by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Dirawat Lagi..

Yeah dari judulnya saja sudah terbayang apa isi post ini. Gw dirawat lagi. Hanya jeda seminggu setelah gw dirawat karena overdosis obat, gw harus masuk lagi ke bangsal psikiatri. Begini ceritanya..

Memang setelah pulang dari dirawat di awal tahun itu gw jatuh ke fase depresi. Bisa dibaca di 2 curhat terakhir gw. Gw nggak terima keadaan gw. Gw benci depresi gw. Puncaknya, pada hari Senin tanggal 16 Januari 2012, gw merasa sangatlah sedih. Gw nggak sanggup untuk koas karena rasanya berat sekali untuk berangkat koas. Gw katakanlah niat bolos koas itu kepada mama. Tanggapannya, "Yaudah terserah kakak masa depannya mau gimana.. Mama nggak peduli lagi.." kalimat itu diucapkan sambil membanting pintu kamar gw. Gw yang sudah dalam keadaan sedih bertambah sedih. Yang ada dalam pikiran gw saat itu, please gw sudah cukup terbebani dengan depresi gw, gw butuh dukungan dan pelukan tapi yang gw dapat malah omelan. Mungkin mama ada benarnya juga. Gw harus bisa memaksakan diri di kala depresi. Tapi ya namanya orang depresi kalau disuruh untuk ngelawan sendiri tanpa bantuan orang sama aja kaya nyuruh orang ( maaf ) cacat yang nggak punya kaki untuk berlari. Gw butuh obat, psikiater, dan dukungan untuk membantu gw bangkit. Tapi pagi itu gw malah mendapat sebuah kekecewaan. Alhasil, dari pagi itu sampai siang hari gw merasa sedih yang amat sangat.

Gw berpikir untuk mengakhiri hidup gw. Ingin rasanya mati saja. Tapi untungnya gw masih ingat Allah. Gw belum siap jika nanti gw mati lalu dihisab, amal gw belum cukup untuk mengantarkan gw ke surga. Gw menyederhanakan pikiran gw. Gw ingin hilang dari muka bumi saja. Tapi ya hal itu juga mustahil. Yang ada malah tambah kelimpungan dan sumpek sendiri. Gw dengerin musik yang tenang, mencoba menuliskan perasaan gw di jurnal pribadi, dan mencoba relaksasi. Tapi emosi itu masih saja bergejolak. Gw tidak bisa menangis. Gw juga kembali kepikiran untuk minum obat banyak-banyak.

Lalu tanpa sengaja, tampaklah sebuah cutter di dekat cermin kamar gw. Tanpa berpikir panjang gw langsung mengambil cutter karatan itu, dan melukai lengan gw. 6 sayatan sepanjang 4-6 cm yang cukup dalam untuk mengeluarkan darah secara perlahan. Setelah itu gw merasa puas dan lebih tenang. Tapi pikiran untuk minum obat banyak-banyak masih ada. Untungnya gw ingat pengalaman dan pelajaran dari perawatan gw sebelumnya. Jadi gw berinisiatif untuk pergi ke RS sendiri. Kali ini gw memang sendiri. Tidak ditemani siapapun. Entah kenapa gw tidak mengabari mama. Gw ingin sendiri.

Gw segera ganti baju dan keluar pergi mencari taksi. Sebelumnya gw mencuri beberapa lembar uang dari dompet mama. Selama di perjalanan gw memandangi sayatan di lengan gw yang masih mengeluarkan sedikit darah, sambil berpikir, "Gw butuh pertolongan.." Sesampainya di UGD, gw langsung disambut dengan riuh oleh perawat disana yang memang sudah kenal dengan gw karena pernah berkali-kali dirawat mereka. Mereka langsung tahu ada yang tidak beres denganku segera setelah melihat raut mukaku yang tidak karuan. Gw langsung diantar ke tempat tidur disana dan ditanya tentang apa yang terjadi. Setelah itu mereka memanggilkan psikiaterku.

Tak lama, psikiaterku datang. Aku menceritakan apa yang terjadi dan memberikan gambaran bagaimana sedihnya aku. Sedikit lebih lega rasanya setelah mencurahkan isi hati ke psikiater. Tapi aku masih ingin meminum obat banyak-banyak. Mendengar hal itu, psikiaterku memintaku untuk dirawat lagi. Saat itu kondisiku memang membahayakan diri sendiri. Itu adalah salah satu indikasi rawat inap dalam ilmu psikiatri. Lalu psikiaterku menelepon orang tuaku. Setelah orang tuaku datang, mereka mendiskusikan dimana aku akan dirawat. Awalnya aku meminta untuk dirawat di RS tempat aku berada di kamar biasa, bukan bangsal psikiatri. Tapi berhubung kasusku psikiatri, pihak RS tidak mau menerima aku. Dan kamarnya juga kebetulan penuh. Jadi psikiaterku menyarankan aku untuk dirawat di bangsal psikiatri lagi. Hmmmmh gw menolaknya keras-keras. Cukup lama juga psikiaterku membujuk supaya gw mau dirawat di bangsal psikiatri. Tapi karena dia ada keperluan lain, jadi terpaksa ia meninggalkanku dan memanggil residen psikiatri yang sedang jaga saat itu.

2 orang residen datang. Satu wanita dan satu pria. Kebetulan sebelumnya aku sudah kenal dengan residen pria. Kami pernah bertemu pada saat acara terapi kelompok. Dia cukup terkejut mengetahui aku adalah pasiennya. Lalu kedua residen itu membujukku lagi. Aku masih bersikeras mengatakan tidak. Lalu residen yang wanita meninggalkan aku untuk bicara dengan orang tuaku. Tinggalah aku dengan residen pria yang sudah kukenal itu. Pada dasarnya dia memang baik hati. Dengan sabar dia berusaha membujukku dan akhirnya aku luluh juga melihat usaha dia yang mengulurkan tangannya dengan harapan akan kuraih sebagai bentuk bantuan dari dia untukku. Aku bersedia dirawat di bangsal psikiatri ( lagi ).

Sampai di bangsal lagi-lagi aku disambut dengan riuh oleh perawat disana. Mereka menanyakan kenapa aku bisa sampai harus dirawat lagi padahal baru seminggu yang lalu keluar dari sana. Selain perawat, seorang pasien Bipolar I yang sedang manik juga menghampiriku. "Hahaha kenapa lo masuk sini lagi.. Makanya jangan cepet-cepet pulang kemaren.. Gw sih besok udah boleh pulang sama dokter.. Lo disini nggak ada gw deh.. Sukurin lo.." -.-" Pasien itu memang sudah kukenal saat aku dirawat sebelumnya. Dia sudah 3 minggu lebih disana. Residen pria yang menemaniku berusaha menenangkan aku, "Udah nggak usah didenger.." sambil memberi senyuman tulus. Ya aku juga tak ingin menggubris 'sambutan hangat' itu. Nambah pikiran aja. Lalu aku berusaha tidur.

Esok paginya sekitar jam 10 setelah aku sarapan, minum obat, dan ( dipaksa ) mandi *gw emang males mandi kalau lagi nggak harus pergi kemana-mana. Tapi di bangsal dipaksain susternya mulu..* psikiaterku datang bersama seorang residen pria lain. Kali ini aku baru melihatnya. *Btw, ganti deh jangan panggil residen. Panggil dokter aja..* Psikiaterku mengenalkan aku pada dokter itu. Dia yang bertanggung jawab merawatku selama aku di bangsal. Lalu dokter itu mulai menanyakan berbagai hal padaku. Ya seperti biasalah aku harus bercerita lagi.

Well, pasien-pasien di bangsal sudah berganti. Hampir semua pasiennya baru. Pasien yang dirawat bersamaan dengan saat aku dirawat sebelumnya sudah pulang. Jadi aku harus berkeliling bangsal lagi berkenalan dengan pasien-pasien itu untuk mengisi waktu. Dan, bukan bangsal psikiatri namanya kalau tidak ada peristiwa aneh. Bukan maksudku untuk menjelekkan atau menertawakan mereka. Aku hanya ingin menggambarkan bagaimana keadaan di bangsal psikiatri.

Saat itu aku sedang ngobrol dengan dokter yang merawatku diluar kamar. Tiba-tiba seorang ibu-ibu usia 50-an keluar dari kamar lain dengan muka sedih dan kecewa. Lalu dia berdiri di depan perawat-perawat yang ada di sana dan berkata, "Suster, saya mau pulang aja.. Saya disini sakit. Saya ingin istirahat. Tapi saya tidur malah dimarahin suster. Saya tanya suster saya sakit apa nggak suster bilang saya nggak sakit. Padahal jelas-jelas saya sakit.. Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya mual. Kaki saya sakit. Kepala saya juga sakit. Muka saya pucat begini dibilang nggak sakit.. Kalau suster sudah nggak suka saya disini ya bukakan saja pintunya supaya saya bisa pulang.." Dalam hatiku, ibu ini jelas-jelas berjalan sendiri keluar dari kamarnya. Tapi dia bilang dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku sempat memikirkan apa yang diderita ibu ini. Lalu ibu itu berpindah menghampiri dokterku. "Dokter, saya mau pulang saja.. Suster disini benci sama saya. Mungkin mereka nggak suka sama saya karena saya sudah tua dan miskin. Mungkin mereka anak durhaka. Nggak peduli dengan orang tua. Coba kalau orang tua suster itu sendiri yang sakit seperti saya.. Mau dia ? Saya sumpahin ya orang tuanya suster itu sakit kaya saya.. Biar tahu rasa mereka.." Lalu seorang ibu lain yang tadinya duduk diam di dekatku ikut nimbrung, "Iya dokter, saya juga mau pulang saja. Saya nggak betah disini. Saya juga sakit kaya ibu itu.. Saya mau pulang saja kembali sama anak-anak saya.. Biarin saya pulang jalan kaki. Saya miskin dok. Kalau bisa saya melacur deh dok.." Masa iya ibu ini mau melacur, usianya saja sudah 50 lebih. -.-" Sebelumnya ibu ini sudah berusaha kabur dengan bergelayutan di pintu setiap ada orang masuk / keluar. Dan tampaknya dia mudah terprovokasi orang. Makanya jadi ikutan marah-marah seperti ibu satunya. Melihat hal itu, dokterku mencoba untuk mengatasi keadaan. Ia menghampiri ibu kedua, dan mencoba menjauhkan ibu itu dari ibu pertama. "Bu, ayo kita pindah ke kamar.." Lalu tanpa berpikir si ibu membalas ajakan dokterku, "Mau ngapain ke kamar dok ? Mau ngentot ? Saya maunya disini aja.." Aku tak bisa menahan tawaku. Begitu pula dokter cewek di deketku dan perawat disana. Hebatnya, dokterku yang lagi serius membujuk ibu itu tak tertawa sedikit pun.. Kacau ibu ini, pikirku. Lalu hampir setengah jam aku berada disana menyaksikan kedua ibu itu tak henti-henti meminta pulang dan menjelek-jelekkan perawat dan dokter disana. Sampai mengancam mau dimasukkan koran segala. Hmmmmh aku hanya bisa bersyukur aku masih bisa hidup dalam realita walaupun emosiku tidak dapat dikendalikan. Setelah banyak bicara seperti itu, mungkin ibu itu capek sendiri. Ibu satu sudah diam. Tetapi ibu yang kedua masih saja nyerocos. Lalu dengan nada kesal ibu satu berkata, "Sudah ibu diam saja. Jangan bawel.. Saya jadi tambah pusing.." Aku tambah tertawa. Padahal tadinya mereka tampak seru bersahutan meminta pulang dan menjelek-jelekkan perawat dan dokter. Kompak sekali mereka mendukung satu sama lain. Lalu tiba-tiba si ibu satu kesal sendiri dengan ibu dua. Ada-ada saja. Akhirnya setelah sekian lama mereka diam juga. Suasana tenang kembali, sampai tiba-tiba ibu kedua berkata, "Kepala saya sakit. Tadi saya sudah minum obat paramek..mek..mek..mek.." Ya, ibu itu menyebutkan obat Paramex dengan sebutan Paramek disertai gema dibelakangnya.. Lalu aku dan perawat kembali tertawa. Perawat yang tertawa itu menanggapi, "Udah ibu sebutnya paramex aja, nggak usah ditambahin belakangnya. Kan jadi jorok. Hahaha. Saya jadi ketawa kan bu.." Aaah, aku menyerah deh.. Aku langsung kembali ke kamar.

Setelah kedua ibu itu tenang dan kembali kekamar masing-masing, aku keluar lagi. Aku tanya kepada suster, penyakit apa yang diderita ibu-ibu itu. Ternyata ibu satu itu menderita gangguan somatis. Yaitu gangguan dimana pasien merasa sakit fisik yang serius, tetapi sebenarnya dalam pemeriksaan medis tidak ditemukan kelainan. Jadi dia merasa dirinya sakit padahal tidak begitu. Makanya saat suster ingin membantu ibu itu untuk kembali ke realita bahwa dirinya tidak sakit, ibu itu malah marah. Maksud suster itu baik, mengajak ibu itu untuk beraktivitas, jangan tidur terus. Tapi berhubung si ibu merasa dirinya sakit dia merasa tersinggung karena mengira dilarang beristirahat oleh suster. Begitu pula saat suster ditanya apakah si ibu terlihat sakit apa tidak. Suster menjawab tidak dengan maksud mengatakan realita yang ada. Tapi penyakit si ibu yang membuat ibu itu lagi-lagi tersinggung. Dalam pikirannya, ia sakit parah. Tapi hasil pemeriksaan, semua normal. Rumit memang. Tapi begitulah adanya. Sedangkan si ibu dua, memang emosinya sedang tidak stabil. Ia mengalami gangguan psikosis. Ia merasakan halusinasi, bertindak semaunya, dan mudah terprovokasi. Jadilah dia ikutan marah-marah membela ibu satu. Begitulah bangsal psikiatri. Kali ini lebih hectic dari keadaan aku dirawat sebelumnya. Belum lagi ditambah teriakan-teriakan dari seorang gadis cantik berusia 14 tahun yang mengalami gangguan psikotik akut. Dia tak berhenti berteriak dan bergumam dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti. Kasihan sekali aku melihat pasien-pasien itu.. Ternyata aku masih lebih normal dibanding mereka..

Begitulah hari-hariku di bangsal. Berusaha memaknai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Selain berinteraksi dengan pasien, aku juga bertanya-tanya tentang program spesialisasi psikiatri pada dokter-dokter disana karena aku tertarik untuk mengambil psikiatri kalau aku berhasil menjadi dokter nanti. Sisanya, paling aku membaca novel yang dibawakan papaku.

3 hari disana, moodku semakin hari semakin membaik. Sampai pada saat hari disaat aku diperbolehkan pulang, aku sudah tidak merasa sedih lagi. Tak ada lagi keinginan-keinginan aneh. Semua sudah aman dan undercontrol. Aku dibekali obat dan meminta pin BB dokter disana supaya bisa keep in touch dan curhat kalau butuh. Lalu aku pulang. Senang rasanya bisa melangkahkan kaki keluar dari bangsal yang selalu terkunci itu. Meninggalkan segala rasa terkurung, derita, dan melupakan pengalaman pahit selama aku berada disana. Mendengar nama 'Bangsal Psikiatri' saja orang sudah menilai negatif. Bagaimana dengan pasien yang harus tinggal disana, termasuk aku. Dan inilah diriku menceritakan apa yang terjadi selama aku di bangsal sesuai kenyataan.

Hikmah yang dapat kuambil selama aku di bangsal, hidup itu memang penuh hal yang tidak terduga. Aku mengerti betul bagaimana yang pasien-pasien itu rasakan, karena aku mengalaminya. Kami tak ingin menderita seperti itu sampai harus dirawat di bangsal psikiatri. Pulang adalah tujuan utama kami. Dukungan keluarga dan teman adalah yang kami butuhkan. Bukan kemauan kami untuk menderita gangguan jiwa. Dan disaat kami sakit itu, bukan cacian dan tuntutan untuk melawan sakit kami yang kami inginkan. Tapi seseorang yang bisa mendengarkan keluhan kami dengan tulus seperti psikiater. Seseorang yang bisa memahami bahwa kami tak berdaya melawan penyakit kami. Jika kami bisa melawan penyakit kami seperti yang kebanyakan orang nasihatkan atau tuntut, kami tak akan sampai dibawa ke bangsal psikiatri. 

Mengutip dari buku Buku Pedoman Kesehatan Jiwa terbitan pemerintah, tertulis disana, "Keluarga atau kerabat seringkali tidak menyadari adanya depresi, dan menyuruh orang tersebut untuk melawan perasaannya, dimana hal ini hanya akan memperburuk keadaannya.."

Semoga bisa dimengerti ya.. : )

Curhat ( 32 )

Hmmmmh. Gw sedih. Gw kesel. Gw kecewa. Gw gak terima. Gw depresi lagi.

Sekarang malam sudah larut, dan membayangkan jika besok harus koas rasanya berat sekali. Entah kenapa gw bisa berpikir seperti itu. Padahal gw menyukai stase anestesi ini. Melihat operasi itu seru. Mengatur posisi kepala pasien dan memegang face-mask pasien supaya jalan nafasnya bagus itu menyenangkan. Menyuntikan obat-obatan ke infus pasien itu seru. Meracil obat ke jarum suntik juga seru. Konsulennya baik. Teman-temannya asik. Staf, pegawai, dan perawat disana juga lucu-lucu. Tapi entah mengapa semua itu tak bisa membuatku semangat untuk berangkat koas esok pagi.

Aku benci rasa ini. Rasa dimana aku ingin melakukan sesuatu yang baik, tetapi otak dan perasaanku dengan keras menolaknya. Entah apa yang salah dengan bagian otak yang mengatur sistem motivasi dan keinginanku. Aku hanya ingin bersantai dirumah. Padahal aku ingin menjadi dokter. Mencapai impian.

Aku kecewa. Apa yang salah pada diriku ? Tuhan berikan aku petunjuk. Aku ingin hidup normal. Aku ingin menikmati masa koasku seperti teman-teman lainnya. Aku ingin normal. Aku tak ingin depresi menutup jalanku. Tapi aku tak cukup kuat untuk melawannya. Aku benci. Aku kecewa.

*galau*

Curhat ( 31 )

Setelah pulang dirawat hari Minggu, esoknya gw langsung mulai koas. Bangun pagi, rasanya beraaaaat sekali untuk berangkat koas. Gw tahu anestesi itu menyenangkan. Tapi entah mengapa tubuh dan otak gw rasanya gak pengen berangkat koas. Tapi masih bisa gw paksakan. Akhirnya gw pergi dengan muka datar tanpa semangat. Sehari gw jalani, dengan mood sedikit depresi. Rasanya pengen cepet-cepet pulang. Rasanya nggak tahan berada disana. Begitu pula keesokan harinya. Masih berat rasanya. Sampai hari Rabu ini pun gw rasanya pengen nyerah aja nggak mau koas lagi. Nggak pengen jadi dokter lagi. Tapi yang gw khawatirkan, pikiran ini hanya muncul sesaat di waktu gw depresi. Nanti giliran gw hipomanik gw kelimpungan sendiri nggak ada kerjaan. Entah kenapa juga gw jadi menjurus mengalami depresi lagi Terasa banget. Padahal gw udah stabil dan bisa menyelesaikan satu stase THT. Tapi kali ini nggak tau ada apa. Yang relaps lah, sekarang malah mau depresi.

GW BENCI !!! Mungkin dulu gw sudah melewati fase denial dan sampai ke fase menerima. Tapi kali ini gw balik ke fase denial lagi. Gw benci dengan penyakit gw. Kenapa mesti gw ! Kenapa mesti datang penyakit ini disaat gw ingin mencapai cita-cita yang sudah gw tetapkan bahkan sejak gw belum mulai TK. Gw ingin sekali menjadi dokter. Gw suka dunia kedokteran. Gw takjub dengan ilmunya. Gw ingin membantu sesama. Tetapi kenapa mesti ada bipolar yang mengganggu perjalanan gw menjadi dokter.. Tujuan gw menjadi dokter itu baik kok. Bukan untuk jadi dokter yang pengen malpraktek atau cabul. Gw ingin membantu sesama. Tapi niat tulus itu harus terhalang bipolar. DAMN !!! 

Sekarang fine kalau memang gw tidak ditakdirkan untuk jadi dokter. Terus gw mau jadi apa ? Nggak ada yang lebih menarik dari dunia kedokteran. Gw nggak ada bayangan dimana gw harus bekerja, apa yang harus gw lakukan supaya gw bisa berdiri di kaki sendiri dan nggak minta uang dari orang tua lagi.. Gw sama sekali nggak ada bayangan.

Udah gitu, selain bipolar, sekarang diagnosis gw nambah. Gangguan Pengendalian Impuls. Gangguan ini isinya yang kaya kleptomania. Kalau klepto nggak bisa menahan keinginan untuk mencuri barang, kalau gw nggak bisa menahan keinginan untuk minum obat banyak-banyak. Kata dokter gw, kalau gw masih ingin menjadi seorang dokter, bipolar 2 bukanlah halangan. Tapi, kalau gw nggak bisa mengatasi gangguan pengendalian impuls ini, bisa bahaya. Gimana nanti kalau gw beneran jadi dokter dan bisa nulis resep, gw bisa meresepkan obat2an mulai dari yang aman sampai bahaya sejumlah berapapun yang gw mau, dan bisa gw minum sendiri. Bahaya banget. Ini yang jadi concern dokter gw. Gw sendiri nggak tau juga kenapa tau-tau gw jadi mengalami gangguan pengendalian impuls ini.

Gw nggak pengen mengalami hal ini.. Gw pengen seperti temen-temen gw yang bisa koas dengan tenang. Tanpa harus berkutat dengan gejolak moodnya, keinginan anehnya, dan obat2an yang harus diminum. Saat ini gw nggak bisa terima kenapa gw begini. GW GAK TERIMA !!!

Oh ya, belakangan ini nyokap gw suka nanya, emang gw nggak malu membongkar aib di internat. Jawaban gw, nggak tuh. Entah ini normal apa nggak. Tapi inilah kenyataan yang sudah terjadi. Semua cerita di blog gw ini nyata. Nggak gw buat-buat. Gw nggak peduli orang mau ngomong gw bego, tolol, lemah iman, gila, apalah terserah mereka. Gw nggak peduli. Gw hanya ingin meluapkannya kedalam sebuah tulisan dan ya semoga bisa bermanfaat bagi yang membutuhkan. Yang cuma bisa ngelihat sisi negatifnya aja ya silakan. Gw nggak peduli kok. Malah ini sebagai pembuktian bahwa walaupun gw merasakan cobaan berat ini, gw masih bisa bertahan hidup di dunia. Memang sering gw merasa pengen mengakhiri hidup, tapi kuasa tuhan, gw masih ada disini menceritakan kisah gw. Jadi ya terserah lo deh mau ngomong apa.

See you later. Emosi gw nggak terkontrol. Semoga nggak ada hasrat minum obat banyak-banyak lagi..

Lagi-Lagi Overdosis Obat



Ini adalah kisah ketiga gw overdosis obat. Gw share disini bukan karena gw bangga. Tapi sebagai pengingat gw untuk tidak melakukannya lagi. Biarlah kenangan ini tersimpan di dalam blog saja. Tak perlu gw ingat-ingat di otak gw. Karena rasanya sungguhlah menyakitkan. So, here we go..

Minggu, 1 Januari 2012

Tak terasa satu tahun telah berlalu. Hari ini adalah hari pertama di tahun 2012. Semua terasa indah pada pergantian malam. Kembang api tetangga yang berkilauan di langit hitam pekat, kusaksikan dari balkon atas rumah bersama sepupu-sepupu, dengan hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Dalam hatiku, terbesit kebahagiaan akan datangnya harapan di tahun yang baru ini. Dalam pikiranku, melayang berbagai resolusi dan impian serta tujuan yang ingin kucapai di tahun 2012. Semua terasa indah. Tetapi karena mengantuk, kutinggalkan keindahan malam itu untuk pergi tidur.

Pagi aku bangun dengan damai dan penuh suka cita di hari baru ini. Karena libur dan tidak ada acara, aku menghabiskan waktu di rumah. Membaca, nonton TV, makan, bercengkerama bersama saudara-saudara, main games, dan internetan. Tak ada yang berbeda siang itu. Semua berlalu seperti hari lainnya.

Sore hari, entah kenapa aku merasa perasaanku tidak enak. Tiba-tiba saja dalam pikiranku terlintas untuk meminum obat banyak-banyak lagi. Saat itu aku masih ingat dengan memoriku saat dirawat 2 kali karena minum obat banyak-banyak. Jadi aku menahan keinginan itu dan mencoba mengalihkan perhatianku dengan mencari kegiatan. Bermain internet menjadi pilihanku.

Tapi tak lama, pikiran itu muncul lagi. Kali ini aku benar-benar ingin meminum obat banyak-banyak. Semakin aku ingat bahaya yang akan terjadi, semakin tinggi hasratku untuk meminum obat banyak-banyak. Aku tak mengerti bagaimana dan kenapa hal itu bisa terjadi. Tepat jam 11 malam, aku sudah benar-benar tidak tahan dan akhirnya aku menghampiri mama. Dengan nada ketus seperti orang kesetanan, aku meminta obat yang mama simpan untuk kuminum. Tentunya mama tidak memberikannya. Aku terus merengek-rengek minta diberikan obat. Papa pun turun tangan. Lama sekali kami bertengkar. Aku tak hentinya meminta obat yang mama simpan. Puncaknya, terjadi saat pergantian malam.

Senin, 2 Januari 2012

Keinginanku untuk minum obat banyak-banyak masih tak tertahankan. Kesal dengan larangan mama papa, aku nekat mengambil pisau di dapur dan mencoba mengancam mama dengan pisau. Papa langsung mencegah, memegangku erat-erat dan menarik pisau itu. Perebutan itu cukup hebat berlangsung. Jari tengah tangan kananku sampai berdarah-darah karenanya. Melihat tanganku berdarah seperti itu, aku tiba-tiba seperti tersentak sesuatu. Aku lebih tenang dan duduk di kursi. Aku menitikkan air mata sambil mengatakan aku ingin sembuh. Lalu mama papa membawaku ke UGD RSCM Kencana tempat biasa aku dirawat.

Sampai disana, aku disambut oleh seorang perawat pria yang pernah merawatku disaat aku resah dulu di tempat yang sama. Jadi kami sudah saling kenal. Dia masih ingat denganku. Aku diminta berbaring di salah satu bed disana. Walaupun fisikku sehat, tapi sebagai prosedur wajib, perawat itu memeriksa tensi, nadi, suhu, dan nafasku. Lalu kami ngobrol sebentar mengenai penyebab aku sampai dibawa kemari. Kuceritakan apa yang terjadi dan meminta plester untuk menutup luka di tanganku. Lalu ia menelepon dokter jaga UGD dan psikiaterku.

Tak lama datang seorang dokter pria menghampiriku. Dia adalah dokter penyakit dalam yang sedang tugas jaga malam itu. Dia datang menanyakan apa yang terjadi. Aku kembali menceritakan apa yang terjadi dengan singkat. Walaupun sudah kukatakan tidak ada keluhan fisik yang kurasakan, dia tetap memeriksaku dengan stetoskopnya untuk memastikan. Lalu ia mengatakan bahwa akan residen jaga psikiatri yang akan menemuiku. Aku diminta untuk menunggu.

Malam semakin larut, 2 orang residen psikiatri datang. Aku kembali harus bercerita apa yang terjadi. Capek juga lama-lama cerita diulang-ulang terus. -.-" Tapi ya mau tidak mau harus bercerita. Mereka memahami apa yang terjadi lalu menghubungi psikiaterku. Setelah itu mereka kembali menemuiku mengabarkan hasil diskusinya dengan psikiaterku. Kesimpulannya, aku harus dirawat karena keadaanku saat ini membahayakan diri sendiri dan orang lain. Jadilah pagi harinya aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Pagi itu juga aku bertemu psikiaterku. Lagi-lagi aku bercerita apa yang terjadi. Aku sendiri lupa apa saja yang kita bicarakan saat itu. Pokoknya kami bertemu, lalu aku dipindahkan ke ruang rawat inap.

Malam hari, psikiaterku kembali menemuiku. Saat aku sudah lebih tenang. Katanya besok ada dokter pengganti yang akan visit karena psikiaterku akan keluar kota. Dan besok aku sudah boleh pulang. Lalu aku tidur.

Selasa, 3 Januari 2012

Siang hari ada psikiater pengganti yang mengunjungi untuk melihat kondisiku. Saat itu, entah kenapa aku tiba-tiba terpikir untuk meminum obat banyak-banyak lagi. Rasanya belum puas kalau belum terlampiaskan. Aku mengatakannya pada psikiater itu. Tadinya dia memintaku dirawat sehari lagi karena aku masih memiliki pemikiran aneh itu. Tapi ia lalu berubah pikiran. Ia mengizinkanku pulang, dengan memberiku tugas untuk membuat tulisan 'bahaya' berulang kali agar aku tidak melakukan tindakan membahayakan. Aku mengiyakan perintahnya, dan pulang.

Sampai rumah, hari sudah sore. Aku mencoba menuliskan kata bahaya berulang kali. Tapi selagi aku menulis kata-kata itu, malah semakin besar keinginanku untuk minum obat banyak-banyak. Aku benar-benar tak bisa menahannya. Akhirnya, jam 8 malam, aku keluar rumah dengan alasan pergi ke ATM. Padahal aku pergi ke apotek membeli 4 Asthma-Soho dan 1 CTM. Setelah itu aku mampir ke minimarket dan membeli minum. Disana juga aku menelan 16 butir Asthma-Soho dan 12 butir CTM. Aku puas. Perasaanku lebih baik. Lalu aku kembali ke rumah.

Dirumah aku masih bercanda-canda dengan mama dan adikku. Kami browsing internet bersama membuka sebuah situs yang lucu. Tertawa seakan tidak terjadi apa-apa. Lalu jam 10 malam aku berniat untuk tidur. Tapi efek obat mulai terasa. Jantungku berdebar kencang, kepalaku sakit, dan kakiku dingin sekali. Aku tidak bisa tidur. Aku coba nikmati rasa sakit itu dengan mendengarkan musik. Hari pun berganti..

Rabu, 4 Januari 2012

Sekitar jam 1 malam, perutku mual sekali dan akhirnya aku muntah. Tapi kulihat tidak ada obat keluar dari muntahanku itu. Artinya obat itu telah dicerna di ususku dan kandungannya mulai masuk darah. Jam 2 malam, aku mencoba menghitung nadiku sendiri. Tak kusangka, nadiku begitu cepat dan terasa sungguh mendebarkan, hasil hitungannya mencapai 160x/menit. Gila pikirku. Lalu aku menghubungi mama. Mama langsung menghampiri aku dan panik. Begitu pula dengan papa. Aku segera dibawa ke RS terdekat. Sesampainya di UGD, aku langsung diperiksa dokter jaga dan diberikan infus. 2 setengah jam aku disana, infus pun habis. Aku diijinkan pulang dan disuruh istirahat dirumah.

Pagi, siang, dan sore hari kuhabiskan dirumah. Nadiku masih berdenyut cepat sekali, jantungku berdebar-debar seperti mau copot, kakiku masih dingin, dan kepalaku juga masih sakit sekali. Aku hanya bisa berbaring sambil nonton TV. Tapi menjelang malam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Lagipula aku juga ingin bicara dengan psikiater. Akhirnya aku meminta mama papa mengantarku ke RSCM.

Aku dibawa ke UGD RSCM lama yang hectic itu. Disana aku duduk di ruang triase setelah diperiksa tanda vitalnya. Lama sekali aku menunggu. Tidak ada dokter yang menangani karena disana ramai pasien. Akhirnya 2 orang residen psikiatri datang menemuiku. Kami berbicara di ruang konsultasi psikiatri, masih seputaran UGD. Aku kembali menceritakan apa yang terjadi dengan detail. Ditanya berbagai macam pertanyaan juga. Lalu mereka menghubungi psikiaterku. Hasilnya, psikiaterku meminta aku dirawat di bagian psikiatri. Selain karena di RSCM biasa ruangannya penuh, di RSCM Kencana susah untuk mendapatkan kamar jika masalahnya adalah psikiatri. Jadi aku diminta dirawat di departemen psikiatri. Sebelum pindah kesana, ada seorang residen ilmu penyakit dalam yang memeriksaku. Saat itu nadiku sudah turun menjadi 104x/menit, dan aku sudah minum ponstan untuk meredakan sakit kepala. Jadi aku tidak perlu diinfus lagi atau diberi tindakan lainnya.

Kamis, 5 Januari 2012

Pagi dini hari aku berbaring di sebuah tempat tidur pada kamar kelas I, ruang rawat psikiatri RSCM. Disebelah tempat tidurku ada tempat tidur lain yang diisi seorang ibu paruh baya. Ia hanya diam saja melihat kedatanganku. Memang penyakinya adalah skizofrenia paranoid tetapi ia memang cenderung diam, larut dalam halusinasinya. Dengan pasrah aku berusaha tidur karena aku benar-benar mengantuk. Mama dan papa pun pergi meninggalkan aku karena memang pasien yang dirawat dilarang untuk ditunggui. HP-ku juga disita agar aku benar-benar tidur. Tidak terganggu dengan HP.

Paginya aku bangun, mama datang membawakan aku coklat sebagai bingkisan karena hari ini adalah hari ulang tahun papa. Selagi mama memberikan coklat itu padaku, seorang pasien dari kamar lain ternyata mengintai. Lalu ia masuk, mengajak berkenalan, dan tanpa basa-basi, ia meminta coklat yang ada di genggamanku. Kuberikan coklat itu sebagian kepadanya karena ia tampak memaksa. Lalu perawat disana melihat kejadian itu dan mengusirnya keluar. Ternyata pasien itu menderita Bipolar I dan sedang dalam fase manik. Pantaslah kelakuannya seperti itu.

Tak lama, psikiaterku datang dan tampak kecewa dengan apa yang kulakukan. Kami membicarakan banyak hal. Ia menanyakan apa tujuanku melakukan tindakan bodoh ini. Kujawab, aku sendiri ingin merasakan sensasi disaat menikmati dan merasa puas saat minum obat banyak-banyak, menantang kematian, dan ingin mendapat perhatian dari orang sekitar. Aku juga bingung jika ditanya kenapa aku bisa melakukan ini. Aku hanya ingin sensasi itu, dan hasratku itu tidak bisa kukontrol. Pokoknya aku ingin merasakan puas dengan meminum obat banyak-banyak. Hal ini mirip dengan gangguan pengendalian impuls katanya. Begitulah kira-kira isi percakapan kami.

Tak banyak yang kulakukan hari itu karena aku mengantuk. Jadi aku hanya tidur saja untuk menghabiskan hari.

Jumat, 6 Januari 2012

Aku mulai berkeliling tempatku dirawat. Berkenalan dengan perawat, residen, dan pasien disana. Macam-macam pasien kutemui. Ada yang bipolar juga, skizofrenia, dan ada yang mengalami gangguan memori. Jadi dia berulang-ulang mengatakan hal yang sama, lupa dimana kamarnya, dimana kamar mandi, dan tidak tahu dimana ia berada sekarang. Menyedihkan rasanya melihat pasien itu. Ada juga yang hanya diam dengan tatapan kosong. Ada yang takut untuk tidur di kasur karena mendengar suara kalau di kasur itu ada jin dan merupakan kuburan. Ada juga yang tidak bisa merawat dirinya sehingga untuk makan, buang air, dll harus dibantu perawat. Ada pula yang tidak tahu diri, buang air kecil di lantai kamar mandi tanpa disiram, dan buang air besar di keset kamar mandi. Ya disanalah aku berada, diantara pasien-pasien itu. Mungkin aku terlihat paling normal diantara mereka. Saat itu aku memang sudah tenang. Tapi psikiaterku mengkhawatirkan hasrat itu muncul lagi sebelum ia merencanakan penanganan yang tepat. Jadi amannya ya dirawat saja.

Berat memang rasanya dirawat di bangsal khusus untuk orang yang mengalami ganguan jiwa. Aku juga sempat merasa down karena merasa separah inikah sakitku sehingga harus dirawat di tempat seperti ini.. Tapi aku terima saja karena aku yakin inilah yang terbaik untukku sementara ini..

Sorenya aku mulai resah dan ingin pulang. Untungnya psikiaterku datang. Ia tak bisa memulangkanku sekarang. Ia sudah berjanji dengan keluargaku untuk merancang jalan keluar dari masalah ini pada hari Minggu. Jadi sampai hari Minggu tiba aku tetap dirawat. Miris hatiku mendengar hal itu. Minggu rasanya lama sekali datang. Sedangkan aku sudah tidak betah. Mataku sudah berkaca-kaca. Disana tidak ada yang bisa kulakukan. TV di sana kebetulan sedang rusak. Jadi tak ada hiburan untukku. Hanya musik di ipodku saja yang cukup membantu. Psikiaterku mengerti akan hal itu, ia mengajakku bercerita berbagai macam topik dan berusaha membuatku nyaman disana. Ia meminjamkan 2 novel untuk kubaca. Well, aku merasa lebih nyaman setelah itu. Aku pun tertidur lelap.

Oh ya, sebelumnya juga aku diberi kuisioner berisi pertanyaan seputar keinginanku dan tindakan apa yang harus kulakukan jika 'serangan' itu muncul lagi. Sore itu kami membahasnya juga.

Sabtu, 7 Januari 2012

Aku bangun pukul 10 pagi, sarapan, minum obat, dan mandi. Lalu bergabung dengan pasien lain yang sedang duduk-duduk diluar kamar. Ternyata ada kekacauan yang tengah terjadi. Salah satu pasien meludahi barang-barang pasien lain dikamarnya. Pasien yang diludahi merasa marah dan meminta dipindah kamarnya. Ada juga pasien yang barang-barangnya diambil pasien lain. Hmmmh, seperti inilah bangsal psikiatri. Aku memakluminya. Sungguh aku kagum dengan dokter psikiatri dan perawat psikiatri yang bersedia bekerja melayani pasien-pasien yang susah dikontrol ini.. 

Tak banyak sih yang kulakukan hari ini. Aku membaca novel yang dipinjami dokterku. Lalu pasien yang manik menghampiriku. Mengajakku ngobrol. Ia bercerita dengan semangat tentang kisah cintanya yang entah nyata atau hanya dibuat-buat. Ia sudah memiliki suami, tapi ia bilang ia berselingkuh dengan psikiater yang merawatnya. Whatever lah, dalam hatiku. Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Tak berani bicara apa-apa. Daripada salah ngomong..

Berhubung hari ini hari Sabtu, jadi tidak ada dokter visit. Jadi psikiaterku tidak datang. Untung aku tidak resah dan bisa bertahan. Malamnya aku berusaha tidur cepat. Tapi aku baru bisa tertidur jam 2 malam. Yasudahlah, yang penting hari ini bisa terlewati.

Minggu, 8 Januari 2012

Senang sekali aku hari ini, karena hari ini aku akan pulang. Jam setengah 11 psikiaterku datang. Kami bercerita sedikit. Tak lama keluargaku datang. Lengkap. Kami semua duduk bersama membicarakan rencana penangananku ke depan. Selain itu juga membicarakan harapan, kendala, dan masalah yang ada dalam keluargaku. Semua dibicarakan dengan terbuka. Aku merasa senang melihat semua ternyata peduli denganku. Aku harus bisa berjuang lebih keras untuk melawan keinginanku yang aneh itu. Setelah membicarakan itu semua, aku pun diperbolehkan pulang.

Begitulah kisahku di minggu pertama tahun 2012. Minggu yang kelam. Untuk pertama kalinya aku dirawat di bangsal psikiatri bersama pasien gangguan jiwa lainnya. Aku banyak belajar dari kejadian ini. Kejadian ini walaupun pahit telah mengajarkan aku banyak hal. Aku harus bisa berjuang lebih keras melawan keinginan anehku. Ternyata semua orang masih peduli denganku. Aku juga harus memberikan yang terbaik untuk mereka sebagai tanda terima kasihku. Kini pikiranku lebih terbuka. Semoga aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik di tahun 2012 ini. Thanks for reading, God bless you. : )





Curhat ( 30 )

Guys, berita buruk. Gw baru saja dirawat lagi karena resah dan overdosis obat untuk ketiga kalinya selama seminggu. Gw sendiri tidak menyangka kejadian ini bakal terulang lagi. Lengkapnya akan gw ceritakan di post tersendiri. Silakan baca.

Well, setelah gw menulis Curhat ( 29 ), besoknya gw memulai koas stase anestesi. Hari pertama hanya perkenalan dan persiapan. Hari kedua kita mulai ikut operasi. Mengenal obat, alat, dan status anestesi yang harus kita isi. Selama seminggu semua berjalan dengan lancar. Anestesi yang tadinya gw pikir bakal membosankan karena banyak bengongnya, ternyata tidak juga. Semua tergantung dari diri masing-masing koas. Bisa saja gw duduk-duduk santai bengong-bengong. Tapi gw memilih untuk menulis status anestesi pasien dan ikut melihat operasi yang dilakukan dokter. Gw melihat operasi pengangatan kista, usus buntu, dll. Seru kok walau hanya melihat. Ya paling jadi pegel aja kakinya karena berdiri terus. Tapi toh setelah operasi selesai kita bisa duduk bahkan tiduran di ruang ganti. Intinya, anestesi itu menyenangkan.

Kendalanya, entah kenapa mata gw berbinar-binar melihat obat-obatan anestesi. Seperti ada hasrat untuk memiliki obat-obatan berbahaya itu. Tapi berhubung semua obat itu cara pemakaiannya intravena ( suntikan langsung di vena / ke infus ) jadi percuma kalau gw ambil tuh obat, gw gak bisa makenya. Nggak berani bok nyuntikin obat ke vena sendiri. Haha. Jadi ya pikiran itu hanya terlintas saja. Gw tak ambil pusing dengan pikiran itu.

Malam tahun baru gw habiskan di rumah melihat kembang api gratisan punya tetangga dari balkon atas rumah bersama sepupu-sepupu. Cukup menyenangkan kok melihat kembang api tetangga. Bagus juga. Haha. Setelah liat kembang api gw tidur. Esoknya gw masih bercengkerama dengan saudara-saudara gw dan makan-makan. Sampai malamnya, tiba-tiba gw relaps. Well, lanjut ke post berikutnya ya.. Akan gw ceritakan apa yang terjadi sampai gw dirawat.