by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Overdosis Obat, Lagi



Mungkin ada yang udah baca kisah gw overdosis obat di post gw bulan November 2010. Nah kali ini gw mengalaminya lagi. Yap, gw overdosis obat mood stabilizer untuk kedua kalinya.

Rabu, 18 Mei 2011

Hari ini gw lewati dengan suka cita. Pagi-pagi gw bangun dan pergi kuliah. Siangnya gw mengerjakan tugas kelompok. Sorenya gw kembali ke rumah. Seperti biasa, gw browsing internet, buka facebook, blog, dll. Malamnya, gw merasa tidak enak. Gw 'aware' kalau tampaknya gw akan lepas kendali. Jadi gw mulai menggunakan teknik coping gw. Dengerin lagu yang tenang sambil relaksasi dan dzikir. Lalu karena masih merasa tidak enak, gw mencoba melukis. Satu gambar dari crayon selesai. Lalu gw menggambar lagi dengan cat air sampai totalnya ada 4 gambar. Tapi gw masih merasa tidak enak. Dan tiba-tiba, gw kepikiran untuk minum obat banyak-banyak lagi. Pikiran ini terlintas begitu saja dan gw sama sekali tidak memikirkan apa bahaya yang akan timbul. Jadi gw ke kamar mama untuk mengambil kunci lemari dimana obat gw disimpan. Kali ini mama sedang tidur di kamar yang lain. Jadi gw bisa mengambil obat itu dengan lancar. Lalu gw mengambil sebotol air putih dan kembali ke kamar gw. Dengan tenangnya gw menelan 15 butir mood stabilizer ( Lamictal ) tanpa memikirkan bahayanya. Aneh ya.. Siangnya gw baik-baik saja lalu malamnya gw bisa lepas kendali. Lebih mirisnya, hari itu adalah hari ulang tahun perkawinan mama papa. What a day..

Kamis, 19 Mei 2011

Pukul 4 pagi gw terbangun dengan rasa mual dan ingin muntah. Otomatis gw mencoba duduk di tempat tidur berniat ke kamar mandi. Tapi, baru duduk saja gw terhempas kembali ke tempat tidur karena pusing sekali. Ya istilah awamnya pusing 7 keliling, istilah kerennya vertigo. Saat itulah gw ingat bahwa gw meminum 15 butir mood stabilizer sebelum gw tidur. Gw mencoba berdiri untuk kekamar mandi. Gagal. Sama sekali tidak bisa berdiri. Akhirnya gw muntah di lantai kamar. *udah gak usah dibayangin.jijik* Setelah itu gw coba tidur lagi. Lalu tiba2 gw terbangun karena gw terjatuh dari tempat tidur. Kaget dan sakit. Gw juga gak tau kenapa bisa jatoh gitu. Padahal gw kalau tidur kan gak lasak. Akhirnya gw mencoba bangun untuk pindah ke kasur lagi. Tapi, gagal lagi saudara-saudara.. Untuk duduk aja susah. Lalu akhirnya berhasil duduk tapi gw muntah dan akhirnya terhempas ke lantai lagi. Damn. Gawat ini. Gw berusaha meminta pertolongan. Tapi hp gw ada dibawah bantal di kasur. Gw mencoba menggapai hp gw. Ada kali sejam-an gw nyari hp. Yang keambil remote ac sama dompet. Kemana hp dan iPod gw.. Setelah berusaha keras, ternyata hp gw ada di kolong tempat tidur. -.-" cape deh. Gw susah2 nyari diatas kasur ternyata hp-nya nggak jauh dari tempat gw terhempas. Mungkin hp-nya ikut jatoh pas gw jatoh. Setelah berhasil mendapat hp, gw mencoba menelepon mama. Berkali-kali gw pencet nomor salah karena layar hp terlihat berputar saking pusingnya. Susah untuk fokus. Tak lama setelah adzan subuh, mama datang dan panik.

"Papaaaa.. Papaaa." Mama memanggil papa karena bingung melihat anaknya terhempas dilantai lantai dengan muntah disekitarnya *beneran deh gak usah dibayangin* Papa akhirnya datang membantu gw duduk dan mama menelepon ambulans. Itu ambulans lama amet datangnya. Gw capek duduk tapi gak bisa naik untuk berdiri. Terlalu pusing.. 


Sambil menunggu ambulans itu, berdasarkan cerita mama, katanya gw antara sadar dan nggak. Mata gw terbuka sebentar lalu tertutup. Gw juga gak sepenuhnya inget apa yang terjadi. Mama juga bilang kalau gw seperti bicara tapi nggak jelas dan kacau. Mirip orang mengigau. Entahlah mungkin benar karena gw gak inget. Setelah ambulans dateng, 2 paramedis masuk kekamar dan langsung memeriksa vital sign gw ( tensi, suhu, nadi, nafas ) dan memberi gw infus. Setelah itu gw merasa antara tidur dan terbangun. Sepanjang perjalan dari kamar ke ambulans, ambulans ke RS, gw merem. Akhirnya sampai di sebuah rumah sakit dekat rumah. Tapi sesampainya di UGD, gw ditolak untuk dirawat karena disana tidak ada dokter psikiatri. Jadi gw dioper ke RSCM.

Sampai di RSCM, gw masuk di UGD-nya. Tapi itu UGD penuh dan banyak pasien mengantri disana. Akhirnya setelah menelepon psikiater gw, seorang residen ( dokter yang lagi ngambil spesialisasi ) psikiatri datang melihat kondisi gw. Berhubung gw-nya setengah2 gitu, akhirnya residen itu bertanya kepada mama. Gw hanya bisa bilang "Pusing banget dok.." selebihnya gak inget. Gw juga merasa seperti sedang mimpi. Berkali-kali gw bertanya, "Mama dimana ? Aku mimpi nggak ma ?" sambil mencubit pipi sendiri. Itu bener-bener antara sadar dan nggak deh..

Berhubung UGD-nya penuh dan gw butuh penanganan segera, akhirnya psikiater gw datang dan membantu gw untuk mencari kamar perawatan. Sayangnya semua penuh, dan gw dioper lagi ke RSCM Kencana. Itu looh, RSCM versi swasta yang gedungnya bagus dan kelasnya internasional. Memang lebih mahal. Tapi daripada gw kenapa-napa jadi dioper kesana. 

Sampai sana, gw ditangai dokter yang sama saat gw overdosis pertama kalinya. Untungnya itu dokter baik banget dan masih inget gw. Jadi gw ditolongin sama dia. Selain memantau vital sign, kadar oksigen darah, dan fungsi jantung, tindakan lainnya adalah NGT ( Naso Gastric Tube ). Semacam selang yang dimasukin dari hidung hingga bisa masuk lambung. Hal itu dilakukan untuk mencuci lambung gw yang mungkin jadi iritasi atau  whatever karena obat yang gw minum. Dan itu gak enak banget rasanya. Untung dokter itu baik dan bersedia menemani gw selama gw dipasang NGT. Mama papa sudah nggak sanggup ngeliat gw dan mereka menunggu diluar. Gw juga sempet ngobrol sebentar sama dokter itu, lalu tertidur. Kebangun lagi ngobrol dan tertidur lagi.

Oh ya, selain NGT, gw juga diambil darahnya. Totalnya ada 4 tusukan karena 2 tusukannya gagal. Masang infus juga gagal ditangan kanan jadi dipindah ke tangan kiri. Nambah lagi 2 tusuk. Pokoknya setelah gw hitung mulai dari gw diinfus dirumah sampai boleh pulang, ada 11 tusuk. Mamiiii..

Setelah gw lebih stabil, gw dipindahkan ke kamar perawatan. Malamnya psikiater datang dan gw gak bisa menceritakan kejadian karena masih pusing. Intinya sehari itu gw pusing luar biasa sampai gak bisa berdiri. Hanya tidur di kasur RS antara sadar dan nggak.

Jumat, 20 Mei 2011

Gw masih pusing, tapi lebih mendingan dari kemaren. Gw udah bisa melihat dengan fokus. Kemaren kan semua terasa berputar.. Hari ini psikiater visit dan gw bisa menjelaskan kronologi kejadian. Gw sudah sadar sepenuhnya dan nyambung kalau diajak ngomong. Tapi masih pusing jika duduk dan berdiri. Selain psikiater, dokter penyakit dalam juga datang melihat kondisi gw. Intinya hari ini gw sudah sadar, bisa ngomong. bisa makan minum, dan gak muntah lagi.


Sabtu, 21 Mei 2011

Keadaan gw membaik. Tapi masih pusing kalau berdiri. Duduk sudah bisa. Tak banyak yang terjadi hari ini. Hanya psikiater yang visit. Kali ini gw berdiskusi dengan psikiater dan mama. Jadi kami membicarakan kejadian ini bersama-sama. Terus, salah satu infus gw juga sudah dihentikan. Jadi gw dikasih 2 infus pas di UGD, nah yang satu udah boleh dilepas. Satu lagi masih dipasang.

Minggu, 22 Mei 2011

Hari ini infus gw sudah dilepas dan gw dipindahkan dari RSCM Kencana ke RSCM lama. Alasannya karena biaya dan dokternya lebih banyak di RSCM lama. Gw pindah dan ternyata kamarnya lebih besar walau bayarannya lebih murah. Sorenya psikiater visit dan ya begitulah gw menjalan psikoterapi.

Malamnya, entah kenapa perasaan gw gak enak dan tiba-tiba benci sama mama. Padahal kan mama baik sekali sudah merawat gw. Aneh sekali malam itu. Gw tiba-tiba bete tak ada angin tak ada hujan. Mungkin itu yang disebut irritable. Tiba-tiba marah kepada orang yang disayangi tanpa alasan yang jelas. Akhirnya gw pancing emosi gw untuk lepas. Gw coba untuk menangis. Gw mendengarkan lagu sedih dan membuat puisi. Maksud gw biar bisa nangis dan lega. Tapi setelah nangis malah jadi tambah sedih. Gw akhirnya memhubungi psikiater gw. Tak lama, 2 orang residen psikiatri datang membantu gw meluapkan emosi dan mengeluarkan uneg-uneg. Gw merasa lebih baik setelah itu. Lalu gw minum obat dan tidur. Untung gw segera mendapat pertolongan dari residen itu. Kalau tidak, gw bisa ngamuk dan marah-marah malam itu. 

Senin, 23 Mei 2011

Gw sudah pulih. Bisa berdiri dan melakukan aktivitas sendiri. Pusing gw sudah hilang. Setelah psikiatri visit, gw diperbolehkan pulang. Selama diperjalanan, gw baru menyadari betapa bahayanya apa yang gw lakukan ini. Terserah orang lain mau bilang gw dodol, bego, whatever tapi memang gw saat menelan obat itu tidak kepikiran dengan bahayanya. Hanya ingin memuaskan diri dengan obat-obatan. Gw juga tidak mengerti kenapa yang terlintas harus minum obat banyak-banyak. Harusnya gw kapok dong.. Secara gw pernah dirawat juga karena hal yang sama. Nggak masuk akal, tapi itulah kenyatannya. Gw juga gak niat untuk bunuh diri. Semua ini diluar kontrol gw..

Kesimpulannya...

Pertama, jangan main-main dengan penyakit anda terutama Bipolar. Gw memang terlihat stabil dan sehat-sehat saja pada siang hari. Tapi bisa berubah di malam hari. Itulah bipolar, perubahan mood yang drastis, bisa  datang kapan saja, dan kita tidak pernah tau separah apa serangan yang muncul. Jadi, bagi anda yang merasa bipolar, segeralah kunjungi psikiater dan meminta pertolongan, walaupun sakit anda ringan dan sepele. Karena Bipolar tidak mengenal siapa, kapan, dan dimana. Semua bisa terjadi tidak terduga dan diluar kendali.

Kedua, jangan sok tahu dengan apa yang terjadi pada diri anda. Apalagi sudah ada yang menyuruh anda berobat ke psikiater. Berarti mereka tahu anda 'berbeda' dan butuh pertolongan. Kadang memang gejala bipolar membuat penderitanya merasa lebih percaya diri dan merasa paling benar disaat manik atau hipomanik. Bisa saja yang anda anggap normal, adalah suatu kondisi yang tidak normal.

Ketiga, menyambung kesimpulan kedua, anda mungkin tidak bisa menilai diri anda sendiri. Itulah gunanya teman, orang tua, psikiater, dan orang-orang dari lingkungan sekitar. Mereka semua melihat apakah ada perubahan pada diri anda. Mereka akan berusaha memberikan pertolongan pada anda. Mereka menyayangi anda dan tak ingin melihat anda sakit. Mereka peduli dan ingin anda kembali seperti dahulu. Maka hargailah usaha mereka walau anda tetap merasa diri anda yang benar.

Keempat, tak usah berkecil hati jika kenyataannya anda sakit. Anda tidak sendirian. Banyak yang bisa membantu anda. Terimalah apa adanya dan tetap bersyukur. Setelah kesulitan ada kemudahan. Manusia tidak akan diuji diluar kemampuannya. Dan bantuan akan datang bersama kesabaran..

Kelima, perlu diingat bahwa penanganan bipolar tidak hanya dari satu sisi. Tetapi bersifat holistik ( menyeluruh ). Yaitu obat, psikoterapi, religi, dan kemauan dari diri sendiri. Jika salah satunya terlewat, maka kemungkinan kambuhnya besar atau tingkat keparahannya tinggi. Syukur jika bisa stabil. Tapi suatu waktu bisa saja anda menjadi tiba-tiba depresi atau manik dan lupa berpikir sebelum bertindak. Seperti apa yang terjadi pada saya. Bukannya menakut-nakuti, hanya saya ingin anda berpikir lebih luas tentang bipolar sehingga bisa mengontrol diri sendiri.

Semoga pengalaman gw ini tidak terjadi kepada siapapun di dunia ini. Cukup gw yang menjadi pembelajaran kalian semua dan untuk gw sendiri. Mari sama-sama kita bangun hal yang positif. Berbagilah dengan orang yang anda percaya. Pada dasarnya manusia tidak bisa hidup sendiri. 

Semoga bermanfaat, ditunggu komennya.. ;D