by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Aku dan Rollercoaster



Beberapa orang mengatakan rollercoaster itu menegangkan, menyeramkan, menakutkan. Beberapa mengatakan menantang, mengasyikkan, menyenangkan. Dan ya, aku merasakan itu semua, karena aku penumpang abadi rollercoaster.

Aku menikmati saat-saat keretaku naik perlahan menuju langit biru cerah. Kurasakan setiap sensasi disaat angin menghembus mukaku, menggetarkan tubuhku, dan meniup rambutku. Aku merasakan kenikmatan berada di ketinggian. Angin membawaku kedalam dunia khayal penuh impian dan inspirasi. Ide-ide muncul begitu saja. Optimisme dan masa depan cerah adalah kepastian. Angin benar-benar membawaku dalam kenikmatan. Tak menyadari bahwa keretaku sebentar lagi akan meluncur turun.

Lalu kini aku berada dalam titik terendah dalam jalur keretaku. Angin tak lagi membuatku merasa nikmat. Yang ada hanya rasa takut, tegang, dan seram disaat tubuhku menuruni jalur rollercoaster dengan keretaku. Dunia khayal, impian, dan inspirasi hilang begitu saja terbawa angan-angan. Kini aku penuh ketakutan. Tak ada tenaga untuk memulai kembali hidupku. Hanya bisa menunggu kereta membawaku naik.

Itulah hidupku. Naik turun bagaikan jalur rollercoaster. Penuh harapan yang hilang ditelan kegelapan. Kebahagiaan yang ditutupi kabut kelam. Aku hanya bisa berangan-angan, lalu jatuh terpuruk. Menunggu, lalu mulai berangan-angan dan kembali jatuh terpuruk. Aku tak tahu bagaimana rasanya hidup tenang yang sebenarnya. Kupikir menaiki rollercoaster adalah keinginan yang normal sebagai seorang manusia. Tapi ternyata aku tak pernah turun dari keretaku. Aku abadi didalamnya. Tak tahu kapan akan berakhir. Mungkin saja disaat aku memaksa meloncat dari keretaku. Hanya Tuhan yang tahu.