by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Gw Borderline ?



Hello, kali ini gw akan bahas mengenai gangguan kepribadian ambang atau borderline personality disorder. Masalahnya, gw lagi ga gitu mood buat terjemahin artikel, so untuk definisinya kalian bisa cek di : https://www.nimh.nih.gov/health/topics/borderline-personality-disorder/index.shtml

Di artikel itu dijelaskan segalanya mengenai borderline, ada juga yang berbahasa Indonesia kok, search aja di google banyak.

Kenapa gw bahas ini, karena gw rasa gangguan ini belum banyak dikenal padahal bikin kehidupan penyintasnya kacau. Dan gw sendiri sedang berjuang menghadapi borderline ini.

Jadi gini, dari dulu gw awal konsultasi ke psikiater, beliau sempet curiga bahwa gw ini selain bipolar ada borderlinenya. Hanya saja karena mood gw masih dibawah pengaruh bipolar, manik-depresi, jadi sifat asli gw ga gitu keliatan. Semua tergantung mood bipolar.

Lalu gw kini sudah 7 tahun treatment untuk bipolar. Obat cocok, ke psikiater rutin. Tapi kok semakin kesini gw merasa ada yang aneh dengan diri gw. Moodswing gw malah makin ga jelas, kalau dulu keliatan polanya, kali ini berubah-ubah ga jelas tanpa pemicu pula. Selain itu gw juga merasakan gejala-gejala borderline lainnya. Gw ga bisa cerita banyak karena ini too personal, yang pasti gw ngeh ada yang belum beres ama diri gw. Gw merasa bipolar gw udah selesai, tapi ada satu lagi hal yang belum gw handle.

Sampai akhirnya gw cerita lagi ke psikiater lama gw yang curiga gw borderline, dan beliau bilang memang saat ini mungkin borderlinenya baru keliatan karena diri gw sudah ga berada di dalam mood bipolar manik-hipomanik-depresi lagi.

Namanya gangguan kepribadian itu, akan tampak lebih jelas jika masalah psikiatri lain sudah reda. Kepribadian itu sifatnya menetap, setelah masalah psikiatri lain reda kan si orang tersebut balik menjadi dirinya yang asli, nah jika memang diri aslinya itu terganggu baru lah keliatan bahwa dia memiliki gangguan kepribadian.

Dan itulah yang terjadi dengan gw saat ini. Bipolar gw bisa dibilang sudah reda, gw ga lagi mengalami episode full depresi hipomanik manik. Gw kembali ke diri gw dan ternyata diri gw bermasalah jauh lebih kompleks dibanding sekedar mengalami mood bipolar.

OMG Ya Tuhan what's wrong with me ? Gw kembali mempertanyakan why me dsb. Saat psikiater gw mengatakan saat ini gw lebih ke arah borderlinenya, rasanya campur aduk. Tapi satu hal yang gw pegang adalah gw ga mau begini terus. Capek, lelah. Ibarat sudah jatuh lalu ketimpa tangga, gw kira setelah bipolar gw selesai, gw akan hidup stabil tenang bahagia hakiki. Ternyata malah ada satu hal yang lebih besar dan berat lagi.

Berhubung gw nggak pengen gini terus, gw inisiatif untuk konseling ke psikolog. Karena memang kasus borderline terapinya diutamakan dari psikoterapi, obat-obatan belum tentu diperlukan.

So, gw bertemu psikolog yang menggunakan seni sebagai salah satu metode terapinya. Sesi pertama gw tes psikologi grafis ( gambar orang, pohon, rumah, ngelengkapin gambar ), ga yang ribet2 kaya ngisi MMPI. Lalu gw cerita hidup gw dari lahir sampai sekarang. Dari sana sudah ada sedikit gambaran bahwa inti permasalah gw adalah identitas. Kinda weird for me, gw kira gw kenal diri gw ternyata nggak sama sekali.

Sesi kedua baru dibacain hasil pemeriksaan psikologisnya, dan OMG Ya Tuhan gw sangat shock dengan hasilnya. Seperti dibacakan luka terdalam dari diri gw yang bahkan gw sendiri nggak bisa mengenal saking dalamnya. Gw ga peduli dibilang lebay atau apa, the fact is gw kaget banget. Antara denial, masa sih gw segitunya, dan senang akhirnya bisa tau core problem masalah gw.

Saat ini gw masih proses konseling terapi. Prosesnya pasti ga enak karena bakal ungkit-ungkit masa lalu, melatih diri untuk merubah pikiran, dsb. Bagusnya, psikolog gw bilang gw punya banyak potensi yang belum tergali dan dimaksimalkan, sama daya juang dan resiliensi gw tinggi. So dia yakin gw bisa melewati semua ini.

Jadi, ya here I am. Mencoba mengatasi borderline gw. Buat yang pernah mengenal gw, baik itu di dunia maya atau nyata, mungkin ada yang mikir masa iya gw borderline. Gw tampak baik-baik aja dari luar, bisa handle komunitas, berkarya, menolong orang, menginspirasi, dll. Ya bagus sih, but the truth is itu ibarat hanya 10% dari diri gw yang tampak. 90% lainnya bahkan gw sendiri ga mengenal dan inilah yang sedang diperbaiki.

Harapan gw, semoga gw kuat. Pesan gw, coba pikirkan lagi ke diri kalian masing-masing, apakah benar kalian sudah mengenal betul dan menerima total diri kalian yang sesungguhnya ? : )

Workshop Zentangle Bersama Sebangsa



Sore tadi berbagi mengenai relaksasi mindfulness menggunakan zentangle di acara Jumpa Hangat dari Sebangsa. Dimulai dari penjelasan mengenai terapi seni, mindfulness, belajar meditas, penjelasan mengenai zentangle, lalu mencoba menggambar zentangle. Kesan peserta, rata-rata merasa lebih rileks setelah sesi selesai dan ada juga yang tadinya deg-degan lalu saat menggambar zentangle jadi lebih fokus dan tenang. Zentangle memang bisa menjadi salah satu cara untuk relaksasi yang menyenangkan dan mudah dilakukan. Senang bisa berbagi dengan teman-teman semua. Thanks sebangsa.com ! Foto milik Sebangsa.










Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2017



Hari ini ( 10 Oktober 2017 ) diperingati sebagai Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Tema yang diusung untuk tahun ini adalah Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja. Seperti yang kita tahu, sebagian besar hidup kita dihabiskan untuk bekerja dengan berbagai profesinya. Karena itu banyak peritiwa hidup menyangkut pekerjaan yang bisa memperngaruhi kesehatan jiwa. Disebutkan oleh WHO bahwa depresi dan gangguan cemas adalah masalah yang paling sering ditemui di dunia kerja dan menyebabkan berkurangnya produktivitas kerja. Untuk pembahasan lebih lanjut mari simak artikel berikut ini.

Fakta :

1.      Bekerja bagus untuk kesehatan mental kita, namun lingkungan kerja yang negatif bisa berpotensi menyebabkan masalah kejiwaan dan fisik.
2.      Depresi dan gangguan cemas memiliki dampak ekonomi yang signifikan.
3.      Bullying dan pelecehan dalam dunia kerja seringkali dilaporkan dan mempengaruhi kesehatan jiwa.
4.      Sudah ada beberapa aksi positif dari berbagai organisasi untuk mempromosikan kesehatan jiwa di tempat kerja yang dapat bermanfaat untuk produktivitas kerja.

Secara global, 300 juta orang menderita depresi, yang merupakan salah satu penyebab utama disabilitas, sebagian darinya juga mengalami gejala gangguan cemas. Terdapat beberapa faktor resiko masalah kejiwaan yang mungkin ditemukan di lingkungan kerja. Kebanyakan faktor resiko berhubungan dengan interaksi antara tipe pekerjaan, managerial organisasi dan lingkungan kerja, keterampilan dan kompetensi pekerja, serta support terhadap pekerja untuk menghadapi pekerjaannya. Resiko terhadap kesehatan jiwa termasuk diantaranya :

1.      Kebijakan mengenai kesehatan dan keamanan yang tidak adekuat
2.      Kurangnya komunikasi dan sistem managemen
3.      Terbatasnya pastisipasi dalam mengambil keputusan atau kontrol yang lemah terhadap area pekerjaan dari seorang pekerja
4.      Sistem dukungan yang rendah terhadap pekerja
5.      Jam kerja yang tidak fleksibel
6.      Tugas atau tujuan pekerjaan yang kurang jelas

Resiko juga berhubungan dengan tugas pekerjaannya itu sendiri, seperti tidak sesuainya tugas seorang pekerja dengan kompetensi yang diilikinya dan beban kerja yang tidak berhenti-berhenti. Beberapa pekerjaan mungkin memiliki resiko personal dibanding pekerjaan lain, yang dapat berdampak terhadap kesehatan jiwa dan menjadi penyebab gejala masalah kejiwaan. Juga terhadap penyalahgunaan zat dan alkohol. Resiko ini bisa meningkat dalam kondisi lingkungan yang kurang supportif.

Bullying dan pelecehan psikologis ( mobbing ) adalah hal yang sering dilaporkan menjadi stressor di lingkungan kerja. Kedua hal tersebut berhubungan dengan masalah fisik dan psikologis. Konsekuensi kondisi kesehatan ini dapat membebani produktivitas pekerja. Serta dapat berdampak pada keluarga dan interaksi sosial.
Lingkungan kerja yang sehat dapat dideskripsikan seperti dimana pekerja dan manager secara aktif berkontribusi kepada lingkungannya mengenai promosi dan perlindungan kesehatan, keamanan, dan kennyamanan dari seluruh pekerja. Disebutkan oleh World Economic Forum bahwa ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan yaitu  :

1.      Melindungai kesehatan mental dengan mengurangi faktor resiko
2.      Mempromosikan kesehatan jiwa dengan mengembangkan aspek positif dari bekerja dan kekuatan pekerja.
3.      Kesadaran akan lingkungan kerja dan bagaimana hal tersebut dapat beradaptasi untuk memberikan promosi yang lebih baik mengenai kesehatan jiwa kepada pekerja yang beragam.
4.      Memberi peluang dan kebutuhan setiap pekerja, untuk membantu menentukan kebijakan yang lebih baik dalam tempat kerja.
5.      Kesadaran akan sumber-sumber dukungan dan tempat dimana pekerja dapat mendapat bantuan.
6.      Memberi informasi kepada bekerja bahwa tersedia sebuah sistem dukungan
7.      Melibatkan pekerja dala mengambil keputusan, agar dapat leih merasa memiliki kontrol dan partisipasi dalam menciptakan lingkungan kerja yang mensupport keseimbangan kerja.
8.      Program untuk pengembangan karir
9.      Memberikan penghargaan terhadap kontribusi dari pekerja.

Intervensi kesehatan jiwa sepatutnya diberikan sebagai strategi terintegrasi dari kesehatan yang meliputi pencegahan, identifikasi dini, dukungan, dan rehabilitasi. Kunci suksesnya adalah dengan melibatkan pemangku kekuasaan dan staf dari segala level saat menyediakan proteksi, promosi, dan intervensi dukungan sembari memonitor efektivitas mereka.

Jika ada rekan kerja yang mengalami gangguan kesehatan jiwa di lingkungan kerja, beberapa perubahan dapat kembali membantu ia bekerja. Diantaranya jam kerja yang fleksibel, mendesain ulang tugas-tugas, membicarakan dinamika di lingkungan yang kerja yang mungkin negatif, dan komuniasi supportif serta rahasia dengan manajemen yang kompeten.

Semoga dengan adanya perbaikan kebijakan terhadap kondisi kesehatan jiwa di tempat kerja, lingkungan kerja yang supporti, tersedianya layanan dukungan dan bantuan bagi pekerja yang memiliki masalah kejiwaan, dan mengurangi faktor resiko, lingkungan kerja tak lagi menjadi penyebab masalah kejiwaan. Sehingga pada akhirnya produktivitas kerja juga meningkat yang bermanfaat pada pekerja juga perusahaan tempat ia bekerja.

Mari sama-sama kita mulai dari diri sendiri untuk lebih sadar akan pentingnya kesehatan jiwa, peduli terhadap sesama, tidak menstigma rekan kerja yang mengalami masalah kejiwaan melainkan memberi dukungan, serta tak lupa menjaga diri sendiri dari faktor-faktor resiko yang bisa menyebabkan masalah kejiwaan dari lingkungan kerja.

Sumber : http://www.who.int/mental_health/in_the_workplace/en/