by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Curhat ( 42 )

10 minggu stase obsgyn telah berlalu. Dan gw bener-bener terharus sekaligus bangga dengan diri gw. Gw bisa melewatinya. Walaupun tangan gw luka2 akibat self-harm yang gw lakukan disaat gw stres, tapi diluar itu, gw sukses koas stase major 10 minggu dengan hasil yang memuaskan. Banyak duka dan derita yang gw lewati selama 10 minggu itu.. Gw akan cerita beberapa darinya.

Perjuangan gw di minggu pertama sudah pernah gw ceritakan disini. Betapa gw stresnya dengan tekanan baru, betapa ketakutannya diri gw dengan minggu-minggu ke depan yang harus gw lalui. Perasaan putus asa dan keinginan untuk menyerah yang sangat dalam. Rasa tidak ada harapan. Bahkan kehilangan passion untuk menjadi dokter. Tapi bisa gw lewati dengan bantuan psikiater gw tercinta dan mas dokter.

Minggu-minggu berikutnya gw lalui sambil adaptasi perlahan. Gw bisa.

Lalu entah kenapa munculah keinginan aneh gw lagi. Kemungkinan terpicu karena gw naik ambulans saat ngerujuk pasien dan masuk ke IGD tempat gw koas ditambah hormon gw yang lagi kacau karena haid gak teratur, berasa lagi PMS mau dapet dalam versi yang parah. Gw nggak bisa menghilangkan pikiran untuk minum obat banyak2. Sampai suatu hari gw bener2 gak tahan dan gw menelan 20 butir obat jantung yg dijual bebas. Gw pikir gw bakal kenapa2. Ternyata tidak ada yang terjadi dan gw tidur nyenyak. Setelah itu gw sedikit lebih tenang.

Beberapa kali gw berantem dengan keluarga. Gw menulis kata yang sangat kasar di tembok kamar nyokap. Beberapa kali menantang bertengkar dengan bokap gw. Perang mulut dengan nyokap bokap dan om gw. Menonjok lengan nyokap gw sampai lebam kebiruan. Semua terjadi karena hal sepele. Misalnya, gw sedang tidak suka dijemput bokap saat pulang koas karena dia suka ngomong yang menuntut gw untuk sembuh dan lain2 sampai berkhayal gw sudah punya anak. Gw nggak suka. Lalu tiba2 gw dijemput bokap karena nyokap sibuk di rumah. Sampai rumah gw marah ke nyokap. Mukulin, merusak barang2, ngomong kasar, dll. Gw sangatlah teramat irritable. Sedikit masalah sepele bisa membuat gw meledak-ledak tanpa kendali, lalu diakhiri dengan perilaku melukai diri. Belum lagi kejadian itu terjadi disaat keinginan gw untuk minum obat banyak2 sedang hebat. Dan psikiater gw sibuk. Tak bisa banyak diskusi dengan beliau. Begitu pula mas dokter. Tiba2 dia menghilang begitu saja. Nggak ada yang membantu gw. Gw bahkan sempat jadi kasar juga dengan psikiater dan mas dokter. Nggak seharusnya gw seperti itu kepada mereka.

Satu waktu gw benar2 marah hebat. Gw mengurung diri di kamar mama, memecahkan frame foto, lalu menggunakan pecahan kacanya untuk memotong nadi. Tapi baru gw melakukan beberapa irisan, belum sampai nadi, gw sudah tidak kuat karena perih. Darah sudah mengalir, tapi belum deras karena belum mencapai nadi. Gw juga melukai lengan dengan gunting. Semua bekas luka itu ada sampai saat ini. Lalu setelah itu gw keluar kamar dan kabur dari rumah. Dengan didahului perang hebat antara gw dan keluarga, akhirnya gw tidur di hotel. Niatnya gw ingin seminggu disana. Tapi ternyata besok paginya gw malah sakit tenggorokan parah, demam, mual dan terpaksa pulang. Karma does exist.

Lalu sampailah diwaktu menjelang ujian. Gw gelisah tiap malam. Tidak bisa tidur. Mondar-mandir nggak karuan, marah2, dan mencari perhatian terus-menerus. Bener-bener kelimpungan seperti orang lagi PMS. Atau kalau psikiater gw nyebutnya depresi agitatif. Gw tidak minat ngapa2in, tapi irritable. Gw sih lebih ngerasa kaya mixed episode. Puncaknya, di satu malam gw bener2 merasa depresi dan kelimpungan, gw nangis sendirian, lalu berjalan menuju kekamar mandi dan duduk lama sekali di bawah pancuran air dengan pikiran dan tatapan kosong seolah dunia ini tidak nyata. Akhirnya mama menghampiri dan menyadarkan gw, mengajak gw keluar. Saat itu adalah malam sebelum ujian final gw. Keesokan paginya syukur gw bisa terbangun dalam keadaan baik dan bisa mengikuti ujian.

Mengenai minum obat banyak2, sebenernya ingiiiiiin sekali gw lakukan. Bahkan gw berniat keras untuk melakukannya setelah koas obsgyn selesai. Alasan gw, kalau seandainya gw gak mati, gw nggak mesti ngulang koas obgynnya. Kalau gw mati, ya gw ikhlas. Tapi saat ini, dimana koas obgyn selesai, alhamdulillah keinginan itu hilang. Gw punya waktu libur seminggu dan gw akan pergi ke Bali.

Semua yang terjadi selama koas obgyn ini ada hubungannya juga dengan Borderline Personality Disorder. Coba baca di google, gejalanya mirip dengan yg gw alami. Sebenernya mas dokter dan psikiater gw sudah menyadarinya sejak gw dirawat dulu. Tapi gak mengambil pusing untuk masalah ini. Ternyata sekarang malah tambah menjadi-jadi, dan gw berencana menemui psikolog untuk mencari solusi dengan pendekatan berbeda.

Itulah beberapa kejadian yang gw lalui selama 10 minggu ini. Kini gw merasa tidak lagi takut koas. 10 minggu gw bisa lalui. 10 minggu yang berat. Berarti gw akan bisa di 10 minggu selanjutnya sampai akhirnya gw jadi dokter. Semoga. Semoga ketakutan dan rasa putus asa itu tidak datang lagi.. : )