by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Dirawat Lagi..

Yeah dari judulnya saja sudah terbayang apa isi post ini. Gw dirawat lagi. Hanya jeda seminggu setelah gw dirawat karena overdosis obat, gw harus masuk lagi ke bangsal psikiatri. Begini ceritanya..

Memang setelah pulang dari dirawat di awal tahun itu gw jatuh ke fase depresi. Bisa dibaca di 2 curhat terakhir gw. Gw nggak terima keadaan gw. Gw benci depresi gw. Puncaknya, pada hari Senin tanggal 16 Januari 2012, gw merasa sangatlah sedih. Gw nggak sanggup untuk koas karena rasanya berat sekali untuk berangkat koas. Gw katakanlah niat bolos koas itu kepada mama. Tanggapannya, "Yaudah terserah kakak masa depannya mau gimana.. Mama nggak peduli lagi.." kalimat itu diucapkan sambil membanting pintu kamar gw. Gw yang sudah dalam keadaan sedih bertambah sedih. Yang ada dalam pikiran gw saat itu, please gw sudah cukup terbebani dengan depresi gw, gw butuh dukungan dan pelukan tapi yang gw dapat malah omelan. Mungkin mama ada benarnya juga. Gw harus bisa memaksakan diri di kala depresi. Tapi ya namanya orang depresi kalau disuruh untuk ngelawan sendiri tanpa bantuan orang sama aja kaya nyuruh orang ( maaf ) cacat yang nggak punya kaki untuk berlari. Gw butuh obat, psikiater, dan dukungan untuk membantu gw bangkit. Tapi pagi itu gw malah mendapat sebuah kekecewaan. Alhasil, dari pagi itu sampai siang hari gw merasa sedih yang amat sangat.

Gw berpikir untuk mengakhiri hidup gw. Ingin rasanya mati saja. Tapi untungnya gw masih ingat Allah. Gw belum siap jika nanti gw mati lalu dihisab, amal gw belum cukup untuk mengantarkan gw ke surga. Gw menyederhanakan pikiran gw. Gw ingin hilang dari muka bumi saja. Tapi ya hal itu juga mustahil. Yang ada malah tambah kelimpungan dan sumpek sendiri. Gw dengerin musik yang tenang, mencoba menuliskan perasaan gw di jurnal pribadi, dan mencoba relaksasi. Tapi emosi itu masih saja bergejolak. Gw tidak bisa menangis. Gw juga kembali kepikiran untuk minum obat banyak-banyak.

Lalu tanpa sengaja, tampaklah sebuah cutter di dekat cermin kamar gw. Tanpa berpikir panjang gw langsung mengambil cutter karatan itu, dan melukai lengan gw. 6 sayatan sepanjang 4-6 cm yang cukup dalam untuk mengeluarkan darah secara perlahan. Setelah itu gw merasa puas dan lebih tenang. Tapi pikiran untuk minum obat banyak-banyak masih ada. Untungnya gw ingat pengalaman dan pelajaran dari perawatan gw sebelumnya. Jadi gw berinisiatif untuk pergi ke RS sendiri. Kali ini gw memang sendiri. Tidak ditemani siapapun. Entah kenapa gw tidak mengabari mama. Gw ingin sendiri.

Gw segera ganti baju dan keluar pergi mencari taksi. Sebelumnya gw mencuri beberapa lembar uang dari dompet mama. Selama di perjalanan gw memandangi sayatan di lengan gw yang masih mengeluarkan sedikit darah, sambil berpikir, "Gw butuh pertolongan.." Sesampainya di UGD, gw langsung disambut dengan riuh oleh perawat disana yang memang sudah kenal dengan gw karena pernah berkali-kali dirawat mereka. Mereka langsung tahu ada yang tidak beres denganku segera setelah melihat raut mukaku yang tidak karuan. Gw langsung diantar ke tempat tidur disana dan ditanya tentang apa yang terjadi. Setelah itu mereka memanggilkan psikiaterku.

Tak lama, psikiaterku datang. Aku menceritakan apa yang terjadi dan memberikan gambaran bagaimana sedihnya aku. Sedikit lebih lega rasanya setelah mencurahkan isi hati ke psikiater. Tapi aku masih ingin meminum obat banyak-banyak. Mendengar hal itu, psikiaterku memintaku untuk dirawat lagi. Saat itu kondisiku memang membahayakan diri sendiri. Itu adalah salah satu indikasi rawat inap dalam ilmu psikiatri. Lalu psikiaterku menelepon orang tuaku. Setelah orang tuaku datang, mereka mendiskusikan dimana aku akan dirawat. Awalnya aku meminta untuk dirawat di RS tempat aku berada di kamar biasa, bukan bangsal psikiatri. Tapi berhubung kasusku psikiatri, pihak RS tidak mau menerima aku. Dan kamarnya juga kebetulan penuh. Jadi psikiaterku menyarankan aku untuk dirawat di bangsal psikiatri lagi. Hmmmmh gw menolaknya keras-keras. Cukup lama juga psikiaterku membujuk supaya gw mau dirawat di bangsal psikiatri. Tapi karena dia ada keperluan lain, jadi terpaksa ia meninggalkanku dan memanggil residen psikiatri yang sedang jaga saat itu.

2 orang residen datang. Satu wanita dan satu pria. Kebetulan sebelumnya aku sudah kenal dengan residen pria. Kami pernah bertemu pada saat acara terapi kelompok. Dia cukup terkejut mengetahui aku adalah pasiennya. Lalu kedua residen itu membujukku lagi. Aku masih bersikeras mengatakan tidak. Lalu residen yang wanita meninggalkan aku untuk bicara dengan orang tuaku. Tinggalah aku dengan residen pria yang sudah kukenal itu. Pada dasarnya dia memang baik hati. Dengan sabar dia berusaha membujukku dan akhirnya aku luluh juga melihat usaha dia yang mengulurkan tangannya dengan harapan akan kuraih sebagai bentuk bantuan dari dia untukku. Aku bersedia dirawat di bangsal psikiatri ( lagi ).

Sampai di bangsal lagi-lagi aku disambut dengan riuh oleh perawat disana. Mereka menanyakan kenapa aku bisa sampai harus dirawat lagi padahal baru seminggu yang lalu keluar dari sana. Selain perawat, seorang pasien Bipolar I yang sedang manik juga menghampiriku. "Hahaha kenapa lo masuk sini lagi.. Makanya jangan cepet-cepet pulang kemaren.. Gw sih besok udah boleh pulang sama dokter.. Lo disini nggak ada gw deh.. Sukurin lo.." -.-" Pasien itu memang sudah kukenal saat aku dirawat sebelumnya. Dia sudah 3 minggu lebih disana. Residen pria yang menemaniku berusaha menenangkan aku, "Udah nggak usah didenger.." sambil memberi senyuman tulus. Ya aku juga tak ingin menggubris 'sambutan hangat' itu. Nambah pikiran aja. Lalu aku berusaha tidur.

Esok paginya sekitar jam 10 setelah aku sarapan, minum obat, dan ( dipaksa ) mandi *gw emang males mandi kalau lagi nggak harus pergi kemana-mana. Tapi di bangsal dipaksain susternya mulu..* psikiaterku datang bersama seorang residen pria lain. Kali ini aku baru melihatnya. *Btw, ganti deh jangan panggil residen. Panggil dokter aja..* Psikiaterku mengenalkan aku pada dokter itu. Dia yang bertanggung jawab merawatku selama aku di bangsal. Lalu dokter itu mulai menanyakan berbagai hal padaku. Ya seperti biasalah aku harus bercerita lagi.

Well, pasien-pasien di bangsal sudah berganti. Hampir semua pasiennya baru. Pasien yang dirawat bersamaan dengan saat aku dirawat sebelumnya sudah pulang. Jadi aku harus berkeliling bangsal lagi berkenalan dengan pasien-pasien itu untuk mengisi waktu. Dan, bukan bangsal psikiatri namanya kalau tidak ada peristiwa aneh. Bukan maksudku untuk menjelekkan atau menertawakan mereka. Aku hanya ingin menggambarkan bagaimana keadaan di bangsal psikiatri.

Saat itu aku sedang ngobrol dengan dokter yang merawatku diluar kamar. Tiba-tiba seorang ibu-ibu usia 50-an keluar dari kamar lain dengan muka sedih dan kecewa. Lalu dia berdiri di depan perawat-perawat yang ada di sana dan berkata, "Suster, saya mau pulang aja.. Saya disini sakit. Saya ingin istirahat. Tapi saya tidur malah dimarahin suster. Saya tanya suster saya sakit apa nggak suster bilang saya nggak sakit. Padahal jelas-jelas saya sakit.. Saya tidak bisa bangun dari tempat tidur. Saya mual. Kaki saya sakit. Kepala saya juga sakit. Muka saya pucat begini dibilang nggak sakit.. Kalau suster sudah nggak suka saya disini ya bukakan saja pintunya supaya saya bisa pulang.." Dalam hatiku, ibu ini jelas-jelas berjalan sendiri keluar dari kamarnya. Tapi dia bilang dia tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku sempat memikirkan apa yang diderita ibu ini. Lalu ibu itu berpindah menghampiri dokterku. "Dokter, saya mau pulang saja.. Suster disini benci sama saya. Mungkin mereka nggak suka sama saya karena saya sudah tua dan miskin. Mungkin mereka anak durhaka. Nggak peduli dengan orang tua. Coba kalau orang tua suster itu sendiri yang sakit seperti saya.. Mau dia ? Saya sumpahin ya orang tuanya suster itu sakit kaya saya.. Biar tahu rasa mereka.." Lalu seorang ibu lain yang tadinya duduk diam di dekatku ikut nimbrung, "Iya dokter, saya juga mau pulang saja. Saya nggak betah disini. Saya juga sakit kaya ibu itu.. Saya mau pulang saja kembali sama anak-anak saya.. Biarin saya pulang jalan kaki. Saya miskin dok. Kalau bisa saya melacur deh dok.." Masa iya ibu ini mau melacur, usianya saja sudah 50 lebih. -.-" Sebelumnya ibu ini sudah berusaha kabur dengan bergelayutan di pintu setiap ada orang masuk / keluar. Dan tampaknya dia mudah terprovokasi orang. Makanya jadi ikutan marah-marah seperti ibu satunya. Melihat hal itu, dokterku mencoba untuk mengatasi keadaan. Ia menghampiri ibu kedua, dan mencoba menjauhkan ibu itu dari ibu pertama. "Bu, ayo kita pindah ke kamar.." Lalu tanpa berpikir si ibu membalas ajakan dokterku, "Mau ngapain ke kamar dok ? Mau ngentot ? Saya maunya disini aja.." Aku tak bisa menahan tawaku. Begitu pula dokter cewek di deketku dan perawat disana. Hebatnya, dokterku yang lagi serius membujuk ibu itu tak tertawa sedikit pun.. Kacau ibu ini, pikirku. Lalu hampir setengah jam aku berada disana menyaksikan kedua ibu itu tak henti-henti meminta pulang dan menjelek-jelekkan perawat dan dokter disana. Sampai mengancam mau dimasukkan koran segala. Hmmmmh aku hanya bisa bersyukur aku masih bisa hidup dalam realita walaupun emosiku tidak dapat dikendalikan. Setelah banyak bicara seperti itu, mungkin ibu itu capek sendiri. Ibu satu sudah diam. Tetapi ibu yang kedua masih saja nyerocos. Lalu dengan nada kesal ibu satu berkata, "Sudah ibu diam saja. Jangan bawel.. Saya jadi tambah pusing.." Aku tambah tertawa. Padahal tadinya mereka tampak seru bersahutan meminta pulang dan menjelek-jelekkan perawat dan dokter. Kompak sekali mereka mendukung satu sama lain. Lalu tiba-tiba si ibu satu kesal sendiri dengan ibu dua. Ada-ada saja. Akhirnya setelah sekian lama mereka diam juga. Suasana tenang kembali, sampai tiba-tiba ibu kedua berkata, "Kepala saya sakit. Tadi saya sudah minum obat paramek..mek..mek..mek.." Ya, ibu itu menyebutkan obat Paramex dengan sebutan Paramek disertai gema dibelakangnya.. Lalu aku dan perawat kembali tertawa. Perawat yang tertawa itu menanggapi, "Udah ibu sebutnya paramex aja, nggak usah ditambahin belakangnya. Kan jadi jorok. Hahaha. Saya jadi ketawa kan bu.." Aaah, aku menyerah deh.. Aku langsung kembali ke kamar.

Setelah kedua ibu itu tenang dan kembali kekamar masing-masing, aku keluar lagi. Aku tanya kepada suster, penyakit apa yang diderita ibu-ibu itu. Ternyata ibu satu itu menderita gangguan somatis. Yaitu gangguan dimana pasien merasa sakit fisik yang serius, tetapi sebenarnya dalam pemeriksaan medis tidak ditemukan kelainan. Jadi dia merasa dirinya sakit padahal tidak begitu. Makanya saat suster ingin membantu ibu itu untuk kembali ke realita bahwa dirinya tidak sakit, ibu itu malah marah. Maksud suster itu baik, mengajak ibu itu untuk beraktivitas, jangan tidur terus. Tapi berhubung si ibu merasa dirinya sakit dia merasa tersinggung karena mengira dilarang beristirahat oleh suster. Begitu pula saat suster ditanya apakah si ibu terlihat sakit apa tidak. Suster menjawab tidak dengan maksud mengatakan realita yang ada. Tapi penyakit si ibu yang membuat ibu itu lagi-lagi tersinggung. Dalam pikirannya, ia sakit parah. Tapi hasil pemeriksaan, semua normal. Rumit memang. Tapi begitulah adanya. Sedangkan si ibu dua, memang emosinya sedang tidak stabil. Ia mengalami gangguan psikosis. Ia merasakan halusinasi, bertindak semaunya, dan mudah terprovokasi. Jadilah dia ikutan marah-marah membela ibu satu. Begitulah bangsal psikiatri. Kali ini lebih hectic dari keadaan aku dirawat sebelumnya. Belum lagi ditambah teriakan-teriakan dari seorang gadis cantik berusia 14 tahun yang mengalami gangguan psikotik akut. Dia tak berhenti berteriak dan bergumam dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti. Kasihan sekali aku melihat pasien-pasien itu.. Ternyata aku masih lebih normal dibanding mereka..

Begitulah hari-hariku di bangsal. Berusaha memaknai kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Selain berinteraksi dengan pasien, aku juga bertanya-tanya tentang program spesialisasi psikiatri pada dokter-dokter disana karena aku tertarik untuk mengambil psikiatri kalau aku berhasil menjadi dokter nanti. Sisanya, paling aku membaca novel yang dibawakan papaku.

3 hari disana, moodku semakin hari semakin membaik. Sampai pada saat hari disaat aku diperbolehkan pulang, aku sudah tidak merasa sedih lagi. Tak ada lagi keinginan-keinginan aneh. Semua sudah aman dan undercontrol. Aku dibekali obat dan meminta pin BB dokter disana supaya bisa keep in touch dan curhat kalau butuh. Lalu aku pulang. Senang rasanya bisa melangkahkan kaki keluar dari bangsal yang selalu terkunci itu. Meninggalkan segala rasa terkurung, derita, dan melupakan pengalaman pahit selama aku berada disana. Mendengar nama 'Bangsal Psikiatri' saja orang sudah menilai negatif. Bagaimana dengan pasien yang harus tinggal disana, termasuk aku. Dan inilah diriku menceritakan apa yang terjadi selama aku di bangsal sesuai kenyataan.

Hikmah yang dapat kuambil selama aku di bangsal, hidup itu memang penuh hal yang tidak terduga. Aku mengerti betul bagaimana yang pasien-pasien itu rasakan, karena aku mengalaminya. Kami tak ingin menderita seperti itu sampai harus dirawat di bangsal psikiatri. Pulang adalah tujuan utama kami. Dukungan keluarga dan teman adalah yang kami butuhkan. Bukan kemauan kami untuk menderita gangguan jiwa. Dan disaat kami sakit itu, bukan cacian dan tuntutan untuk melawan sakit kami yang kami inginkan. Tapi seseorang yang bisa mendengarkan keluhan kami dengan tulus seperti psikiater. Seseorang yang bisa memahami bahwa kami tak berdaya melawan penyakit kami. Jika kami bisa melawan penyakit kami seperti yang kebanyakan orang nasihatkan atau tuntut, kami tak akan sampai dibawa ke bangsal psikiatri. 

Mengutip dari buku Buku Pedoman Kesehatan Jiwa terbitan pemerintah, tertulis disana, "Keluarga atau kerabat seringkali tidak menyadari adanya depresi, dan menyuruh orang tersebut untuk melawan perasaannya, dimana hal ini hanya akan memperburuk keadaannya.."

Semoga bisa dimengerti ya.. : )