by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Curhat ( 46 )

Sebelumnya, Selamat Natal ya bagi yang merayakan.. :D

Hmm gw ingin sedikit bercerita saja. Memang "This too shall past.." itu benar sekali. Di post terakhir gw nulis tentang kebahagiaan yang gw rasa. Sebenarnya saat itu gw sudah feeling sih kayaknya emang gw udah agak 'naik'. Tapi gw sadar makanya di post itu bagian akhir gw bilang kebahagiaan gw ini bakal berlalu juga. Dan benar saja, 3 hari pertama stase neurologi gw kacau. Di RS sih gw biasa aja, bisa tenang dan profesional. Tapi sampai rumah gw lelah luar biasa, sempet depresi sampai ingin bunuh diri. Malam itu gw bahkan sudah bbm dua dokter gw ( psikiater dan mas dokter ) yang isinya permohonan maaf dan terima kasih, semacam pesan terakhir gitu. Sekarang gw malu sendiri dengan apa yang gw tulis saat itu. Geblek. 

Abis itu gw udah niat mau beli obat2an besok harinya. Apapun obatnya. Sebelumnya gw browsing2 dulu di internet, mempelajari obat apa yang pas. Ini sebenernya udah sering banget gw browsing tapi gw masih belum menemukan yang pas. *jangan ya Allah* terus ditengah browsing akhirnya gw ngantuk sendiri dan besoknya gw bangun baik-baik aja, berangkat koas lagi. -_____-  Bener-bener dah ini bipolar abis. Memang sih pas pulang capek lagi, tapi gak separah malam sebelumnya. Mungkin karena masih bbm terus ama dokter gw ya.

Terus gw bertemu psikiater gw dalam keadaan baik-baik saja. Dia juga bingung karena waktu itu gw sudah menakutkan sekali ampe nulis pesan perpisahan gitu, eh ketemu dia 2 hari kemudian ketawa-ketawa ngomongin konsulen neuro gw sekarang dan kisah koas lainnya.

Sampai sekarang sih gw aman, karena lagi libur juga. Jadi gak banyak stressor. Semoga pas masuk besok bisa aman terus ya.. Soalnya gw berencana gak mau ambil libur-libur nganggur lagi.. Mau ngebut nyelesein koas gw tanpa jeda. Tapi ya liat kondisi juga sih.. Kalau memang bener-bener kacau ya off dulu. Harapannya sih kuat terus.

Btw, sebentar lagi tahun 2012 berakhir. Jadi pengen flashback. Awal tahun gw lewati di rumah sakit karena overdosis obat. Dan bulan-bulan kemudiannya juga gw bolak-balik dirawat. Baru kali ini dalam satu tahun bisa dirawat berkali-kali mulai dari bangsal biasa ampe bangsal jiwa. Bittersweet. Ya memang too much pain juga. Tapi gw bersyukur alhamdulillah gw masih hidup dan berhasil melewati satu tahun penuh perjuangan. 

Gw nggak mau banyak berkhayal bahwa kedepannya gw bakal lancar2 aja koas dan sehat. Gw nggak tau kehendak tuhan. Dan kalau gw kebanyakan berharap gw tau bakal sakit banget rasanya saat harapannya sirna. Jadi gw jalani hidup apa adanya, yg penting gw masih punya tujuan untuk menjadi psikiater. Bagi gw, sekarang tujuan dan harapan itu agak beda. Definisi gw, kalau tujuan itu yang membuat hidup kita terarah. Misal gw ingin jadi psikiater. Tapi kalau harapan, bagi gw itu semacam khayalan-khayalan yang ingin gw raih. Ya mungkin juga jadi kenyataan, tapi so far sih banyak gagalnya. Misal, gw koas tepat waktu dan langsung ambil spesialis. Nah itu harapan. Kalau tujuan, gw bakal tetep pengen jadi psikiater tapi gw gak bakal tahu bakal kapan kesampaiannya, yang penting ada arahnya. Kalau harapannya, bisa jadi psikiater tepat waktu. Kira-kira begitu.

Oh ya, pengen share pemikiran juga. Melihat kehidupan gw hampir 3 tahun didiagnosis bipolar, sekarang gw jadi bertanya-tanya, sebenarnya kehidupan yang normal itu gimana ? Abis gw lagi ngerasa ok, terus ternyata mood gw malah naik dan kebahagiaan, kebijaksanaan, dan kebaikan lainnya yang gw rasa adalah tanda hipomanik. Jadi gw ngerasa gw gak akan lagi pernah merasakan kebahagiaan yang sebenarnya.. Entahlah, ini hanya perasaan sesaat aja mungkin. Mungkin ada yang ingin berkomentar..

Hmmm, sekian dulu. Thanks for reading. :)

Curhat ( 45 )

Hmmm, sebelumnya, gw nggak tau apakah ini sebuah kebahagiaan yang wajar atau gw sedang hipomanik. Gw akan sedikit bercerita tentang kondisi gw beberapa minggu ini.

Saat ini sudah memasuki minggu ke-5 stase mata. Saatnya ujian. Ujian gw dilaksanakan lusa. Malam ini gw belajar sedikit, lalu terpikir untuk buka blog. Gw baca ulang beberapa kisah yang gw post disini, terutama saat-saat dimana gw overdosis obat dan saat gw dirawat di bangsal jiwa. Tanpa sadar, air mata gw mengalir.

Gw bersyukur sekali dengan keadaan gw yang sekarang. Gw bisa tersenyum. Gw bisa berangkat ke RS tempat gw koass dengan semangat, membantu dokter disana memeriksa pasien dan menulis resep, diskusi dan belajar, memahami keagungan ciptaan Allah dalam sebuah organ bernama mata. Gw bisa menikmati hari dan hidup gw sebagai calon dokter.

Ya walaupun ada satu dua hari dimana gw merasa tidak enak, tapi tampaknya rasa tidak enak itu tercover oleh obat jadi tidak muncul gejala yang aneh-aneh. Gw rasa kombinasi obat gw sekarang pas di gw.

Dengan kondisi seperti ini gw membaca ulang blog ini dan mengingat peristiwa-peristiwa kelam yang pernah gw alami. Sedih rasanya saat mengingat bahwa dulu, hal yang bisa membuat gw puas dan terlepas dari belenggu adalah dengan melukai dan menyakiti diri sendiri. Betapa sedihnya gw mengingat bagaimana perasaan gw saat menahan keinginan untuk minum obat banyak-banyak. Saat keinginan itu tak lagi bisa dikontrol dan akhirnya gw sampai masuk UGD dengan penurunan kesadaran. Gw ingat bagaimana rasanya depresi berat datang seperti batu yang menimpa seluruh tubuh gw. Berat. Dan cara yang bisa membuat gw merasa puas adalah dengan menggoreskan lengan gw sampai berdarah. Gw ingat saat-saat dimana amarah dan perubahan mood datang begitu hebat sampai gw kebingungan dan tak lagi bisa mengenali kemunculannya, dan berakhir menjadi tindakan2 impulsif seperti merusak barang. Gw ingat saat gw harus dirawat di bangsal jiwa, dari jendela kamar gw melihat koass lain sedang belajar. Seharusnya gw seperti mereka. Tapi gw malah berada di bangsal jiwa sebagai pasien.

Masa lalu gw. Jika ada orang yang baru kenal gw sekarang dengan kondisi seperti saat ini, mungkin dia tidak akan percaya dengan apa yang terjadi pada gw di masa lalu. Derita yang gw simpan dibalik senyuman palsu gw. Keraguan yang tersembunyi dibalik perkataan "aku baik-baik saja.." Kenangan-kenangan yang pahit.

Ya, setiap orang memang punya masa lalu. Setiap orang pernah menyimpan derita. Sama halnya dengan pasien-pasien di poli mata yang gw temui. Siapa sangka seorang anggota TNI yang terlihat tegap dengan tubuh yang bagus dan langkah mantap, ternyata hanya bisa melihat dengan satu mata karena mata satunya buta akibat luka saat bertugas. Ada juga seorang ibu yang cantik, ternyata satu matanya buta dari kecil. Kita tidak bisa menebak bagaimana kehidupan orang dari luarnya saja.

Tapi mungkin, tanpa masa lalu atau derita yang pahit itu, gw tidak akan bisa mensyukuri hidup seperti sekarang. Mungkin gw tidak akan sekuat sekarang. Dan mungkin gw tidak akan bisa memahami sisi lain dari kehidupan orang lain seperti sekarang. Dari pengalaman gw menderita bipolar, banyak pelajaran hidup yang bisa gw ambil.

Walaupun gw tidak bisa menjamin gw bakal seperti ini selamanya, karena semua kehendak Tuhan, tapi paling tidak, pada hari ini gw menuliskan sebuah bukti bahwa gw ternyata bisa mencapai impian gw. Gw mampu. Gw pernah dalam keadaan normal dan menjalani hidup seperti orang lain. Ternyata ada harapan. Jadi seandainya gw nanti jatuh lagi ( semoga tidak ya... ) gw bisa membaca tulisan ini. Tulisan yang mengingatkan bahwa semua derita yang gw alami akan berlalu. Benar kata tuhan bahwa setelah kesulitan ada kemudahan.

Dan gw juga ingat, kebahagiaan gw saat ini juga mungkin akan berlalu. Tak ada yang abadi, dan hidup itu bagaikan roda. Sadari apa yang sedang terjadi dalam kehidupan kita, ambil hikmahnya dan syukuri, jika dalam derita percaya bahwa derita tersebut akan berlalu, jika dalam kebahagiaan jangan sampai kita sombong karena kebahagiaan juga akan berlalu. Begitulah seterusnya yang akan terjadi dalam hidup. Tapi ingatlah, dari setiap peristiwa yang kita alami, pasti ada maksudnya yang sudah ditetapkan Tuhan. Bukalah mata untuk mencoba mengerti dan memahami lebih dalam, karena hidup memang misteri..

Curhat ( 44 )

Hmmmh, ini sebenernya gw sedang dikejar deadline ngerjain tugas. Tapi berat banget mau buka folder tugasnya, yg kebuka browser internet. Hahaha. Update dikit boleh lah ya..

Gw sekarang sudah mulai koas lagi. Beberapa hari sebelum koas biasalah muncul keparnoan dan ketakutan yang berlebihan. Bahkan gw tiba2 kehilangan minat untuk melanjutkan cita-cita gw menjadi dokter. Gw tiba2 kepengen berkutat di dunia seni aja, belajar seni rupa dan design grafis dan jadi freelancer atau seniman yang stressornya lebih ringan dari menjadi dokter. Ya mungkin gara-gara 2 minggu gw ikutan pameran dan ngobrol sama seniman jadi kepengen kaya mereka. Gw sampai bikin untung ruginya gw melanjutkan dokter atau putar haluan. Gw inget semua derita gw berkutat dengan gangguan bipolar ini selama pendidikan. Cukup sudah derita itu.. Gw nggak mau lagi menderita.. Sampai seorang teman di KPSI bilang gw akan mengecewakan banyak orang kalau gw gak jadi dokter. Ya memang selain karena memang keinginan sendiri, menjadi dokter adalah harapan banyak orang di sekitar gw. Mulai dari orang tua, saudara, sampai teman-teman terutama yang ada di komunitas kesehatan jiwa. Yang membuat gw kembali melanjutkan pendidikan dokter gw adalah harapan dari mbah dan kakek gw yang sudah meninggal. Betapa bahagianya cucu mereka ada yang akan menjadi dokter. Gw inget saat pertama gw mengatakan kalau gw masuk fakultas kedokteran, gw melihat sinar mata yang memancarkan kebahagiaan dan kebanggan dari mereka. Rasanya egois sekali jika gw seenaknya memutar haluan belajar seni yang masa depannya belum jelas karena gw harus memulai dari awal, dan gw lakukan itu karena gw nggak ingin menderita. Gw ingin hidup enak. Mungkin diri gw bahagia *itupun mungkin loh* tapi bagaimana dengan janji gw untuk membahagiakan mbah dan kakek ? Yang ada gw mengecewakan mereka. Dan gw tersadar, hidup itu memang tempat diuji. Gak ada yang sukses tanpa merasakan derita. Jadi gw memutuskan untuk kembali melanjutkan koas gw. Gw memilih untuk membahagiakan orang lain, dengan begitu gw juga akan merasa bahagia. Daripada gw bahagia sendirian dengan hal yang baru dan belum jelas bagaimana kedepannya.

Yang penting, semua psikiater yang gw kenal mengatakan gw mampu kok. Memang gw mengalami gangguan, tapi mereka yakin dengan kemampuan gw. Lain halnya jika mereka mengatakan sebaiknya gw mencari pekerjaan yang lebih ringan. Mungkin gw akan mempertimbangkan untuk putar haluan. Tapi mereka semua yakin gw bisa menjadi dokter bahkan psikiater sukses. Jadi tak seharusnya gw meragukan kemampuan gw. Hanya, bagaimana gw merubah keraguan yang menurut gw wajar muncul, menjadi sebuah kekuatan. Mungkin kalau teman-teman koas gw cukup berjalan bisa lulus, gw harus sedikit berlari. Bekerja ekstra untuk membuat mood gw tetap baik dibawah tekanan, selain dengan minum obat.

Seorang psikiater gw juga mengatakan, ambilah hikmah dari semua pengalaman gw. Seandainya gw tidak mengalami semua ini, mungkin gw akan menjadi dokter yang gitu-gitu saja. Sama seperti kebanyakan dokter lainnya. Tapi dengan apa yang terjadi dengan diri gw, sebenarnya gw memiliki kekayaan batin dan pengalaman. Bisa dibayangkan, misal saat seorang pasien berobat ke dokter karena depresi, dokter biasa mungkin hanya bisa membayangkan bagaimana rasanya depresi dari apa yang dia baca di buku. Tapi jika pasien itu datang ke gw, gw bisa mengerti dan memahami dengan jelas apa yang dia alami, memberi terapi sesuai prosedur, dan bisa memberi nasihat dengan rasa empati yang tinggi. Karena gw pernah melewati masa depresi itu.. Ya psikiater gw berkata seperti itu. Berkali-kali beliau mengatakan gw akan menjadi psikiater sukses. Semoga ucapannya menjadi doa yang dikabulkan Allah SWT. Amiiin.

Bicara mengenai derita, gw saat ini baru memasuki minggu kedua koas. Dan sejauh ini, belum ada masalah berarti yang mengganggu mood gw. Kalau capek, tugas, atau diomelin mah itu udah makanan koas. Jadi itu gak masuk itungan. Tapi dengan tugas2 dan omelan itu, gw bisa bertahan. Gak ada galau2 berlebihan. Jauh dari bayangan gw saat sebelum mulai koas, yang ada di bayangan saat itu gw akan menderita sekali. Ya mungkin karena obat gw juga sudah pas, dan gw berusaha menjalani semua ini dengan ikhlas. Semoga bisa tetap aman sampai selamanya nanti.. Amiiin, doakan ya guys.

Hmmm, sekian dulu update gw. Itu tugas jurnal udah manggil-manggil.. Haha. See ya!

Ancol Art Festival ( Jambore Seni Nasional ) 2012

Kali ini gw akan menceritakan pengalaman gw menjadi peserta yang ikut pameran di Ancol Art Festival alias Jambore Seni Nasional yang ke-17, berlokasi di Pasar Seni Ancol, mulai dari tanggal 2-11 November 2012. Ayo yang mau dateng, masih ada waktu seminggu. : )


Jadi, pada tahun ini, tema AAF adalah "Seni Rupa sebagai Jalan Menuju Budaya Masyarakat yang Sehat". AAF sendiri sudah berlangsung selama bertahun-tahun, yang membuat berbeda pada tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya adalah keikutsertaan penderita gangguan jiwa seperti skizofrenia dan bipolar dalam pameran. Para ODMK ( Orang dengan Masalah Kejiwaan ) diberi space yang luas di area pasar seni. Sebenarnya yang utama adalah pameran karya seni Pak Wi ( Dwi Putro ), seorang penderita skizofrenia. Selama bertahun-tahun Pak Wi menjadikan melukis sebagai media katarsis, dibina oleh adiknya, Mas Nawa Tunggal. Ada hampir 3000 lukisan karya Pak Wi. Beberapa karyanya dipamerkan pada AAF tahun ini. Nah selain Pak Wi, ada peserta pendamping yang juga ODMK, memamerkan karyanya tak jauh dari area karya Pak Wi. Sampai saat gw menulis post ini, ada 3 orang ODMK yang ikut serta. Gw, Hana Madness, dan Ana Geboy. Diharapkan melalui pameran karya seni ODMK ini, masyarakat bisa melihat bahwa gangguan jiwa bukanlah sebuah hal yang buruk, ODMK juga bisa berkarya. Dengan obat-obatan, psikoterapi, dan kegiatan2 lainnya, ODMK bisa kembali berfungsi normal. Hilangkan stigma negatif terhadap ODMK. Setiap ODMK pasti punya potensi yang bisa dikembangkan, dalam hal ini contohnya melukis. Ada juga yang berbakat menulis, drama, dll. Jadi, jangan terus berkutat dengan buruknya saja, cobalah pandang gangguan jiwa dari sisi positif. Hasilnya bisa luar biasa..

Nah, gw pribadi, mendapat banyak sekali pengalaman dari keikutsertaan gw dalam acara ini. Sudah 4 kali gw dateng ke Ancol, 2 hari saat persiapan, 2 hari saat pameran sudah dibuka. Dan gw merasa sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan ini. Terima kasih khususnya untuk Mas Nawa dan KPSI yang membuat ini semua terlaksana. Banyak yang ingin gw share.. Semoga bermanfaat ya.. *Btw, bukannya untuk sombong2an ya, memang beberapa  bagian dari post ini gw emang pamer, ya namanya aja ikut pameran, tapi gw nulis ini untuk membangkitkan potensi2 ODMK atau siapapun yang membaca post ini. Semoga dapat diterima dan dimengerti..*

Sebenernya tak pernah terpikir oleh gw untuk memamerkan karya gw di acara seperti ini. Awalnya saat lagi ngobrol-ngobrol di sekretariat KPSI, Mas Nawa menawarkan gw untuk pameran. Gw iya-iya saja. Tak memikirkan bahwa pamerannya merupakan bagian dari acara seni rupa besar. Dan detail teknisnya juga baru dibicarakan sekitar 10 hari sebelum pameran. Jadi, setelah tau fix gw ikutan, dalam 10 hari gw memesan frame untuk 22 gambar yang akan gw pamerkan. Selain frame, Mas Nawa juga meminta gw membuat produk, akhirnya gw membuat Tas Canvas dan mencetak Notes. Nggak gampang juga mencari vendor yang pas. Tapi alhamdulillah semua selesai H-3 pembukaan. Ada 2 hari untuk persiapan. Perasaan gw saat melihat gambar gw sudah di frame, gw ketakutan setengah mati. Gw bertanya-tanya apakah orang bisa menikmati karya gw, bagaimana komentar seniman dll, gw cuma modal spidol item + kertas lalu discan dan print, teknik gambar gw gak ada, gw belajar otodidak dan sesuka hati. Gw takut akan penolakan. Gw takut orang melihat gambar gw lalu berkata, apaan nih hitam putih doang gak jelas. Itu yang ada dibayangan gw. Gw bahkan jadi susah tidur walaupun sudah dibantu obat. Dan rasa takut itu masih ada saat gw membawa karya2 gw ke lokasi.


H-2 gw ke Ancol survey tempat dan naro barang. Stand2 lain lagi dibangun, belum ada yang majang karya. Beberapa karya Pak Wi sudah dipajang. Saat itu gw berkenalan dengan Mas Cubung. Dia melihat karya yang gw bawa sambil senyum, lalu katanya karya gw sangat menarik, dan gw berbakat. Gw sih seneng. Kebanyakan orang yang melihat gambar gw memang mengatakan seperti itu. Setelah gw ngobrol-ngobrol sama beliau, baru gw tahu beliau adalah seorang pelukis maestro yang memiliki banyak kios di pasar seni, dan lukisannya bisa terjual sampai 300 juta ! Waaw sekali. Kesenangan gw menjadi sebuah keraguan. Ciyus ? Miapah karya gw dibilang menarik dan gw dibilang berbakat sama pelukis asli, orang yang ngerti seni. Gw bener-bener terbang saat itu. Ini baru pertama kalinya karya gw diakui orang yang memang dibidang seni. Jadi ya harap maklum. Haha. Seketika ketakutan gw hilang, perlahan digantikan sebuah rasa percaya diri. Walaupun nggak langsung melambung, *well ya gw akui agak melambung*, gw merasa dihargai. Apalagi yang menghargai bukan sembarang orang. Ya bisa dibayangkan lah rasanya saat itu. Gw pun pulang dengan tenang setelah keliling-keliling melihat lukisan-lukisan seniman disana termasuk Mas Cubung yang membuat gw terpana.

H-1 gw balik lagi ngasih barang titipan Mas Nawa. Niatnya sih mau majang karya gw saat itu, tapi berhubung karya yang lain belum dateng, jadi susah menyesuaikan penataannya. Jadi ditunda sampai karya dari Hana dateng. Gw bertemu lagi dengan Mas Cubung, dan diajak ke Pameran Lukisan Jakarta Art Award 2012. Subhanallah lukisannya bagus-bagus semua, tekniknya tinggi, maknanya dalem, bikin bengong deh. Sayangnya gw nggak berlama-lama karena ada kepentingan lain. Jadi gw sore pulang.

Hari H, hari pembukaan. Sore-sore gw sudah datang. Pembukaannya sendiri dimulai jam 7  malam. Mulailah gw lembur memajang karya gw yang jumlahnya 22. Lumayan capek juga. Setelah berdiskusi dengan Hana masalah display dan pembagian space, gw mulai bekerja, dibantu Mas Sutrisna. Beliau membantu menata karya gw, ada 2 tema display, yang satu agak monoton dan teratur, disusun rapih. Satu lagi acak, miring2, dan ada tempelan2 lakban sebagai efek2 di papan display. Mas Tris menyebut itu teknik display ekstrim. Nggak rapih, tapi dari jauh menarik perhatian. Kalau gw pribadi ditanya, gw lebih suka yang monoton aja, karena mungkin emang gw masih kaku kali ya. Haha. Sambil masang sambil ngobrol2, ternyata Mas Tris juga pelukis disana, luksiannya juga bisa terjual puluhan juta. Dan dia juga seneng liat karya gw. Makanya dia bantuin gw masang secara gw nggak ngerti cara2 mendisplay. Alhamdulillah ada yang bantu. Perasaan gw, tentu senang karena sudah 2 seniman yang bilang karya gw bagus. Kali ini nggak ampe terbang. Haha. Tepat jam 7 gw beres memajang karya gw. Lalu gw ke panggung utama melihat pembukaan. Banyak seniman, ada beberapa artis, ada pengusaha berpakaian rapih ( mungkin kolektor lukisan ), dan masyarakat penikmat seni. Semua bersatu mendengar hiburan musik dan dilanjutkan dengan diskusi beberapa narasumber. Gw berkeliling juga melihat karya pelukis lain bagus-bagus semua. Bahkan ada anak umur sekitar 5 tahun yang karyanya ampun bagusnya ! Dia melukis disana, pilihan warnanya menarik, walaupun gambarnya innocent banget sesuai umurnya. Berkeliling dan berfoto, tak terasa sudah jam 12 malam. Gw dan keluarga pun pulang.

  

Hari ke-3 pameran. Gw datang lagi ke ancol, bertemu dengan teman dari KPSI yang datang ke pameran. Alhamdulillah mereka juga senang melihat karya gw. Setelah itu berhubung teman KPSI pada pulang, gw jadi sendirian. Untung ada Mas Cubung sama keluarganya, ngajak gw main ke kios. Gw diajarin teknik arsir garis. Bermanfaat buat memperkaya pengetahuan gw, walaupun nerapinnya masih agak susah. But I'll try. Setelah itu Mas Tris dateng, dan nyokap juga dateng jemput. Sebelum pulang kami ngobrol-ngobrol dulu. Dan katanya, ternyata gak hanya Mas Tris dan Mas Cubung yang suka karya gw. Mereka suka membawa pelukis dan seniman lain ke display karya gw, dan semuanya bilang karya gw luar biasa. Bahkan ada seniman yang sudah bertahun-tahun eksis pas melihat gambar gw, langsung bilang "Siapa ini yang gambar ? Kayaknya bukan orang sembarangan.." Weew, kaget juga gw. Padahal, menurut gw ya gambar gw emang lumayan lah, tapi kan udahlah item putih doang, modal kertas spidol, dan ya gitu2 aja.. Garis, block, garis lagi. Entah apa yang mereka lihat, malah ada yang bilang teknik gambar gw tingkat tinggi, teknik komposisi gw bagus dan berani, dan komentar-komentar bermutu lainnya. Gw juga heran. Tapi tentunya gw bersyukur sekali ternyata karya yang gw pikir biasa aja, bahkan gw sempet ketakutan saat mau memamerkan, justru dipuji orang.

Kira-kira begitulah kisah narsis gw, gambar gw dipuji seniman. Haha. Selama 4 hari gw bergaul dengan pelukis, nongkrong ngobrol dan gambar bareng, ada sisi lain dari kehidupan yang gw lihat..

Gw belajar kesederhanaan. Gw melihat gaya berpakaian pelukis disana, sederhana sekali. Hidupnya juga apa adanya. Tinggal sehari-hari di kios walaupun punya rumah juga. Makan minum ya yang ada disana. Tidak ada gadget2 canggih. Tak ada tuntutan untuk harus beli ini itu. Yang penting kebutuhan pokok + kebutuhan lukis terpenuhi. Siapa sangka dalam sebulan bisa membuat beberapa lukisan, yang satu lukisannya bisa terjual sampai ratusan juta. Kalau pada dasarnya dia bukan orang yang sederhana, pasti itu uang sudah terpancar dari merk baju, gadget, dan apartemen yang ia tinggali. Beda banget sama gw yang terobsesi pengen beli iPad Mini, jalan ke mall belanja, makan di restoran mahal. Hmmm harus sering bergaul dengan yang sederhana ini nih gw..

Gw belajar ketulusan dan keterbukaan. Kalau dipikir-pikir, siapa gw bisa gabung sama mereka. Tapi mereka sangat terbuka, mereka mau membuka mata melihat karya dari orang-orang yang bukan seniman dan bahkan karya ODMK. Mereka mau membantu dan membangun orang yang memang ingin mempelajari seni dengan tulus. Mereka mau mengajari gw teknik2 menggambar, memberi gw nasehat-nasehat kehidupan. Gw merasa seperti menemukan keluarga baru, padahal baru 4 hari bertemu. 

Gw belajar keberanian. Menurut mereka, tak ada kata salah dalam berkarya. Saat melukis, tak ada yang menyalahkan saat warna matahari menjadi ungu, atau seperti gambar gw, pelangi berwarna hitam putih. Dalam berkarya, jangan takut akan tanggapan orang atau kegagalan, beranilah mengungkapkan apa yang dilihat atau dirasa. Kalau kita terlalu banyak memikirkan ketakutan, maka kita tidak akan meghasilkan apa-apa. Kalau toh memang ada yang kurang bagus, kita bisa terus belajar. Begitu juga dalam kehidupan, berani menghadapi masalah, jangan layani rasa takut. Lebih baik maju tapi ada salah daripada diam saja.

Mungkin segitu dulu. Semoga dengan membaca post ini, ada ODMK yang menjadi semangat ingin berkarya entah itu melukis menulis atau lainnya. Ayo temukan potensi dirimu. Kembangkan pelan-pelan. Oh ya, itu gambar yang gw pamerkan adalah hasil karya gw selama 2,5 tahun menderita bipolar. Jadi memang nggak perlu buru-buru dalam berkarya. Pelan-pelan saja, nanti juga bisa menikmati proses dan hasilnya. Yang penting ya itu, berani. Buat masyarakat umum, semoga dengan membaca post ini bisa melihat sisi lain dari seorang penderita gangguan jiwa, bahwa ODMK juga bisa berkarya. Jangan stigma negatifnya saja yang menjadi fokus. So, see you next post. Mungkin gw akan ngepost tentang kelanjutan pameran ini. : )


Progress, or Regress ?

Well *muka sok bijak* setiap orang pasti pernah dan akan selalu ada dalam sebuah progress menuju kebaikan, kesembuhan, dan lainnya. Lalu bagaimana jika suatu hari ditengah progress itu orang tersebut mengalami regress ? Apakah sebenarnya regress itu adalah bagian dari progress itu, atau pertanda buruk terhadap progress yang sedang berlangsung ? Kali ini gw akan membahas ttg progress dan regress, dengan contoh kasusnya pengalaman gw sendiri. Semoga bermanfaat, dan correct me if I'm wrong.

# Progress #

Pertama, kita bahas dulu progress yang terjadi dalam diri gw. Setelah gw keluar dirawat yang abis dari Bali itu, gw melakukan beberapa hal yang menurut gw, itu adalah sebuah proses menuju kebaikan dan harapan untuk kesembuhan gw. Gw berkonsultasi dengan seorang psikiater yang berkonsep Mind Therapy. Sekilas tentang Mind Therapy versi beliau, terapi ini dilakukan dengan 3 cara. Obat, Konsultasi ( Ketemu langsung untuk mengeluarkan uneg2 dll ), dan Latihan Mindfulness. Nah mindfulness sendiri itu adalah sebuah konsep meditasi dari ajaran Buddha, yang kini banyak dipakai orang karena manfaatnya besar untuk kondisi kejiwaan dan kesehatan pada umumnya. Intinya, yang dilakukan saat latihan mindfulness itu adalah duduk tenang, fokus pada nafas selama beberapa waktu. Kalau gw 20 menit, 2 x sehari. Nah bedanya dengan meditasi atau relaksasi, saat meditasi dan relaksasi, kita mencoba mengosongkan pikiran, atau membawa pikiran ke tempat yang menyenangkan dan menanamkan kata positif dalam sesi tersebut. Sedangkan mindfulness tidak seperti itu. Saat fokus pada nafas, tentunya kita masih suka ada pikiran2 yang muncul secara random. Mungkin berupa perasaan nggak nyaman, khayalan, sampai rasa gatal dan mengantuk. Nah pada saat pikiran2 itu muncul, cobalah untuk 'sadari' dan biarkan pikiran itu berlalu tanpa menilai pikiran itu baik atau buruk. Cukup rasakan dan sadari. Bayangkan kita sedang menyaksikan / mengobservasi diri sendiri duduk tenang dan menyadari serta merasakan pikiran2 yang muncul. Nggak usah kembangkan pikiran itu dengan penilaian2 baik dan buruk. Misalnya muncul pikiran "tadi gw marah2 tanpa sebab", jangan melanjutkan dengan pikiran2 lain seperti "tuh kan gw marah2 gak jelas. gw udah kaya monster. gw nakutin orang2." Itu namanya kita ngejudge. Jadi cukup rasakan dan sadari bahwa "Oh jd seperti itu rasanya marah2 tanpa sebab." jadikan saja itu kekayaan batin. Kira-kira seperti itu. Gw sendiri masih belajar untuk bisa melakukannya secara benar. Yg penting adalah niat dan konsentrasi. Pada saat latihan, bukan berhasil atau tidaknya kita bertahan 20 menit. Tapi bagaimana kita konsisten menjadikan itu rutinitas. Gw sendiri masih bolong2 melakukan latihan itu. Hehe.

Apa manfaatnya ? Nah kalau pengalaman gw ( tapi perlu diingat gw masih pemula banget ), jika tenik mindfulness itu gw gabungkan dengan anger management yg sudah gw pelajari, itu cukup efektif untuk meredakan amarah atau keinginan2 aneh lainnya. Jadi disaat gw merasa mood sudah mulai gak enak, gw coba tenangkan diri, ambil wudhu dulu, terus konsentrasi menyadari apa yang gw rasa, dan menunda amarah itu. Kalau biasanya gw mengikuti hawa nafsu amarah itu tanpa bisa berpikir yang mana baik dan buruk, kali ini gw mencoba konsentrasi 'menikmati' rasa amarah itu menjadi bagian dari diri gw yang sedang gw rasa. Ya memang nggak semudah itu, perlu latihan. Hasilnya ya lumayan lah bisa meredakan gw beberapa kali dari keinginan marah dan shopping berlebihan.

2 minggu lebih berlatih mindfulness membuat gw merasa memiliki harapan untuk bisa sembuh dan stabil. Melanjutkan cita2 gw tanpa hambatan, dan menikmati hidup. Tapi ternyata, regress itu ada..

# Regress #

Gw memang bisa beberapa kali menghandle ups and downs mood gw serta amarahnya. Tapi ada 2 kejadian yang menurut gw itu kemunduran banget terhadap proses kepada kesembuhan yang sedang gw jalani. Jadi, suatu malam amarah gw memuncak. Sebabnya gak jelas. Yang pasti saat itu gw sedang batuk gak sembuh2. Mungkin karena batuk itu gw jadi gak bisa kemana-mana termasuk ke kampus ngurus skripsi atau jalan-jalan. Itu kemungkinan kenapa gw jadi bete. Kali itu gw sudah coba terapkan mindfulness, tapi terasa hanya bullshit saja. Anger management pun tak mempan. Gw bolak-balik ngiterin rumah. Sampai puncaknya, gw mengambil semacam pentongan kayu, dan gw pukulin kursi kayu di teras belakang rumah sampai hancur kayu kursinya kemana-mana. Gw pukul keras-keras sambil meneriakkan perasaan gw. Sebelumnya gw sudah melukai lengan dengan pisau sampai berdarah. Setelah ngerusak barang itu gw lebih tenang. Akhirnya gw naik ke kamar gw dan mengurung diri sampai besok sorenya. Menahan perasaan amarah yang masih tersisa. Akhirnya hilang sendiri amarah itu. Gw bersikeras tidak mau dibawa ke RS karena gw nggak mau dirawat lagi. Cukup sudah dengan rawat apalagi di bangsal jiwa. 1 hari setelahnya gw bertemu psikiater gw dan merencanakan apa yg harus gw lakukan kalau rasa itu muncul lagi. Saat itu solusinya, gw bisa lebih tenang jika bercerita. Jadi rencananya, kalau gw merasa seperti itu lagi gw dateng ke RS cukup untuk cerita ke dokter jaga mengungkapkan apa yang gw rasa, sebelum gw merusak barang atau melukai diri sendiri, jadi tidak perlu dirawat dan tidak bablas. Gw coba patuhi.

Seminggu kemudian, gw merasakan hal yang sama. Saat itu bener-bener nggak ada sebab dan memuncak cepat sekali irritable gw. Gw sedang di mobil bersama mama dari arah melawai mau ke UI jemput adek gw. Di jalan gw tiba2 kesel sendiri. Entah apa yang bikin gw kesel. Gw tahan kekesalan gw sambil mencoba mindfulness dan anger management. Tapi nggak ngefek. Rasanya tenaga gw banyak dan ingin gw salurkan tapi berhubung lagi di dalam mobil bingung juga mau ngapain. Akhirnya gw mukul-mukulin dashboard pake botol aqua dan ngomong-ngomong setengah teriak entah apa yang gw celotehkan. Sampai di rumah, tanpa pikir panjang gw langsung pergi jalan kaki keluar rumah. Ternyata mama buntutin gw. Lumayan jauh juga gw jalan, maksud gw biar menyalurkan energi gw yang berlebihan. Tapi setelah balik ke rumah, masih aja gw kesel. Gw bolak-balik dari teras depan ke belakang rumah ke depan lagi. Saat itu gw sudah bbm psikiater dan mas dokter gw tapi gak ada yang respon. Lalu gw ingin masuk kamar nyokap untuk meminta bantuan. Tapi ternyata nyokap mengunci pintu kamar. Aneh sekali. Gw tahu kunci kamar nyokap sudah tidak pernah digantung lagi sejak gw dulu pernah ngurung diri di kamar nyokap. Tp kali itu dikunci. Bokap diluar kamar. Dan yang terpikir oleh gw saat itu adalah, nyokap pasti takut melihat gw mau marah2. Dan pikiran itu sontak membuat gw terjun kedalam keadaan sedih setengah mati. Rasanya gw ini sudah benar menjadi monster, membuat keluarga takut, apalagi om gw dateng dan mengatakan bahwa nenek kaget2 melihat gw, bokap sudah lelah, dan nyokap hampir sakit saat melihat gw mengamuk seminggu yang lalu. Hati gw hancur sekali. Sediiiiih sekali rasanya memiliki diri yang bisa tiba2 marah tanpa hujan atau angin, marah dan melukai diri sendiri bahkan orang lain, merusak barang, seperti setan. Sedih sekali gw melihat diri gw. Saat itu juga gw menangis kencang sampai susah bernafas saking terisak-isaknya. Energi gw seketika hilang. Harapan gw sirna. Keinginan untuk mencapai cita-cita dan impian lainnya entah kemana. Yang ada hanya kesedihan yang mendalam. Tapi gw berkomitmen dengan diri gw dan psikiater gw untuk datang ke RS jika berada dalam kondisi seperti itu. Akhirnya nyokap dan om membawa gw ke RSCM untuk bertemu residen jaga. Gw sempet ngobrol2 dengan dokter jaga. Tapi gak terlalu lama juga karena saat itu kebetulan ramai pasien. Setelah sedikit lebih lega gw pulang dan tidur. Gw pikir gw sudah baik-baik saja.

Keesokan harinya, gw bangun masih dalam keadaan sedih. Tapi siangnya gw paksakan pergi ke perayaan hari kesehatan jiwa di sebuah mall. Gw harap dengan bertemu teman-teman kesedihan gw bisa hilang. paling nggak gw ada usaha untuk keluar dari kesedihan itu. Tapi ternyata sama saja. Sesampainya di rumah gw masih saja sedih. Mana saat itu tak ada satupun orang yang bisa gw ajak cerita. Psikiater, mas dokter, teman2, tak ada satupun yang merespon. Gw benar-benar merasa kesepian. Forever alone dan menderita. Sedih sekali rasanya. Dan tiba2 munculah keinginan untuk bunuh diri. Awalnya gw abaikan saja. Dan berusaha mengalihkan ke hal yang lain seperti nonton TV atau main games. Besoknya lagi, di sore hari akhirnya mas dokter merespon bbm gw menanyakan apa yang terjadi. Gw katakan gw sedih dan kecewa melihat diri gw seperti itu. Dan mas dokter lah yang 'menampar' gw dengan wejangan tentang progress dan regress ini. Yang dia bilang pertama, "Berhenti berpikir bahwa ini akan segera selesai." Dalam hati gw, "Ciyus ? Mi apah ? Macacih gw harus menderita selamanya.." errr sorry kok jadi menjijikan gini pake ciyus2an. Tapi ternyata maksudnya semua ini akan berakhir dalam waktu yang gak cepat, butuh waktu lah. Gw jadi relaps lagi malahan mungkin karena gw berharap segera berhasil sukses sembuh. Tanpa mau menerima perkembangan yang sedikit2. Kemunduran dikit itu biasa. Harapan yang selalu ingin progressing progressive itu yang sangat menganggu. Mungkin kemunduran itu malah bagian dari progress itu sendiri. Nggak ada jalan pintas. Ibaratnya skrg gw lagi dijalan, gw lagi ngelewatin jalan macet. Nggak bisa langsung loncat ke tol. Gw jadi terkesan gak ada kemajuan karena gw kepinginnya melompat disaat yang saat ini dibutuhkan merangkak dulu. Dan gw overreact dengan kemunduran gw, dalam hal ini relaps gw. Gw 'tertampar' sekali dengan ucapan mas dokter ini. Sejak mengenal mindfulness dan berhasil menerapkannya *walau gak sering juga* gw merasa memiliki harapan yang sangat besar. Gw akan segera sembuh. Gw menaruh harapan besar kepada progress gw. Gw gak berpikir bahwa progress itu butuh waktu. Makanya disaat gw mengalami sedikit kemunduran dengan relaps, gw jadi seperti terjatuh dari ketinggian. Yang tadinya berharap tinggi banget, tp gagal, dan jadi sedih setengah mati sampai depresi. Memang analisa mas dokter itu tepat seperti apa yang gw rasa. Sejak kecil memang gw hidup serba instant. Mau ini dapet, itu dapet, usaha minimal, tapi luckily bisa berhasil. Sekarang gw dihadapkan ke sebuah perjalanan panjang yang makan banyak waktu dan penuh tantangan. Tapi gw masih suka berpikir instant. Jadilah kaya gini.

Setelah mendapat wejangan dari mas dokter, gw merasa lebih baik. Gw tidur. Tapi besoknya, masih aja gw depresi. Ya memang beginilah adanya yang disebut depresi itu. Di gw, nggak semudah itu untuk keluar dari depresi. Seharian dari mulai bangun tidur sampai malam pikiran gw terus menerus tentang bunuh diri. Kali ini memang aneh. Gw pernah berpikir untuk mengakhiri hidup, tapi yang dulu sekedar "Hidup segan mati tak mau". Cuma rasa ingin hilang dari bumi ini. Tapi yg kali ini gw seriusah ingin hidup gw berakhir. Jika ditanya alasan gw mati, gw nggak tahu. Entah kenapa itu pikiran terus muter di kepala gw. Gw sudah googling obat2an apa yang enak untuk diminum, udah nelpon apotek deket rumah juga tapi obatnya kosong. Sedangkan mau keluar ke apotek lain, gw terlalu malas karena kalau depresi magernya ampun2an. Gw maunya ada yang beliin gw obat, gw minum, dan gw mati. Case closed. Tapi ya masa iya ada yang mau membantu gw bunuh diri. Akhirnya gw guling2an di kamar dibawah awan kesedihan dan pikiran untuk bunuh diri. Sorenya bbm gw dibalas oleh psikiater gw dan akhirnya gw terpaksa ke RS lagi karena pikiran itu bener2 mengganggu. Kali ini nggak cuma sekedar ngobrol. Tapi gw disuruh rawat karena emang gw sendiri tersiksa kalau pulang masih dengan pikiran kaya gitu. Thanks god bangsal jiwa lagi penuh jadi gw dirawatnya di bangsal biasa. Bukan berarti gw seneng dirawat loh, cuma syukur aja dirawatnya nggak di bangsal jiwa. Dan dirawatnya juga gak lama. Cuma 2 hari. Selama dirawat gw dikasih obat yang efek sedatifnya kuat jadi gw bener2 memanfaatkan waktu untuk tidur tidur dan tidur. Dan ngobrol sama psikiater gw juga pas visit. Hari ini gw pulang dalam keadaan jauh membaik. Sedih sudah nggak. Tapi masih nggak nafsu ngapa2in walaupun masih bisa gw paksakan.

# Intinya ? #

Jadi pelajaran yang bisa gw ambil, seperti kata mas dokter, kadang kita berhadapan dengan jalan yang panjang untuk mencapai sebuah tujuan. Selama perjalanan itu kita nggak pernah tahu apa yang harus kita hadapi. Termasuk kemungkinan adanya sedikit kemunduran. Jangan bereaksi berlebihan dengan kemunduran itu dan malah jadi sedih terus lupa dengan perjalanan sesungguhnya. Tapi stay fokus dengan tujuan kita, terima regress menjadi bagian dari progress. Tidak ada yang namanya jalan pintas. Tuhan sudah menetapkan jalan hidup seseorang. Sekarang tinggal bagaimana diri kita 'berjalan'. Kalau kemampuan saat ini masih merangkak, ya tidak apa-apa. Kalau mau berlari boleh saja tapi resikonya jadi mudah lelah. Yang terpenting, kita terus bangkit dan maju. : )



Dirawat Setelah Liburan ke Bali

Ya begitulah kisahnya, sesuai dengan judulnya. Setelah pulang dari Bali gw dirawat di bangsal jiwa lagi selama 6 hari. Ceritanya, di Bali seperti pada post sebelumnya gw memang bahagia dan baik2 saja. Tapi sesampainya di Jakarta dan kembali ke rumah, seperti ada sesuatu yang menekan gw. Entah apa itu. Mungkin suasana rumah atau yang lain. Dirumah gw gelisah, sumpek, tidak tidur, tapi kehilangan minat dengan apa yang biasa gw lakukan. Gw juga marah2. Bahkan psikiater dan mas dokter gw kata2in dengan ucapan yang kasar. Duh, nggak pantes banget pokoknya gw bersikap seperti itu ke orang yang sudah peduli sekali dengan gw. Sampai akhirnya satu malam gw berada di puncak kemarahan gw dan kembali mencaci maki psikiater gw. Gw juga makin gelisah dirumah. Jadi gw memutuskan setuju dibawa ke RS, maksud gw disana cukup ngobrol2 ama residen jaganya aja.

Sesampainya di RS, residen jaganya dateng dan menanyakan seperti biasa ada apa mengapa dll. Terus dateng lagi residen satu lagi yang sudah gw kenal dan pernah menolong gw juga. Akhirnya gw ngobrol banyak dengan residen yg gw kenal itu. Dia membantu gw mengungkapkan perasaan gw, yang saat itu gw jadi tiba2 putus asa dan sedih minta ampun karena psikiater gw sempet bilang dia mungkin gak bisa membantu gw lagi. Gw merasakan takut yang amat sangat kalau kehilangan psikiater gw. Gw diminta menggambarkan perasaan gw yang nggak enak, ya gw gambar aja semacam kotak2 yang terhubung satu sama lain dengan garis ruwet, terus kertas itu dirobek2. Mungkin untuk mengungkapkan sekaligus membuang kekesalan gw itu, dan sekalian nyampah di RS. Haha. Setelah itu gw diminta menggambar perasaan yang membuat gw nyaman di kertas lain. Gw gambar seseorang yg sedang memandang bintang. Karena itu adalah memori terbaik gw saat lagi di Bandung sama sahabat2 gw nonton konser musik, terus memandang keatas penuh bintang yang indah. Sampai sekarang gw belum pernah merasakan nikmatnya bintang seindah malam itu. Setelah gambar2 itu, kita bermain role play, dia berpura2 jadi psikiater gw, dan gw bebas mengungkapkan apa yang ingin gw sampaikan kepada psikiater gw. Tapi gw cuma bisa nangis. Akhirnya dia keluar untuk berbicara dengan nyokap. Saat ditinggal itu gw tiba2 pengen jalan2. Yaudah gw keluar aja ke gerbang IGD dan jalan ngiterin RS. Gak jauh sih. Tapi ya gak sendirian, residennya nemenin gw. Dan gw duduk merenung di depan sebuah kolam kecil yang ada air mancurnya. Untung gw gak nyebur. Terus diajak balik sama dia, dan akhirnya gw menyetujui untuk dirawat. Keputusan yang sangat gw sesali. Hehehe.

Selama perawatan, gw hanya dikamar saja. Secara, itu bangsal cowok abis ada kebakaran jadi digabungin di bangsal cewek, cuma beda kamarnya aja. Nah saat itu pasien cowoknya 9 dan ceweknya cuma 2. Dan cewek yang satunya itu pulang di hari kedua perawatan gw. Jadi gw cewek sendiri. Ugh, aneh rasanya. Untung gw diizinkan bawa laptop. Jadi kerjaan gw nonton DVD sampai bosen. Gw juga diberi tugas, mencari tentang anger management, mengurutkan 10 stressor mulai dari yang terberat sampai teringan, menuliskan hal yang ingin gw rubah dalam diri gw, menuliskan apa saja perubahan pada gw sebelum dan sesudah sakit, dan membuat jadwal harian untuk planning ke depan karena gw nganggur lagi. Btw, mestinya gw masuk stase mata, tapi berhubung gw ada di RS akhirnya gw mengundurkan diri.

Tugas2 sudah gw laksanakan, tapi ternyata proses untuk keluar nggak mudah seperti yang gw kira. Sudah dilakukan 2 kali percobaan negosiasi antara psikiater gw ( yang akhirnya bersedia membantu gw lagi ) dan orang tua gw. Tapi gw masih belum boleh keluar. Yang ada di benak gw saat itu adalah kesedihan yang sangat mendalam. Gw merasa diri gw sudah berubah menjadi monster yang jahat, tanpa maksud untuk menjadi seperti itu, diluar keinginan gw. Gw jadi kasar, marah2, sempet merusak barang dan lain2. Dan mungkin orang tua gw takut sehingga gak pengen gw pulang. Yang dipikiran gw seperti itu. Walaupun kayaknya nggak gitu juga sih. Gw sediiiiih banget. Gw nangis semalaman. Gw juga sempet bohong ke psikiater gw, bilang kalau gw cuma diizinkan bolos koas 3 hari supaya gw boleh keluar dari RS dan kerumah, walaupun gw gak koas. Bener2 gak tega gw bohong seperti itu didepan psikiater gw. Tapi akhirnya gak berhasil juga sih bohongnya. Gw jujur sama dia, setelah diberikan opsi gw berangkat koas dari RS. Ya kali aneh aja gitu pulang pergi koas dari bangsal jiwa. Akhirnya ya gw bener2 belajar anger management. Betapa gw berusaha menahan emosi gw yang memanas saat tahu gw belum boleh pulang. Rasanya pingin menulis kata kasar lagi di tembok RS, menendang pintu, menyerang perawat, dan pelampiasan marah lainnya. Tapi buat apa gw lakukan itu. Gw merenung dan mencoba mempraktekan anger management yang sudah gw pelajari, dan gw berhasil. Ya walaupun gw nangis bombay, tapi gw gak menyakiti orang lain atau diri sendiri, dan tidak merusak apapun. Menurut gw, itu prestasi.

Selama 6 hari disana, beberapa point yang gw pelajari adalah :

1. Give some self respect. 

Gw selama ini mungkin memandang diri gw jeleknya aja, sakitnya aja, padahal dengan sakit itu gw bisa bermanfaat juga untuk banyak orang. Gw terlalu memandang diri gw sendiri rendah dan penuh derita. Padahal ya gak selebay itu juga. Dan selama dirawat hasil diskusi gw dengan residen yang merawat gw, gw harus memberikan diri gw some self respect.

2. Forget the Past and Move On

Memang nggak semudah yang dibilang. Tapi tampaknya memang benar adanya, gw kerap kali menyalahkan orang tua gw atas sakit gw ini. Padahal nyokap gw sendiri sudah lupa kalau dia pernah curhat ke gw sambil nangis2 nyeritain masalahnya dengan bokap. Nah nyokap gw yang jadi biangnya aja sudah memaafkan dirinya dan bokap. Lantas kenapa gw masih nyalah2in mereka.. Forget the past.. Sekarang yang ada dihadapan gw adalah gw saat ini dan masa depan gw. Masa lalu cukup jadi pembelajaran. Memang terbentuk luka, tapi luka bisa sembuh. Sekarang tinggal gimana gw memilih menjalankan takdir gw kedepan. Apakah gw akan terikat dengan masa lalu yang menyakitkan atau berusaha bangkit. Ya kira2 seperti itu.

3. Jangan Sia-Siakan Hal yang Sudah Diraih dengan Emosi Buruk yang Sesaat

Ya ini yang paling susah dijalankan. Seperti kemaren, koas obgyn yang sebentar lagi selesai seolah2 ingin gw sia-siakan dengan minum obat banyak2. Duh, sayang banget kan.. Atau keinginan mengakhiri hidup. Banyak kenangan indah yang akan sia-sia jika harus berakhir seperti itu.. Apalagi emosi buruk itu sifatnya sesaat dan sementara. Bahkan kadang hilang sendiri dalam beberapa menit atau jam. 

4. Anger Management

Teknik yang kudapat antara lain pertama dengan atur nafas, sambil mengulangi kata relax di dalam hati, boleh juga sambil visualisasi tempat yang menyenangkan. Sebenernya ini teknik lama gw sih. Sekarang udah gak mempan. Tapi ya boleh lah dicoba. Kedua, cognitive restructuring, ubah cara pikir. Coba katakan, "Keadaan ini membuat furstasi dan dapat dimengerti saya menjadi tidak senang. Tapi ini bukan akhir dunia dan marah tidak akan memperbaiki keadaan". Cobalah berpikir dari sisi lain. Cukup sadari apa yang terjadi tanpa harus berkomentar apa2. Biarkan amarah itu berlalu dengan sendiri dengan menyadarinya. Ketiga, kalau dalam Islam, dianjurkan untuk wudhu. Pokoknya kena air. Ini menurut gw cukup ampuh loh. Terakhir, coba keluar dulu dari keadaan. Misalnya alihkan ke sesuatu yang diluar pemicu amarah. Kalau perlu menyendiri juga boleh. Asal tau diri aja. Ntar menyendiri malah ngamuk di tengah jalan. Hehe.

Nah itu yang gw pelajari selama gw dirawat. Sebenarnya ada satu faktor kenapa gw bisa relaps sampai segitunya. Faktor itu adalah, TIDAK MINUM OBAT. Gw hampir sebulan nggam minum obat. Yang terjadi, saat itu haid gw kacau dan gw ke dokter kandungan untuk mengatur haid, nah sama dokter itu dikasih 3 macam obat. Jadi total obat yang gw harus minum rutin ada 5 lebih. Dan gw muak sekali dengan obat2an itu. Rasanya pengen diminum sekaligus tapi banyak2 dan udah. Jadi gw nggak minum obat rutin hampir sebulan. Dan ya itu, jangan ditiru ya. Sudah terbukti gak minum obat itu bisa bahaya juga. Tapi bukan berarti penderita gangguan jiwa nggak bisa lepas obat loh, pokoknya ikutin aja petunjuk psikiater yang merawat. Kalau udah saatnya stop, ya bisa distop. Kita bukan kecanduan, tapi memang butuh.

Oh ya, tentang diagnosis, tadinya gw didiagnosis dengan Bipolar II. Tapi kemaren gw liat di file gw *mencuri2 sih liatnya. hehe* diagnosisnya jadi Bipolar I dan ciri kepribadian ambang. Jadi progressnya memburuk. Tapi apalah arti diagnosis. Sebenarnya diagnosis itu istilah untuk mempermudah membahas gejala yang ada aja. Gw akui mungkin karena gw anak kedokteran, jadi gw memikirkan sekali setiap ada diagnosis yang muncul. Tapi sekarang gw sadar, mau sakit apa gw, yang penting fokus ke terapinya. Jangan jadi melabeli diri gw dengan istilah2 diagnosis yang bikin pusing itu. Lagian, prinsip pengobatan juga pada dasarnya mengatasi gejala yang ada. Makanya bipolar itu bisa bervariasi gejalanya. Nggak mudah juga diagnosis pastinya. Obatnya juga bisa sama dengan penderita skizo karena gejala yang muncul mungkin aja mirip. Ya begitulah. Jangan pusing atau berkecil hati dengan diagnosis. Fokus aja ama terapinya. Nanti hasilnya liat sendiri.

Hmmm gw rasa sekian dulu share gw kali ini. Kalau ada yang ketinggalan nanti gw edit. Ambil baiknya, jangan tiru jeleknya. Hehe. : )




Bali..

Di post ini gw akan share pengalaman gw berlibur ke Bali sendirian selama 3 hari. Next post ttg pengalaman gw dirawat lagi. Huuft.

Sejak koas, gw memang punya keinginan untuk berlibur sendirian. Rasanya gw pengen menikmati "Me Time" tanpa ada orang yang mengganggu gw. Terutama keluarga. Gw pengen bebas dari keluarga, orang rumah. Malah pas koas kemaren sempet tinggal di hotel sehari dan merasakan betapa nikmatnya tinggal sendiri walaupun cuma sehari karena abis itu gw sakit tenggorokan + demam *dan nyadar gw masih butuh mereka*. Kenapa Bali, daridulu gw merindukan Bali. Jadi akhirnya gw nekat pergi liburan ke Bali sendirian. Masalah perizinan berjalan mulus walaupun selama di Bali gw tetep ditelponin emak bapak gw. Ya iyalah secara gw anaknya yang masih labil pergi ke pulau lain sendirian. Tadinya gw juga mengkhawatirkan bagaimana kalau nanti gw tiba2 gelisah di sana dan pengen minum obat banyak2 ? Masa iya gw mati konyol di Bali. Gw hanya bisa berdoa semoga gw baik-baik saja dan fokus dengan tujuang gw, berlibur.

Pagi2 gw sudah berangkat ke bandara. Jam 8 pagi gw take off. Pesawat nggak delay. Malah gw yang keasyikan nunggu di lounge eksekutif dan nyaris ketinggalan pesawat. Geblek. Perjalanan berlangsung mulus. Sesampainya di Bandara Ngurah Rai, gw merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Padahal baru sampai bandaranya. Dengan susah payah gw menahan senyum dan tawa bahagia. Melihat banyak bule berkeliaran di sekitar gw, suasananya benar2 berbeda. Gw mengambil koper gw dan menuju hotel. Hotel yang gw pilih bukan hotel mewah banget. Hotel bintang 3 yang udah gw browse di internet, mmm foto2nya bagusan di internet *iyalah*. Tapi gw puas sih ama hotelnya, terutama kolam renangnya. Siang hari sekitar jam 2 gw keluar. Dari hotel gw deket sekali ke pantai dan pusat perbelanjaan + tempat makan. Jadi gw shopping *on controlled budget of course*, makan, dan duduk di pantai sampai sunset. Gw sempet bikin temporary tatto yang emang gak akan gw lewatkan setiap gw ke Bali. Menikmati sunset sendirian hanya ditemani lagu relaxing dari ipod itu surga banget. Gw bener2 menikmati setiap detik kesendirian gw sampai matahari terbenam dan gw kembali ke hotel. Malamnya sekitar jam 10 gw kembali keluar cari makan dan duduk di cafe menikmati live music. Nice band. Nice food too. Jam 12 gw kembali ke kamar. Sendiri itu memang enak jika sedang dibutuhkan. Dan gw memang sedang butuh banget waktu untuk menyendiri. Walaupun gw menyendiri gak akan menyelesaikan masalah gw juga, at least gw punya waktu untuk berpikir dan memanjakan tubuh gw dulu.

Besoknya, ada perubahan rencana karena ternyata hari itu galungan. Gw akhirnya keluar siang sekitar jam 12 setelah toko2 pada buka dan belanja lagi di sana. Emang sih agak mahal kalau di Kuta, tapi gw takutnya besok gak keburu ke tempat beli oleh2 akhirnya gw belanja yang ada aja. Sorenya gw balik dan berenang di hotel. Malamnya gw ketemu temen bokap gw yang dulu banget pernah jadi tour guide gw di Bali pas ama keluarga. Kita ketemu di Lobby ngobrol banyak banget, termasuk kejadian bom bali yang hampir merenggut nyawanya, twice. Dan gw juga merencanakan hari esok, hari terakhir gw untuk nyewa mobil dll.

Hari terakhir pun tiba. Sedih sekali rasanya harus meninggalkan Bali. Paginya gw sudah dijemput supir yang gw sewa. Gw ke Tanjung Benoa pusat water sport. Berhubung gw sendirian, agak susah milih mainan airnya, secara mostly minimal 2 orang. Akhirnya gw naik Banana Boat gabung sama rombongan lain, dan parasailing *bener gak sih tulisannya*. Parasailing is my favourite. Melayang di udara itu lebih nikmat dari hipomanik atau manik. Hahaha. Bebas, lupa sementara dengan dunia. Berasa ada di surga. *maybe gw berlebihan*. Setelah itu gw kembali ke hotel untuk bersih2 dan check out. Setelah check out gw ternyata masih sempet ke tempat beli oleh2 dan belanja *minimal karena duit sudah tipis. haha*. Gw juga nyobain ayam betutu yang di Bali langsung. Gw pernah makan yang di Jakarta, pedes. Pas makan di Bali, maaak, lebih pedes. Tapi enak sih. Hehe. Abis itu gw ke GWK dulu. Belum ada perkembangan disana sejak gw ke Bali terakhir kali. Patungnya si Om Wisnu masih segitu2 aja. Tapi udah ada tari bali rutin gitu tiap jamnya. Jadi gw sempet nonton tari bali. Nah habis itu, gw ke Jimbaran. Too early sih. Abisnya gw mesti ngejer waktu untuik ke bandara malemnya. Dan Jimbaran is my favourite too! Asik banget makan seafood dengan kaki tertanam di pasir, sambil ngeliat matahari mau terbenam, diiringi deburan ombak. Dan lagu yang up-beat. Perfect banget. Surga. Gw berjanji harus bawa keluarga gw kesana *supaya bisa mesen makanan lebih banyak dan ada yang bayarin. hahaha* Too bad, setelah dari Jimbaran gw harus ke Bandara untuk kembali ke Jakarta. Jam 9 malam pesawat gw take off. Dan alhamdulillah gw kembali ke Jakarta dengan selamat.

Well, menurut gw, setiap manusia memang butuh orang lain. Tapi ada kalanya kita butuh waktu khusus untuk diri kita sendiri. Memberi hadiah kepada diri terhadap apa yang sudah kita capai. Gw menghadiahi diri gw Bali karena gw berhasil melewati 4 stase koas walaupun dengan terseok-seok. Dan sebenernya gak mesti seheboh ke Bali juga sih untuk menghadiahi diri. Just pick what makes u enjoy most. Sesuaikan juga ama budget. Kadang buat cewek, ke salon seharian untuk creambath, luluran, facial, pijet2, itu udah cukup. Intinya, hargai diri lo atas keberhasilan yang sudah lo capai. Menikmatinya sendiri mungkin membuat lo akan lebih puas karena gak harus share dengan orang lain. Egoiskah ? Nggak lah. Kan lo gak setiap hari juga sendirian. Hanya di moment tertentu aja. So, why not ? : )

Curhat ( 43 )

You know, setelah gw selesai stase obsgyn, gw pergi liburan ke Bali, sendirian. Yeah, sendirian. Menyenangkan tentunya. Tapi tetep aja, setelah pulang ke Jakarta, besoknya gw resah tiap malem sampai akhirnya gw dirawat lagi di bangsal jiwa RSCM. Gw yang tadinya harus masuk koas mata jadi mengundurkan diri karena bolos terus, dan gak mungkin gw masuk dalam kondisi yang amburadul. Jadinya gw libur 5 minggu lagi deh. Huuuft. Ibaratnya, kalau temen2 gw yang normal pada melangkah satu-satu tapi konsisten jadinya maju terus, nah gw melangkah sekali tapi gede, abis itu mundur 3 langkah. Kapan gw nyampenya! Bisa tetap di tempat aja udah syukur. Gw pengen membicarakan ttg hal ini dengan konselor di kampus gw. Takutnya gw koas kelamaan dan di DO. Duh sayang banget kalau sampai gw di DO. Perjuangan gw meraih sarjana.. Hiks. Sekarang gw sudah dirumah. Sebenarnya banyak yang ingin gw share dan ceritakan. Tapi entahlah gw agak pusing saat ini. Bingung mau cerita dari mana. Nanti ya kalau udah ok gw share pengalaman gw dirawat dan pelajaran apa yang gw ambil disana. Sekarang *tepatnya 2 hari setelah keluar dari RS* gw jadi diare dengan rasa lelah yang amat sangat. Berasa kaya abis kerja rodi 1001 malam deh.. *lebay* sumpah capek banget. Udah capek gitu susah tidur pula. Harus pake obat super. Kalau nggak, susah masuk fase tidur, dan kalau udah tidur otak gw mulai mengarang cerita. Tadi gw bangun merasa fine dan niat jalan2 karena udah lama gak ke mall. Gw makan diluar dan jalan2 sekitar mall, yang ada gw lemes dan perut gw sakit banget. Uuugh. Ujung2nya tidur2an lagi deh sambil main internet dan nulis post ini. Ya begitulah. Sekian dulu. Nanti gw akan cerita lebih banyak.

Curhat ( 42 )

10 minggu stase obsgyn telah berlalu. Dan gw bener-bener terharus sekaligus bangga dengan diri gw. Gw bisa melewatinya. Walaupun tangan gw luka2 akibat self-harm yang gw lakukan disaat gw stres, tapi diluar itu, gw sukses koas stase major 10 minggu dengan hasil yang memuaskan. Banyak duka dan derita yang gw lewati selama 10 minggu itu.. Gw akan cerita beberapa darinya.

Perjuangan gw di minggu pertama sudah pernah gw ceritakan disini. Betapa gw stresnya dengan tekanan baru, betapa ketakutannya diri gw dengan minggu-minggu ke depan yang harus gw lalui. Perasaan putus asa dan keinginan untuk menyerah yang sangat dalam. Rasa tidak ada harapan. Bahkan kehilangan passion untuk menjadi dokter. Tapi bisa gw lewati dengan bantuan psikiater gw tercinta dan mas dokter.

Minggu-minggu berikutnya gw lalui sambil adaptasi perlahan. Gw bisa.

Lalu entah kenapa munculah keinginan aneh gw lagi. Kemungkinan terpicu karena gw naik ambulans saat ngerujuk pasien dan masuk ke IGD tempat gw koas ditambah hormon gw yang lagi kacau karena haid gak teratur, berasa lagi PMS mau dapet dalam versi yang parah. Gw nggak bisa menghilangkan pikiran untuk minum obat banyak2. Sampai suatu hari gw bener2 gak tahan dan gw menelan 20 butir obat jantung yg dijual bebas. Gw pikir gw bakal kenapa2. Ternyata tidak ada yang terjadi dan gw tidur nyenyak. Setelah itu gw sedikit lebih tenang.

Beberapa kali gw berantem dengan keluarga. Gw menulis kata yang sangat kasar di tembok kamar nyokap. Beberapa kali menantang bertengkar dengan bokap gw. Perang mulut dengan nyokap bokap dan om gw. Menonjok lengan nyokap gw sampai lebam kebiruan. Semua terjadi karena hal sepele. Misalnya, gw sedang tidak suka dijemput bokap saat pulang koas karena dia suka ngomong yang menuntut gw untuk sembuh dan lain2 sampai berkhayal gw sudah punya anak. Gw nggak suka. Lalu tiba2 gw dijemput bokap karena nyokap sibuk di rumah. Sampai rumah gw marah ke nyokap. Mukulin, merusak barang2, ngomong kasar, dll. Gw sangatlah teramat irritable. Sedikit masalah sepele bisa membuat gw meledak-ledak tanpa kendali, lalu diakhiri dengan perilaku melukai diri. Belum lagi kejadian itu terjadi disaat keinginan gw untuk minum obat banyak2 sedang hebat. Dan psikiater gw sibuk. Tak bisa banyak diskusi dengan beliau. Begitu pula mas dokter. Tiba2 dia menghilang begitu saja. Nggak ada yang membantu gw. Gw bahkan sempat jadi kasar juga dengan psikiater dan mas dokter. Nggak seharusnya gw seperti itu kepada mereka.

Satu waktu gw benar2 marah hebat. Gw mengurung diri di kamar mama, memecahkan frame foto, lalu menggunakan pecahan kacanya untuk memotong nadi. Tapi baru gw melakukan beberapa irisan, belum sampai nadi, gw sudah tidak kuat karena perih. Darah sudah mengalir, tapi belum deras karena belum mencapai nadi. Gw juga melukai lengan dengan gunting. Semua bekas luka itu ada sampai saat ini. Lalu setelah itu gw keluar kamar dan kabur dari rumah. Dengan didahului perang hebat antara gw dan keluarga, akhirnya gw tidur di hotel. Niatnya gw ingin seminggu disana. Tapi ternyata besok paginya gw malah sakit tenggorokan parah, demam, mual dan terpaksa pulang. Karma does exist.

Lalu sampailah diwaktu menjelang ujian. Gw gelisah tiap malam. Tidak bisa tidur. Mondar-mandir nggak karuan, marah2, dan mencari perhatian terus-menerus. Bener-bener kelimpungan seperti orang lagi PMS. Atau kalau psikiater gw nyebutnya depresi agitatif. Gw tidak minat ngapa2in, tapi irritable. Gw sih lebih ngerasa kaya mixed episode. Puncaknya, di satu malam gw bener2 merasa depresi dan kelimpungan, gw nangis sendirian, lalu berjalan menuju kekamar mandi dan duduk lama sekali di bawah pancuran air dengan pikiran dan tatapan kosong seolah dunia ini tidak nyata. Akhirnya mama menghampiri dan menyadarkan gw, mengajak gw keluar. Saat itu adalah malam sebelum ujian final gw. Keesokan paginya syukur gw bisa terbangun dalam keadaan baik dan bisa mengikuti ujian.

Mengenai minum obat banyak2, sebenernya ingiiiiiin sekali gw lakukan. Bahkan gw berniat keras untuk melakukannya setelah koas obsgyn selesai. Alasan gw, kalau seandainya gw gak mati, gw nggak mesti ngulang koas obgynnya. Kalau gw mati, ya gw ikhlas. Tapi saat ini, dimana koas obgyn selesai, alhamdulillah keinginan itu hilang. Gw punya waktu libur seminggu dan gw akan pergi ke Bali.

Semua yang terjadi selama koas obgyn ini ada hubungannya juga dengan Borderline Personality Disorder. Coba baca di google, gejalanya mirip dengan yg gw alami. Sebenernya mas dokter dan psikiater gw sudah menyadarinya sejak gw dirawat dulu. Tapi gak mengambil pusing untuk masalah ini. Ternyata sekarang malah tambah menjadi-jadi, dan gw berencana menemui psikolog untuk mencari solusi dengan pendekatan berbeda.

Itulah beberapa kejadian yang gw lalui selama 10 minggu ini. Kini gw merasa tidak lagi takut koas. 10 minggu gw bisa lalui. 10 minggu yang berat. Berarti gw akan bisa di 10 minggu selanjutnya sampai akhirnya gw jadi dokter. Semoga. Semoga ketakutan dan rasa putus asa itu tidak datang lagi.. : )

Curhat ( 41 )

Hi. Gw sudah menyelesaikan koas selama 8 minggu. Tinggal 2 minggu lagi stase obgyn selesai. Yang jadi halangan saat ini adalah, menahan keinginan gw untuk minum obat banyak-banyak. Sudah 3 minggu mood gw berantakan karena haid gw kacau dan dikasih obat hormonal yang bisa berpengaruh pada mood. Gw seperti orang pra-menstrual syndrome, tapi berkepanjangan. Gw marah2 dirumah tanpa sebab, irritable banget. Kadang kalau lagi koas ngeliat pasien hamil pengen gw apain gitu rasanya. Atau ngeliat temen2 gw ketawa rasanya pengen gw bejek-bejek. Tapi syukurnya gw bisa menahan keinginan itu kalau di RS. Nah pelariannya, sampai rumah gw jadi marah2 terus. Sensitif banget.

Tentang obat banyak2, gw waktu itu ngerujuk pasien, jadi gw pergi naik ambulans. Didalam ambulans gw jadi keinget pas gw overdose dulu. Ada rasa trauma yang gak enak, tapi seperti gw ingin melakukannya lagi karena ada kepuasan tersendiri. Terus gw masuk IGD di RS tempat gw koas, ngeliat dokter dan pasien disana, gw jadi inget juga pas gw di IGD dulu. Sama seperti di ambulans, trauma tapi kepengen lagi. Sejak itu gw kepikiran untuk minum obat banyak2, sampai sekarang gw menulis blog ini. Setiap hari muncul bayangan saat gw overdose, sebuah derita yang nikmat. Entah apa yang salah dengan otak gw. Gw juga googling obat apa yang 'enak'. Udah hampir 3 minggu gw nahan keinginan itu. Padahal gw udah konsul ke psikiater berkali-kali, udah baca tulisan gw di blog ini tentang larangan gw untuk kalian yang membaca jangan minum obat banyak2. Gw gak tau sampai kapan harus menahan. Harapannya sih keinginan itu hilang sendiri. Semoga ya.. :(

Sebenernya stressor gw gak gede. Koas sudah bisa gw handle. Cuma masa-masa adaptasi awal aja yang bikin gw pusing setengah mati. Dirumah juga lagi gak ada masalah berarti. Paling lagi gak ada pembantu aja. Itupun masih bisa dihandle. Tapi ya itu, mood gw berantakan karena hormonal gw, dan keinginan minum obat banyak2 yang menyiksa gw. Doakan saja everything will be alright. Thanks.

Curhat ( 40 )

Hi. Gw nggak menyangka sudah memasuki minggu ke-4 koas obsgyn. Memang di minggu pertama gw bener2 pengen mundur. Tapi akhirnya gw disemangati psikiater gw dan mas dokter. Mereka membuat gw bangkit dan menghadapi stressor perlahan-lahan sampai akhirnya gw bisa bertahan sampai hari ke-3 di minggu ke-4. Gw hampir sebulan koas. :) Memang sih berat. Walaupun RS tempat gw koas gak sehectic koas RS lain, tapi bagi gw juga udah berat stressornya. Mood gw naik turun. Tapi gw inget temen2 gw, psikiater gw, orang tua gw, yang sudah memberi gw dukungan penuh. Gw lakukan demi mereka yang menaruh harapan pada gw. Dan yang memang seharusnya gw mampu. Hanya masalah proses saja. Sebentar lagi puasa, gw jadi parno gitu harus koas pas puasa. Hehe. Entahlah. Semoga gw sehat2 aja fisik dan mental ya.

Curhat ( 39 )

Hi. Gw sudah melewati minggu pertama koas ilmu kandungan dan kebidanan ( obgyn ). Dan it was hard for me. Hari pertama, masuk belum banyak stressor yang gw harus hadapi. Masih perkenalan. Tapi pulangnya kepala gw sakit banget dan otot sekitar mata gw tegang. Tenaga gw juga habis kaya dikuras. Padahal itu baru perkenalan aja. Gw sediiiih banget ngerasain hal itu. Gw nangis. Kenapa sih tubuh gw gak bisa merespon dengan baik. Hiks. Lalu gw memaksakan diri untuk lanjut ke hari kedua. Paginya gw ikut liat operasi SC ( melahirkan caesar ). Ini bukan pertama kalinya. Tapi tetep bikin gw lelah. Lalu malamnya adalah jadwal gw jaga dari jam 2 siang sampai bisa pulang jam 2 siang besok harinya. Saat itu ada pasien yang mau melahirkan normal jadi gw harus observasi dan liat persalinannya. Keliatannya asik. Tapi karena gw masih baru dan belum tahu apa-apa hal itu jadi stressor yang berat banget bagi gw. Malam itu bayi mungil lahir, laku besoknya gw langsung depresi. Semua pikiran negatif muncul dan gw ingin mengundurkan diri saja. Bahkan gw merasa gak berguna dan ingin mati saja. Gw bener2 gak tahan dengan stressornya dan resah. Gak konsen juga pas belajar. Akhirnya kamis gw ke psikiater. Ada 2 kemunkinan yg bisa gw lakukan. Modifikasi stressor atau gw yang beradaptasi dengan stressor. Modifikasi stressor kayaknya gak mungkin. Gw udah terlanjur masuk. Kasian juga temen kelompokngw kalau gw mengundurkan diri. Jadi gw berusaha keras untuk gw yang beradaptasi. Dan itu bener2sulit setengah mati.. Gw bener2berjuang keras. Dan bisa bertahan satu minggu adalah pencapaian luar biasa buat gw. Ini gw ngepost di ruang bersalin karena lagi gak ada pasien. Jd sempet internetan. Setiap hari saat gw pulang ke rumah gw masih merasakan sakit kepala dan lelah banget. Gw nggak tahu bisa bertahan sampai kapan. Syukur bisa sampai 10 minggu. Yang pasti, gw gak akan menyerah. Mohon doanya ya..

Panic Attack !

Udah lama nggak ngepost disini. Jadi, stase jiwa gw sudah selesai dengan nilai yang memuaskan. Gak nyangka banget dan bersyukur gw bisa bertahan 5 minggu disana. Minggu depan gw akan masuk stase obgyn selama 10 minggu yang cukup membuat gw was-was.

Mood gw agak berantakan belakangan ini. Satu waktu gw shopping terus, lalu tiba2 gw cuma pengen tidur di kasur atau nonton tv. Gw gelisah tanpa alasan yang jelas. Semua itu gara2 gw telat dan bolos2 minum obat. Ya memang gw tahu obat itu penting. Tapi gw sedang di masa jenuh saja. Jadi ya begitulah. Relaps deh. Sekarang minum obat gw udah rutin, dan mood baikan ( walau masih pengen shopping ). Tapiii, muncul masalah baru.

Gw tampaknya mendapat serangan panik. Jadi waktu itu gw lagi di supermarket nemenin nyokap belanja bulanan. Dan tiba2 saja tanpa peringatan gw lemes, deg2an, keringet dingin, sesak nafas. Gw pikir gw mau sakit. Tapi sakit apaan. Orang gw lagi sehat wal afiat. Setelah gw istirahat rasa itu hilang. Tapi menyisakan sedikit rasa lemas dan sesak nafas. Gw berpikir ini mungkin serangan panik. Gw hubungi psikiater gw katanya memang mungkin saja ada baiknya periksa ke dokter dulu untuk memastikan itu bukan gejala fisik. Akhirnya kemaren gw pergi ke dokter spesialis penyakit dalam. Katanya, setelah meriksa gw, dia lebih setuju kalau ini memang serangan panik. Soalnya hasil pemeriksaan fisik bagus. Jadi gw dikasih alprazolam untuk 3 hari, kalau masih juga terasa, baru cek lab.

Jujur, gw masih takut sampai gw pulang. Ini sudah mendekati koas. Gw gak mau lagi ngebantu pasien melahirkan, tapi tiba2 gw dapet serangan panik. Akhirnya gw bbm Mas Dokter. Mas Dokter itu residen psikiatri yang pernah ngerawat gw sebanyak 3 kali pas gw dirawat dulu. Jadi dia udah tau lah semua ttg gw dan gw sering bbm-an juga untuk curhat kalau lagi ada apa-apa. Dan thanks to Mas Dok yang bisa menenangkan gw. Membuat gw bersyukur serangan itu muncul skrg jadi bisa gw kenali dan pelajari. Daripada serangannya muncul pas gw lagi nunggu kelahiran beneran. Dan menerima serangan itu kini jadi bagian hidup gw juga sebuah hal yang nggak mudah. Thanks a lot to Mas Dok kali ini. Sekarang, gw lebih tenang, udah gak lemes atau sesak lagi. Semoga gak muncul lagi ya itu serangan. Amiiin. Sekian. :)

Curhat ( 38 )

Well, hari sudah larut malam. Jam menunjukkan pukul 1 lewat 20 dini hari. Tapi gw masih on aja sampai saat ini. Kalau kalian baca Curhat ( 37 ) disitu gw menyebutkan kalau keadaan keluarga gw lagi pada sakit dan gak bagus. Sekarang kondisi sudah mendingan. Ya kira-kira 2 minggu setelah gw ngepost itu nenek menunjukkan perubahan yang jauh lebih baik. Tapi nenek masih belum tau kalau Oma sudah meninggal.

Nah mood gw sendiri, selain agak depresi dengan masalah itu ( walaupun gak sampai jatuh depresi beneran ), gw malah beberapa kali mendapat serangan hipomanik ( lagi ). Gw gak tidur semaleman dan seger di pagi hari untuk belajar atau main internet. Anehnya, padahal sebenernya gw ngantuk. Tapi rasanya gak enak kalau dibawa tidur yang ada gw gelisah. Gw curiga ini akatisia ( keinginan untuk terus bergerak dan melakukan sesuatu, gak bisa diem, dan gelisah ) karena efek samping Abilify. Soalnya biasanya muncul kalau gw minum obat itu. Kalau kelupaan minum gw bisa tidur nyenyak, ya walaupun gak setiap minum jadi begini juga. 

Gw jadi tiba2 rajin belajar, niat bikin scrapbook untuk kenang2an dokter pembimbing koas gw, padahal harga modalnya lumayan tapi dengan senang hati gw rela ngeluarin duit untuk itu dan rela pula membuatnya sendirian tanpa dibantu teman kelompok yang lain. Dan yang paling parah, keinginan gw untuk shopping. GILA. Ini gw udah hampir ngabisin 1,5 juta dalam seminggu. Ya mendingan sih. Dulu sejuta sehari juga ludes. Tapi gw pengennya shopping terus. Mulai dari tas, baju, sepatu, aksesoris dll yang sebenernya kalau gak gw beli juga gak masalah. Tapi gw pengen. Ini gw concern banget untuk mengatasi ini. Gw sadar, tapi gak bisa memberhentikan hasrat shopping gw. Bahkan malam2 gini gw masih aja buka situs2 online shopping. Hadeeeeh. Kalau gw orang kaya raya ya gak masalah. Tapi kan bokap gw udah pensiun, gw masih kuliah, adek gw baru mau masuk kuliah, harusnya gw hidup hemat. Tapi kalau ga shopping gw bisa ngamuk2.

Dan gw belakangan ini jadi irritable banget. Gampang marah dan sensitif. Ah gak tau lah ini apa yang terjadi dengan diri gw. Gw sih gak bilang diri gw kambuh ( gak mau haha ). Mungkin gw mau haid kali ya jadi kaya gini moodnya gak karuan. Tapi kalau ternyata tidak, bisa gawat ini. Hipomanik pas liburan sih masih bisa dihandle, nah kalau pas mulai koas lagi si depresi dateng, mampuslah gw.. Hiks. Entahlah. 

Koas Jiwa

Sebagai seorang penderita gangguan jiwa bipolar dalam remisi yang harus koas stase jiwa itu sesuatu banget loh rasanya. Minggu pertama masuk, gw parno yang teramat sangat kalau tiba2 pas orientasi bangsal tiba2 ada pasien yang pernah dirawat bareng gw di RSCM nyamperin dan say hello. Hahaha. Untungnya gak ada. Lalu gw bertemu pembimbing yang baik hati dan ajaib. Thanks a lot dok atas bimbingannya selama 5 minggu koas di RSJSH. Beneran deh sesuatu banget apalagi pas sesi foto-foto di hari terakhir. 

Minggu kedua gw mulai sibuk dengan presentasi kasus pasien gw yang dihamili Tuhan Yesus, keluar sel telur disaat buang air kecil, dan terasa nafas bayi di perutnya. Selain itu, harus keliling bangsal untuk follow-up pasien. Yang paling seru adalah follow-up pasien bipolar juga yang lagi fase manik dengan ciri psikotik. Dia minta nomor rekening gw karena mau transfer duit 13 juta untuk bantu gw kuliah, yang mana adalah hanya waham dia semata bahwa dia kaya raya dan istri presiden SBY. 

Yang paling kasihan adalah pasien jaminan dinas sosial yang keadaanya menyedihkan sekali, gejala negatifnya dominan, dan keluarganya gak jelas. Bener-bener bisa bikin nangis kalau terlalu empati sampai akhirnya simpati sama pasien2 itu. Gak tegaa.. 

Yang membahagiakan, disaat setiap gw lewat, banyak pasien yang menyapa "Dokteer.. Selamat pagi.. Ngobrol yuuk.." atau "Dokter wajahnya cerah sekali hari ini.." atau "Wah dokter pasti bakal jadi dokter suskes.. Keliatan dari mukanya.." Mereka memang menderita gangguan jiwa seperti gw juga, tapi gw tahu hati mereka sebenernya tulus. *dan hati gw juga. hahaha* Semua membuat gw terharu. Pasien2 yang mengingat nama gw dan menanyakan saat gw belum muncul untuk wawancara dia juga bikin gw terharu.. 

Yang akan gw inget adalah ramalan dari salah satu pasien yang mengatakan bahwa nanti gw akan sukses walaupun mencapainya perlu proses yang nggak mudah ( bener banget gak siiih.. secara gw bipolar gituh.. ) dan nanti gw akan banyak rejeki dari suami jadi gw mesti sayang sama suami nanti. Itu gak akan gw lupakan. 

Oh ya, dan juga 3 orang temen sekelompok gw yang gw ceritain kalau gw bipolar dan akhirnya jadi 'berguru' ama gw. Love you all. 

Dan satu lagi, pasien-pasien pas yang dateng disaat gw jaga IGD. Satu pasien cuma ingin bicara dengan gw karena muka gw bercahaya dan gw muslim ( pasiennya fanatik agama gitu ). Satu lagi cuma ingin bicara dengan gw karena menurut dia gw adalah dokter yang 'bener', dokter jaganya 'gak bener'. Sebagai koas gw bener-bener nggak enak hati sama dokter jaga waktu itu.

Terakhir, ujian dengan dokter baik hati yang bilang status ujian gw bagus. Thanks a lot to psikiater gw yang udah bersedia memberikan tentir dan mengoreksi status ujian gw. Dan pasien gw yang pas ujian menceritakan semua keluhannya yang selama ini dia rahasiakan. Gw cuma ditanya apa hasil pemeriksaan wawancara dan malah gw yang disuruh tanya apa yang nggak ngerti ke penguji. Padahal gw pikir gw bakal dibantai. Nilai sih belum tahu. Yang penting *katanya sih* lulus, dan ujian sudah terlewati. Thanks a lot dokter..

Nggak menyangka gw bisa melewati 5 minggu tanpa hambatan berarti. Memang ada sedikit masalah dengan  "primary support group" alias keluarga di aksis IV. Tapi gw bisa bertahan. Alhamdulillah. Sekarang perasaan gw antara senang dan sedih. Senang karena bangga bisa melaluinya, sedih karena yah kok udahan ya stase jiwanya.. Hehe. Secara gw mencintai ilmu ini. Sekarang gw persiapan ngelanjutin rencana skripsi dan masuk stase berikutnya beberapa minggu lagi. Semoga kedepannya tetep lancar ya.. Wish me luck. Thanks. : )

Oh ya, hampir lupa. Tentang penderita gangguan jiwa, mungkin pada penderita gangguan jiwa yang mengalami waham, halusinasi, disorientasi, penurunan fungsi kognitif, dll, kami terlihat konyol dan menghibur dengan keanehan kami. Tapi sesungguhnya bukan keinginan kami untuk jadi seperti itu. Lihatlah kami sebagai manusia seutuhnya yang juga ciptaan Tuhan. Jangan remehkan kami seakan kami tidak lagi berguna karena gangguan yang kami alami. Benar2 tak ada satupun manusia yang ingin mengalami depresi, halusinasi, mood swing ekstrem, dll. Semua itu adalah campur tangan Tuhan. Mungkin kami memang punya masalah yang membuat kami rentan mengalami gangguan jiwa, tapi bukan berarti kami lemah. Belum tentu kalian yang normal bisa bertahan jika mengalami gangguan yang sama seperti kami. Jadi bijaklah dalam menilai kami. 

Gw akui gw memang geli saat mendengar waham-waham pasien gw, tapi gw mengerti. Di dalam hati mereka, mereka pasti tak ingin seperti itu. Mereka seperti itu karena penyebab yang kompleks yang sampai sekarang pun masih diteliti. Jadi jangan menjudge sembarangan. Dan gw tahu mereka semua ingin sembuh dan kembali ke keluarga masing2. Sayangnya mereka kadang tidak bisa mengurus diri sendiri atau mengontrol tindakannya ( misal  pasien halusinasi perintah yang mendengar suara yang menyuruh pasien untuk merusak barang ), keluarganya terpaksa membawa pasien ke RSJ karena membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tapi gw tahu banget mereka sebenernya pengen bisa mengontrolnya dan hidup normal. Hanya caranya saja yang belum tepat atau obatnya belum adekuat. Semoga semua penderita gangguan jiwa di dunia ini bisa mendapat terapi yang tepat, dukungan yang kuat, serta diterima di masyarakat tanpa lagi ada stigma negatif, karena kami juga manusia. Amiiin. Oke ? Cheers.