by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Laporan Acara Psikoedukasi Bipolar di Klinik Empati RSCM 2

Oke, sebenernya ini kedatangan ketiga gw di acara psikoedukasi dan terapi kelompok di RSCM. Tapi kehadiran yang kedua belum gw bahas disini. Jadi sekalian gw tuliskan saja disini sebagai kesatuan karena memang materinya nyambung. Oke ? : )

Pertemuan kali ini membahas antara pencetus, keyakinan, dan konsekuensi. Dalam kehidupan, kita seringkali mendapatkan keadaan yang membuat kita sedih, kecewa, resah, dan perasaan negatif lainnya. Keadaan itu yang disebut pencetus. Lalu keyakinan kita yang menentukan konsekuensi. Apakah kita akan berpikir positif atau negatif. Sebagai hasil keyakinan, konsekuensi yang kita terima bisa baik atau buruk sesuai keyakinan kita. Siklus itu akan selalu ada selama kita masih hidup. Jika digambarkan, seperti ini..


Sebagai contoh agar mudah dipahami, berikut gw ceritakan sebuah kasus. Misalnya, seorang dokter mengatakan bahwa anda menderita penyakit jantung. Tentunya perasaan anda menjadi tidak karuan bukan ? Lalu apa keyakinan yang anda percaya ? Anggaplah langsung terpikir bahwa kalau sakit jantung akan meninggal. Konsekuensi yang anda dapatkan adalah anda akan semakin resah, sedih, dan putus asa. Nah bagaimana jika keyakinan anda diubah.. Misalnya, kan anda bisa mencari second opinion ke dokter lain. Siapa tahu bukan sakit jantung. Atau kan sakit jantung masih bisa diobati. Konsekuensi yang anda dapat, anda merasa lebih tenang walaupun ternyata anda memang menderita penyakit jantung. Anda akan lebih bahagia dengan berpikir positif dan tetap optimis.

Sampai sini bisa dimengerti ? Jika sudah mengerti, berarti anda sudah mendapatkan pointnya. Intinya, pencetus adalah keadaan yang tidak terduga, diluar rencana, mengejutkan, membuat kita panik, serta tidak bisa dikendalikan. Lalu apakah anda akan diam saja ? Tidak kan.. Anda punya kendali untuk menentukan keyakinan anda. Apakah anda menanggapi pencetus dengan pikiran positif yang optimis atau pikiran negatif yang pesimis. Semua ditangan anda.. Lalu konsekuensi yang didapat, ya tergantung bagaimana keyakinan anda..

Tapi perlu diingat, kadang ada suatu keadaan dimana yang terjadi pada anda adalah takdir tuhan yang tidak dapat diubah. Tentunya tidak dapat diubah setelah berdoa dan berusaha. Untuk itulah manusia diminta banyak bersyukur dan bersabar.. Buatlah keyakinan bahwa takdir itu adalah yang terbaik untuk anda, sehingga konsekuensi yang anda dapat, anda bisa menerima takdir tersebut.

Lalu bagaimana hubungannya dengan kasus Bipolar dan Skizofrenia ? Pertama , untuk penderita Bipolar. Misalnya, pencetusnya adalah rasa resah karena amarah yang meluap. Buatlah keyakinan bahwa rasa ini juga bisa dirasakan orang normal lainnya. Ini adalah rasa yang wajar dan bisa dikendalikan. Lalu coba lakukan relaksasi atau kegiatan lain yang sekiranya bisa meredam amarah. Konsekuensi yang anda dapat, anda akan merasa lebih tenang. Lain halnya jika keyakinan yang anda percaya adalah bahwa rasa resah pasti muncul karena anda bipolar dan tidak bisa mengontrolnya. Konsekuensi yang anda dapat adalah anda semakin marah dengan keadaan dan rasa resah anda makin menjadi-jadi.. Kuncinya ada di keyakinan. Pencetus tidak bisa dikendalikan. Tetapi keyakinan dapat dikendalikan agar konsekuensi yang anda dapat adalah yang positif.

Bagi penderita skizofrenia, pencetus, keyakinan, dan konsekuensi dapat membantu proses berpikir yang tadinya abstrak menjadi lebih fokus pada apa pencetus, bagaimana keyakinan, dan konsekuensi sebagai hasil. Selebihnya sama seperti pada penderita bipolar.

Jadi, buatlah keyakinan-keyakinan yang positif dan optimis. Semoga kehidupan anda akan lebih baik walaupun sedang dalam kesulitan.

Itulah topik yang dibahas pada pertemuan kedua dan ketiga gw di RSCM. Semoga bermanfaat ya.. Jika ada yang ingin ditanyakan, silahkan dipost di comment. Insyaallah akan gw jawab sebisanya.. : )