by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Ancol Art Festival ( Jambore Seni Nasional ) 2012

Kali ini gw akan menceritakan pengalaman gw menjadi peserta yang ikut pameran di Ancol Art Festival alias Jambore Seni Nasional yang ke-17, berlokasi di Pasar Seni Ancol, mulai dari tanggal 2-11 November 2012. Ayo yang mau dateng, masih ada waktu seminggu. : )


Jadi, pada tahun ini, tema AAF adalah "Seni Rupa sebagai Jalan Menuju Budaya Masyarakat yang Sehat". AAF sendiri sudah berlangsung selama bertahun-tahun, yang membuat berbeda pada tahun ini dari tahun-tahun sebelumnya adalah keikutsertaan penderita gangguan jiwa seperti skizofrenia dan bipolar dalam pameran. Para ODMK ( Orang dengan Masalah Kejiwaan ) diberi space yang luas di area pasar seni. Sebenarnya yang utama adalah pameran karya seni Pak Wi ( Dwi Putro ), seorang penderita skizofrenia. Selama bertahun-tahun Pak Wi menjadikan melukis sebagai media katarsis, dibina oleh adiknya, Mas Nawa Tunggal. Ada hampir 3000 lukisan karya Pak Wi. Beberapa karyanya dipamerkan pada AAF tahun ini. Nah selain Pak Wi, ada peserta pendamping yang juga ODMK, memamerkan karyanya tak jauh dari area karya Pak Wi. Sampai saat gw menulis post ini, ada 3 orang ODMK yang ikut serta. Gw, Hana Madness, dan Ana Geboy. Diharapkan melalui pameran karya seni ODMK ini, masyarakat bisa melihat bahwa gangguan jiwa bukanlah sebuah hal yang buruk, ODMK juga bisa berkarya. Dengan obat-obatan, psikoterapi, dan kegiatan2 lainnya, ODMK bisa kembali berfungsi normal. Hilangkan stigma negatif terhadap ODMK. Setiap ODMK pasti punya potensi yang bisa dikembangkan, dalam hal ini contohnya melukis. Ada juga yang berbakat menulis, drama, dll. Jadi, jangan terus berkutat dengan buruknya saja, cobalah pandang gangguan jiwa dari sisi positif. Hasilnya bisa luar biasa..

Nah, gw pribadi, mendapat banyak sekali pengalaman dari keikutsertaan gw dalam acara ini. Sudah 4 kali gw dateng ke Ancol, 2 hari saat persiapan, 2 hari saat pameran sudah dibuka. Dan gw merasa sangat bersyukur bisa mendapat kesempatan ini. Terima kasih khususnya untuk Mas Nawa dan KPSI yang membuat ini semua terlaksana. Banyak yang ingin gw share.. Semoga bermanfaat ya.. *Btw, bukannya untuk sombong2an ya, memang beberapa  bagian dari post ini gw emang pamer, ya namanya aja ikut pameran, tapi gw nulis ini untuk membangkitkan potensi2 ODMK atau siapapun yang membaca post ini. Semoga dapat diterima dan dimengerti..*

Sebenernya tak pernah terpikir oleh gw untuk memamerkan karya gw di acara seperti ini. Awalnya saat lagi ngobrol-ngobrol di sekretariat KPSI, Mas Nawa menawarkan gw untuk pameran. Gw iya-iya saja. Tak memikirkan bahwa pamerannya merupakan bagian dari acara seni rupa besar. Dan detail teknisnya juga baru dibicarakan sekitar 10 hari sebelum pameran. Jadi, setelah tau fix gw ikutan, dalam 10 hari gw memesan frame untuk 22 gambar yang akan gw pamerkan. Selain frame, Mas Nawa juga meminta gw membuat produk, akhirnya gw membuat Tas Canvas dan mencetak Notes. Nggak gampang juga mencari vendor yang pas. Tapi alhamdulillah semua selesai H-3 pembukaan. Ada 2 hari untuk persiapan. Perasaan gw saat melihat gambar gw sudah di frame, gw ketakutan setengah mati. Gw bertanya-tanya apakah orang bisa menikmati karya gw, bagaimana komentar seniman dll, gw cuma modal spidol item + kertas lalu discan dan print, teknik gambar gw gak ada, gw belajar otodidak dan sesuka hati. Gw takut akan penolakan. Gw takut orang melihat gambar gw lalu berkata, apaan nih hitam putih doang gak jelas. Itu yang ada dibayangan gw. Gw bahkan jadi susah tidur walaupun sudah dibantu obat. Dan rasa takut itu masih ada saat gw membawa karya2 gw ke lokasi.


H-2 gw ke Ancol survey tempat dan naro barang. Stand2 lain lagi dibangun, belum ada yang majang karya. Beberapa karya Pak Wi sudah dipajang. Saat itu gw berkenalan dengan Mas Cubung. Dia melihat karya yang gw bawa sambil senyum, lalu katanya karya gw sangat menarik, dan gw berbakat. Gw sih seneng. Kebanyakan orang yang melihat gambar gw memang mengatakan seperti itu. Setelah gw ngobrol-ngobrol sama beliau, baru gw tahu beliau adalah seorang pelukis maestro yang memiliki banyak kios di pasar seni, dan lukisannya bisa terjual sampai 300 juta ! Waaw sekali. Kesenangan gw menjadi sebuah keraguan. Ciyus ? Miapah karya gw dibilang menarik dan gw dibilang berbakat sama pelukis asli, orang yang ngerti seni. Gw bener-bener terbang saat itu. Ini baru pertama kalinya karya gw diakui orang yang memang dibidang seni. Jadi ya harap maklum. Haha. Seketika ketakutan gw hilang, perlahan digantikan sebuah rasa percaya diri. Walaupun nggak langsung melambung, *well ya gw akui agak melambung*, gw merasa dihargai. Apalagi yang menghargai bukan sembarang orang. Ya bisa dibayangkan lah rasanya saat itu. Gw pun pulang dengan tenang setelah keliling-keliling melihat lukisan-lukisan seniman disana termasuk Mas Cubung yang membuat gw terpana.

H-1 gw balik lagi ngasih barang titipan Mas Nawa. Niatnya sih mau majang karya gw saat itu, tapi berhubung karya yang lain belum dateng, jadi susah menyesuaikan penataannya. Jadi ditunda sampai karya dari Hana dateng. Gw bertemu lagi dengan Mas Cubung, dan diajak ke Pameran Lukisan Jakarta Art Award 2012. Subhanallah lukisannya bagus-bagus semua, tekniknya tinggi, maknanya dalem, bikin bengong deh. Sayangnya gw nggak berlama-lama karena ada kepentingan lain. Jadi gw sore pulang.

Hari H, hari pembukaan. Sore-sore gw sudah datang. Pembukaannya sendiri dimulai jam 7  malam. Mulailah gw lembur memajang karya gw yang jumlahnya 22. Lumayan capek juga. Setelah berdiskusi dengan Hana masalah display dan pembagian space, gw mulai bekerja, dibantu Mas Sutrisna. Beliau membantu menata karya gw, ada 2 tema display, yang satu agak monoton dan teratur, disusun rapih. Satu lagi acak, miring2, dan ada tempelan2 lakban sebagai efek2 di papan display. Mas Tris menyebut itu teknik display ekstrim. Nggak rapih, tapi dari jauh menarik perhatian. Kalau gw pribadi ditanya, gw lebih suka yang monoton aja, karena mungkin emang gw masih kaku kali ya. Haha. Sambil masang sambil ngobrol2, ternyata Mas Tris juga pelukis disana, luksiannya juga bisa terjual puluhan juta. Dan dia juga seneng liat karya gw. Makanya dia bantuin gw masang secara gw nggak ngerti cara2 mendisplay. Alhamdulillah ada yang bantu. Perasaan gw, tentu senang karena sudah 2 seniman yang bilang karya gw bagus. Kali ini nggak ampe terbang. Haha. Tepat jam 7 gw beres memajang karya gw. Lalu gw ke panggung utama melihat pembukaan. Banyak seniman, ada beberapa artis, ada pengusaha berpakaian rapih ( mungkin kolektor lukisan ), dan masyarakat penikmat seni. Semua bersatu mendengar hiburan musik dan dilanjutkan dengan diskusi beberapa narasumber. Gw berkeliling juga melihat karya pelukis lain bagus-bagus semua. Bahkan ada anak umur sekitar 5 tahun yang karyanya ampun bagusnya ! Dia melukis disana, pilihan warnanya menarik, walaupun gambarnya innocent banget sesuai umurnya. Berkeliling dan berfoto, tak terasa sudah jam 12 malam. Gw dan keluarga pun pulang.

  

Hari ke-3 pameran. Gw datang lagi ke ancol, bertemu dengan teman dari KPSI yang datang ke pameran. Alhamdulillah mereka juga senang melihat karya gw. Setelah itu berhubung teman KPSI pada pulang, gw jadi sendirian. Untung ada Mas Cubung sama keluarganya, ngajak gw main ke kios. Gw diajarin teknik arsir garis. Bermanfaat buat memperkaya pengetahuan gw, walaupun nerapinnya masih agak susah. But I'll try. Setelah itu Mas Tris dateng, dan nyokap juga dateng jemput. Sebelum pulang kami ngobrol-ngobrol dulu. Dan katanya, ternyata gak hanya Mas Tris dan Mas Cubung yang suka karya gw. Mereka suka membawa pelukis dan seniman lain ke display karya gw, dan semuanya bilang karya gw luar biasa. Bahkan ada seniman yang sudah bertahun-tahun eksis pas melihat gambar gw, langsung bilang "Siapa ini yang gambar ? Kayaknya bukan orang sembarangan.." Weew, kaget juga gw. Padahal, menurut gw ya gambar gw emang lumayan lah, tapi kan udahlah item putih doang, modal kertas spidol, dan ya gitu2 aja.. Garis, block, garis lagi. Entah apa yang mereka lihat, malah ada yang bilang teknik gambar gw tingkat tinggi, teknik komposisi gw bagus dan berani, dan komentar-komentar bermutu lainnya. Gw juga heran. Tapi tentunya gw bersyukur sekali ternyata karya yang gw pikir biasa aja, bahkan gw sempet ketakutan saat mau memamerkan, justru dipuji orang.

Kira-kira begitulah kisah narsis gw, gambar gw dipuji seniman. Haha. Selama 4 hari gw bergaul dengan pelukis, nongkrong ngobrol dan gambar bareng, ada sisi lain dari kehidupan yang gw lihat..

Gw belajar kesederhanaan. Gw melihat gaya berpakaian pelukis disana, sederhana sekali. Hidupnya juga apa adanya. Tinggal sehari-hari di kios walaupun punya rumah juga. Makan minum ya yang ada disana. Tidak ada gadget2 canggih. Tak ada tuntutan untuk harus beli ini itu. Yang penting kebutuhan pokok + kebutuhan lukis terpenuhi. Siapa sangka dalam sebulan bisa membuat beberapa lukisan, yang satu lukisannya bisa terjual sampai ratusan juta. Kalau pada dasarnya dia bukan orang yang sederhana, pasti itu uang sudah terpancar dari merk baju, gadget, dan apartemen yang ia tinggali. Beda banget sama gw yang terobsesi pengen beli iPad Mini, jalan ke mall belanja, makan di restoran mahal. Hmmm harus sering bergaul dengan yang sederhana ini nih gw..

Gw belajar ketulusan dan keterbukaan. Kalau dipikir-pikir, siapa gw bisa gabung sama mereka. Tapi mereka sangat terbuka, mereka mau membuka mata melihat karya dari orang-orang yang bukan seniman dan bahkan karya ODMK. Mereka mau membantu dan membangun orang yang memang ingin mempelajari seni dengan tulus. Mereka mau mengajari gw teknik2 menggambar, memberi gw nasehat-nasehat kehidupan. Gw merasa seperti menemukan keluarga baru, padahal baru 4 hari bertemu. 

Gw belajar keberanian. Menurut mereka, tak ada kata salah dalam berkarya. Saat melukis, tak ada yang menyalahkan saat warna matahari menjadi ungu, atau seperti gambar gw, pelangi berwarna hitam putih. Dalam berkarya, jangan takut akan tanggapan orang atau kegagalan, beranilah mengungkapkan apa yang dilihat atau dirasa. Kalau kita terlalu banyak memikirkan ketakutan, maka kita tidak akan meghasilkan apa-apa. Kalau toh memang ada yang kurang bagus, kita bisa terus belajar. Begitu juga dalam kehidupan, berani menghadapi masalah, jangan layani rasa takut. Lebih baik maju tapi ada salah daripada diam saja.

Mungkin segitu dulu. Semoga dengan membaca post ini, ada ODMK yang menjadi semangat ingin berkarya entah itu melukis menulis atau lainnya. Ayo temukan potensi dirimu. Kembangkan pelan-pelan. Oh ya, itu gambar yang gw pamerkan adalah hasil karya gw selama 2,5 tahun menderita bipolar. Jadi memang nggak perlu buru-buru dalam berkarya. Pelan-pelan saja, nanti juga bisa menikmati proses dan hasilnya. Yang penting ya itu, berani. Buat masyarakat umum, semoga dengan membaca post ini bisa melihat sisi lain dari seorang penderita gangguan jiwa, bahwa ODMK juga bisa berkarya. Jangan stigma negatifnya saja yang menjadi fokus. So, see you next post. Mungkin gw akan ngepost tentang kelanjutan pameran ini. : )