by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Curhat ( 38 )

Well, hari sudah larut malam. Jam menunjukkan pukul 1 lewat 20 dini hari. Tapi gw masih on aja sampai saat ini. Kalau kalian baca Curhat ( 37 ) disitu gw menyebutkan kalau keadaan keluarga gw lagi pada sakit dan gak bagus. Sekarang kondisi sudah mendingan. Ya kira-kira 2 minggu setelah gw ngepost itu nenek menunjukkan perubahan yang jauh lebih baik. Tapi nenek masih belum tau kalau Oma sudah meninggal.

Nah mood gw sendiri, selain agak depresi dengan masalah itu ( walaupun gak sampai jatuh depresi beneran ), gw malah beberapa kali mendapat serangan hipomanik ( lagi ). Gw gak tidur semaleman dan seger di pagi hari untuk belajar atau main internet. Anehnya, padahal sebenernya gw ngantuk. Tapi rasanya gak enak kalau dibawa tidur yang ada gw gelisah. Gw curiga ini akatisia ( keinginan untuk terus bergerak dan melakukan sesuatu, gak bisa diem, dan gelisah ) karena efek samping Abilify. Soalnya biasanya muncul kalau gw minum obat itu. Kalau kelupaan minum gw bisa tidur nyenyak, ya walaupun gak setiap minum jadi begini juga. 

Gw jadi tiba2 rajin belajar, niat bikin scrapbook untuk kenang2an dokter pembimbing koas gw, padahal harga modalnya lumayan tapi dengan senang hati gw rela ngeluarin duit untuk itu dan rela pula membuatnya sendirian tanpa dibantu teman kelompok yang lain. Dan yang paling parah, keinginan gw untuk shopping. GILA. Ini gw udah hampir ngabisin 1,5 juta dalam seminggu. Ya mendingan sih. Dulu sejuta sehari juga ludes. Tapi gw pengennya shopping terus. Mulai dari tas, baju, sepatu, aksesoris dll yang sebenernya kalau gak gw beli juga gak masalah. Tapi gw pengen. Ini gw concern banget untuk mengatasi ini. Gw sadar, tapi gak bisa memberhentikan hasrat shopping gw. Bahkan malam2 gini gw masih aja buka situs2 online shopping. Hadeeeeh. Kalau gw orang kaya raya ya gak masalah. Tapi kan bokap gw udah pensiun, gw masih kuliah, adek gw baru mau masuk kuliah, harusnya gw hidup hemat. Tapi kalau ga shopping gw bisa ngamuk2.

Dan gw belakangan ini jadi irritable banget. Gampang marah dan sensitif. Ah gak tau lah ini apa yang terjadi dengan diri gw. Gw sih gak bilang diri gw kambuh ( gak mau haha ). Mungkin gw mau haid kali ya jadi kaya gini moodnya gak karuan. Tapi kalau ternyata tidak, bisa gawat ini. Hipomanik pas liburan sih masih bisa dihandle, nah kalau pas mulai koas lagi si depresi dateng, mampuslah gw.. Hiks. Entahlah. 

Koas Jiwa

Sebagai seorang penderita gangguan jiwa bipolar dalam remisi yang harus koas stase jiwa itu sesuatu banget loh rasanya. Minggu pertama masuk, gw parno yang teramat sangat kalau tiba2 pas orientasi bangsal tiba2 ada pasien yang pernah dirawat bareng gw di RSCM nyamperin dan say hello. Hahaha. Untungnya gak ada. Lalu gw bertemu pembimbing yang baik hati dan ajaib. Thanks a lot dok atas bimbingannya selama 5 minggu koas di RSJSH. Beneran deh sesuatu banget apalagi pas sesi foto-foto di hari terakhir. 

Minggu kedua gw mulai sibuk dengan presentasi kasus pasien gw yang dihamili Tuhan Yesus, keluar sel telur disaat buang air kecil, dan terasa nafas bayi di perutnya. Selain itu, harus keliling bangsal untuk follow-up pasien. Yang paling seru adalah follow-up pasien bipolar juga yang lagi fase manik dengan ciri psikotik. Dia minta nomor rekening gw karena mau transfer duit 13 juta untuk bantu gw kuliah, yang mana adalah hanya waham dia semata bahwa dia kaya raya dan istri presiden SBY. 

Yang paling kasihan adalah pasien jaminan dinas sosial yang keadaanya menyedihkan sekali, gejala negatifnya dominan, dan keluarganya gak jelas. Bener-bener bisa bikin nangis kalau terlalu empati sampai akhirnya simpati sama pasien2 itu. Gak tegaa.. 

Yang membahagiakan, disaat setiap gw lewat, banyak pasien yang menyapa "Dokteer.. Selamat pagi.. Ngobrol yuuk.." atau "Dokter wajahnya cerah sekali hari ini.." atau "Wah dokter pasti bakal jadi dokter suskes.. Keliatan dari mukanya.." Mereka memang menderita gangguan jiwa seperti gw juga, tapi gw tahu hati mereka sebenernya tulus. *dan hati gw juga. hahaha* Semua membuat gw terharu. Pasien2 yang mengingat nama gw dan menanyakan saat gw belum muncul untuk wawancara dia juga bikin gw terharu.. 

Yang akan gw inget adalah ramalan dari salah satu pasien yang mengatakan bahwa nanti gw akan sukses walaupun mencapainya perlu proses yang nggak mudah ( bener banget gak siiih.. secara gw bipolar gituh.. ) dan nanti gw akan banyak rejeki dari suami jadi gw mesti sayang sama suami nanti. Itu gak akan gw lupakan. 

Oh ya, dan juga 3 orang temen sekelompok gw yang gw ceritain kalau gw bipolar dan akhirnya jadi 'berguru' ama gw. Love you all. 

Dan satu lagi, pasien-pasien pas yang dateng disaat gw jaga IGD. Satu pasien cuma ingin bicara dengan gw karena muka gw bercahaya dan gw muslim ( pasiennya fanatik agama gitu ). Satu lagi cuma ingin bicara dengan gw karena menurut dia gw adalah dokter yang 'bener', dokter jaganya 'gak bener'. Sebagai koas gw bener-bener nggak enak hati sama dokter jaga waktu itu.

Terakhir, ujian dengan dokter baik hati yang bilang status ujian gw bagus. Thanks a lot to psikiater gw yang udah bersedia memberikan tentir dan mengoreksi status ujian gw. Dan pasien gw yang pas ujian menceritakan semua keluhannya yang selama ini dia rahasiakan. Gw cuma ditanya apa hasil pemeriksaan wawancara dan malah gw yang disuruh tanya apa yang nggak ngerti ke penguji. Padahal gw pikir gw bakal dibantai. Nilai sih belum tahu. Yang penting *katanya sih* lulus, dan ujian sudah terlewati. Thanks a lot dokter..

Nggak menyangka gw bisa melewati 5 minggu tanpa hambatan berarti. Memang ada sedikit masalah dengan  "primary support group" alias keluarga di aksis IV. Tapi gw bisa bertahan. Alhamdulillah. Sekarang perasaan gw antara senang dan sedih. Senang karena bangga bisa melaluinya, sedih karena yah kok udahan ya stase jiwanya.. Hehe. Secara gw mencintai ilmu ini. Sekarang gw persiapan ngelanjutin rencana skripsi dan masuk stase berikutnya beberapa minggu lagi. Semoga kedepannya tetep lancar ya.. Wish me luck. Thanks. : )

Oh ya, hampir lupa. Tentang penderita gangguan jiwa, mungkin pada penderita gangguan jiwa yang mengalami waham, halusinasi, disorientasi, penurunan fungsi kognitif, dll, kami terlihat konyol dan menghibur dengan keanehan kami. Tapi sesungguhnya bukan keinginan kami untuk jadi seperti itu. Lihatlah kami sebagai manusia seutuhnya yang juga ciptaan Tuhan. Jangan remehkan kami seakan kami tidak lagi berguna karena gangguan yang kami alami. Benar2 tak ada satupun manusia yang ingin mengalami depresi, halusinasi, mood swing ekstrem, dll. Semua itu adalah campur tangan Tuhan. Mungkin kami memang punya masalah yang membuat kami rentan mengalami gangguan jiwa, tapi bukan berarti kami lemah. Belum tentu kalian yang normal bisa bertahan jika mengalami gangguan yang sama seperti kami. Jadi bijaklah dalam menilai kami. 

Gw akui gw memang geli saat mendengar waham-waham pasien gw, tapi gw mengerti. Di dalam hati mereka, mereka pasti tak ingin seperti itu. Mereka seperti itu karena penyebab yang kompleks yang sampai sekarang pun masih diteliti. Jadi jangan menjudge sembarangan. Dan gw tahu mereka semua ingin sembuh dan kembali ke keluarga masing2. Sayangnya mereka kadang tidak bisa mengurus diri sendiri atau mengontrol tindakannya ( misal  pasien halusinasi perintah yang mendengar suara yang menyuruh pasien untuk merusak barang ), keluarganya terpaksa membawa pasien ke RSJ karena membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tapi gw tahu banget mereka sebenernya pengen bisa mengontrolnya dan hidup normal. Hanya caranya saja yang belum tepat atau obatnya belum adekuat. Semoga semua penderita gangguan jiwa di dunia ini bisa mendapat terapi yang tepat, dukungan yang kuat, serta diterima di masyarakat tanpa lagi ada stigma negatif, karena kami juga manusia. Amiiin. Oke ? Cheers.