by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Dirawat Lagi..

Yeah dari judulnya saja sudah terbayang apa isi post ini. Gw dirawat lagi. Hanya jeda seminggu setelah gw dirawat karena overdosis obat, gw harus masuk lagi ke bangsal psikiatri. Begini ceritanya..

Memang setelah pulang dari dirawat di awal tahun itu gw jatuh ke fase depresi. Bisa dibaca di 2 curhat terakhir gw. Gw nggak terima keadaan gw. Gw benci depresi gw. Puncaknya, pada hari Senin tanggal 16 Januari 2012, gw merasa sangatlah sedih. Gw nggak sanggup untuk koas karena rasanya berat sekali untuk berangkat koas. Gw katakanlah niat bolos koas itu kepada mama. Tanggapannya, "Yaudah terserah kakak masa depannya mau gimana.. Mama nggak peduli lagi.." kalimat itu diucapkan sambil membanting pintu kamar gw. Gw yang sudah dalam keadaan sedih bertambah sedih. Yang ada dalam pikiran gw saat itu, please gw sudah cukup terbebani dengan depresi gw, gw butuh dukungan dan pelukan tapi yang gw dapat malah omelan. Mungkin mama ada benarnya juga. Gw harus bisa memaksakan diri di kala depresi. Tapi ya namanya orang depresi kalau disuruh untuk ngelawan sendiri tanpa bantuan orang sama aja kaya nyuruh orang ( maaf ) cacat yang nggak punya kaki untuk berlari. Gw butuh obat, psikiater, dan dukungan untuk membantu gw bangkit. Tapi pagi itu gw malah mendapat sebuah kekecewaan. Alhasil, dari pagi itu sampai siang hari gw merasa sedih yang amat sangat.

Gw berpikir untuk mengakhiri hidup gw. Ingin rasanya mati saja. Tapi untungnya gw masih ingat Allah. Gw belum siap jika nanti gw mati lalu dihisab, amal gw belum cukup untuk mengantarkan gw ke surga. Gw menyederhanakan pikiran gw. Gw ingin hilang dari muka bumi saja. Tapi ya hal itu juga mustahil. Yang ada malah tambah kelimpungan dan sumpek sendiri. Gw dengerin musik yang tenang, mencoba menuliskan perasaan gw di jurnal pribadi, dan mencoba relaksasi. Tapi emosi itu masih saja bergejolak. Gw tidak bisa menangis. Gw juga kembali kepikiran untuk minum obat banyak-banyak.

Lalu tanpa sengaja, tampaklah sebuah cutter di dekat cermin kamar gw. Tanpa berpikir panjang gw langsung mengambil cutter karatan itu, dan melukai lengan gw. 6 sayatan sepanjang 4-6 cm yang cukup dalam untuk mengeluarkan darah secara perlahan. Setelah itu gw merasa puas dan lebih tenang. Tapi pikiran untuk minum obat banyak-banyak masih ada. Untungnya gw ingat pengalaman dan pelajaran dari perawatan gw sebelumnya. Jadi gw berinisiatif untuk pergi ke RS sendiri. Kali ini gw memang sendiri. Tidak ditemani siapapun. Entah kenapa gw tidak mengabari mama. Gw ingin sendiri.

Gw segera ganti baju dan keluar pergi mencari taksi. Sebelumnya gw mencuri beberapa lembar uang dari dompet mama. Selama di perjalanan gw memandangi sayatan di lengan gw yang masih mengeluarkan sedikit darah, sambil berpikir, "Gw butuh pertolongan.." Sesampainya di UGD, gw langsung disambut dengan riuh oleh perawat disana yang memang sudah kenal dengan gw karena pernah berkali-kali dirawat mereka. Mereka langsung tahu ada yang tidak beres denganku segera setelah melihat raut mukaku yang tidak karuan. Gw langsung diantar ke tempat tidur disana dan ditanya tentang apa yang terjadi. Setelah itu mereka memanggilkan psikiaterku.

Tak lama, psikiaterku datang. Aku menceritakan apa yang terjadi dan memberikan gambaran bagaimana sedihnya aku. Sedikit lebih lega rasanya setelah mencurahkan isi hati ke psikiater. Tapi aku masih ingin meminum obat banyak-banyak. Mendengar hal itu, psikiaterku memintaku untuk dirawat lagi. Saat itu kondisiku memang membahayakan diri sendiri. Itu adalah salah satu indikasi rawat inap dalam ilmu psikiatri. Lalu psikiaterku menelepon orang tuaku. Setelah orang tuaku datang, mereka mendiskusikan dimana aku akan dirawat. Awalnya aku meminta untuk dirawat di RS tempat aku berada di kamar biasa, bukan bangsal psikiatri. Tapi berhubung kasusku psikiatri, pihak RS tidak mau menerima aku. Dan kamarnya juga kebetulan penuh. Jadi psikiaterku menyarankan aku untuk dirawat di bangsal psikiatri lagi. Hmmmmh gw menolaknya keras-keras. Cukup lama juga psikiaterku membujuk supaya gw mau dirawat di bangsal psikiatri. Tapi karena dia ada keperluan lain, jadi terpaksa ia meninggalkanku dan memanggil residen psikiatri yang sedang jaga saat itu.

2 orang residen datang. Satu wanita dan satu pria. Kebetulan sebelumnya aku sudah kenal dengan residen pria. Kami pernah bertemu pada saat acara terapi kelompok. Dia cukup terkejut mengetahui aku adalah pasiennya. Lalu kedua residen itu membujukku lagi. Aku masih bersikeras mengatakan tidak. Lalu residen yang wanita meninggalkan aku untuk bicara dengan orang tuaku. Tinggalah aku dengan residen pria yang sudah kukenal itu. Pada dasarnya dia memang baik hati. Dengan sabar dia berusaha membujukku dan akhirnya aku luluh juga melihat usaha dia yang mengulurkan tangannya dengan harapan akan kuraih sebagai bentuk bantuan dari dia untukku. Aku bersedia dirawat di bangsal psikiatri ( lagi ).

Sampai di bangsal lagi-lagi aku disambut dengan riuh oleh perawat disana. Mereka menanyakan kenapa aku bisa sampai harus dirawat lagi padahal baru seminggu yang lalu keluar dari sana. Selain perawat, seorang pasien Bipolar I yang sedang manik juga menghampiriku. "Hahaha kenapa lo masuk sini lagi.. Makanya jangan cepet-cepet pulang kemaren.. Gw sih besok udah boleh pulang sama dokter.. Lo disini nggak ada gw deh.. Sukurin lo.." -.-" Pasien itu memang sudah kukenal saat aku dirawat sebelumnya. Dia sudah 3 minggu lebih disana. Residen pria yang menemaniku berusaha menenangkan aku, "Udah nggak usah didenger.." sambil memberi senyuman tulus. Ya aku juga tak ingin menggubris 'sambutan hangat' itu. Nambah pikiran aja. Lalu aku berusaha tidur.

Esok paginya sekitar jam 10 setelah aku sarapan, minum obat, dan ( dipaksa ) mandi *gw emang males mandi kalau lagi nggak harus pergi kemana-mana. Tapi di bangsal dipaksain susternya mulu..* psikiaterku datang bersama seorang residen pria lain. Kali ini aku baru melihatnya. *Btw, ganti deh jangan panggil residen. Panggil dokter aja..* Psikiaterku mengenalkan aku pada dokter itu. Dia yang bertanggung jawab merawatku selama aku di bangsal. Lalu dokter itu mulai menanyakan berbagai hal padaku. Ya seperti biasalah aku harus bercerita lagi.

Well, pasien-pasien di bangsal sudah berganti. Hampir semua pasiennya baru. Pasien yang dirawat bersamaan dengan saat aku dirawat sebelumnya sudah pulang. Jadi aku harus berkeliling bangsal lagi berkenalan dengan pasien-pasien itu untuk mengisi waktu. Dan, bukan bangsal psikiatri namanya kalau tidak ada peristiwa aneh. Bukan maksudku untuk menjelekkan atau menertawakan mereka. Aku hanya ingin menggambarkan bagaimana keadaan di bangsal psikiatri.

Saat itu aku sedang ngobrol dengan dokter yang merawatku diluar kamar. Tiba-tiba seorang ibu-ibu usia 50-an keluar dari kamar lain dengan muka sedih dan kecewa. Lalu dia berdiri di depan perawat-perawat yang ada di sana dan berkata, "Suster, saya mau pulang aja.. Saya disini sakit. Saya ingin istirahat. Tapi saya tidur malah dimarahin suster. Saya tanya suster saya sakit apa nggak suster bilang saya nggak sakit. Padahal jelas-jelas saya sakit.. Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya mual. Kaki saya sakit. Kepala saya juga sakit. Muka saya pucat begini dibilang nggak sakit.. Kalau suster sudah nggak suka saya disini ya bukakan saja pintunya supaya saya bisa pulang.." Dalam hatiku, ibu ini jelas-jelas berjalan sendiri keluar dari kamarnya. Tapi dia bilang dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku sempat memikirkan apa yang diderita ibu ini. Lalu ibu itu berpindah menghampiri dokterku. "Dokter, saya mau pulang saja.. Suster disini benci sama saya. Mungkin mereka nggak suka sama saya karena saya sudah tua dan miskin. Mungkin mereka anak durhaka. Nggak peduli dengan orang tua. Coba kalau orang tua suster itu sendiri yang sakit seperti saya.. Mau dia ? Saya sumpahin ya orang tuanya suster itu sakit kaya saya.. Biar tahu rasa mereka.." Lalu seorang ibu lain yang tadinya duduk diam di dekatku ikut nimbrung, "Iya dokter, saya juga mau pulang saja. Saya nggak betah disini. Saya juga sakit kaya ibu itu.. Saya mau pulang saja kembali sama anak-anak saya.. Biarin saya pulang jalan kaki. Saya miskin dok. Kalau bisa saya melacur deh dok.." Masa iya ibu ini mau melacur, usianya saja sudah 50 lebih. -.-" Sebelumnya ibu ini sudah berusaha kabur dengan bergelayutan di pintu setiap ada orang masuk / keluar. Dan tampaknya dia mudah terprovokasi orang. Makanya jadi ikutan marah-marah seperti ibu satunya. Melihat hal itu, dokterku mencoba untuk mengatasi keadaan. Ia menghampiri ibu kedua, dan mencoba menjauhkan ibu itu dari ibu pertama. "Bu, ayo kita pindah ke kamar.." Lalu tanpa berpikir si ibu membalas ajakan dokterku, "Mau ngapain ke kamar dok ? Mau ngentot ? Saya maunya disini aja.." Aku tak bisa menahan tawaku. Begitu pula dokter cewek di deketku dan perawat disana. Hebatnya, dokterku yang lagi serius membujuk ibu itu tak tertawa sedikit pun.. Kacau ibu ini, pikirku. Lalu hampir setengah jam aku berada disana menyaksikan kedua ibu itu tak henti-henti meminta pulang dan menjelek-jelekkan perawat dan dokter disana. Sampai mengancam mau dimasukkan koran segala. Hmmmmh aku hanya bisa bersyukur aku masih bisa hidup dalam realita walaupun emosiku tidak dapat dikendalikan. Setelah banyak bicara seperti itu, mungkin ibu itu capek sendiri. Ibu satu sudah diam. Tetapi ibu yang kedua masih saja nyerocos. Lalu dengan nada kesal ibu satu berkata, "Sudah ibu diam saja. Jangan bawel.. Saya jadi tambah pusing.." Aku tambah tertawa. Padahal tadinya mereka tampak seru bersahutan meminta pulang dan menjelek-jelekkan perawat dan dokter. Kompak sekali mereka mendukung satu sama lain. Lalu tiba-tiba si ibu satu kesal sendiri dengan ibu dua. Ada-ada saja. Akhirnya setelah sekian lama mereka diam juga. Suasana tenang kembali, sampai tiba-tiba ibu kedua berkata, "Kepala saya sakit. Tadi saya sudah minum obat paramek..mek..mek..mek.." Ya, ibu itu menyebutkan obat Paramex dengan sebutan Paramek disertai gema dibelakangnya.. Lalu aku dan perawat kembali tertawa. Perawat yang tertawa itu menanggapi, "Udah ibu sebutnya paramex aja, nggak usah ditambahin belakangnya. Kan jadi jorok. Hahaha. Saya jadi ketawa kan bu.." Aaah, aku menyerah deh.. Aku langsung kembali ke kamar.

Setelah kedua ibu itu tenang dan kembali kekamar masing-masing, aku keluar lagi. Aku tanya kepada suster, penyakit apa yang diderita ibu-ibu itu. Ternyata ibu satu itu menderita gangguan somatis. Yaitu gangguan dimana pasien merasa sakit fisik yang serius, tetapi sebenarnya dalam pemeriksaan medis tidak ditemukan kelainan. Jadi dia merasa dirinya sakit padahal tidak begitu. Makanya saat suster ingin membantu ibu itu untuk kembali ke realita bahwa dirinya tidak sakit, ibu itu malah marah. Maksud suster itu baik, mengajak ibu itu untuk beraktivitas, jangan tidur terus. Tapi berhubung si ibu merasa dirinya sakit dia merasa tersinggung karena mengira dilarang beristirahat oleh suster. Begitu pula saat suster ditanya apakah si ibu terlihat sakit apa tidak. Suster menjawab tidak dengan maksud mengatakan realita yang ada. Tapi penyakit si ibu yang membuat ibu itu lagi-lagi tersinggung. Dalam pikirannya, ia sakit parah. Tapi hasil pemeriksaan, semua normal. Rumit memang. Tapi begitulah adanya. Sedangkan si ibu dua, memang emosinya sedang tidak stabil. Ia mengalami gangguan psikosis. Ia merasakan halusinasi, bertindak semaunya, dan mudah terprovokasi. Jadilah dia ikutan marah-marah membela ibu satu. Begitulah bangsal psikiatri. Kali ini lebih hectic dari keadaan aku dirawat sebelumnya. Belum lagi ditambah teriakan-teriakan dari seorang gadis cantik berusia 14 tahun yang mengalami gangguan psikotik akut. Dia tak berhenti berteriak dan bergumam dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti. Kasihan sekali aku melihat pasien-pasien itu.. Ternyata aku masih lebih normal dibanding mereka..

Begitulah hari-hariku di bangsal. Berusaha memaknai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Selain berinteraksi dengan pasien, aku juga bertanya-tanya tentang program spesialisasi psikiatri pada dokter-dokter disana karena aku tertarik untuk mengambil psikiatri kalau aku berhasil menjadi dokter nanti. Sisanya, paling aku membaca novel yang dibawakan papaku.

3 hari disana, moodku semakin hari semakin membaik. Sampai pada saat hari disaat aku diperbolehkan pulang, aku sudah tidak merasa sedih lagi. Tak ada lagi keinginan-keinginan aneh. Semua sudah aman dan undercontrol. Aku dibekali obat dan meminta pin BB dokter disana supaya bisa keep in touch dan curhat kalau butuh. Lalu aku pulang. Senang rasanya bisa melangkahkan kaki keluar dari bangsal yang selalu terkunci itu. Meninggalkan segala rasa terkurung, derita, dan melupakan pengalaman pahit selama aku berada disana. Mendengar nama 'Bangsal Psikiatri' saja orang sudah menilai negatif. Bagaimana dengan pasien yang harus tinggal disana, termasuk aku. Dan inilah diriku menceritakan apa yang terjadi selama aku di bangsal sesuai kenyataan.

Hikmah yang dapat kuambil selama aku di bangsal, hidup itu memang penuh hal yang tidak terduga. Aku mengerti betul bagaimana yang pasien-pasien itu rasakan, karena aku mengalaminya. Kami tak ingin menderita seperti itu sampai harus dirawat di bangsal psikiatri. Pulang adalah tujuan utama kami. Dukungan keluarga dan teman adalah yang kami butuhkan. Bukan kemauan kami untuk menderita gangguan jiwa. Dan disaat kami sakit itu, bukan cacian dan tuntutan untuk melawan sakit kami yang kami inginkan. Tapi seseorang yang bisa mendengarkan keluhan kami dengan tulus seperti psikiater. Seseorang yang bisa memahami bahwa kami tak berdaya melawan penyakit kami. Jika kami bisa melawan penyakit kami seperti yang kebanyakan orang nasihatkan atau tuntut, kami tak akan sampai dibawa ke bangsal psikiatri. 

Mengutip dari buku Buku Pedoman Kesehatan Jiwa terbitan pemerintah, tertulis disana, "Keluarga atau kerabat seringkali tidak menyadari adanya depresi, dan menyuruh orang tersebut untuk melawan perasaannya, dimana hal ini hanya akan memperburuk keadaannya.."

Semoga bisa dimengerti ya.. : )

13 comments:

  1. Hai :)

    sumpah, saya sangat niat komen disini sampe dari BB,pindah langsung ke laptop meskipun keadaannya gelap2an di kamar saya... tapi entah kenapa saya tetep ngrasa harus nulis ini...
    udah gitu, ini udah ke3 kalinya saya mencoba publish, tp yg trakir gagal gara2 kepanjangan postnya, terpaksa saya bagi dua deh --a

    Sebelumnya sy mau ngenalin diri dulu, saya mahasiswa Psikologi salah satu universitas swasta di Bandung. Saya emang belum baca smua post kamu,baru yang ini...tapi begitu saya baca post kamu yang ini saya bener2 ngrasa empati. Saya juga agak kaget pas tau kenyataan bahwa ternyata org2 yang dirawat di bangsal psikiatri itu ga cm skizofren aja tp juga gangguan2 laen kaya somatoform disorder, bipolar,dsb...dan semua itu saya pelajrin di Kuliah Abnormal saya pas semester 4 kemaren.

    Saya bener2 salut sama kamu, kamu berani dirawat disana dan bertekad sembuh dengan depresi kamu, tanpa mendengarkan kata2 orang2 di sekitar kamu yang biasanya mencemooh orang2 bekas pasien bangsal psikiatri. Seperti yang tadi saya barusan blg, kalo saya memang belum baca smua post kamu,tp kelak saya pasti bakal baca yang lain :)

    ReplyDelete
  2. Saya cuma mau bantu ngedoain kesembuhan kamu dari depresi, soalnya menurut saya emang depresi itu seharusnya dikeluarin terlebih dahulu,bukan langsung dilawan. Kesedihan itu lebih baik dikeluarin aja. Saya sebenarnya org yang tipenya introvert (perlu dijelaskan lagi? ^^), tapi orang liatnya saya ekspresif, cas-cis-cus, jadi mereka aja kaget asli pas tau saya sbnrnya orgnya introvert. Mereka ga pernah tau betapa sedihnya saya di dalam diri saya, saya menyimpan sesuatu yang bernama "kesedihan" itu yang kadang2 brubah jadi rasa dendam...kadang keluar kalau saya udah ga tahan, yah tapi itulah... paling dilampiasin sendirian di dalam kamar, nangis histeris tapi pelan....atau cari tempat sepi lain...atau kalau masih dalam tahap yang sedang, saya paling maen biola buat katarsis...separah2nya kalo inspirasi nulis nya juga keluar, saya jadi ngeblog jg kaya kamu (makannya akun blogspot saya ini adalah akun blogspot rahasia saya buat curhat habis2an tanpa tau identitas,dengan tujuan supaya gada org yg dikenal yg tau). Agak miris ya? Mungkin ada kesamaan diantara kita dalam hal ini, yaitu kita sama2 ngrasain kesedihan...cuma kalo saya kadarnya masih ga separah kamu mungkin ya...

    Mengenai kebiasaan silet tangan kamu (saya gatau ini kebiasaan atau bukan, yang jelas seperti yg ud saya blg saya blm baca post kamu yg laen hehe), saya pny temen baik, dr smp, dia juga pny kebiasaan ky kamu, suka silet2 tangan...apalagi kalo lg depresi berat soal cinta pertamanya,tp syukur skrg dy udah gak kaya gitu lagi yah sama pacarnya yg sekarang (semoga). Saya tau nyilet tangan itu kadang2 malah jadi nyandu ke kitanya kalau sering banget dilakuin,tapi bagi saya teteup aja hal itu hal yang sangat berbahaya. Pertama, pasti bakal ada bekas yang bikin orang2 curiga. Kedua, kalau dibawa2 ke masalah Agama, ya Yang Diatas juga pasti gak akan mau kan udah susah2 ngasih raga dan jasmani, eh malah dirusak2 gitu aja(pasti ada bekasnya kan minimal). Hehe..maaf yaa kalo kedengerannya saya kaya kepo banget,pdhl saya jelas2 ga ada di posisi kamu... cuma saya tetep berharap kalo nasihat saya ditelaah...mungkin ini salah satu alesan knp sy bisa empati sama kamu,krn sy pnah liat sahabat, org terdekat saya sendiri melakukan hal yang sama kaya yg kamu lakuin. Mungkin sahabat saya termasuk org yg beruntung krn dia gak sampai depresi, mgkn karena ada org2 yang mau dengerin dia juga, meskipun ga setiap saat selalu ada buat dia...tp minimal dy pnya tempat pelampiasan lah yang sifatnya timbal balik,ga cm searah.

    Pokonya intinya saya sangat ngedoain kesembuhan kamu, kamu tetep hrs keep fight lawan dunia yang memang notabene kejam (dulu guru negro TBI saya ada yg pernah blg : LIFE IS UNFAIR,and obviously, that's damn right). Kamu itu gak sendirian, semua orang pernah punya masalah. Cuma gimana orang memandang sesuatu hal sebagai masalah itu yaa balik lg ke persepsi mereka masing2. Iya kan? Mama saya pernah blg, hidup itu pasti temenan sama yang namanya masalah, makannya kita harus belajar temenan sama mereka (at least kalo kamu gak mau ngelawan,hal ini biasanya bs bikin km feels better) Trus saya juga pnah denger quote : pasti selalu ada alesan di balik semua kejadian. Saya gatau pasti dalam hidup kamu, hal ini bs diterapin di segi man tp yang jelas saya yakin kalau kamu cukup pintar untuk mengerti tentang hal ini, ya kan? hehe

    ReplyDelete
  3. Akhir kata sy cm mau ngucapin THANKS banget buat sharing pengalaman kamu di bangsal Psikiatri, soalnya nambah bayangan saya soal hal itu... Pesen terakhir saya: BERJUANG! Meskipun kamu ngrasa mama kamu gak ngedukung kamu (honestly, kadang saya juga ngrasain hal yang sama ke mama saya sendiri, sampe saya mikir kok mama sendiri ga kenal sifat anaknya sendiri,tp sy coba pikir + kalo si mamah emang mau saya mandiri dan gak tergantung sama dia...jadilah...), minimal saya sama orang2 yg baca blog ini, juga sama dokter2 di bangsal psikiatri kamu jg pasti ikt doain kesembuhan kamu kok... Oke? Keep fighting, GBU!


    PS : anyway, sebenernya saya juga tertarik mw masuk Psikiatri, cm krn saya terlalu pengecut buat masuk kedokteran dan emang udah terlalu minat sama Psikologi dari SMP kelas satu, jadilah...saya mahasiswa Psikologi. Ini ga gitu penting,jadi kalau kata twitter mah #abaikan!) ^^

    *ternyata komen saya kepanjangan, saya pikir 2 post cukup ternyata hrs 3x...maaf yaa

    ReplyDelete
  4. Hi plow out peppo.. Thanks ya udah baca postku dan memberikan komennya yang panjang. Hehe. Thanks juga sudah mensupport aku. Silahkan dibaca post aku yang lain dan berikan komen juga boleh. Feel free to ask me anything. I'm glad to help.

    ReplyDelete
  5. Halo, gimana rasanya bergabung dengan kami yg psikotik.. Aku pengidap skizofrenia dan you harus tahu kalau skizofrenia harus minum obat selama hidupnya.. You enak tidak punya halusinasi dan delusi, sedangkan saya harus bergelut dengan itu semua..


    Saya gak habis pikir sama you yg sudah dikasih pencerahan berkali-kali sama Tuhan dengan bergaul sama orang-orang psikosis seperti mereka dan saya yg bisa dibilang 10x lebih menderita daripada you.. Tapi you malah tidak merasa kalau itu pencerahan dari Tuhan.

    ReplyDelete
  6. memang harus dilawan mbak dari diri sendiri. semuanya ada naik-turun. seperti aku, walau aku udah bisa numbuhin semangat dan motivasi, akhirnya aku menggagalkan lagi kesempatan yang datang. aku meledak dan mengkonfrontasi karyawan di tempat kerjaku, di hari ketiga. yang mana adalah kemarin. mungkin aku memang belum siap. atau aku memang gak akan bisa ngilangin ke-awkward-anku, kebegoanku, kelemotanku dan keanehanku. kemarin juga mulai muncul lagi keinginan untuk nyilet dan bahkan mau nabrakin diri di jalan raya. tapi aku berusaha untuk masuk ke sisi positif diriku, walau akhirnya tetep kebablasan. aku gak pernah dapet obat yang dosisnya tinggi. tapi selama dua hari pertama, aku ngabisin satu blister zerlin 25mg dengan harapan bisa menekan ketegangan. tapi aku tetep aja meng-aneh. aku bener-bener kecewa sama diriku sendiri.

    baca tentang ibu-ibu itu bikin ngakak. romantis. XD

    ReplyDelete
  7. @anonymous hi. Sebenernya ya yang namanya menderita gangguan jiwa itu sama-sama menderitanya. Gw juga punya banyak temen yang skizo, kenal dari organisasi kesehatan jiwa gitu. Rasany dirawat bersama pasien psikotik ya sama halnya jika dirawat pas sakit tipes bersama penderita dbd. Kami sama2 berjuang melawan penyakit kami. Aku menghormati pasien psikotik seperti pasien dbd itu.. Karena sakit apapun dia, dia tetap manusia. Punya hati. Aku juga harus minum obat seumur hidupku. Karena kalau dilepas, tingkat kekambuhannya tinggi. Mungkin kamu menderita dengan halusinasi dan delusimu. Sama denganku. Aku juga menderita dengan emosi, perasaan, dan pikiranku sendiri. Sama menderitanya.. Dan ya mungkin aku belum sepenuhnya sadar bahwa ini adalah pencerahan dari tuhan. Thanks sudah mengingatkan. :)

    @ilham ya seharusnya memang dicoba dilawan. Tapi menurutku mencoba melawannya jika waktunya sudah tepat. Yaitu disaat kita sudah mulai bisa bangkit. Kalau pas lagi depresi beratnya ya memang susah.

    ReplyDelete
  8. @tsulamit thanks ya. Doakan aku.. :)

    ReplyDelete
  9. Bagi seorang bipolar. Saat depresi tiba sepertinya tak ada apa pun yang bisa mengibur dan membuatnya tenang. Hal-hal yang bisa memotivasi dan membangkitkan semangat saat normal, sepertinya tak berlaku saat depresi. Segalanya tampak buruk, yang ingin dilakukannya hanya berdiam diri atau memejamkan mata lalu tertidur dan melupakan semuanya. Apakah saat tidur semuanya hilang. Tidak juga! Mimpi-mimpi buruk bisa terus menghantui disaat tidur sekalipun. Lebih buruk lagi munculnya dorongan untuk melakukan hal-hal yang berbahaya atau melukai diri-sendiri seperti yang anda rasakan. Saya juga pernah merasakan itu.

    Bagaimana dengan sikap orang terdekat (orang tua atau saudara)?
    Mereka bisa memahami kondisi kita disaat-saat tertentu. Tapi ada saat ketika mereka tak bisa memahami kondisi kita, seperti sikap mamah anda. Mengapa demikian? Kita harus maklum, karena sebenarnya mereka tak sepenuhnya memahami kondisi kita. Itulah kenyataannya. Jadi kita tak bisa menuntut mereka untuk terus memahami dan memaklumi kondisi kita. Saya juga pernah mengalami hal itu.

    Ayah, pernah membentak saya ketika saya tak juga pergi menyabit rumput, tapi malah menangis di kebun samping rumah. Beliau tak sepenuhnya memahami bahwa saat itu saya sedang berusaha menahan gejolak perasaaan yang sangat menekan.

    Itulah kenyataan yang juga harus kita fahami.

    Yang bisa dilakukan ketika berada di fase depresi adalah sebisa mungkin mengendalikan suasana hati dan pikiran agar tidak melakakukan hal-hal yang membahayakan diri. Minta bantuan ahli (psikiater) jika merasa sudah tak bisa mengendalikan dorongan-dorongan yang membahayakan diri. Dalam hal ini langkah anda sudah tepat dengan pergi ke RS, menemuni psikiater dan dirawat di bangsal psikiatri.

    Semoga cepat pulih Inilah Diriku :)

    ReplyDelete
  10. Iya Mas Tarjum, benar sekali. Saat depresi rasanya tak ada lagi yang bisa membantu kita. Tapi perlu diingat bahwa depresi berlangsung saat itu saja. Tidak akan selamanya jika penanganannya tepat. Masih ada harapan kok. Memang sih tak selamanya orang bisa mengerti keadaan kita. Kadang aku sadari hal itu, tapi kalau lagi depresi lupa tuh. Hahaha. Thanks ya Mas Tarjum..

    ReplyDelete
  11. Saya sangat mengerti derita mbak krn saya sdh 2x masuk bangsal psikiatri dan kalau bisa jgn sampai yg ke 3x..saat ini saya sedang depressi..skr jam 4:30 pagi tp saya blm bisa tidur walaupun sudah mkn obat..jd saya coba hal2 positip spt membuka blog ini..thanks ceritanya ya..bagus sekali dan tdk aneh buat saya krn saya tahu persis bagaimana bangsal psikiatri itu..memang betul kalau kita melihat ke yg sakit lebih parah dari kita kita merasa beruntung..tp hanya sesaat..krn sesungguhnya kita benar2 butuh bantuan ..semoga kita benar2 sembuh ya..

    ReplyDelete
  12. Amiiin. Keep struggling ya.. Bersama kita bisa. :) Aku juga abis dirawat lagi. What a life.

    ReplyDelete