by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Sedikit Tentang Skizofrenia 2

Tadi gw menghadiri acara psikoedukasi tentang skizofrenia yang diadakan di Departemen Psikiatri RSCM. Berikut adalah beberapa ilmu yang bisa gw ambil.. Semoga bermanfaat ya..

Skizofrenia adalah sebuah penyakit otak yang disebabkan oleh faktor organobiologik ( ketidakseimbangan zat kimia dalam otak, genetik, terganggunya fungsi normal otak, dll ) yang didukung oleh faktor stressor psikososial ( stres karena masalah sehari-hari yang tidak terselesaikan ). Jadi, orang yang secara genetik memiliki bakat untuk menderita skizofrenia dan memiliki tingkat stres yang tinggi akhirnya bisa menjadi skizofrenia. Tapi kalau secara genetik memiliki bakat tapi bisa mengelola stres dengan baik maka kecil kemungkinannya untuk menderita skizofrenia. Untuk itu, jika ada riwayat keluarga mulai dari generasi buyut yang menderita skizofrenia, sebaiknya anda belajar mengelola stres dengan baik agar tidak sampai menderita skizofrenia.

Gejala skizofrenia terdiri dari gejala positif dan negatif. Gejala positif adalah gejala yang pada orang normal tidak ada, tetapi pada penderita skizofrenia ada. Misalnya, halusinasi dan waham. Sedangkan gejala negatif adalah gejala yang pada orang normal ada, tetapi pada penderita skizofrenia tidak ada. Misalnya, keinginan untuk bersosialisasi, malas mandi, dll.

Terdapat 4 kategori perjalanan penyakit skizofrenia. Yaitu :

Muncul satu episode serangan skizofrenia, lalu selanjutnya tidak kambuh, dapat kembali normal, dan tidak ada disabilitas ( ketidakmampuan untuk melakukan hal yang biasanya orang normal lakukan seperti bekerja dan berfungsi sosial ). Terjadi hanya pada 16 % penderita skizofrenia.

Muncul beberapa episode serangan skizofrenia, dapat kembali normal, dan menimbulkan disabilitas yang minimal. Persentasenya 32 %.

Beberapa kali kambuh dan tidak bisa kembali normal. Terjadi pada 9 % penderita skizofrenia.

Kambuh dengan disabilitas yang semakin lama semakin meningkat ( semakin buruk kondisinya ) dan tidak bisa kembali normal. Persentasenya 43 %.

Perlu diingat, setiap kali kambuh, ternyata terjadi kerusakan sel di otak yang tidak bisa kembali normal. Jika tidak ditangani dengan penggunaan obat, maka lama-lama otaknya bisa mengecil dan menyebabkan kerja otak buruk.

Pengobatan skizofrenia harus dilakukan secara menyeluruh. Yaitu melibatkan 4 aspek. Obat, Psikoterapi, Rehabilitasi, dan Psikoedukasi.

# Obat

Obat untuk skizofrenia adalah anti-psikotik. Terdapat 2 jenis anti-psikotik. Yaitu generasi lama ( I ) dan generasi baru ( II ). Obat generasi satu hanya untuk mengatasi wahum, halusinasi, dan keadaan gaduh gelisah ( mengamuk, marah-marah, tidak bisa diam ). Sedangkan generasi dua bisa mengatasi waham, halusinasi, keadaan gaduh gelisah, memperbaiki kognitif ( kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu ), mengurangi gejala negatif, dan mengatasi depresi. Contoh obatnya bisa dicari di google *hehe maaf ya males nulisin nama obatnya*.

# Psikoterapi

Psikoterapi dilakukan oleh tenaga terlatih seperti psikolog dan psikiater. Psikoterapi mungkin terlihat seperti ngobrol-ngobrol saja. Tapi psikolog dan psikiater mengetahui poin-poin apa yang harus dibahas sehingga membuat kognitif pasien semakin baik. Jadi bukan ngobrol biasa.

# Rehabilitasi

Maksud rehabilitasi disini adalah mencoba melakukan hal yang biasa pasien lakukan seperti kembali bekerja dan sosialisasi. Diharapkan dengan mencobanya perlahan, kemampuan pasien bisa kembali normal.

# Psikoedukasi

Merupakan edukasi tentang penyakit yang diderita sehingga pasien memahami tentang dirinya dan penyakitnya. Seperti apa fungsinya obat, mengapa pasien bisa sakit, dll.

Sekian dulu yang bisa gw sampaikan. Semoga bermanfaat. Jika ada info lainnya nanti gw post. Kalau ada yang ingin ditanyakan silakan bertanya lewat komen. Thanks for reading.

Curhat ( 34 )

Aaaaaaa gw nggak pengen tidur. Rasanya tidur adalah hal yang nggak perlu dilakukan walaupun gw sudah nguap. Sepertinya gw masih pengen mengerjakan banyak hal yang gw sendiri nggak tau apaan. Berbagai kerjaan sudah gw pikirkan dan bahkan siapkan. Tapi nggak ada yang menarik selain pergi keluar rumah menuju mall atau cafe untuk nongkrong. Gw sudah menyiapkan buku gambar dan spidol yang biasa gw pake, tapi males gambar. Udah siapin alat-alat untuk bikin scrapbook, akhirnya cuma gw pandangin. Udah milih-milih DVD yang belum gw tonton, tapi males duduk lama-lama nonton film. Gw nggak tau apa maunya diri gw ini.. Pengen ini itu tapi semuanya jadi nggak menarik. Apakah saking seringnya gw melewati fase hipomanik jadi sudah banyak kerjaan yang gw lakukan selama hipomanik yang membuat hipomanik kali ini membosankan ? *ngerti gak ? gitu deh pokoknya* Gw pengen dengerin lagu yang nge-beat terus sesuai irama otak gw. Tapi semakin gw dengerin tuh lagu, makin menjadi-jadi peningkatan mood gw. Jadi harus gw paksakan lagu yang iramanya lebih slow seperti bossanova. Kenapa sih hipomaniknya gak muncul pas gw mulai koas nanti. Pas banyak tugas, harus jaga malam, dan di RS dari pagi ampe sore menangani pasien. Kenapa harus sekarang pas libur dan gw nggak ada kerjaan.. -_______-"

Dulu gw sempet ditanya mana yang lebih enak, depresi atau hipomanik. Gw jawab hipomanik. Memang enak kalau datangnya di waktu yang tepat. Nah kalau nganggur gini akhirnya bawaannya pengen jalan-jalan terus. Tapi gw gak mau sendirian. Sedangkan yang bisa diandalkan saat ini untuk nemenin gw jalan paling mama. Tadi malah gw maksa mama untuk jalan padahal mama lagi nggak enak badan. Kasian sih sebenarnya. Gw salah. Tapi gw masih nggak bisa ngontrolnya.. Semua kegiatan membosankan. Yang asyik cuma jalan-jalan aja.

Hmmmm kayaknya salah deh gw jawabnya hipomanik. Soalnya kalau depresi ya lumayan tinggal tidur pules bisa sampai 24 jam full tidur makan nonton TV main games internetan doang. Boro-boro jalan-jalan. Mandi aja males. Maunya lenyeh-lenyeh di kasur kamar gw yang bagai surga itu. Tapi malah depresi gw datang disaat gw koas. -_____-" Kan beteee.. Lagi butuh semangat dan produktivitas, eh malah si depresi muncul ampe gw dirawat. Bangkeee. *uuups ngomong kasar* Jadi salah juga ya kalau jawab depresi.

Berarti intinya, keduanya nggak enak. Ada untung ruginya. Dan saat ini gw lagi kehilangan kontrol untuk bipolar gw. Apalagi keadaan sudah berbeda. Nggak ada lagi sahabat-sahabat yang bisa gw andalkan seperti dulu. Gw merasa sendirian banget. Mas Dokter juga nggak mungkin lagi jaga di bangsal gw samperin gw ajak jalan-jalan. Haha. Kasian mama harus nemenin gw terus. Abis kalau sendirian gw takut kalap shopping dan takut juga kepikiran yang aneh-aneh seperti minum obat banyak2 lagi. Dulu pernah gw shopping sampai jutaan dalam sehari. Gara2 baru ditransfer uang bulanan, gw lagi hipomanik, dan memutuskan pergi jalan sendirian. Alhasil jatah uang bulanan gw habis dalam beberapa jam saja untuk benda yang sebenarnya nggak gw butuhkan banget. Tapi itu dulu pas awal-awal gw hipomanik. Belakangan ini gw masih bisa nahan keinginan shopping gw. Yang penting jalannya sih.

Ok, gw akan menelaah untung ruginya fase hipomanik dan depresi. Hipomanik untungnya kalau datang pas gw koas. Tugas2 pasti cepet selesai. Jaga malam aman karena nggak butuh tidur. Dan percaya diri serta optimisme meningkat membuat gw lebih keliatan bersemangat di depan konsulen. Ruginya, kalau dateng pas lagi libur kaya gini, gw udah kehabisan ide untuk melakukan hal apa. Akhirnya kelimpungan galau sendiri nggak karuan, ngomel-ngomel karena irritable banget. 

Sedangkan depresi, untung kalau dateng pas liburan. Jadi bisa menghabiskan waktu tanpa pusing mikir mau ngapain. Cukup tidur sepuasnya, makan, nonton TV, main games, dan internetan. Nggak perlu kelimpungan bingung mau ngapain, kalau udah nggak ada kerjaan, ya tidur aja. Kalau hipomanik mana bisa tidur gitu aja. Ruginya depresi, kalau munculnya pas lagi koas. Ya bayangin aja lagi jaga depresi muncul. Gawat banget itu. Tugas-tugas terbengkalai. Begitulah.

Gw nggak peduli curhat kali ini nyambung apa nggak. Pokoknya gw nulis aja tanpa berhenti sedikitpun untuk berpikir. Kata-kata ini mengalir begitu saja. Inilah hipomanik. PLEASE I WANT TO SLEEP!!! *tapi gak mau tidur, otak gw masih pengen bekerja..* Aaaaaaaaa rebek banget deh ah. Grrrrr. 

Mengendalikan Amarah dan Emosi yang Meledak-Ledak

Selama gw dirawat di bangsal psikiatri kemarin, gw diajarkan cara untuk meredam amarah atau emosi yang mau meledak. Ini gw share ya, semoga bermanfaat.

1.  Tarik nafas dalam-dalam dari hidung, hembuskan lewat mulut.
2.  Pukul benda yang empuk dan tidak melukai tangan seperti bantal, guling, kasur, atau boneka.
3.  Bicarakan apa yang menyebabkan amarah atau emosi meledak jika memang ada penyebabnya.
4.  Berdoa atau bermeditasi sesuai agama masing-masing. Pokoknya lari ke spiritual.
5.  Minum obat secara teratur, sesuai dosis dan petunjuk dokter. Jangan banyak-banyak kaya gw ya.. Hehe

Tambahan dari gw, saat melakukan poin nomor 1, bisa sambil dengerin lagu yang membuat rileks. Kalau lagu favorit gw yang cukup ampuh, lagu-lagu irama bossanova, Anthem - Maksim, dan Claudiene - Maksim. Nah kalau cara tersebut gagal, segera cari pertolongan dari orang terdekat yang ada supaya nggak sampai melukai diri sendiri atau orang lain. Oke ? Selamat mencoba.

Curhat ( 33 )

Sekarang gw lagi libur panjang. Seharusnya gw ngisi liburan ini dengan ambil stase di luar RS gw kemaren. Tapi kayaknya gw pengen menenangkan diri dulu. Bosan, pasti. Tapi kalau gw paksakan koas dalam keadaan yang nggak enak, malah bisa kacau. Gw akan masuk koas lagi tanggal 2 April 2012. Jadi masih ada sebulan lebih. Kegiatan gw ya sama kaya pas gw nganggur sebelum koas. Tidur, makan, nonton TV, jalan-jalan.

Oh ya, selama gw dibangsal kemaren, gw mencoba menuangkan kisah perjuangan gw dengan bipolar kedalam sebuah naskah buku. Sekarang naskah itu udah gw kirim ke salah satu editor penerbit buku ternama. Beliau tertarik dengan sinopsis naskahnya, dan sekarang naskah gw lagi diproses selama 2 bulan untuk ditentukan bisa diterbitkan atau ditolak. 2 bulan udah lumayan cepet lho.. Biasanya minimal 4 bulan. Ya semoga aja bisa cepet ada keputusan naskah gw diterima atau nggak. Harapan gw ya diterima lah.. Apalagi ini penerbit yang besar namanya dan buku-bukunya disebar di toko buku besar di seluruh Indonesia. Doakan ya supaya naskah gw diterima. Nah kalau nggak diterima, gw akan tanya apa yang kurang, gw kembangin, dan gw coba lempar ke penerbit lain.

Hmmm selama gw dibangsal kemaren, ternyata ada kejadian yang menimpa 2 sahabat baik gw. Kejadian itu begitu besarnya dan sekarang 2 sahabat gw itu bermusuhan. Tinggalah gw yang lugu dan polos ini berada ditengah-tengah berusaha senetral mungkin, gak munafik dan gak bermuka dua. Kini gw membantu sahabat yang satu melewati masa sulitnya setelah kejadian itu. Dan gw juga tetep jadi sahabat untuk yang satunya. Tapi gw nggak akan bertiga lagi. Biasanya disaat gw kacau, mau relaps, perasaan nggak enak atau pokoknya lagi nggak bener dan butuh dukungan, gw lari ke mereka selain ke mama. Mereka adalah 2 orang yang dapat gw andalkan. Tapi sekarang keadaan telah berbeda. Gw nggak lagi bisa mengandalkan mereka. Nah sahabat gw yang lain ada sih, tapi mereka koas di Bandung. Nggak mungkin kan gw berlindung sama mereka juga. Sedangkan sahabat SMA gw udah sibuk dengan kerjaan masing-masing dan nggak tau masalah bipolar gw. Jadi gw sekarang ngerasa bener-bener sendirian. Bisa saja gw berlindung sama mama tapi ya kalau ternyata masalahnya tentang keluarga gimana ? Jadi yang bisa gw andalkan sekarang adalah psikiater gw, dan residen psikiatri yang merawat gw kemaren. Mereka sama-sama sudah tau bipolar gw. Tapi psikiater gw sibuk sekali dan kasian kalau gw gangguin terus. Akhirnya ya tinggal si residen itu yang gw panggil Mas Dokter. Dia nggak sesibuk psikiater gw. Dan dia juga bilang kalau gw ada apa-apa boleh BBM dia. Jadi setiap gw sumpek atau kacau gw bbm dia untuk pertolongan. Sebenarnya gw kasian juga sih jadi merepotkan dia. Tapi ya gw udah jelaskan kondisi gw sekarang dan dia bisa memahaminya. Dia tahu semua masalah hidup gw karena memang diwajibkan mengetahui riwayat pasien sejak lahir sampai sekarang. Dan dia punya waktu untuk membaca dan membalas BBM gw. Jadi sekarang Mas Dokter lah satu-satunya yang bisa gw harapkan. Terima kasih Mas Dokter. : )

Gw sekarang tampaknya sedang fase hipomanik yang ringan. Tadinya pas dibangsal kemaren sempet beberapa kali nggak bisa tidur dan begadang semaleman untuk nulis naskah buku. Begitu pula dirumah. Beberapa kali gw nggak tidur dan nulis naskah. Ide mengalir begitu saja sampai akhirnya dalam waktu singkat bisa terkumpul hampir 100 halaman. Sekarang naskah udah selesai. Tapi gangguan tidur gw masih ada. Gw nggak pengen tidur. Tapi gw paksain, akhirnya malah ngerasain flight of ideas lagi. Gw terlihat tidur ( malah mama bilang gw sampai ngorok. hihi ) tapi gw masih bisa denger suara sekitar. Jadi saat itu mama bilang gw tidur, terus pas adek gw nanya sesuatu ke mama tentang gw, gw bangun dan langsung jawab pertanyaan itu. Padahal gw udah ngorok. Aneh banget ya. Gw juga kalau tertidur, mulailah gw mengarang cerita yang terasa sangat nyata dengan alur dan topik yang sangat random dan meloncat-loncat. Mama lihat juga ada gerakan motorik seperti tangan gw yang bergerak atau kaki saat gw tidur. Seakan gw terlelap tapi otak gw bekerja keras mengarang cerita sampai tangan dan kaki gw bergerak-gerak. Entah apa yang salah dengan otak gw. Gw belum sempet banyak bicara dengan psikiater gw tentang masalah ini. Setahu gw flight of ideas itu gejala manik / hipomanik. Entahlah.

Sedikit Tentang Skizofrenia

Belakangan ini gw sering berinteraksi dengan penderita skizofrenia. Baik itu di dunia maya maupun di kehidupan nyata. Kebanyakan dari mereka sudah sembuh dan berada dalam masa remisi. Gw juga membaca buku dan artikel tentang kisah penderita skizofrenia. Banyak cerita yang gw dengar dan baca. Dan semua itu menyentuh hati gw untuk lebih memahami mengenai skizofrenia.

Skizofrenia ditandai dengan adanya halusinasi dan waham. Halusinasi bisa berupa halusinasi dengar dan lihat. Misalnya, melihat malaikat. Atau mendengar suara yang mengejek penderita. Sedangkan waham bisa berupa keyakinan bahwa diri penderita adalah utusan tuhan, merasa orang-orang sekelilingnya bermaksud mencelakai penderita, atau merasa berita di televisi menyebut-nyebut diri penderita dan penderita merasa dibuntuti seseorang. Selain itu penderita skizofrenia juga cenderung menyendiri dan tidak mau bergaul. Semakin lama ia jadi tidak mau mengurusi dirinya sendiri seperti untuk mandi dan makan. Penyebab skizofrenia adalah ketidakseimbangan zat kimia di otak ( neurotransmitter ) yaitu berlebihnya kadar dopamin. Jadi skizofrenia adalah murni penyakit medis bukan karena diguna-guna. Skizofrenia dapat diobati dan penderita bisa sembuh. Tapi perlu diingat bahwa tingkat kekambuhannya cukup tinggi. Sehingga perlu pengobatan yang jangka panjang.

Sekarang kalian pernah melihat orang gila di pinggir jalan. Bagaimana perasaan kalian ? Mungkin ada yang iba, ada yang meremehkan, dan ada yang tidak mempedulikan. Gw sendiri sangat iba melihatnya. Bayangkan saja, orang yang tadinya normal dan bisa berfungsi sempurna dalam masyarakat tiba-tiba mengalami halusinasi dan waham. Sesuatu yang membuat dirinya menderita, tidak jelas sumbernya dari mana, dan tidak berdaya untuk melawannya. Ya, tidak berdaya untuk melawannya. Halusinasi dan waham itu begitu kuat melekat pada dirinya sehingga ia tak lagi bisa membedakan yang mana realita dan yang mana halusinasi. Kasihan bukan ? Tadinya ia manusia biasa yang sama seperti manusia lain pada umumnya. Tapi tuhan berkata lain. Tuhan memberikan cobaan dengan penyakit skizofrenia yang diderita. Pantaskah kita mengejek, mencemooh, atau merendahkan mereka ? Coba pikirkan sekali lagi.

Gw sungguh sangat prihatin dengan penderita skizofrenia. Ia asyik dengan dunianya sendiri dan tidak berdaya melawannya. Ia butuh bantuan obat untuk membuat zat kimia di otaknya kembali normal seperti sedia kala. Dan butuh psikiater yang membantu ia untuk kembali ke dunia nyata. Sangat tidak pantas jika kita mengejek, mencemooh, atau merendahkan mereka. Bayangkan jika kita sendiri yang merasakannya..

Bayangkan jika diri anda sedang bekerja dengan giat, lalu terdengar suara yang mengatakan pekerjaan anda sangatlah buruk. Anda harus dipecat karena kerjaan yang tidak bagus. Lalu anda merasa rekan-rekan kerja anda mengejek anda dan ingin mencelakakan anda. Padahal semuanya tidak ada. Suara dan ejekan itu hanya ada dalam diri anda. Tak nyata. Bagaimana rasanya ? Sangat membingungkan bukan ? Itulah yang dirasakan pasien skizofrenia.

Melalui tulisan ini, gw ingin para pembaca mengerti bagaimana derita seorang pasien skizofrenia. Dukunglah mereka yang menderita skizofrenia. Jangan remehkan mereka. Sesungguhnya mereka juga manusia yang tidak bisa hidup sendiri. Tolong mereka sebisa anda. Dengan doa pun sudah membantu. Semoga anda bisa mengerti dan mengambil manfaat dari tulisan ini ya. : )

Overdosis Obat Lagi Untuk Yang Keempat Kalinya

Aaaah, benar-benar gw ini masih kacau. Gw overdosis obat lagi saudara-saudara.. Kali ini gw melakukannya karena ingin membuat mama menyesal. Tapi akhirnya malah gw yang lebih nyesel daripada mama. Begini ceritanya.. *pake aku ya ceritanya, gak gw*

Rabu, 1 Februari 2012

Pagi ini gw aku bangun dengan semangat karena akan bertemu psikiaterku sekalian menemani temanku yang juga ingin konsultasi ke psikiater yang sama. Jam 2 kami bertemu di Departemen Psikiatri RSCM. Cukup ramai disana karena para residen habis ada pertemuan ilmiah. Beberapa dari mereka menyapaku karena kenal denganku. Lalu aku memperkenalkan temanku ke psikiaterku. Kubiarkan mereka berdua berbicara. Aku menunggu diluar bersama teman yang lain. Setelah teman aku selesai konsultasi, giliran aku yang konsultasi singkat. Aku membicarakan koasku dan beberapa hal lainnya. Lalu aku diberikan resep obat. Aku meninggalkan RSCM.

Di perjalanan pulang, aku tiba-tiba merasa tidak enak. Entah apa yang jadi penyebabnya, tau-tau saja aku galau. Aku ingin jalan-jalan. Tapi tak ingin sendirian. Akhirnya aku hubungi mama untuk kuajak jalan-jalan. Kukatakan bahwa perasaanku sedang tidak enak dan butuh mama untuk menemaniku jalan-jalan. Tapi mama ternyata sedang lelah dan ingin menjemput adekku. Aku sangat kecewa. Aku lalu mengancamnya dengan mengatakan bahwa aku memegang resep obat sebanyak 40 butir. Tapi mama tampak tidak menggubrisnya. Aku tambah kesal dan kecewa. Aku sedang butuh mama. Aku galau dan aku ingin mama. Tapi mama tak ada disaat aku butuhkan. Lalu terpikir olehku untuk minum obat banyak-banyak untuk membuat mama menyesal.

Akhirnya aku pergi jalan sendirian dan mampir ke apotek untuk menebus resep dan membeli obat lain. Aku beli 14 tablet Cipralex ( obat anti-depresan yang diresepkan psikiaterku ) dan 16 tablet Neo-Napacin ( isinya sama dengan Asthma Soho yang pernah kuminum sebelumnya ). Aku pergi makan sambil menghubungi temanku yang ngekost. Aku tak ingin pulang ke rumah saat itu.

Di perjalanan menuju tempat kost temanku, aku menenggak semua obat yang kubeli dengan sebotol teh. Lalu aku puas. Dalam hatiku, seperti ada api yang ingin kubakarkan ke mama. Aku benci dengan mama karena alasan yang sepele.

Sesampainya di tempat kost, kami pergi makan. Setelah itu kami shisha disebuah kafe. Saat itu jantungku sudah berdegup kencang sekali dan keringat dingin. Sesaat sebelum pulang, aku mengatakan ke temanku bahwa aku sudah menenggak 30 butir obat. Temanku langsung membawaku ke UGD RSCM Kencana tempat kubiasa dirawat.

Di UGD aku diberi oksigen dan diukur tensi, hitung nadi, nafas, serta suhu. Tensiku mencapai 160/100 mmHg. Normalnya 120/80 mmHg. Nadiku mencapai 160 x/menit. Seperti mau meledak rasanya jantungku. Nafasku juga cepat. Dokter jaga langsung menghubungi residen jaga psikiatri.

Datanglah 2 orang dokter residen psikiatri yang baru kulihat. Seperti biasa mereka menanyakan apa yang terjadi dan membujukku agar dirawat di bangsal psikiatri lagi. Awalnya aku menolak. Sungguh tidak nyaman jika aku mengingat saat aku dirawat di bangsal psikiatri sebelumnya. Terutama suasana pasien psikotik ribut yang membuatku tak nyaman. Tapi katanya saat itu hanya ada 2 pasien di bangsal. Akhirnya setelah dibujuk aku mengiyakan permintaan mereka. Aku kembali ke bangsal psikiatri untuk ketiga kalinya dalam 2 bulan. 

Kamis, 2 Februari 2012

Aku terbaring lemah di ruang kelas I bangsal psikiatri. Kali ini aku sendiri di kamar. Bed sebelah kosong. Aku masuk ke bangsal ini subuh-subuh saat adzan berkumandang di udara. Aku masih berdebar-debar, keringat dingin, dan mual.  Sebelumnya aku memang muntah-muntah sampai 5 kali. Aku merasa lapar, tapi perutku perih sekali. Aku mencoba menyuap sesendok nasi goreng, menu sarapan dari rumah sakit. Ah, aku tak sanggup. Mengunyahnya saja berat rasanya. Akhirnya kumuntahkan sesuap nasi goreng itu dan kembali berbaring. Aku ingin tidur tapi tidak bisa. Akhirnya aku bengong-bengong saja sambil berbaring. Aku menyesal. Niatku membuat mama menyesal memang akhirnya kesampaian. Mama datang ke UGD sebelum aku dipindahkan ke bangsal dengan muka penyesalan. Tapi sekarang justru aku yang lebih menyesal kenapa aku bisa segitu kesalnya dengan mama dan meminum obat banyak-banyak lagi. Aku menyesal.

Tak lama, dokter residen yang sebelumnya merawatku datang. Ia kaget karena sehari sebelumnya saat aku mengantar temanku konsultasi kami bertemu dan aku dalam keadaan baik-baik saja. Tapi tau-tau aku sudah berada di bangsal psikiatri lagi sebagai pasien. Aku kembali dirawat oleh dokter itu. Aku menceritakan apa yang terjadi dengan singkat karena badanku masih dibawah pengaruh 30 butir obat yang kuminum.

Siangnya aku duduk diluar kamar sambil meringis kesakitan. Perutku rasanya panas sekali. Sebelumnya aku dipaksa makan oleh suster disana. Aku disuapi makan beberapa sendok nasi. Saat jadwalnya minum obat, aku menolaknya. Ada dua obat. Yang pertama obat sirup untuk lambungku. Kedua obat tablet untuk mood-ku. Aku mau meminum obat sirup. Tapi aku tak mau meminum obat tablet. Aku muak sekali melihat tablet. Aku ingat 30 obat yang kuminum. Aku benar-benar muak melihat obat kecil bulat berwarna putih itu. Muaaaak sekali.. Aku tak mau meminumnya.

Sorenya psikiaterku datang. Ia tampaknya bingung dengan apa yang kuperbuat. Dan menyesal karena telah memberikan resep kepadaku. Tapi semua sudah terjadi. Psikiaterku juga tak banyak menanyakan sesuatu. Ia tahu tubuhku masih tidak karuan. Lalu aku beristirahat.

Malamnya aku makan sedikit dan akhirnya setelah dibujuk-bujuk aku meminum obat itu. Lalu aku tidur.

Jumat, 3 Februari 2012

Tak banyak yang kulakukan hari ini. Hanya beristirahat tidur dari pagi sampai siang, ngobrol dengan dokter residen, lalu tidur lagi. Jantungku sudah hampir kembali normal. Perutku juga sudah tidak sakit. Keringat dingin sudah tidak ada. Aku masih hidup, pikirku.

Sabtu, 4 Februari 2012

Sama seperti hari sebelumnya, aku lebih banyak tidur. Aku berkenalan dengan 2 pasien lain yang dirawat di bangsal. Keduanya pasien skizofrenia. Yang satu memiliki waham dan halusinasi yang berhubungan dengan agama. Satu lagi memiliki waham dan halusinasi tentang mantan kekasihnya yang sudah menikah. Aku memang pendengar yang baik. Dalam keadaan seperti ini pun aku masih bisa mendengarkan curhatan salah satu dari mereka. Aku masih bisa memasang muka penuh pengertian dan memberi senyuman tulus. Mungkin ini modalku untuk melanjutkan pendidikanku menjadi psikiater. Hari ini tubuhku sudah pulih sempurna. Malamnya aku diantarkan 2 buku yang baru kubeli. Tapi aku mengantuk jadi aku hanya membacanya sekilas dan tidur. Tak ada visit dokter hari ini.

Minggu, 5 Februari 2012

Seharian aku membaca buku yang dibawakan. Buku itu adalah sebuah psikomemoar dari seorang penderita skizofrenia. Judulnya Gelombang Lautan Jiwa, penulisnya Anta Samsara. Kebetulan aku kenal dengan penulis buku itu. Tapi baru sempat baca bukunya sekarang. Buku itu sungguh menggugah hatiku. Dengan membaca buku itu, aku jadi sadar bahwa banyak penderita gangguan jiwa yang lebih parah dariku. Apalagi penderita skizofrenia. Aku dapat bayangkan bagaimana rasanya melawan halusinasi dan waham. Bagaimana tidak berdayanya ia dengan pikirannya sendiri. Aku dapat rasakan itu. Karena aku sendiri tidak berdaya dengan mood dan emosiku. Itulah bedanya skizofrenia dan bipolar. Kalau skizofrenia tidak berdaya dengan pikirannya, kalau bipolar tidak berdaya dengan mood dan emosinya. Buku itu membuatku lebih banyak bersyukur dan tidak mengeluh. Tak ada visit dokter hari ini.

Senin, 6 Februari 2012

Pagi ini hariku dimulai dari kabar duka. Seorang mahasiswa kampusku yang masih semester 4 tewas karena overdosis obat di sebuah hotel di Bogor. Ia menelan inex dan obat penenang dalam jumlah banyak. Mendengar hal itu aku merasa seperti ada batu yang menjatuhi kepalaku dan membuatku tersentak kaget. Aku tak ingin hidupku berakhir tragis seperti itu dan diliput berbagai media. Aku tak ingin overdosis obat lagi. Aku malu dengan diriku sendiri. Overdosis obat itu bahaya dan memalukan. Aku akan langsung menghubungi psikiaterku jika muncul keinginan untuk minum obat banyak-banyak lagi. Aku harus bisa mengontrol impuls itu. Selanjutnya aku kembali ngobrol dengan dokter residenku. Lalu psikiaterku datang. Kami membahas semacam jurnal harian yang di PR-kan padaku. Karena aku bosan dan ingin jalan-jalan, aku mengatakan keinginanku ini pada psikiaterku. Katanya besok aku boleh pergi jalan-jalan bersama mama setelah psikiaterku bicara dengan mama. Lalu malamnya kembali ke bangsal. Aku senang mendengarnya. Semoga saja jadi. Aku diizinkan pulang hari kamis. 3 hari lagi. Semoga waktu berlalu dengan cepat. Lalu aku ngobrol dengan suster disana. Ia menasehatiku untuk bisa menerima kekecewaan. Dari kekecewaan itulah kita tumbuh tegar dan lebih sabar. Benar juga kata suster itu. Aku kurang bisa menerima kekecewaan. Bahkan karena hal sepele saja emosiku bisa tersulut api.

Selasa, 7 Februari 2012

Aku bangun dengan perasaan gembira karena rencananya akan jalan-jalan. Aku ngobrol dengan dokter residenku. Hari sudah siang tapi tak ada tanda-tanda bahwa mama datang. Akhirnya aku hubungi mama. Ternyata hari ini psikiaterku ada acara dadakan dan tidak bisa menemui mama. Intinya, aku tidak jadi jalan-jalan. Ya sudah, aku terima keadaan itu dengan ikhlas. Lalu aku kembali menghubungi mama meminta untuk diantarkan baju. Aku sudah katakan tidak harus mama yang kesini. Cukup suruh tukang ojek langganan dekat rumah saja. Tapi mama mengatakan bahwa tukang ojeknya tidak bisa dihubungi. Jadi mama akan mengantarkan bajunya besok. Aku sedih mendengarnya. Aku sudah mengatakan bajuku sudah terpakai semua. Memang tukang ojek di dunia ini hanya satu.. Selain tukang ojek kan bisa dengan cara lain, suruh pembantu mungkin. Atau bagaimanalah caranya.. Aku sedih dan merasa mama benar-benar tidak peduli denganku. Hanya mengantarkan baju saja juga tidak bisa. Perasaanku jadi tidak enak. Aku langsung meminta dokter residenku menemani aku siang itu. Kami ngobrol lagi. Katanya, bagaimana bisa aku yang tadinya sayang dengan mama bisa tiba-tiba merasa mama tidak peduli dengan aku hanya dengan satu kejadian sepele. Aku kembali tersentak. Benar juga katanya. Aku tak ingat kebaikan mama selama 20 tahun aku hidup. Yang kulihat hanya buruknya mama dalam waktu 1 menit. Lalu dokterku kembali bertanya, apakah aku benar selalu melihat sisi hitam atau putihnya seseorang, tidak pernah menyadari adanya abu-abu diantaranya. Kurasa iya. Aku cenderung melihat seseorang itu baik atau buruk. Jadi walaupun orang itu tadinya baik, jika dia membuat kesalahan atau membuatku kecewa, aku anggap buruk, lalu bisa baik lagi. Hitam dan putih. Ternyata itu adalah salah satu ciri gangguan kepribadian ambang ( borderline personality disorder ). Selain hitam putih itu, ciri lainnya adalah impulsif, bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Wah itu aku banget. Tapi setelah didiskusikan dengan psikiaterku, aku tidak bisa dikatakan mengalami gangguan kepribadian ambang karena sebenarnya ciri yang muncul padaku itu dimulai saat aku mengalami bipolar. Sebelumnya aku tidak begitu. Sedangkan yang namanya gangguan kepribadian seharusnya memang sudah ada sejak kecil. Jadi aku mungkin hanya ciri kepribadian ambang. Tidak benar-benar mengalaminya. Malamnya aku menjadi pendengar yang baik untuk salah satu pasien skizofrenia di bangsal. Siang harinya pasien itu sempat ngamuk karena tidak diizinkan pulang dokternya. Tapi malamnya ia sudah tenang dan bercerita kepadaku tentang rumitnya kisah cinta ia dengan mantannya yang sudah menikah. Ia mengatakan bahwa dirinya bisa lebih tenang jika berada di dekat aku dan bercerita denganku. Syukurlah, aku masih bermanfaat untuk orang lain. Setelah menjadi teman curhat pasien lain, aku melanjutkan menulis buku tentang kisah aku dengan bipolar. Ide mengalir begiu saja. Aku tak merasa butuh tidur. Tapi akhirnya aku paksakan diriku untuk tidur pukul 2 dini hari.        

Rabu, 8 Februari 2012

Pagi ini aku bangun dan mandi dengan inisiatif sendiri. Biasanya suster-suster datang menghampiriku memaksaku bangun dan mandi. Lalu aku sarapan dan minum obat. Aku melanjutkan kembali naskah bukuku. Selama di bangsal sudah hampir 30 halaman kutulis. Sebuah kemajuan pesat. Maklum di bangsal tidak ada kerjaan. Dan entah kenapa ideku juga bisa mengalir begitu saja. Siangnya dokter residen yang merawatku kembali datang mengajak ngobrol sebentar. Lalu aku mencoba tidur siang karena mengantuk. Sorenya psikiaterku datang dan kami membicarakan tentang kepulangan esok hari. Aku juga ngobrol dengan pasien baru masuk yang juga menderita bipolar, tapi dengan gejala psikotik. Kami membicarakan penyakit masing-masing dan cara mengatasi gejolak mood. Kami juga mendengarkan musik bersama.

Malam harinya, saat aku sedang bersantai mendengarkan musik, kudengar suara gaduh dari kamar sebelah. Setelah kuintip, ternyata pasien yang baru saja aku kenal itu sedang mengamuk. Entah apa yang terjadi, sorenya ia baik-baik saja bersamaku. Tapi malam ini ia teriak-teriak menjelek-jelekkan rumah sakit dan mengejek perawat. Ia menendangi pintu, membanting kursi-kursi, memukuli meja, melempar gelas, dan tindakan agresif lainnya sambil mengomel keras-keras. Aku berdiam diri di kamar ketakutan. Ini pertama kalinya aku melihat pasien yang mengamuk sampai merusak barang sekitarnya. Untungnya tidak ada barang yang mudah pecah. Aku sungguh ketakutan. Jantungku berdegup kencang, aku dapat merasakannya. Aku takut ia datang menghampiri lalu melukaiku. Aku ingat saat aku pernah mengamuk dirumah dan memecahkan gelas. Aku ingat saat aku meminta obat kepada mama papa dengan membawa pisau sambil mengamuk. Rasa takut inikah yang mama papa rasakan saat aku mengamuk ? Kurasa iya. Apalagi yang mama papa lihat adalah anaknya sendiri, dengan benda berbahaya pula. Aku jadi kasihan mengingat mama papa. Aku mencoba berjanji pada diriku untuk tidak mengamuk dan melakukan hal aneh lagi. Aku mengerti bagaimana rasa takut mereka. Sama dengan rasa takutku melihat pasien itu mengamuk. Aku lalu mengabari dokter residenku yang kebetulan jaga untuk datang. Dua orang dokter dan empat perawat berusaha menenangkan pasien itu. Setelah hampir setengah jam mengamuk, akhirnya ia kembali ke tempat tidur dan kembali tenang. Malah aku yang masih ketakutan seakan sedang melihat malaikat maut mengambil nyawa seseorang. Aku minta dokter residenku menemani aku di kamar. Aku juga berpikir, bagaimana jika aku nanti menjadi psikiater ya.. Mungkin aku lama-lama akan terbiasa. Ini kan baru pertama kalinya aku melihat pasien mengamuk. Sebelumnya aku pernah sih melihat pasien ngamuk tapi tak separah ini. Dokter residenku mencoba menenangkan aku. Wajar jika aku takut seperti ini. Tapi melalui kejadian ini pikiranku jadi lebih terbuka. Ia kembali mengingatkan bahwa rasa takut seperti inilah yang dirasakan mama papa saat aku mengamuk. Aku lebih tenang setelah berbicara dengan dokter residen itu. Lalu aku mencoba tidur.

Kamis, 9 Februari 2012

Hari ini aku dijadwalkan pulang. Aku terbangun pukul 4 pagi dan tidak bisa tidur lagi. Akhirnya aku mendengarkan musik dan bermain games. Tak lama kemudian pasien yang semalam ngamuk itu datang menghampiriku dengan senyum. Dia sudah tenang. Kami kembali ngobrol-ngobrol dan mendengarkan musik bersama. Setelah itu pasien lainnya juga datang ke kamarku. Kami bertiga ngobrol menceritakan masalah masing-masing dan saling memberi dukungan. Pukul 7 aku mandi, lalu kembali menulis buku.

Siangnya, aku menerima BBM dari mama. Mama menanyakan apakah aku ada timbul rasa untuk bertobat kepada Allah dan meminta maaf kepada mama papa. Mama juga menanyakan apakah aku sudah bisa untuk tidak bermanja, tidak menyandra mama, dan mandiri. Kurasa aku memang ingin bertobat kembali kepada Allah karena aku pernah menyalahkan Allah atas semua cobaanku. Tapi untuk meminta maaf kepada orang tua, entah kenapa aku tidak ingin melakukannya. Memang selama ini aku merepotkan mama papa dengan segala tingkahku. Aku membuat mereka panik dan khawatir. Tapi itu semua kan kulakukan saat aku diluar kontrol. Aku tak bermaksud untuk merepotkan, membuat panik atau khawatir mereka. Keinginanku untuk minum obat agar mama menyesal mungkin karena ciri kepribadian ambang yang sudah kusebutkan sebelumnya. Aku saat itu menilai mama dengan warna hitam. Lupa dengan putihnya. Dahulu aku sungguh anak yang berbakti kepada orang tua. Walaupun kadang bertengkar, ya namanya juga anak remaja. Tapi kali ini aku merasa tidak bersalah. Tapi jika memang itu keinginan mama, aku akan meminta maaf. Mungkin aku memang bersalah karena tidak mengontrol emosi dan impulsku walaupun faktanya aku memang tidak berdaya untuk melawannya. Aku butuh pertolongan untuk mengontrolnya. Lalu masalah bermanja dengan mama, aku akan berusaha menguranginya walaupun aku sangat nyaman jika aku bermanja seperti anak kecil kepada mama. Tapi soal menyandra mama dan mandiri, aku tidak pernah bermaksud untuk menyandra mama. Aku memang butuh seseorang yang bisa ada di sampingku, mendukungku. Dan dukungan itu aku dapatkan dari mama. Mungkin kesannya aku jadi ketergantungan kepada mama sehingga mama menyebutnya menyandra. Entahlah, aku sedih sekali dengan pernyataan ini. Mungkin aku memang harus menyelesaikan masalahku sendiri tanpa dukungan siapapun.

Aku menyampaikan kesedihanku kepada dokter residenku. Kami berdiskusi sebentar lalu aku kembali ke kamar. Tapi rasa sedih itu masih belum juga hilang. Lalu aku mencoba menuliskan isi hatiku. Ini tulisannya..

Setelah membaca BBM dari mama, aku menjadi sedih. Apalagi dengan kata-kata menyandra yang mama sebutkan padaku. Aku sayang kepada mama dan papa. Aku ingin membuat mama papa bangga. Dalam gejolak mood karena bipolarku, aku berjuang untuk mencapai cita-citaku. Cita-cita yang kupersembahkan kepada mama papa. Aku ingat papa pernah berkata kepadaku bahwa aku harus bisa menyelesaikan kuliah kedokteranku. Dulu papa ingin menjadi dokter tapi tidak ada biaya. Sekarang aku ada biaya, jadi aku harus menyelesaikannya. Aku berusaha. Dalam keadaan depresi berat, aku pergi kekampus membawa mobil sendiri walaupun lambat. Kadang aku menyetir dengan linangan air mata. Aku merasa lelah sekali kuliah dan diskusi. Tapi kupaksakan diriku agar aku bisa mencapai cita-citaku. Aku ujian dalam keadaan depresi. Berusaha belajar dengan konsentrasi yang menurun. Aku berusaha keras. Aku memaksakan diriku untuk tetap bangun pagi dan berangkat ke kampus. Aku berjuang sampai akhirnya aku berhasil meraih gelar sarjana kedokteran. Kupersembahkan gelar itu untuk mama papa.

Tapi memang semua tidak berjalan mulus. Saat koas, muncul lagi keinginan untuk minum obat banyak-banyak. Seandainya aku bisa mengontrol diriku. Seandainya otakku bisa mengerem keinginan anehku itu. Seandainya aku bisa berpikir jernih seperti manusia normal lainnya. Hanya seandainya. Faktanya aku tak bisa mengontrol rasa itu. Aku berusaha keras untuk mencobanya. Aku mengalihkannya kepada berbagai hal. Tapi tidak berhasil. Aku tak pernah bermaksud mengancam mama papa dengan pisau untuk mendapatkan obat banyak-banyak. Sungguh itu seperti bukan diriku. Aku anak baik-baik. Tak pernah sebelumnya ada niat untuk melukai orang tua yang sudah merawatku selama 20 tahun. Aku sayang mama papa. Tapi penyakitku yang membuatku seperti itu. Benar-benar bukan diriku.

Aku juga tak pernah bermaksud menyandra mama. Sungguh aku tak pernah ingin membatasi mama bergaul atau melakukan aktivitas. Tapi keadaan lah yang membuat aku harus melakukan itu. Aku butuh dukungan dan support. Dan itu bisa kudapatkan dari mama. Aku terlalu takut untuk mengarungi dunia ini sendirian. Aku butuh mama. Tapi mama malah berpikir aku menyandra mama. Sungguh ma, aku juga ingin melihat mama bahagia. Aku tak ingin menyandra mama. Sedih sekali aku mendengar pernyataan bahwa selama ini aku menyandra mama. Sediiiiih sekali. Rasanya aku kecewa dengan diriku ini. Kecewa mengapa aku harus menderita penyakit seperti ini. Penyakit yang membuat aku seperti bukanlah diriku. Aku ingin mama bahagia. Aku berusaha melawan penyakitku. Tapi disaat tertentu aku tidak berdaya ma.. Aku tak ingin menyandera mama.

Aku juga ingin sembuh. Aku ingin sekali diriku yang dulu kembali. Diriku yang dengan semangat pergi kuliah kedokteran dari pagi sampai sore tanpa lelah. Diriku yang aktif organisasi dan bergaul dengan banyak orang. Diriku yang selalu tenang menghadapi masalah. Diriku yang tegar mendengar cerita mama tentang papa. Diriku yang menguatkan mama saat mama menangis di hadapanku menceritakan duka mama. Aku merindukan diriku itu. Tapi kini aku rapuh. Aku butuh mama disampingku. Aku butuh mama seperti saat dulu mama membutuhkan aku saat mama sedih. Saat mama curhat kepadaku dengan air mata berlinang. Tidakkah mama ingat bahwa dulu disaat mama sedih aku yang menghibur mama. Aku yang menemani mama cerita sampai larut malam, menghabiskan berlembar-lembar tissue untuk menghapus air mata mama. Mengajak mama jalan-jalan untuk memberi mama hiburan. Kini saat diriku rapuh, kemana mama pergi ? Mama memang ada di sampingku. Tapi mengapa menganggap aku menyandra mama.. Aku sedih sekali.. Kuharap mama mengerti..”

Perasaanku lebih lega setelah menuliskan itu. Aku menuliskannya dengan berlinang air mata. Akhirnya aku bisa menangis setelah sekian lama tidak bisa menangis lagi. Aku sampai bisa menangis saking sedihnya aku. Aku kembali memanggil dokter residenku. Dia mengerti benar bagaimana perasaanku dan mengatakan bahwa akan membicarakan hal ini kepada mama saat mama datang menjemputku sore nanti. Semoga mama bisa memahami.

Sore pun tiba. Mama, papa, dan adikku berbicara dengan psikiater serta dokter residenku. Setelah itu baru aku dipanggil untuk bergabung berdiskusi. Aku sampaikan apa saja yang sudah kupelajari selama dirawat. Memang kali ini adalah perawatanku yang terlama, sampai 8 hari. Tapi memang banyak pelajaran yang dapat kuambil. Mama terlihat senang dengan perubahan-perubahan pada diriku. Walaupun aku belum sepenuhnya bisa berubah, tapi aku sudah menunjukkan ada niat menuju kebaikan dan berteman dengan penyakitku. Ya, berteman dengan penyakitku. Bipolar 2, gangguan pengendalian impuls, dan ciri kepribadian ambang. Jika aku melawan, artinya aku seperti menolak takdir. Tapi dengan berteman, artinya aku bisa menerima penyakitku. Diharapkan aku juga bisa mengontrol ‘temanku’. Jangan kebalikannya. Semoga aku bisa. Aku akan berjuang. Setelah mengurus administrasi, akupun diperbolehkan pulang.

Sudah 3 kali aku dirawat di bangsal psikiatri. Semuanya hanya berselang waktu 1 minggu. Setelah perawatan terakhirku yang juga merupakan perawatanku paling lama yaitu 8 hari, aku merasa mendapat banyak pelajaran berharga.

Pertama, aku memang sakit. Tapi masih banyak orang diluar sana yang sakitnya lebih parah dari aku. Terutama yang mengalami psikotik seperti pasien skizofrenia. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada dalam dunia yang tak sesuai realita. Bagaimana rasanya larut dalam halusinasi dan waham tanpa ada daya untuk melawannya. Hanya obat dan doa harapan yang tersisa. Aku bersyukur aku tidak mengalami gejala psikotik.

Kedua, aku belajar untuk disiplin. Aku dibangunkan pagi-pagi lalu mandi, sarapan, dan minum obat. Setiap hari seperti itu di jam yang sama. Makan siang dan malam pun dilakukan pada jam yang sama. Semua terasa lebih teratur dan disiplin. Kerja obat pun lebih baik jika waktu meminumnya tepat. Berbeda dengan saat aku dirumah, saat libur aku bisa bangun tidur jam 10, tidak sarapan langsung minum obat. Malamnya juga tidak menentu jam minum obatnya. Kini aku sadar arti dan manfaat sebuah kedisiplinan.

Ketiga, aku belajar arti dari kebersamaan. Pada jam makan siang dan malam, aku makan diluar kamar bersama pasien lainnya. Kami sama-sama makan walaupun menu makanan untuk pasien kelas I dan kelas III berbeda. Tapi kami tetap makan bersama sambil sesekali bercerita mengungkapkan perasaan masing-masing dan memberi support. Aku ternyata tidak sendiri.

Keempat, aku jadi menghargai keberadaan keluarga. Saat dirawat, dokterku melarang keluarga menjengukku. Selama berhari-hari aku tidak bertemu mama papa dan adekku membuat aku lebih menghargai keberadaan mereka saat sudah keluar bangsal.

Kelima, aku belajar untuk bersabar. Setiap hari pastinya aku merasa ingin pulang. Tapi kenyataannya aku harus dirawat demi kebaikanku. Aku jadi bisa melatih kesabaranku. Biasanya apapun yang kumau bisa kudapatkan. Tapi kalau di bangsal tak semua yang kuinginkan bisa langsung didapatkan, termasuk untuk pulang.

Masih banyak pelajaran berharga lainnya seperti pelajaran yang dapat kuambil saat melihat pasien mengamuk. Walaupun bangsal ini dihuni oleh orang-orang yang dianggap negatif oleh kebanyakan masyarakat, tapi ternyata orang-orang itulah yang telah memberikan aku pelajaran. Aku jadi lebih bisa menghargai orang lain bagaimanapun kondisinya. Semoga keadaanku membaik dan tidak sampai dirawat di bangsal psikiatri lagi. Awalnya aku membenci bangsal psikiatri. Tapi setelah 8 hari disana saat aku dirawat terakhir kali, aku berubah pikiran. Bangsal psikiatri adalah tempat yang tepat untuk pasien gangguan jiwa. Memang rasanya seperti terkurung dan tidak bebas. Tapi itu semua demi kebaikan pasiennya. Tak ada dokter atau perawat yang ingin mencelakakan pasiennya. Semua pasti ingin yang terbaik bagi pasiennya. Terima kasih bangsal psikiatri..