by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Curhat ( 51 )

Hmmmh sudah hampir sebulan gw libur. *skripsian sih mestinya* Ya ada sih kemajuan skripsi. Hehe.

Sejak gw lulus interna itu, gw memang keliatan bijak dan seneng banget ya. Entahlah ya maksud tuhan apa. Gw makin hari makin seneng, banyak ide kreatif muncul, planning ini-itu, ngambil job ( ya ada yg dibayar dan ada yg sekedar bantu2 ), optimis, pikiran dan analisis tajam, bijak. Well, itu gw hipomanik. Dan sesuai siklus, setelah beberapa hari hipomanik, gw jadi nggak bisa fokus ngerjain apa yang harusnya jadi tanggung jawab gw. Job yang dikejer deadline, gw susah untuk fokus nyeleseinnya karena saat mau ngerjain otak gw udah penuh sama planning yang lain dan ide ini itu. Susah konsentrasi banget. Ya walaupun akhirnya kerjaan yg diprioritaskan beres sesuai deadline. Tapi tetep aja saat mengerjakan perlu usaha banget. Tenaga sih ada. Tapi untuk konsentrasi dan stay fokus di satu hal agak susah. Akhirnya gw sumpek sendiri, marah-marah, sensitif, galau ga jelas. Lalu bengong sambil tiduran di kasur karena kebingungan. Depresi datang. Ya depresi begitulah rasanya, maunya tidur aja. Diajak kesini nggak, kesitu nggak. Tapi alhamdulillah episode kali ini hipomanik dan depresinya nggak lama. Sekarang, gw ngerasa biasa aja sih. Terkontrol.

Gw jadi sempet mikir, kayaknya serba salah ya.. Gw mengalami peristiwa hidup yang membahagiakan, memicu gw untuk jadi naik moodnya dan akhirnya marah2 lalu depresi. Masa sih gw nggak boleh bahagia ? Atau, kapan gw bisa merasakan rasa bahagia sesungguhnya tanpa dihantui depresi ? Tapi ya udah lah ya.. Nikmati aja apa yang terjadi. Kalau bahagia, nikmati. Kalau sedih, nikmati. Nanti juga lewat.. Secara gw sudah berkali-kali ngalamin naik turun ini. Dan memang terlewati. Tapi ya tetep aja ya sekarang gw bisa ngomong gini, pas lagi depresinya susah untuk ngerti apa yg gw tulis sekarang ini.

Btw, apa yang gw tulis, ya inilah yang terjadi dengan gw. Memang beginilah adanya bipolar. Sekarang kayaknya fokus gw nulis di blog untuk media katarsis dan untuk menunjukkan bagaimana hidup seorang penderita bipolar. Abisnya *saat ini* gw ngerasa aneh aja. Seolah gw bisa nulis post bijak disaat gw sedang hipomanik aja. Terus nggak lama kemudian ada post tentang gw marah2 lah, dirawat lah, atau apa lah yang lain. Ya emang begini hidup gw..

Tapi satu hal yang perlu gw syukuri, Allah memberikan gw sebuah sikap profesional. Saat di RS sebagai dokter muda, sedepresi apapun gw, alhamdulillah gw nggak pernah terpikir sedikitpun niat untuk melukai atau merugikan pasien. Itu sesuatu banget menurut gw. Dan insight gw bagus. Gw biasanya tau tanda2 yang membuat gw mau relaps. Dan jika relaps disaat tugas pun, gw semacam punya kemampuan tambahan untuk bertahan. Tapi, kalau dirumah dan nggak ada yang ngerespon, gw bisa tambah jadi. Terserah mau dibilang cari perhatian atau gimana. Soalnya gw emang nggak bisa dibiarin sendirian, dan kadang saat dirumah ada aja moment dimana gw lagi ngerasa nggak enak, tapi keluarga nggak bisa memberi support. Biasanya disaat seperti itulah gw relaps sampai parah.

Hal lain yang ingin gw sampaikan. Beberapa hari ini gw mulai 'berani' mempublish diri gw di social media dan media massa. Mulai nyebut nama dan udah beberapa kali diwawancara media. Sebenarnya, ada sedikit rasa takut di dalam diri gw. Takut kalau misalnya nanti gw sudah jadi dokter, terus pasiennya tahu kisah hidup gw, terus dia jadi takut karena gw sakit jiwa. Atau kalian takut nggak sih sama gw ? Tapi kalau gw pikir ya, walaupun gw sakit, gw juga berhak punya cita-cita dan impian. Itulah yang membantu gw untuk tetap bertahan hidup. Dan dari kecil cita-cita gw, passion gw, adalah di dunia kedokteran. Lagian kedokteran itu luas kok. Sekarang gw memastikan gw dapet gelar dokter dulu.. Nanti kan gw nggak mesti buka prakek. Bisa gw kerja di perusahaan obat, yang ngurus operasional RS, jadi peneliti, dan banyak lainnya kalau memang gw nggak sanggup untuk menjadi dokter yang praktek. Paling nggak, cita2 gw, cita2 nenek kakek dan saudara lain gw baik yang hidup dan sudah meninggal, bisa gw capai. Paling nggak ada satu hal yang bisa membuat keluarga gw bangga.. Tapi jika tuhan menghendaki, gw pengen sekolah lagi ambil psikiatri. Biar gw bisa mendalami berbagai macam gangguan jiwa, supaya gw bisa berkontribusi terhadap kesehatan mental penduduk indonesia, dan semoga nggak ada lagi orang yang merasakan naik turunnya bipolar.. Mungkin aja gw nanti menciptakan metode atau obat baru. Siapa yang tahu.. Semua orang berhak untuk bermimpi.. Lagipula, *gw udah berkali-kali bilang ini* psikiater yang pernah gw datengin bilang gw mampu kok. Jadi, ya kenapa gw mesti takut ya.. Kalau memang menjadi psikiater adalah takdir dari Tuhan, mau gw menjauh segimana pun gw akan tetap jadi psikiater. Tapi kalau bukan takdir Tuhan, mau gw deketin usaha mati-matian untuk jadi psikiater, nggak akan jadi. Intinya, jalani aja yang ada sekarang. Ada quote bagus yang terukir di sebuah batu besar depan Pasar Seni Ancol. Dan itu bagus banget.. Ini gambarnya..


"Manusia tanpa cita-cita adalah mati. Cita-cita tanpa kerja adalah mimpi. Idaman yang menjadi kenyataan adalah kebahagiaan.."

Bayang Bayang Ilusi - Anggun


Kala mataku terpejam
Sunyinya malam
Kala hasratku membara
Khayal smakin tinggi
Seribu asa hadir di sekililingku
Bangkitkan gairah hidup
Sejuta harapan di dalam jiwaku
Walau semua masih di dalam angan
Jurang curam menghadangku
Getarkan jiwa
Dan pekatnya kegelapan
Datang melanda
Keraguan kini menjelma di dada
Musnahkan segala asa
Semua harapan yang dulu pernah ada
Tiada tersisa…
Haruskah ku hidup dalam angan – angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang – bayang ilusi
Bayangan ilusi
Hanya fantasi
Bayang ilusi
Haruskah ku hidup dalam angan – angan
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang – bayang ilusi
Merengkuh ribuan impian
Haruskah ku lari dan terus berlari
Mengejar bayang – bayang ilusi
Bayangan ilusi
Hanya fantasi
Mengejar ilusi
Terus berlari
Bayang ilusi


Gw randomly denger lagu ini, terus merhatiin liriknya. Kok mirip kaya hidup gw ya.. Hehe. Gw merasa ini lagu seperti manik dan depresi. Di awal bercerita tentang gw saat manik dimana impian-impian muncul, membangkitkan gairah, terlarut dalam semua angan-angan. Lalu datanglah depresi, jurang curam yang menggetarkan jiwa.. Dan menghilangkan semua harapan-harapan, mimpi-mimpi, angan-angan disaat gw manik. Lalu apalah arti hidup ini ? Haruskah gw berlari mengejar impian-impian disaat gw sedang manik ? Haruskah gw berjuang mencapai angan-angan itu ? Terus berlari meraih hal yang tidak pasti ?  :')

Tapi, ya walaupun gw seperti itu kondisinya, dengan impian, harapan, dan angan-angan itulah gw bisa bertahan. Sejauh ini. Sampai saat ini. Tanpa impian gw untuk membangun klinik kesehatan jiwa, tanpa harapan gw untuk menjadi psikiater yang baik, tanpa angan-angan gw untuk membantu sesama, mungkin gw nggak akan bisa bertahan.

Intinya, tetaplah bermimpi. Mimpi itu nggak selalu harus berupa hal yang besar. Mulai dari yang sederhana dulu yang kira-kira bisa dicapai. Jadi saat kita bisa meraih mimpi yang sederhana itu, kepercayaan diri kita untuk bisa meraih mimpi lainnya bisa bertambah. Lalu kalau sudah lumayan banyak rasa percaya dirinya, mulailah bermimpi lebih besar. Tapi yang harus kita ingat dalam bermimpi, suatu saat kita pasti akan 'terbangun'. Entah dalam keadaan kaget karena jatuh, atau senyum-senyum bahagia. Kita tidak pernah tahu. Itu rahasia Tuhan. 

So, dream big, dare to fail !
Because, you only live once..

Cheers.

:(:



Untuk mengerti makna dari gambar ini, bisa dibaca post-post gw sebelumnya. :)

Curhat ( 50 )


First of all, gw mau menyampaikan banyak terima kasih buat kalian semua yang sudah membuka blog ini, membaca kisah gw berjuang mencapai cita-cita, dan mendukung serta mendoakan gw. Stase interna sudah berhasil gw lewati, gw lulus. Ya walaupun masih ada 6 stase yang harus gw lewati, at least satu stase yang cukup berat sudah lewat.


Jujur, gw terharu sekali dengan pencapaian gw sejauh ini. Entah ini karena gw lagi hipomanik atau emang gw udah normal, gw sampai nangis. Tapi nangis bahagia.. 10 minggu gw bertahan koass dalam suasana yang hectic. Udahlah kurang orang, konsulennya lagi 'hot', temennya 'woow', dan banyak hal lainnya yang tidak bisa gw ceritakan disini. Intinya, koass periode gw kemaren ya lumayan 'cetar membahana' lah. *semua yang di dalam tanda kutip adalah berkonotasi negatif*

Gw inget sekali, pada saat pertama kali gw koass. Gw baru aja bangkit dari depresi. Dokternya bilang gw pasif, nggak ada inisiatif, jutek, dan diem aja. Ada saja alasan dia untuk memojokkan gw. Gw hanya bisa senyum pilu. Gw nggak pengen kekurangan gw, sakit gw, jadi alasan untuk dikasihani atau dimaklumi. Tapi ahirnya temen gw cerita ke dokter itu kalau gw sakit. Terus komentar dokternya, "Kalau sakit gitu, memangnya dia bisa jadi dokter ? Nanti gimana kalau koass stase gede yang ada jaganya, banyak tugas.. Sekarang aja kaya gini.." Dan gw nggak lulus di stase itu. Gw nggak tau apakah dia meremehkan, meragukan, atau menegur gw. Gw yang mendengar temen gw menyampaikan apa yang dokternya katakan, sangatlah sedih. Gw tau gw punya kekurangan. Gw tau gw mungkin nggak seperti koass lainnya. Tapi gw punya impian. Gw punya kemauan. Eh gw malah nggak lulus. Saat itu, ya sudah lah.. Tapi, lihat gw sekarang. Walaupun butuh waktu lama dan berkali-kali jatuh bangun, ternyata gw bisa. Gw bisa melewati stase yang pasiennya paling banyak, yang jaganya paling sibuk, yang paling dicari-cari perawat, yang materinya paling banyak. Gw bisa. Gw berhasil lulus dengan meninggalkan nama baik di mata teman, dokter, perawat, dan pihak lain yang terlibat. Bahkan seorang dokter yang tahu kalau gw nggak lulus di stase pertama itu *entah dia tau gw sakit apa nggak* mengatakan langsung di depan gw bahwa gw sekarang rajin dan mau berubah. Berarti memang bukan perasaan gw aja kan..

Gw nggak bermaksud untuk menyombongkan diri. Tapi gw rasa ada saatnya kita boleh bangga dengan prestasi-prestasi kita. Gw share disini untuk memberikan gambaran bahwa seorang bipolar, masih ada kesempatan untuk meraih cita-citanya.. Memang nggak akan semudah orang lain, tapi dengan niat dan kemauan, insyaallah ada jalan.. Gw merasakan sekali janji-janji Allah di Al-Quran itu benar. Setelah kesulitan ada kemudahan itu benar adanya.. Banyak sekali kemudahan-kemudahan yang Allah berikan selama gw interna ini.. Subhanallah alhamdulillah. 

Kalau baca post Curhat ( 48 ) ada kalimat ini :

"Gw cuma bisa berprinsip kerjakan tanggung jawab dengan ikhlas, berusaha jujur tapi liat-liat sitkon juga ( ini kewajiban koass, gak boleh terlalu jujur juga ntar bisa rugi sendiri.. Haha ), dan percaya Tuhan melindungi gw karena Tuhan Maha Melihat dan Maha Mengetahui.. "

Ya, dari awal gw berpegang pada prinsip itu. Dan ternyata berhasil. Pelajaran lain yang bisa gw ambil, yaitu rencana Allah itu pasti ada maksudnya. Tinggal bagaimana kita bersikap, apakah cukup peka untuk menangkap maksud itu.

Contohnya, gw dulu SD masuk lebih cepet setahun. Lalu SMP-nya kelas akselerasi. Jadi, saat masuk kuliah gw lebih muda 2 tahun dari temen-temen gw. Dan ternyata, 2 tahun 'penghematan umur' itu sengaja Allah berikan supaya ada waktu extra 2 tahun saat gw kuliah ini untuk diberikan pelajaran tentang hidup. Jika lancar, insyaallah saat gw lulus nanti umur gw setara dengan junior yang baru lulus juga. Nggak ketuaan. Jadi untuk cari kerja, daftar sekolah lagi dll gw nggak kepentok umur. Dulu saat baru masuk kuliah, gw pikir gw bakal jadi lulusan dokter termuda. Bangga sekali gw bisa jadi dokter di usia sangat muda. Tapi Allah berkata lain. Gw 'dididik' untuk lebih mengerti arti kehidupan. Melihat sisi lain dunia yang selama ini mungkin orang abaikan. Hal-hal yang mungkin dokter lain tidak sadari.

Pelajaran lain, saat interna gw diajarkan untuk menjadi seorang yang bijaksana. Gw memang berada di posisi yang sangat ditengah2. Gw mendengar banyak cerita, curhatan, pertanyaan, dan saran dari 2 sisi. Di satu sisi si A bilang kenapa B begini. Lalu gak lama kemudian si B cerita kenapa A begitu. Gw harus menghargai A karena dia partner jaga gw. Tapi gw juga harus menghormati B seperti gw menghargai A karena dia teman sejawat gw. Lalu si C curhat kalau dia diperlakukan blablabla oleh D. Abis itu giliran D cerita, D minta tolong gw untuk menegur C. Ya mungkin gw terlihat seperti bermuka dua ya. Tapi namanya belajar, semoga dimaafkan. Susah lo berada di posisi tengah. Dulu juga pernah gw berada di posisi tengah gini diantara 2 sahabat gw. Masih mending, saat itu cuma melibatkan 3 orang. Gw dan 2 sahabat gw. Lah kalau yang ini melibatkan gw, 9 temen satu stase gw, 5 dokter konsulen gw, dan perawat-perawat. Entah kenapa jg mereka ceritanya ke gw. Padahal, kalian tau sendiri gw aja butuh perjuangan keras untuk bertahan selama koass ini. Lalu malah ditambah beban dari orang sekitar. Mana saat itu psikiater gw dan mas dokter lagi sibuk-sibuknya. Jarang merespon. Paling cuma sekedar cerita lewat BBM, itu nggak terlalu membantu gw. Sampai ada momen dimana saat itu otak gw bener-bener penuh dengan cerita dan curhatan orang. Tugas2 gw belum selesai dan gw nggak bisa ngerjain karena gak bisa mikir. Gw butuh sekali cerita, tapi psikiater gw lagi sibuk. Malam itu gw bener-bener desperate. Gw nangis semalaman, merasa tega banget psikiater dan mas  dokter gw, membiarkan gw seperti ini. Nggak membantu gw. Padahal gw hanya butuh didengarkan. Tapi mereka ga ada waktu. Setelah nyokap bokap gw berusaha menghubungi psikiater gw berkali-kali karena keadaan gw mengkhawatirkan sekali, akhirnya psikiater gw bisa ditemui esok harinya. Gw akui, keadaan gw memang mengkhawatirkan. Seingat gw, air mata gw tidak berhenti mengalir, gw ngomong sendiri nggak karuan, tatapan kosong, depresi, bahkan gw sudah menulis surat pengunduran diri. Dan gw nggak bisa cerita ke nyokap bokap karena terlalu complicated dan berhubungan dengan dunia medis ntar mereka tambah bingung. Jadi gw cuma cerita sedikit, lalu gw tidur. Besoknya gw tetap datang koass *dengan penuh perjuangan untuk berangkat*, meriksa pasien dengan mata sembab. Lalu pulang koass gw ketemu psikiater gw. Gw cerita semua yang ada di otak gw. Dengan cerita, rasanya 3/4 beban gw hilang. Lalu komentar beliau, "Mbak itu seperti spons.. Menyerap semua informasi dan keluhan. Padahal yang mereka katakan itu belum tentu benar. Banyak kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi dan tidak mereka ceritakan. Kenapa mbak harus menyerap semua informasi itu.. Untuk menjadi pendengar yang baik, kita harus punya boundary.." Saat itu gw tersadar. Boundary. Batasan. Benar sekali kata psikiater gw. Selama ini gw cenderung larut dalam cerita orang, sehingga timbul keinginan kuat untuk membantu mereka. Tapi semua jadi berbeda disaat yang kita dengar ceritanya adalah cerita dari 2 kubu berbeda. Yang masing-masing ingin dibela. Masing-masing mengharapkan bantuan gw. Dan gw bingung sekali harus bantu yang mana dulu karena gw berusaha netral. Mungkin kalau gw denger curhatan temen2 sesama bipolar lewat chat email dll, gw masih bisa handle. Tapi kalau diposisi tengah kaya gini, butuh sebuah sikap yang sangat bijaksana, demi menjaga kebaikan bersama. Itu yang gw butuhkan, batasan diri terhadap masalah2 luar, supaya kita gak kebawa pengaruh negatif, supaya kita tetap bisa berpikir jernih dan nggak mengorbankan diri kita berlebihan. Dan gw tersadar lagi. Itulah yang seorang psikiater butuhkan. Lalu psikiater gw juga bilang, "Dalam pendidikan spesialis untuk jadi psikiater pun akan diajarkan cara membangun boundary itu.. Psikiater itu setiap hari mendengar keluhan pasien dan keluhan keluarga pasien.. Kalau kita serap semua yang mereka katakan, nanti dokternya ikutan sakit.." Dan juga, ada kalanya kita sudah berusaha maksimal namun keadaan belum membaik, saat seperti itu, ingatlah Allah, disebutkan di Al-Quran bahwa bukan kita lah yang harus memberi mereka petunjuk, tapi Allah akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya.. Subhanallah, bener-bener pelajaran berharga. Sebelum gw masuk pendidikan spesialis gw udah diajarin duluan oleh Allah melalui kejadian-kejadian selama gw koass.Thanks banget buat psikiater gw tercinta untuk mengingatkan gw hal itu. Setelah sesi berharga dengan psikiater gw itu, alhamdulillah gw lebih bijaksana dalam bersikap. Dan hasilnya, setelah 10 minggu berlalu, nama gw tetap baik di depan mereka. Sampai sekarang hubungan gw baik dengan mereka semua. Gw jadi tambah terharu, benar-benar rencana-rencana Allah itu ada maksudnya.. 

Semoga kejadian-kejadian yang gw alami, pengalaman hidup gw yang berharga, tidak membuat gw menjadi pribadi yang sombong. Sekali lagi gw minta tolong ingatkan gw..

Dan btw, ya gw tetap ingat this too shall past. Nanti stase baru mungkin bakal ada masalah2 baru. Tapi sekarang gw memandang kejadian-kejadian yang akan datang adalah rencana-rencana sempurna Allah. Mau itu manis atau pahit, semua pasti ada maksudnya. Tadinya gw selalu paranoid saat memasuki stase baru. Tapi sekarang semoga gw bisa berpikir lebih positif. Mencoba mensyukuri apa yang terjadi dalam hidup gw, sambil memperbaiki diri. Gw jadi inget, dulu gw sempet bete karena ga jadi masuk stase bedah bareng temen gw. Gw malah dimasukin interna. Tapi sekarang gw malah bersyukur sekali. Gw mendapatkan banyak sekali pelajaran tentang kehidupan. Semoga bermanfaat untuk gw dalam menjalani tugas gw nanti.. Amiiin.

Sekian update dari gw.

Notes :
Menurut gw, nasehat curhatan dan wejangan di blog gw ini, atau mungkin buku-buku motivasi yang kini populer, cuma bakal ngefek sebentar pada orang yang baca. Karena sesukses dan sebijak-bijaknya orang, adalah yang belajar dari pengalaman sendiri, bukan pengalaman orang lain. Tapi apa salahnya kita berbagi, karena mungkin ada orang diluar sana yang susah 'belajar' dari pengalamannya sendiri, perlu referensi dari orang lain. Ya semoga bermanfaat ya.. :)