by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Lagi-Lagi Overdosis Obat



Ini adalah kisah ketiga gw overdosis obat. Gw share disini bukan karena gw bangga. Tapi sebagai pengingat gw untuk tidak melakukannya lagi. Biarlah kenangan ini tersimpan di dalam blog saja. Tak perlu gw ingat-ingat di otak gw. Karena rasanya sungguhlah menyakitkan. So, here we go..

Minggu, 1 Januari 2012

Tak terasa satu tahun telah berlalu. Hari ini adalah hari pertama di tahun 2012. Semua terasa indah pada pergantian malam. Kembang api tetangga yang berkilauan di langit hitam pekat, kusaksikan dari balkon atas rumah bersama sepupu-sepupu, dengan hembusan angin yang bertiup sepoi-sepoi. Dalam hatiku, terbesit kebahagiaan akan datangnya harapan di tahun yang baru ini. Dalam pikiranku, melayang berbagai resolusi dan impian serta tujuan yang ingin kucapai di tahun 2012. Semua terasa indah. Tetapi karena mengantuk, kutinggalkan keindahan malam itu untuk pergi tidur.

Pagi aku bangun dengan damai dan penuh suka cita di hari baru ini. Karena libur dan tidak ada acara, aku menghabiskan waktu di rumah. Membaca, nonton TV, makan, bercengkerama bersama saudara-saudara, main games, dan internetan. Tak ada yang berbeda siang itu. Semua berlalu seperti hari lainnya.

Sore hari, entah kenapa aku merasa perasaanku tidak enak. Tiba-tiba saja dalam pikiranku terlintas untuk meminum obat banyak-banyak lagi. Saat itu aku masih ingat dengan memoriku saat dirawat 2 kali karena minum obat banyak-banyak. Jadi aku menahan keinginan itu dan mencoba mengalihkan perhatianku dengan mencari kegiatan. Bermain internet menjadi pilihanku.

Tapi tak lama, pikiran itu muncul lagi. Kali ini aku benar-benar ingin meminum obat banyak-banyak. Semakin aku ingat bahaya yang akan terjadi, semakin tinggi hasratku untuk meminum obat banyak-banyak. Aku tak mengerti bagaimana dan kenapa hal itu bisa terjadi. Tepat jam 11 malam, aku sudah benar-benar tidak tahan dan akhirnya aku menghampiri mama. Dengan nada ketus seperti orang kesetanan, aku meminta obat yang mama simpan untuk kuminum. Tentunya mama tidak memberikannya. Aku terus merengek-rengek minta diberikan obat. Papa pun turun tangan. Lama sekali kami bertengkar. Aku tak hentinya meminta obat yang mama simpan. Puncaknya, terjadi saat pergantian malam.

Senin, 2 Januari 2012

Keinginanku untuk minum obat banyak-banyak masih tak tertahankan. Kesal dengan larangan mama papa, aku nekat mengambil pisau di dapur dan mencoba mengancam mama dengan pisau. Papa langsung mencegah, memegangku erat-erat dan menarik pisau itu. Perebutan itu cukup hebat berlangsung. Jari tengah tangan kananku sampai berdarah-darah karenanya. Melihat tanganku berdarah seperti itu, aku tiba-tiba seperti tersentak sesuatu. Aku lebih tenang dan duduk di kursi. Aku menitikkan air mata sambil mengatakan aku ingin sembuh. Lalu mama papa membawaku ke UGD RSCM Kencana tempat biasa aku dirawat.

Sampai disana, aku disambut oleh seorang perawat pria yang pernah merawatku disaat aku resah dulu di tempat yang sama. Jadi kami sudah saling kenal. Dia masih ingat denganku. Aku diminta berbaring di salah satu bed disana. Walaupun fisikku sehat, tapi sebagai prosedur wajib, perawat itu memeriksa tensi, nadi, suhu, dan nafasku. Lalu kami ngobrol sebentar mengenai penyebab aku sampai dibawa kemari. Kuceritakan apa yang terjadi dan meminta plester untuk menutup luka di tanganku. Lalu ia menelepon dokter jaga UGD dan psikiaterku.

Tak lama datang seorang dokter pria menghampiriku. Dia adalah dokter penyakit dalam yang sedang tugas jaga malam itu. Dia datang menanyakan apa yang terjadi. Aku kembali menceritakan apa yang terjadi dengan singkat. Walaupun sudah kukatakan tidak ada keluhan fisik yang kurasakan, dia tetap memeriksaku dengan stetoskopnya untuk memastikan. Lalu ia mengatakan bahwa akan residen jaga psikiatri yang akan menemuiku. Aku diminta untuk menunggu.

Malam semakin larut, 2 orang residen psikiatri datang. Aku kembali harus bercerita apa yang terjadi. Capek juga lama-lama cerita diulang-ulang terus. -.-" Tapi ya mau tidak mau harus bercerita. Mereka memahami apa yang terjadi lalu menghubungi psikiaterku. Setelah itu mereka kembali menemuiku mengabarkan hasil diskusinya dengan psikiaterku. Kesimpulannya, aku harus dirawat karena keadaanku saat ini membahayakan diri sendiri dan orang lain. Jadilah pagi harinya aku dipindahkan ke ruang rawat inap. Pagi itu juga aku bertemu psikiaterku. Lagi-lagi aku bercerita apa yang terjadi. Aku sendiri lupa apa saja yang kita bicarakan saat itu. Pokoknya kami bertemu, lalu aku dipindahkan ke ruang rawat inap.

Malam hari, psikiaterku kembali menemuiku. Saat aku sudah lebih tenang. Katanya besok ada dokter pengganti yang akan visit karena psikiaterku akan keluar kota. Dan besok aku sudah boleh pulang. Lalu aku tidur.

Selasa, 3 Januari 2012

Siang hari ada psikiater pengganti yang mengunjungi untuk melihat kondisiku. Saat itu, entah kenapa aku tiba-tiba terpikir untuk meminum obat banyak-banyak lagi. Rasanya belum puas kalau belum terlampiaskan. Aku mengatakannya pada psikiater itu. Tadinya dia memintaku dirawat sehari lagi karena aku masih memiliki pemikiran aneh itu. Tapi ia lalu berubah pikiran. Ia mengizinkanku pulang, dengan memberiku tugas untuk membuat tulisan 'bahaya' berulang kali agar aku tidak melakukan tindakan membahayakan. Aku mengiyakan perintahnya, dan pulang.

Sampai rumah, hari sudah sore. Aku mencoba menuliskan kata bahaya berulang kali. Tapi selagi aku menulis kata-kata itu, malah semakin besar keinginanku untuk minum obat banyak-banyak. Aku benar-benar tak bisa menahannya. Akhirnya, jam 8 malam, aku keluar rumah dengan alasan pergi ke ATM. Padahal aku pergi ke apotek membeli 4 Asthma-Soho dan 1 CTM. Setelah itu aku mampir ke minimarket dan membeli minum. Disana juga aku menelan 16 butir Asthma-Soho dan 12 butir CTM. Aku puas. Perasaanku lebih baik. Lalu aku kembali ke rumah.

Dirumah aku masih bercanda-canda dengan mama dan adikku. Kami browsing internet bersama membuka sebuah situs yang lucu. Tertawa seakan tidak terjadi apa-apa. Lalu jam 10 malam aku berniat untuk tidur. Tapi efek obat mulai terasa. Jantungku berdebar kencang, kepalaku sakit, dan kakiku dingin sekali. Aku tidak bisa tidur. Aku coba nikmati rasa sakit itu dengan mendengarkan musik. Hari pun berganti..

Rabu, 4 Januari 2012

Sekitar jam 1 malam, perutku mual sekali dan akhirnya aku muntah. Tapi kulihat tidak ada obat keluar dari muntahanku itu. Artinya obat itu telah dicerna di ususku dan kandungannya mulai masuk darah. Jam 2 malam, aku mencoba menghitung nadiku sendiri. Tak kusangka, nadiku begitu cepat dan terasa sungguh mendebarkan, hasil hitungannya mencapai 160x/menit. Gila pikirku. Lalu aku menghubungi mama. Mama langsung menghampiri aku dan panik. Begitu pula dengan papa. Aku segera dibawa ke RS terdekat. Sesampainya di UGD, aku langsung diperiksa dokter jaga dan diberikan infus. 2 setengah jam aku disana, infus pun habis. Aku diijinkan pulang dan disuruh istirahat dirumah.

Pagi, siang, dan sore hari kuhabiskan dirumah. Nadiku masih berdenyut cepat sekali, jantungku berdebar-debar seperti mau copot, kakiku masih dingin, dan kepalaku juga masih sakit sekali. Aku hanya bisa berbaring sambil nonton TV. Tapi menjelang malam, aku benar-benar tidak tahan lagi. Lagipula aku juga ingin bicara dengan psikiater. Akhirnya aku meminta mama papa mengantarku ke RSCM.

Aku dibawa ke UGD RSCM lama yang hectic itu. Disana aku duduk di ruang triase setelah diperiksa tanda vitalnya. Lama sekali aku menunggu. Tidak ada dokter yang menangani karena disana ramai pasien. Akhirnya 2 orang residen psikiatri datang menemuiku. Kami berbicara di ruang konsultasi psikiatri, masih seputaran UGD. Aku kembali menceritakan apa yang terjadi dengan detail. Ditanya berbagai macam pertanyaan juga. Lalu mereka menghubungi psikiaterku. Hasilnya, psikiaterku meminta aku dirawat di bagian psikiatri. Selain karena di RSCM biasa ruangannya penuh, di RSCM Kencana susah untuk mendapatkan kamar jika masalahnya adalah psikiatri. Jadi aku diminta dirawat di departemen psikiatri. Sebelum pindah kesana, ada seorang residen ilmu penyakit dalam yang memeriksaku. Saat itu nadiku sudah turun menjadi 104x/menit, dan aku sudah minum ponstan untuk meredakan sakit kepala. Jadi aku tidak perlu diinfus lagi atau diberi tindakan lainnya.

Kamis, 5 Januari 2012

Pagi dini hari aku berbaring di sebuah tempat tidur pada kamar kelas I, ruang rawat psikiatri RSCM. Disebelah tempat tidurku ada tempat tidur lain yang diisi seorang ibu paruh baya. Ia hanya diam saja melihat kedatanganku. Memang penyakinya adalah skizofrenia paranoid tetapi ia memang cenderung diam, larut dalam halusinasinya. Dengan pasrah aku berusaha tidur karena aku benar-benar mengantuk. Mama dan papa pun pergi meninggalkan aku karena memang pasien yang dirawat dilarang untuk ditunggui. HP-ku juga disita agar aku benar-benar tidur. Tidak terganggu dengan HP.

Paginya aku bangun, mama datang membawakan aku coklat sebagai bingkisan karena hari ini adalah hari ulang tahun papa. Selagi mama memberikan coklat itu padaku, seorang pasien dari kamar lain ternyata mengintai. Lalu ia masuk, mengajak berkenalan, dan tanpa basa-basi, ia meminta coklat yang ada di genggamanku. Kuberikan coklat itu sebagian kepadanya karena ia tampak memaksa. Lalu perawat disana melihat kejadian itu dan mengusirnya keluar. Ternyata pasien itu menderita Bipolar I dan sedang dalam fase manik. Pantaslah kelakuannya seperti itu.

Tak lama, psikiaterku datang dan tampak kecewa dengan apa yang kulakukan. Kami membicarakan banyak hal. Ia menanyakan apa tujuanku melakukan tindakan bodoh ini. Kujawab, aku sendiri ingin merasakan sensasi disaat menikmati dan merasa puas saat minum obat banyak-banyak, menantang kematian, dan ingin mendapat perhatian dari orang sekitar. Aku juga bingung jika ditanya kenapa aku bisa melakukan ini. Aku hanya ingin sensasi itu, dan hasratku itu tidak bisa kukontrol. Pokoknya aku ingin merasakan puas dengan meminum obat banyak-banyak. Hal ini mirip dengan gangguan pengendalian impuls katanya. Begitulah kira-kira isi percakapan kami.

Tak banyak yang kulakukan hari itu karena aku mengantuk. Jadi aku hanya tidur saja untuk menghabiskan hari.

Jumat, 6 Januari 2012

Aku mulai berkeliling tempatku dirawat. Berkenalan dengan perawat, residen, dan pasien disana. Macam-macam pasien kutemui. Ada yang bipolar juga, skizofrenia, dan ada yang mengalami gangguan memori. Jadi dia berulang-ulang mengatakan hal yang sama, lupa dimana kamarnya, dimana kamar mandi, dan tidak tahu dimana ia berada sekarang. Menyedihkan rasanya melihat pasien itu. Ada juga yang hanya diam dengan tatapan kosong. Ada yang takut untuk tidur di kasur karena mendengar suara kalau di kasur itu ada jin dan merupakan kuburan. Ada juga yang tidak bisa merawat dirinya sehingga untuk makan, buang air, dll harus dibantu perawat. Ada pula yang tidak tahu diri, buang air kecil di lantai kamar mandi tanpa disiram, dan buang air besar di keset kamar mandi. Ya disanalah aku berada, diantara pasien-pasien itu. Mungkin aku terlihat paling normal diantara mereka. Saat itu aku memang sudah tenang. Tapi psikiaterku mengkhawatirkan hasrat itu muncul lagi sebelum ia merencanakan penanganan yang tepat. Jadi amannya ya dirawat saja.

Berat memang rasanya dirawat di bangsal khusus untuk orang yang mengalami ganguan jiwa. Aku juga sempat merasa down karena merasa separah inikah sakitku sehingga harus dirawat di tempat seperti ini.. Tapi aku terima saja karena aku yakin inilah yang terbaik untukku sementara ini..

Sorenya aku mulai resah dan ingin pulang. Untungnya psikiaterku datang. Ia tak bisa memulangkanku sekarang. Ia sudah berjanji dengan keluargaku untuk merancang jalan keluar dari masalah ini pada hari Minggu. Jadi sampai hari Minggu tiba aku tetap dirawat. Miris hatiku mendengar hal itu. Minggu rasanya lama sekali datang. Sedangkan aku sudah tidak betah. Mataku sudah berkaca-kaca. Disana tidak ada yang bisa kulakukan. TV di sana kebetulan sedang rusak. Jadi tak ada hiburan untukku. Hanya musik di ipodku saja yang cukup membantu. Psikiaterku mengerti akan hal itu, ia mengajakku bercerita berbagai macam topik dan berusaha membuatku nyaman disana. Ia meminjamkan 2 novel untuk kubaca. Well, aku merasa lebih nyaman setelah itu. Aku pun tertidur lelap.

Oh ya, sebelumnya juga aku diberi kuisioner berisi pertanyaan seputar keinginanku dan tindakan apa yang harus kulakukan jika 'serangan' itu muncul lagi. Sore itu kami membahasnya juga.

Sabtu, 7 Januari 2012

Aku bangun pukul 10 pagi, sarapan, minum obat, dan mandi. Lalu bergabung dengan pasien lain yang sedang duduk-duduk diluar kamar. Ternyata ada kekacauan yang tengah terjadi. Salah satu pasien meludahi barang-barang pasien lain dikamarnya. Pasien yang diludahi merasa marah dan meminta dipindah kamarnya. Ada juga pasien yang barang-barangnya diambil pasien lain. Hmmmh, seperti inilah bangsal psikiatri. Aku memakluminya. Sungguh aku kagum dengan dokter psikiatri dan perawat psikiatri yang bersedia bekerja melayani pasien-pasien yang susah dikontrol ini.. 

Tak banyak sih yang kulakukan hari ini. Aku membaca novel yang dipinjami dokterku. Lalu pasien yang manik menghampiriku. Mengajakku ngobrol. Ia bercerita dengan semangat tentang kisah cintanya yang entah nyata atau hanya dibuat-buat. Ia sudah memiliki suami, tapi ia bilang ia berselingkuh dengan psikiater yang merawatnya. Whatever lah, dalam hatiku. Aku hanya menjadi pendengar yang baik. Tak berani bicara apa-apa. Daripada salah ngomong..

Berhubung hari ini hari Sabtu, jadi tidak ada dokter visit. Jadi psikiaterku tidak datang. Untung aku tidak resah dan bisa bertahan. Malamnya aku berusaha tidur cepat. Tapi aku baru bisa tertidur jam 2 malam. Yasudahlah, yang penting hari ini bisa terlewati.

Minggu, 8 Januari 2012

Senang sekali aku hari ini, karena hari ini aku akan pulang. Jam setengah 11 psikiaterku datang. Kami bercerita sedikit. Tak lama keluargaku datang. Lengkap. Kami semua duduk bersama membicarakan rencana penangananku ke depan. Selain itu juga membicarakan harapan, kendala, dan masalah yang ada dalam keluargaku. Semua dibicarakan dengan terbuka. Aku merasa senang melihat semua ternyata peduli denganku. Aku harus bisa berjuang lebih keras untuk melawan keinginanku yang aneh itu. Setelah membicarakan itu semua, aku pun diperbolehkan pulang.

Begitulah kisahku di minggu pertama tahun 2012. Minggu yang kelam. Untuk pertama kalinya aku dirawat di bangsal psikiatri bersama pasien gangguan jiwa lainnya. Aku banyak belajar dari kejadian ini. Kejadian ini walaupun pahit telah mengajarkan aku banyak hal. Aku harus bisa berjuang lebih keras melawan keinginan anehku. Ternyata semua orang masih peduli denganku. Aku juga harus memberikan yang terbaik untuk mereka sebagai tanda terima kasihku. Kini pikiranku lebih terbuka. Semoga aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik di tahun 2012 ini. Thanks for reading, God bless you. : )