by Vindy Ariella. Powered by Blogger.

Reborn


Di post sebelumnya, gw bercerita mengenai proses konseling gw dengan psikolog. Nah di post kali ini gw akan bahas sekilas tentang manfaat yang gw dapat setelah sesi selesai.

Jadi, ceritanya dari bulan Oktober sampai Januari gw konseling ke psikolog klinis. Total ada 14 sesi termasuk 2 sesi bareng keluarga. Selama 14 sesi itu gw belajar banyak banget hal dan skill. Mulai dari mengenal diri sendiri, mengenal gangguan bipolar + borderline gw, bagaimana bersikap saat ada 'serangan', membangun keyakinan akan higher power melalui pendekatan spiritual, sampai bahas hal random tentang hidup.

Overall, seru banget. Worth it. Berkesan.

Memang ga mudah sih saat prosesnya, gw jatuh bangun berkali-kali. Cemas, gelisah, self-harm, depresi, paranoid, irritable, hopeless, nyaris putus asa. Tapi untung psikolog gw terus membimbing ( dengan tegas tentunya ga menye-menye haha ). Ada kalanya juga gw dilepas sendiri selama beberapa hari untuk lihat kemampuan gw apakah sudah bisa mandiri. Kalau kata psikolog gw, ibarat bocah biasa dikasih lollipop terus tiba-tiba diganti tempe rebus ( gw agak ngakak denger perumpamaan ini haha ). Ya itu bocah pasti nangis, kecewa, dll tapi lama-lama terbiasa.

Setelah segala perjuangan itu, di sesi ke-14 gw bisa dilepas sama psikolog. Dia menilai gw sudah cukup mampu dan mandiri. Well, gw amazed dengan segala proses ini. Terharu banget.

Yang paling menyentuh hati gw adalah bagaimana dia bisa membantu membangun sisi spiritual gw. Kami beda agama, tapi bisa nyambung saat ngomongin Tuhan. Mungkin ga semua psikolog bahas spiritual, mungkin juga ga semua klien dia dikasih terapi dengan pendekatan spiritual. Ya gw bersyukur dia mengajak gw untuk kembali ke jalan Tuhan.

Emang sih selama ini gw percaya Tuhan dan kekuatan semesta. Tapi keyakinan gw belum lurus dan tepat sasaran. Sekarang gw lagi proses untuk terus memperkuat keyakinan. Karena memang pada akhirnya, tidak ada kekuatan lain yang bisa membantu gw disaat-saat kelam, selain sumber dari segala kekuatan. Tuhan.

Ya ga semua orang juga harus menempuh jalan spiritual, itu adalah sebuah pilihan. Tapi kalau gw boleh kasih saran, ga ada salahnya mulai kuatkan keyakinan dan ibadah. Saat gw kembali ke Tuhan, perubahannya sangatlah signifikan dan semacam langsung diberikan banyak kemudahan. Ingat, saat ada kemauan, maka akan ada jalan. Usaha aja dulu.

Contoh nyata, setelah sesi yang bahas mengenai spiritual, gw sampai rumah merenung dan beribadah. Meminta ampun dan berdoa untuk diberikan kekuatan, petunjuk, hidayah. Terus keesokan harinya, gw lagi di mall entah kenapa pengen jalan ke toko buku, terus tertarik dengan sebuah buku yang ga pernah gw liat sebelumnya. Judulnya "Fulfilled", yang nulis seorang psikiater namanya Anna Yusim.


Ini covernya, gw beli di Kinokuniya.

Karena judulnya menarik banget, gw langsung beli tanpa mikir ( harganya haha ). Pas gw baca, OMG ini bener-bener sebuah jawaban dari doa gw. Di buku itu dibahas mengenai step-step how to be authenctic, memperbaiki jiwa, dan terhubung dengan kekuatan spiritual. Persis seperti yang sedang gw bahas dengan psikolog gw. Kalau psikolog gw bahas konsep mendasarnya, buku ini memberikan step-step ringkas dan contoh kasusnya. What a perfect combination ! Dari situ gw lebih percaya bahwa saat kita berserah, berdoa, yakin dengan bantuan Tuhan, saat itulah Tuhan memberikan jawaban. Hanya saja kita mesti peka untuk menangkap jawaban itu.

Setelah baca buku itu, gw jadi bisa lebih baik dan baik. Ada semacam ketenangan, kedamaian yang gw rasakan setelah semua proses psikoterapi + spirital ini berlangsung. Memang ga didapat dengan mudah gitu aja. Gw juga usaha dan terus memupuk keyakinan.

Puncaknya, adalah suatu malam, gw mempertanyakan. Apakah kedamaian dan ketenangan yang gw rasa ini nyata ? Lalu gw entah kenapa seperti ketarik dengan bayangan diri gw sendiri di kaca kamar. Jadilah gw ngaca, memandang diri sendiri, dan terjadi semacam dialog. Intinya, sisi baik Vindy dengan sisi buruk Vindy sudah saling memaafkan. Mereka telah menjadi satu. Jadi Vindy yang utuh, bukan lagi dua sisi dalam diri Vindy.

Well, seems kinda weird maybe. Tapi itulah yang terjadi. Sejak kejadian itu, pikiran-pikiran aneh gw ga muncul lagi. Kadang kan gw ngerasa pikiran gw pecah, ada yang mencoba bertahan, ada yang ngajak bunuh diri, ada yang ngetawain, dsb. Nah mereka semua kini sudah bersatu. Rasanya seperti terlahir kembali. Reborn. Gw sampai nangis-nangis malam itu. Mensyukuri semua yang terjadi. :')

Walaupun begitu, tetap psikolog gw bilang gw ga bisa muluk-muluk berharap langsung sembuh, ga bakal kambuh. Untuk kasus gw, lebih baik mengatakan bahwa gw bisa pulih. Gejala-gejala mungkin masih ada, tapi gw sudah dibekali skill untuk mengatasinya.

Bahkan, seminggu setelah gw dilepas, gw sempet relapse dan panik ilmu serta skill yang gw pelajari bakal hilang. Karena kambuh gw tiba-tiba banget. Bangun pagi tau-tau depresi. Kan bikin bingung ya. But, ya itu proses yang harus dilewati. So gw dibimbing untuk lebih mindful dan biarkan episode depresi itu berlalu. Dan here I am, getting better and stronger.

Ya intinya, hikmah yang paling dasar dari segala proses gw ini adalah, saat kita ada keinginan untuk menjadi lebih baik dan mau usaha, jalannya bakal terbuka kok. Masalah hidup akan selalu ada, kita bisa memilih untuk larut di dalamnya dan menderita mengeluh sepanjang hari atau hadapi dengan bijak. It's up to you. Kalau gw memilih untuk menghadapi segala masalah hidup gw walaupun harus nguras tenaga, pikiran, emosi, buka-buka trauma dll. At the end, it's worth it ! Semangat ya..