gw untuk menjadi psikiater bukan hanya sekedar angan-angan atau gejala dari hipomanik. Tapi benar adalah yang terbaik dari Allah untukku, sebagai pembuktian bahwa penderita bipolar pun bisa sukses seperti orang normal lainnya.. Gw akan berjuang. : )

Curhat ( 15 )

Tampaknya sudah lama gw sudah tidak menulis sesuatu yang bermakna selain curhatan di blog ini. Dan akhirnya gw pun menulis 3 artikel sekaligus dalam waktu yang berdekatan. Selain itu, gw juga lebih bersyukur dengan hidup gw. Gw mudah tersentuh melihat gelandangan di jalan, nenek-nenek tua renta yang mengemis, atau menyaksikan acara televisi yang menyedihkan. Gw sangat mudah berlinang air mata untuk hal seperti itu. Gw juga kembali menggambar seperti dulu. Optimisme gw untuk melanjutkan pendidikan kedokteran gw kembali muncul. Begitu pula dengan rasa percaya diri. Rasanya sudah tidak sesusah yang gw bayangkan dulu. Pokoknya gw lebih merasakan kebahagiaan dalam hidup ini.

Tampaknya positif bukan ? Tapi ya inilah yang dinamakan hipomania. Yep, gw sedang kambuh. Ada sisi negatifnya juga dari hipomania ini. Gw jadi susah konsentrasi dan perhatian gw mudah dialihkan jika sedang berlatih praktik di kampus, gw menganggap materi praktik itu mudah sekali dan gw pasti bisa melewati ujiannya dengan mulus. Akhirnya gw jadi nggak serius ngejalaninnya. Ilmu gw hanya seadanya. Padahal pas koas nanti akan sangat dibutuhkan. *hadeeeh, mau jadi dokter apa ini gw..*

Dan kemaren, untuk pertama kalinya gw merasakan racing thought yang cukup menyiksa. Malam hari disaat gw mencoba untuk tidur, rasanya otak gw ini terus-menerus mengarang cerita imajinasi bagaikan mimpi dalam keadaan setengah sadar. Jadi gw seperti mengarang bebas dengan tingkat kesadaran setengah-setengah. Antara tidur dan nggak. Belum berakhir sebuah kisah yang otak gw ciptakan, gw terbangun terbawa emosi lalu muncul ide cerita lainnya. *ngerti nggak ?* Hal itu terus berlanjut sepanjang malam sampai pagi tiba. Akhirnya gw tidak merasa tidur. Entahlah gw tertidur atau tidak, yang pasti rasanya seperti insomnia dengan berbagai ide yang meluap-luap. Kalau ditanya apa ceritanya juga gw lupa. Pokoknya ada yang konyol sampai serem, dan melibatkan orang-orang yang ada di sekitar gw. Ribet deh. Fiuuuh.

Menurut gw, salah satu indikator apakah gw dalam keadaan normal hipomanik atau depresi bisa dilihat dari tidur gw. Kalau normal ya tidur gw seperti orang pada umumnya. Malam tidur, siang beraktifitas. Hal ini gw rasakan saat baru mengkonsumsi depakote. Hidup gw aman tentram sejahtera. Lalu setelah 2 minggu mengkonsumsi depakote, rasanya hipomanik gw mulai muncul. Selain racing thought itu, gw juga sudah 2 hari ini sulit tidur. Rasanya masih ingin ini itu. Nah, kalau depresi, bawaannya tidur melulu siang ataupun malam. Jadi intinya, tidur adalah salah satu petunjuk yang bermakna dalam mengidentifikasi fase apa yang sedang gw alami. Saat ini, jelas sekali hipomania.. Semoga gak pake acara marah meledak-ledak ya.. Amiiiin.. : (

Mencintai Diri Sendiri


Aku seorang penderita bipolar. Hidupku berubah setelah aku didiagnosis dengan gangguan ini. Hari-hariku jadi penuh perjuangan. Moodku naik turun tidak karuan. Kadang amarah menghampiriku tanpa bisa dikontol. Inilah aku. Haruskah aku mencintai diriku ?



Well, mungkin nggak cuma gw yang bertanya pantaskah gw mencintai diri gw yang 'sakit' ini. Bagaimana jawabannya ? Jelas-jelas tuhan memberikan gw cobaan dengan penyakit gw. Jelas-jelas hidup gw jadi menderita dengan penyakit / gangguan ini. Jelas-jelas hidup gw berubah. Masa gw harus cinta dengan diri gw yang menyedihkan ini..

Kalau jawaban gw, mau nggak mau, ya harus dicintai. Inilah diriku.. Beberapa alasannya adalah,

# Masih Banyak yang Lebih Menderita

Ya, diatas langit memang ada langit. Nah dibawah tanah tempat kita berpijak juga masih ada tanah. Lihatlah kebawah. Bagaimana dengan orang yang cacat seumur hidup, buta, tuli, bisu, retardasi mental, down syndrome, kesulitan ekonomi, yatim piatu, dll. Lihatlah dimana dirimu berada. Dunia ini luas. Begitu banyak orang menderita. Jangan merasa dirimu bagaikan orang yang paling menderita di dunia ini..

# Inilah Pembelajaran Untukmu, Bukan Cobaan

Gangguan jiwa memang bisa dibilang cobaan bagi orang yang menderita, keluarganya, dan lingkungannya. Tapi, kalau selamanya menganggap ini adalah cobaan, bagaimana kita bisa keluar dan bangkit.. Cobalah untuk menjadikan gangguan jiwa sebagai pembelajaran. Dengan menderita gangguan jiwa, aku menjadi bersyukur dengan hidupku, bisa mengingatkan orang sekitarku untuk menggunakan akal pikiran dan perasaannya baik-baik. Dengan menderita gangguan jiwa, aku lebih dekat dengan tuhanku. Dengan menderita gangguan jiwa, aku jadi lebih peduli dengan orang yang senasib denganku, yang tadinya mungkin pernah kuanggap rendah. Dengan menderita gangguan jiwa, aku bisa menjadi pembelajaran bagi orang yang normal. Bukankah aku banyak belajar dari gangguan jiwa yang kuderita ? Bukankah aku masih bermanfaat ? Jadi apakah semua ini cobaan yang tak akan berakhir ? Tidak kan..

# Semua Ada Pada Dirimu

Psikolog dan psikiater telah sepakat menyetujui bahwa sebenarnya kita bisa memprogram otak kita dan tubuh kita sendiri. Misalnya, dengan optimisme dan kepercayan untuk sembuh yang kuat, seorang penderita kanker bisa survive. Sama halnya dengan gangguan jiwa. Kita bisa menjadi seperti apa yang kita mau. Semua berhubungan dengan 'Law of Attraction' alias hukum tarik menarik yang ada di alam ini. Begitu pula otak kita. Saat kita mengatakan sembuh berulang-ulang dengan optimisme dan kepercayaan, maka otak akan memperoses diri kita untuk sembuh. Jadi, jangan katakan yang jelek-jelek untuk dirimu. Cintailah dirimu.. Ucapkan yang baik-baik untuk dirimu sejelek dan seburuk apapun kamu. Semua ada dalam pikiranmu..

# Inilah yang Terbaik Untukmu

Ya, Tuhan tau yang mana yang baik untukmu. Tuhan yang maha sempurna telah membuat skenario hidupmu yang tertulis dalam qodho dan qodhar. Ada beberapa yang bisa diubah. Maka jangan membenci tuhanmu atas kenyataan yang kau terima. Cobalah berdamai dengan kenyataan sambil pelan-pelan merubahnya kearah kebaikan. Yakinlah Tuhan melihat usaha dan doa anda..

Lantas, setelah membaca beberapa alasan diatas, semudah itukah aku mencintai diriku ? Tentu tidak. Aku melalui proses panjang sampai pada akhirnya aku bisa menerima dan mencintai diriku apa adanya. Semua memang tidak mudah. Disaat depresi, hal yang kutulis ini adalah omong kosong. Tapi disaat aku sedang merasa baik, aku menerapkan apa yang aku tulis ini. Sampai akhirnya otak aku terbiasa dengan hal yang positif. Jadi disaat depresi datang, aku tak lagi menganggap ini omong kosong. Kira-kira 1,5 tahun aku menjalani proses ini sampai akhirnya aku bisa bersyukur dan menerima diriku. Dengan begini, aku bisa lebih mudah untuk bangkit dan keluar dari penyakitku. Begitu pula dengan anda. Tak usah bayangkan hasil yang besar dan proses yang panjang. Fokus saja terhadap apa yang anda jalani hari ini. Berpikirlah positif selagi anda bisa. Manfaatkan sebisa mungkin kondisi anda yang sedang sehat. Sehingga disaat sakitnya muncul, anda bisa kembali bangkit. 

Jangan putus asa, dan lakukan dari sekarang. Lihat hasilnya. Percayalah.. Semoga bermanfaat. : )





Cinta Adalah Segalanya, Jangan Adalah Ancaman

Judul yang panjang.. *sigh*

Jadi hari ini gw bertemu dengan seorang psikolog untuk membicarakan masalah bipolar dan bagaimana menanganinya. Berikut adalah beberapa yang bisa gw petik dari pertemuan hari ini. Semoga bermanfaat ya..

# Cinta Adalah Segalanya..



Tadi gw bercerita tentang bagaimana cinta bisa menyembuhkan segala penyakit. Bagaimana kasih ibu bisa menenangkan anaknya. Bagaimana dukungan pacar bisa membuat terbang wanita. Dan bagaimana seorang penderita kanker bisa survive. Semua kuncinya adalah cinta.

Dalam hal ini, gw akan bahas hubungan cinta dengan bipolar. Kadang, pada kasus bipolar, terjadi luka hati dan trauma yang dalam dan tersimpan di dalam alam bawah sadar kita, selain terjadi gangguan pada neurotransmitter. Nah, memori-memori, trauma, dan ingatan akan kejadian yang menyakitkan hati itu perlu dikeluarkan dari alam bawah sadar kita, agar tidak terjadi 'tumpukan' yang bisa menimbulkan gangguan mood, perilaku, dan perasaan. Salah satu cara terbaik untuk mengeluarkannya adalah berbicara dengan psikolog  atau psikiater. Mereka mengerti poin-poin yang harus ditanyakan agar memori dan trauma itu keluar dari alam bawah sadar kita.

Cara lainnya, adalah cinta. Yep, cinta. Misalkan cinta seorang ibu kepada anaknya. Ada penelitian dimana seorang anak dipantau gelombang otaknya. Di waktu yang bersamaan, sang ibu yang berada di tempat jauh dari lokasi si anak berada, ditanya berbagai macam pertanyaan. Disaat ditanyakan pertanyaan yang menyangkut kasih sayang, gelombang otak si anak menjadi tenang. Lalu disaat ditanyakan pertanyaan yang memancing emosi dan amarah, gelombang otak si anak ternyata menjadi kacau dan tidak tenang lagi.. Terbukti bahwa hubungan batin ( cinta ) antara ibu dan anak ini mempengaruhi emosi, perasaan, dan alam bawah sadar kita. Semua itu karena cinta mengeluarkan frekuensi layaknya kita sedang menelepon orang dengan telepon genggam. Frekuensinya tidak tampak, tapi dengan frekuensi itu penelepon dan pemerima bisa tersambung. Begitu pula dengan cinta. Hubungan antara ibu dan anak, pasangan, atau kerabat bisa mempengaruhi hidup kita. Dengan itulah luka hati juga bisa disembuhkan.

Jadi mulai sekarang, cintailah diri sendiri dan lingkungan anda untuk mendapatkan feedback positif. Jangan banyak ngedumel dan mengeluh. Berusahalah untuk berpikir positif dan mencintai kehidupan anda. Tak apa jika anda bipolar, skizofrenia, gangguan panik, atau apapun itu. Cintai diri anda dan hidup anda. Maka gelombang cinta anda itu akan memperbaiki alam bawah sadar, emosi, dan perasaan anda secara otomatis..

# Jangan Adalah Ancaman



Maksudnya disini, adalah kata "jangan" yang bisa menjadi ancaman bagi kita sendiri.Otak kita mengenal kata-kata yang positif dan negatif. Tapi tidak mengenal kata jangan. Jadi disaat mood anda sedang kacau lalu ingin meyakinkan diri anda sendiri, hindari kata "jangan". Misalnya, "Wah mood gw kayaknya lagi down nih.. Please jangan kambuh.. Jangan kambuh.." Saat kita mengatakannya, otak kita justru membaca kata "kambuh" karena otak tidak mengenal kata "jangan". Sebaiknya, ucapkan "Semoga gw jadi tenang, sehat, terkontrol.." Seperti itu contohnya. 

Sama halnya dengan seorang ibu yang mendidik anaknya. Disaat sang ibu mengatakan "Jangan pulang malam, jangan pergi jauh-jauh.." otak sang anak dengan otomatis memprogram untuk berkeinginan menjadi pulang malam dan pergi jauh-jauh. Ya, karena otak kita tak mengenal kata "jangan". Selain kata "jangan" hindari juga kata "tidak". Pokoknya, ganti jangan gelisah menjadi tenang, nggak resah menjadi terkontrol, tidak kambuh menjadi sehat. Ucapkan kata tenang, terkontrol, sehat berulang-ulang kapanpun dimanapun agar otak kita terprogam menjadi seperti kata yang kita ucapkan.

Sekian untuk hari ini, tunggu sesi berikutnya ya.. : )