by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Berbincang dengan Mama

 


Berbincang dengan Mama

Dalam salah satu sesi psikoterapi bersama psikiater, gw diajak untuk berbicara dengan kursi kosong yang seolah-olah ada mama duduk disana.

Gw yang saat itu sedang rindu-rindunya menyampaikan betapa gw ingin bertemu mama, ingin nyusul. Lalu psikiater gw meminta gw bertukar posisi. Jika gw jadi mama apa yang akan disampaikan ke gw. Mama mengatakan bahwa gw harus jalani hidup gw sebaik mungkin agar bisa bertemu lagi nanti jika sudah waktunya dan mama akan selalu ada di hati gw. Mama juga rindu gw.

Jawaban itu muncul begitu saja dari dalam diri gw sendiri yang dibuat seolah seperti jawaban mama. Tangis gw pecah.

Metode ini namanya Empty Chair Therapy.

Bagaimana jika gw melakukannya lagi? Gw akan menyampaikan ke mama betapa bangganya gw bisa bertahan selama 2 tahun tanpa mama. Menjalani hidup day by day, jatuh berkali-kali lalu tetap bangun, dan memperbaiki pola hidup. Mama akan menjawab betapa bangganya juga mama dengan gw, lalu meminta gw untuk tetap bertahan. Ini yang menjadi motivasi utama gw tetap menjalani hidup sebaik mungkin. Thanks ma, thanks Vindy :’)

25 November 2019 adalah hari kepergian mama. Lalu 2 tahun kemudian gw bisa tersenyum dan lebih damai. Mama sudah bahagia bersama Tuhan.