by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Menjalani Hidup di Tengah Pandemi Sebagai Seorang Bipolar

 


Sudah sejak bulan Maret 2020 gw stay dirumah atas anjuran pemerintah karena pandemi Covid-19 ini. Bukan hal yang mudah bagi semua orang. Segala aspek kehidupan terkena dampaknya. Termasuk bagi gw sebagai seorang bipolar.

Apa yang gw rasa? Mostly jadi depresi. Pertama, bosen banget di rumah mati gaya. Dan karena bikin mood jadi turun, rasanya tambah ga bisa menikmati atau mencoba aktivitas baru. Kedua, ga bisa cari inspirasi di luar rumah, jadi mau berkarya juga stuck ga ada ide. Ketiga, project Lorku jadi ketunda karena tempat produksinya tutup. Keempat, kalau mau berobat ke RSCM, jadi was-was karena RS-nya masih rame dan sekarang pasiennya dibatasi banget. Jadi mesti antre pagi-pagi atau daftar online dari jauh-jauh hari. Ya jadi ribet lah pokoknya.

Depresi yang gw rasakan itu sempet menjadi trigger kekambuhan gw yang cukup besar, sampai akhirnya pertengahan Agustus lalu gw dirawat di bangsal jiwa RSCM (lagi). Sebenernya penyebab utamanya karena proses berduka yang masih berat banget gw rasa. Pikirannya ga jauh dari suicide karena pengen ketemu mama di Surga. Ya begitulah.

Untungnya pas dirawat semua protokol kesehatan dijalankan dengan baik. Pasien dibangsal dibatasi jadi sekamar cuma ber-3 dengan bed yang jauh-jauhan. Dan alhamdulillah semua pasien yang dirawat bareng gw kasusnya mirip sama gw jadi bukan yang gangguan jiwa berat banget. Masih kooperatif, nyambung, dan nggak ganggu. Jadilah selama 2 minggu penuh gw bener-bener pemulihan. Ketemu dokter untuk psikoterapi setiap hari. Bisa cerita-cerita sama perawat juga. Penyesuaian obat dan ada pertemuan keluarga untuk bicarakan bagaimana kedepannya.

Singkat cerita, gw bersyukur bisa kebagian bed di RSCM untuk dirawat. Itu gw berangkat atas inisiatif gw sendiri, setelah disarankan banget sama psikiater gw. Karena gw udah ga bisa kontrol pikiran suicide. Dan udah mikir mau pake cara apa. Pas curhat ama psikiater langsung diarahin untuk dirawat, berhubung gw juga udah ga kuat handle depresi dan keinginan bunuh diri, jadi gw 'pasrah' untuk dirawat. Setelah dirawat, gw jauh banget bisa lebih baik. Sampai sekarang ( 2 bulan setelah rawat ) mood gw juga masih terjaga. Dua minggu sekali kontrol untuk psikoterapi sama psikiater.

Di sisi lain, ada untungnya juga gw stay dirumah saat covid ini. Setelah mama meninggal November 2019 lalu, dari bulan Desember sampai Februari gw juga banyak dirumah aja. *emang gw juga dari dulu dirumah terus sih haha. Tapi kan kadang keluar rumah rapat, meeting, ke mall kafe dll* Nah gw itu dirumah sendirian karena adek dan bokap gw kerja. Biasanya dulu ada mama dirumah, sekarang udah ga ada. Makin mellow lah gw. Kesepian banget. Sedih banget. Menderita banget deh pokoknya. Sejak ada covid, kan pada dirumah semua sekeluarga, gw jadi merasa terbantu untuk melewati proses berduka gw. Begitu pula dengan adek gw. Kita sama-sama mendukung supaya bisa merasa lebih baik, berduaan mulu kita hehe.

Selain itu, sejak gw pulang rawat, gw mencoba untuk hidup lebih sehat. Dengan jaga makan, olahraga teratur, istirahat cukup, ibadah, dll. Alhamdulillah bisa membantu menjaga mood gw untuk tetap stabil. Swing-swing pasti ada, namanya juga bipolar dan borderline, tapi ya so far gw bisa handle (dengan penuh perjuangan tentunya haha).

Ya gw cuma bisa berdoa dan berharap pandemi segera selesai supaya gw bisa ke mall dan kafe haha. Nggak deng, lebih dari itu. Terutama dampak covid ini bisa berlalu, yang kehilangan pekerjaan bisa dapet kerja lagi, ekonomi membaik, kasus covid ga ada lagi, dsb. Untuk mencapai harapan itu, paling nggak kita bisa usaha untuk tetap pake masker kemanapun. Jaga jarak, jaga diri, terapkan pola hidup sehat, dan yang paling penting, ciptakan kebahagiaanmu sendiri walaupun ditengah keterbatasan. Bisa dimulai dengan mensyukuri hal kecil. :)

Acceptance

 


Bicara soal penerimaan diri bukanlah hal yang mudah. Gw pribadi merasa penerimaan diri itu adalah proses yang tidak akan berakhir. Contohnya, penerimaan bentuk tubuh. Gw berbadan besar hampir sepanjang hidup. Ini tantangan bagaimana gw bisa menerima tubuh gw apa adanya. Namun, tetap gw memperhatikan di tubuh gw ada apanya. Misal, apakah ada kondisi kesehatan tertentu yang mengganggu. Nah jika ada gw coba perbaiki. Intinya sih mencoba untuk lebih sehat. Berbadan besar tidak selalu penyakitan. Begitu pula dengan yang tubuhnya ideal belum tentu sehat. Saat ini gw berusaha untuk menjalani pola hidup sehat. Jaga makan, olahraga teratur, istirahat cukup, dll. Harapannya dengan menjaga kesehatan fisik, mental gw juga lebih terjaga. Jadi bipolar dan BPD gw bisa berangsur ikut membaik. :)

LORKU - Coming Soon!

 Coming Soon!


Halo guys, ya ampun udah lama banget ga update blog ini haha. Apa kabar kalian? Semoga baik-baik semua yah. Di post kali ini gw pengen bercerita mengenai sebuah brand yang sedang gw kembangkan bersama partner gw, Khomsin. Nama brandnya LORKU. Bisa di cek di instagram @lorku.kit dan @ketemushop

Jadi ceritanya, brand ini berawal dari perjalanan gw di Bali mengikuti program residensi seni dari Ketemu Project yang didukung oleh British Council. Selengkapnya bisa dibaca di post gw sebelumnya disini

Singkat cerita, Lorku sudah mau launching nih, bertepatan dengan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Pada intinya, tujuan Lorku dibentuk adalah untuk membantu meningkatkan kesejahteraan mental. Produknya adalah mental health kit yang berisi berbagai macam barang terkait kesehatan mental. Misalnya, jurnal kesehatan mental dan art journal.

Selama 1,5 tahun gw dan Khomsin mengembangkan produk ini mulai dari konsep, konten, desain, produksi, dll. Deg-degan sih mau launching haha. Kami sudah berusaha memberikan yang terbaik dan berdoa juga. Semoga bisa sukses dan lancar. Lorku berharap kontribusi kami untuk kesehatan mental dapat diterima baik oleh masyarakat.

Doakan kami ya guys! Jangan lupa untuk cek instagram @lorku.kit dan @ketemushop untuk melihat profil dan produk Lorku.

Sekian update kali ini, salam sehat jiwa. :)


Kunjungan mentor ke Jakarta, Matthew Leece.


Proses Mentoring mostly pake zoom karena beda kota. Jakarta, Solo, Bali, London haha.