by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Overdosis Obat Lagi Untuk Yang Keempat Kalinya

Aaaah, benar-benar gw ini masih kacau. Gw overdosis obat lagi saudara-saudara.. Kali ini gw melakukannya karena ingin membuat mama menyesal. Tapi akhirnya malah gw yang lebih nyesel daripada mama. Begini ceritanya.. *pake aku ya ceritanya, gak gw*

Rabu, 1 Februari 2012

Pagi ini gw aku bangun dengan semangat karena akan bertemu psikiaterku sekalian menemani temanku yang juga ingin konsultasi ke psikiater yang sama. Jam 2 kami bertemu di Departemen Psikiatri RSCM. Cukup ramai disana karena para residen habis ada pertemuan ilmiah. Beberapa dari mereka menyapaku karena kenal denganku. Lalu aku memperkenalkan temanku ke psikiaterku. Kubiarkan mereka berdua berbicara. Aku menunggu diluar bersama teman yang lain. Setelah teman aku selesai konsultasi, giliran aku yang konsultasi singkat. Aku membicarakan koasku dan beberapa hal lainnya. Lalu aku diberikan resep obat. Aku meninggalkan RSCM.

Di perjalanan pulang, aku tiba-tiba merasa tidak enak. Entah apa yang jadi penyebabnya, tau-tau saja aku galau. Aku ingin jalan-jalan. Tapi tak ingin sendirian. Akhirnya aku hubungi mama untuk kuajak jalan-jalan. Kukatakan bahwa perasaanku sedang tidak enak dan butuh mama untuk menemaniku jalan-jalan. Tapi mama ternyata sedang lelah dan ingin menjemput adekku. Aku sangat kecewa. Aku lalu mengancamnya dengan mengatakan bahwa aku memegang resep obat sebanyak 40 butir. Tapi mama tampak tidak menggubrisnya. Aku tambah kesal dan kecewa. Aku sedang butuh mama. Aku galau dan aku ingin mama. Tapi mama tak ada disaat aku butuhkan. Lalu terpikir olehku untuk minum obat banyak-banyak untuk membuat mama menyesal.

Akhirnya aku pergi jalan sendirian dan mampir ke apotek untuk menebus resep dan membeli obat lain. Aku beli 14 tablet Cipralex ( obat anti-depresan yang diresepkan psikiaterku ) dan 16 tablet Neo-Napacin ( isinya sama dengan Asthma Soho yang pernah kuminum sebelumnya ). Aku pergi makan sambil menghubungi temanku yang ngekost. Aku tak ingin pulang ke rumah saat itu.

Di perjalanan menuju tempat kost temanku, aku menenggak semua obat yang kubeli dengan sebotol teh. Lalu aku puas. Dalam hatiku, seperti ada api yang ingin kubakarkan ke mama. Aku benci dengan mama karena alasan yang sepele.

Sesampainya di tempat kost, kami pergi makan. Setelah itu kami shisha disebuah kafe. Saat itu jantungku sudah berdegup kencang sekali dan keringat dingin. Sesaat sebelum pulang, aku mengatakan ke temanku bahwa aku sudah menenggak 30 butir obat. Temanku langsung membawaku ke UGD RSCM Kencana tempat kubiasa dirawat.

Di UGD aku diberi oksigen dan diukur tensi, hitung nadi, nafas, serta suhu. Tensiku mencapai 160/100 mmHg. Normalnya 120/80 mmHg. Nadiku mencapai 160 x/menit. Seperti mau meledak rasanya jantungku. Nafasku juga cepat. Dokter jaga langsung menghubungi residen jaga psikiatri.

Datanglah 2 orang dokter residen psikiatri yang baru kulihat. Seperti biasa mereka menanyakan apa yang terjadi dan membujukku agar dirawat di bangsal psikiatri lagi. Awalnya aku menolak. Sungguh tidak nyaman jika aku mengingat saat aku dirawat di bangsal psikiatri sebelumnya. Terutama suasana pasien psikotik ribut yang membuatku tak nyaman. Tapi katanya saat itu hanya ada 2 pasien di bangsal. Akhirnya setelah dibujuk aku mengiyakan permintaan mereka. Aku kembali ke bangsal psikiatri untuk ketiga kalinya dalam 2 bulan. 

Kamis, 2 Februari 2012

Aku terbaring lemah di ruang kelas I bangsal psikiatri. Kali ini aku sendiri di kamar. Bed sebelah kosong. Aku masuk ke bangsal ini subuh-subuh saat adzan berkumandang di udara. Aku masih berdebar-debar, keringat dingin, dan mual.  Sebelumnya aku memang muntah-muntah sampai 5 kali. Aku merasa lapar, tapi perutku perih sekali. Aku mencoba menyuap sesendok nasi goreng, menu sarapan dari rumah sakit. Ah, aku tak sanggup. Mengunyahnya saja berat rasanya. Akhirnya kumuntahkan sesuap nasi goreng itu dan kembali berbaring. Aku ingin tidur tapi tidak bisa. Akhirnya aku bengong-bengong saja sambil berbaring. Aku menyesal. Niatku membuat mama menyesal memang akhirnya kesampaian. Mama datang ke UGD sebelum aku dipindahkan ke bangsal dengan muka penyesalan. Tapi sekarang justru aku yang lebih menyesal kenapa aku bisa segitu kesalnya dengan mama dan meminum obat banyak-banyak lagi. Aku menyesal.

Tak lama, dokter residen yang sebelumnya merawatku datang. Ia kaget karena sehari sebelumnya saat aku mengantar temanku konsultasi kami bertemu dan aku dalam keadaan baik-baik saja. Tapi tau-tau aku sudah berada di bangsal psikiatri lagi sebagai pasien. Aku kembali dirawat oleh dokter itu. Aku menceritakan apa yang terjadi dengan singkat karena badanku masih dibawah pengaruh 30 butir obat yang kuminum.

Siangnya aku duduk diluar kamar sambil meringis kesakitan. Perutku rasanya panas sekali. Sebelumnya aku dipaksa makan oleh suster disana. Aku disuapi makan beberapa sendok nasi. Saat jadwalnya minum obat, aku menolaknya. Ada dua obat. Yang pertama obat sirup untuk lambungku. Kedua obat tablet untuk mood-ku. Aku mau meminum obat sirup. Tapi aku tak mau meminum obat tablet. Aku muak sekali melihat tablet. Aku ingat 30 obat yang kuminum. Aku benar-benar muak melihat obat kecil bulat berwarna putih itu. Muaaaak sekali.. Aku tak mau meminumnya.

Sorenya psikiaterku datang. Ia tampaknya bingung dengan apa yang kuperbuat. Dan menyesal karena telah memberikan resep kepadaku. Tapi semua sudah terjadi. Psikiaterku juga tak banyak menanyakan sesuatu. Ia tahu tubuhku masih tidak karuan. Lalu aku beristirahat.

Malamnya aku makan sedikit dan akhirnya setelah dibujuk-bujuk aku meminum obat itu. Lalu aku tidur.

Jumat, 3 Februari 2012

Tak banyak yang kulakukan hari ini. Hanya beristirahat tidur dari pagi sampai siang, ngobrol dengan dokter residen, lalu tidur lagi. Jantungku sudah hampir kembali normal. Perutku juga sudah tidak sakit. Keringat dingin sudah tidak ada. Aku masih hidup, pikirku.

Sabtu, 4 Februari 2012

Sama seperti hari sebelumnya, aku lebih banyak tidur. Aku berkenalan dengan 2 pasien lain yang dirawat di bangsal. Keduanya pasien skizofrenia. Yang satu memiliki waham dan halusinasi yang berhubungan dengan agama. Satu lagi memiliki waham dan halusinasi tentang mantan kekasihnya yang sudah menikah. Aku memang pendengar yang baik. Dalam keadaan seperti ini pun aku masih bisa mendengarkan curhatan salah satu dari mereka. Aku masih bisa memasang muka penuh pengertian dan memberi senyuman tulus. Mungkin ini modalku untuk melanjutkan pendidikanku menjadi psikiater. Hari ini tubuhku sudah pulih sempurna. Malamnya aku diantarkan 2 buku yang baru kubeli. Tapi aku mengantuk jadi aku hanya membacanya sekilas dan tidur. Tak ada visit dokter hari ini.

Minggu, 5 Februari 2012

Seharian aku membaca buku yang dibawakan. Buku itu adalah sebuah psikomemoar dari seorang penderita skizofrenia. Judulnya Gelombang Lautan Jiwa, penulisnya Anta Samsara. Kebetulan aku kenal dengan penulis buku itu. Tapi baru sempat baca bukunya sekarang. Buku itu sungguh menggugah hatiku. Dengan membaca buku itu, aku jadi sadar bahwa banyak penderita gangguan jiwa yang lebih parah dariku. Apalagi penderita skizofrenia. Aku dapat bayangkan bagaimana rasanya melawan halusinasi dan waham. Bagaimana tidak berdayanya ia dengan pikirannya sendiri. Aku dapat rasakan itu. Karena aku sendiri tidak berdaya dengan mood dan emosiku. Itulah bedanya skizofrenia dan bipolar. Kalau skizofrenia tidak berdaya dengan pikirannya, kalau bipolar tidak berdaya dengan mood dan emosinya. Buku itu membuatku lebih banyak bersyukur dan tidak mengeluh. Tak ada visit dokter hari ini.

Senin, 6 Februari 2012

Pagi ini hariku dimulai dari kabar duka. Seorang mahasiswa kampusku yang masih semester 4 tewas karena overdosis obat di sebuah hotel di Bogor. Ia menelan inex dan obat penenang dalam jumlah banyak. Mendengar hal itu aku merasa seperti ada batu yang menjatuhi kepalaku dan membuatku tersentak kaget. Aku tak ingin hidupku berakhir tragis seperti itu dan diliput berbagai media. Aku tak ingin overdosis obat lagi. Aku malu dengan diriku sendiri. Overdosis obat itu bahaya dan memalukan. Aku akan langsung menghubungi psikiaterku jika muncul keinginan untuk minum obat banyak-banyak lagi. Aku harus bisa mengontrol impuls itu. Selanjutnya aku kembali ngobrol dengan dokter residenku. Lalu psikiaterku datang. Kami membahas semacam jurnal harian yang di PR-kan padaku. Karena aku bosan dan ingin jalan-jalan, aku mengatakan keinginanku ini pada psikiaterku. Katanya besok aku boleh pergi jalan-jalan bersama mama setelah psikiaterku bicara dengan mama. Lalu malamnya kembali ke bangsal. Aku senang mendengarnya. Semoga saja jadi. Aku diizinkan pulang hari kamis. 3 hari lagi. Semoga waktu berlalu dengan cepat. Lalu aku ngobrol dengan suster disana. Ia menasehatiku untuk bisa menerima kekecewaan. Dari kekecewaan itulah kita tumbuh tegar dan lebih sabar. Benar juga kata suster itu. Aku kurang bisa menerima kekecewaan. Bahkan karena hal sepele saja emosiku bisa tersulut api.

Selasa, 7 Februari 2012

Aku bangun dengan perasaan gembira karena rencananya akan jalan-jalan. Aku ngobrol dengan dokter residenku. Hari sudah siang tapi tak ada tanda-tanda bahwa mama datang. Akhirnya aku hubungi mama. Ternyata hari ini psikiaterku ada acara dadakan dan tidak bisa menemui mama. Intinya, aku tidak jadi jalan-jalan. Ya sudah, aku terima keadaan itu dengan ikhlas. Lalu aku kembali menghubungi mama meminta untuk diantarkan baju. Aku sudah katakan tidak harus mama yang kesini. Cukup suruh tukang ojek langganan dekat rumah saja. Tapi mama mengatakan bahwa tukang ojeknya tidak bisa dihubungi. Jadi mama akan mengantarkan bajunya besok. Aku sedih mendengarnya. Aku sudah mengatakan bajuku sudah terpakai semua. Memang tukang ojek di dunia ini hanya satu.. Selain tukang ojek kan bisa dengan cara lain, suruh pembantu mungkin. Atau bagaimanalah caranya.. Aku sedih dan merasa mama benar-benar tidak peduli denganku. Hanya mengantarkan baju saja juga tidak bisa. Perasaanku jadi tidak enak. Aku langsung meminta dokter residenku menemani aku siang itu. Kami ngobrol lagi. Katanya, bagaimana bisa aku yang tadinya sayang dengan mama bisa tiba-tiba merasa mama tidak peduli dengan aku hanya dengan satu kejadian sepele. Aku kembali tersentak. Benar juga katanya. Aku tak ingat kebaikan mama selama 20 tahun aku hidup. Yang kulihat hanya buruknya mama dalam waktu 1 menit. Lalu dokterku kembali bertanya, apakah aku benar selalu melihat sisi hitam atau putihnya seseorang, tidak pernah menyadari adanya abu-abu diantaranya. Kurasa iya. Aku cenderung melihat seseorang itu baik atau buruk. Jadi walaupun orang itu tadinya baik, jika dia membuat kesalahan atau membuatku kecewa, aku anggap buruk, lalu bisa baik lagi. Hitam dan putih. Ternyata itu adalah salah satu ciri gangguan kepribadian ambang ( borderline personality disorder ). Selain hitam putih itu, ciri lainnya adalah impulsif, bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Wah itu aku banget. Tapi setelah didiskusikan dengan psikiaterku, aku tidak bisa dikatakan mengalami gangguan kepribadian ambang karena sebenarnya ciri yang muncul padaku itu dimulai saat aku mengalami bipolar. Sebelumnya aku tidak begitu. Sedangkan yang namanya gangguan kepribadian seharusnya memang sudah ada sejak kecil. Jadi aku mungkin hanya ciri kepribadian ambang. Tidak benar-benar mengalaminya. Malamnya aku menjadi pendengar yang baik untuk salah satu pasien skizofrenia di bangsal. Siang harinya pasien itu sempat ngamuk karena tidak diizinkan pulang dokternya. Tapi malamnya ia sudah tenang dan bercerita kepadaku tentang rumitnya kisah cinta ia dengan mantannya yang sudah menikah. Ia mengatakan bahwa dirinya bisa lebih tenang jika berada di dekat aku dan bercerita denganku. Syukurlah, aku masih bermanfaat untuk orang lain. Setelah menjadi teman curhat pasien lain, aku melanjutkan menulis buku tentang kisah aku dengan bipolar. Ide mengalir begiu saja. Aku tak merasa butuh tidur. Tapi akhirnya aku paksakan diriku untuk tidur pukul 2 dini hari.        

Rabu, 8 Februari 2012

Pagi ini aku bangun dan mandi dengan inisiatif sendiri. Biasanya suster-suster datang menghampiriku memaksaku bangun dan mandi. Lalu aku sarapan dan minum obat. Aku melanjutkan kembali naskah bukuku. Selama di bangsal sudah hampir 30 halaman kutulis. Sebuah kemajuan pesat. Maklum di bangsal tidak ada kerjaan. Dan entah kenapa ideku juga bisa mengalir begitu saja. Siangnya dokter residen yang merawatku kembali datang mengajak ngobrol sebentar. Lalu aku mencoba tidur siang karena mengantuk. Sorenya psikiaterku datang dan kami membicarakan tentang kepulangan esok hari. Aku juga ngobrol dengan pasien baru masuk yang juga menderita bipolar, tapi dengan gejala psikotik. Kami membicarakan penyakit masing-masing dan cara mengatasi gejolak mood. Kami juga mendengarkan musik bersama.

Malam harinya, saat aku sedang bersantai mendengarkan musik, kudengar suara gaduh dari kamar sebelah. Setelah kuintip, ternyata pasien yang baru saja aku kenal itu sedang mengamuk. Entah apa yang terjadi, sorenya ia baik-baik saja bersamaku. Tapi malam ini ia teriak-teriak menjelek-jelekkan rumah sakit dan mengejek perawat. Ia menendangi pintu, membanting kursi-kursi, memukuli meja, melempar gelas, dan tindakan agresif lainnya sambil mengomel keras-keras. Aku berdiam diri di kamar ketakutan. Ini pertama kalinya aku melihat pasien yang mengamuk sampai merusak barang sekitarnya. Untungnya tidak ada barang yang mudah pecah. Aku sungguh ketakutan. Jantungku berdegup kencang, aku dapat merasakannya. Aku takut ia datang menghampiri lalu melukaiku. Aku ingat saat aku pernah mengamuk dirumah dan memecahkan gelas. Aku ingat saat aku meminta obat kepada mama papa dengan membawa pisau sambil mengamuk. Rasa takut inikah yang mama papa rasakan saat aku mengamuk ? Kurasa iya. Apalagi yang mama papa lihat adalah anaknya sendiri, dengan benda berbahaya pula. Aku jadi kasihan mengingat mama papa. Aku mencoba berjanji pada diriku untuk tidak mengamuk dan melakukan hal aneh lagi. Aku mengerti bagaimana rasa takut mereka. Sama dengan rasa takutku melihat pasien itu mengamuk. Aku lalu mengabari dokter residenku yang kebetulan jaga untuk datang. Dua orang dokter dan empat perawat berusaha menenangkan pasien itu. Setelah hampir setengah jam mengamuk, akhirnya ia kembali ke tempat tidur dan kembali tenang. Malah aku yang masih ketakutan seakan sedang melihat malaikat maut mengambil nyawa seseorang. Aku minta dokter residenku menemani aku di kamar. Aku juga berpikir, bagaimana jika aku nanti menjadi psikiater ya.. Mungkin aku lama-lama akan terbiasa. Ini kan baru pertama kalinya aku melihat pasien mengamuk. Sebelumnya aku pernah sih melihat pasien ngamuk tapi tak separah ini. Dokter residenku mencoba menenangkan aku. Wajar jika aku takut seperti ini. Tapi melalui kejadian ini pikiranku jadi lebih terbuka. Ia kembali mengingatkan bahwa rasa takut seperti inilah yang dirasakan mama papa saat aku mengamuk. Aku lebih tenang setelah berbicara dengan dokter residen itu. Lalu aku mencoba tidur.

Kamis, 9 Februari 2012

Hari ini aku dijadwalkan pulang. Aku terbangun pukul 4 pagi dan tidak bisa tidur lagi. Akhirnya aku mendengarkan musik dan bermain games. Tak lama kemudian pasien yang semalam ngamuk itu datang menghampiriku dengan senyum. Dia sudah tenang. Kami kembali ngobrol-ngobrol dan mendengarkan musik bersama. Setelah itu pasien lainnya juga datang ke kamarku. Kami bertiga ngobrol menceritakan masalah masing-masing dan saling memberi dukungan. Pukul 7 aku mandi, lalu kembali menulis buku.

Siangnya, aku menerima BBM dari mama. Mama menanyakan apakah aku ada timbul rasa untuk bertobat kepada Allah dan meminta maaf kepada mama papa. Mama juga menanyakan apakah aku sudah bisa untuk tidak bermanja, tidak menyandra mama, dan mandiri. Kurasa aku memang ingin bertobat kembali kepada Allah karena aku pernah menyalahkan Allah atas semua cobaanku. Tapi untuk meminta maaf kepada orang tua, entah kenapa aku tidak ingin melakukannya. Memang selama ini aku merepotkan mama papa dengan segala tingkahku. Aku membuat mereka panik dan khawatir. Tapi itu semua kan kulakukan saat aku diluar kontrol. Aku tak bermaksud untuk merepotkan, membuat panik atau khawatir mereka. Keinginanku untuk minum obat agar mama menyesal mungkin karena ciri kepribadian ambang yang sudah kusebutkan sebelumnya. Aku saat itu menilai mama dengan warna hitam. Lupa dengan putihnya. Dahulu aku sungguh anak yang berbakti kepada orang tua. Walaupun kadang bertengkar, ya namanya juga anak remaja. Tapi kali ini aku merasa tidak bersalah. Tapi jika memang itu keinginan mama, aku akan meminta maaf. Mungkin aku memang bersalah karena tidak mengontrol emosi dan impulsku walaupun faktanya aku memang tidak berdaya untuk melawannya. Aku butuh pertolongan untuk mengontrolnya. Lalu masalah bermanja dengan mama, aku akan berusaha menguranginya walaupun aku sangat nyaman jika aku bermanja seperti anak kecil kepada mama. Tapi soal menyandra mama dan mandiri, aku tidak pernah bermaksud untuk menyandra mama. Aku memang butuh seseorang yang bisa ada di sampingku, mendukungku. Dan dukungan itu aku dapatkan dari mama. Mungkin kesannya aku jadi ketergantungan kepada mama sehingga mama menyebutnya menyandra. Entahlah, aku sedih sekali dengan pernyataan ini. Mungkin aku memang harus menyelesaikan masalahku sendiri tanpa dukungan siapapun.

Aku menyampaikan kesedihanku kepada dokter residenku. Kami berdiskusi sebentar lalu aku kembali ke kamar. Tapi rasa sedih itu masih belum juga hilang. Lalu aku mencoba menuliskan isi hatiku. Ini tulisannya..

Setelah membaca BBM dari mama, aku menjadi sedih. Apalagi dengan kata-kata menyandra yang mama sebutkan padaku. Aku sayang kepada mama dan papa. Aku ingin membuat mama papa bangga. Dalam gejolak mood karena bipolarku, aku berjuang untuk mencapai cita-citaku. Cita-cita yang kupersembahkan kepada mama papa. Aku ingat papa pernah berkata kepadaku bahwa aku harus bisa menyelesaikan kuliah kedokteranku. Dulu papa ingin menjadi dokter tapi tidak ada biaya. Sekarang aku ada biaya, jadi aku harus menyelesaikannya. Aku berusaha. Dalam keadaan depresi berat, aku pergi kekampus membawa mobil sendiri walaupun lambat. Kadang aku menyetir dengan linangan air mata. Aku merasa lelah sekali kuliah dan diskusi. Tapi kupaksakan diriku agar aku bisa mencapai cita-citaku. Aku ujian dalam keadaan depresi. Berusaha belajar dengan konsentrasi yang menurun. Aku berusaha keras. Aku memaksakan diriku untuk tetap bangun pagi dan berangkat ke kampus. Aku berjuang sampai akhirnya aku berhasil meraih gelar sarjana kedokteran. Kupersembahkan gelar itu untuk mama papa.

Tapi memang semua tidak berjalan mulus. Saat koas, muncul lagi keinginan untuk minum obat banyak-banyak. Seandainya aku bisa mengontrol diriku. Seandainya otakku bisa mengerem keinginan anehku itu. Seandainya aku bisa berpikir jernih seperti manusia normal lainnya. Hanya seandainya. Faktanya aku tak bisa mengontrol rasa itu. Aku berusaha keras untuk mencobanya. Aku mengalihkannya kepada berbagai hal. Tapi tidak berhasil. Aku tak pernah bermaksud mengancam mama papa dengan pisau untuk mendapatkan obat banyak-banyak. Sungguh itu seperti bukan diriku. Aku anak baik-baik. Tak pernah sebelumnya ada niat untuk melukai orang tua yang sudah merawatku selama 20 tahun. Aku sayang mama papa. Tapi penyakitku yang membuatku seperti itu. Benar-benar bukan diriku.

Aku juga tak pernah bermaksud menyandra mama. Sungguh aku tak pernah ingin membatasi mama bergaul atau melakukan aktivitas. Tapi keadaan lah yang membuat aku harus melakukan itu. Aku butuh dukungan dan support. Dan itu bisa kudapatkan dari mama. Aku terlalu takut untuk mengarungi dunia ini sendirian. Aku butuh mama. Tapi mama malah berpikir aku menyandra mama. Sungguh ma, aku juga ingin melihat mama bahagia. Aku tak ingin menyandra mama. Sedih sekali aku mendengar pernyataan bahwa selama ini aku menyandra mama. Sediiiiih sekali. Rasanya aku kecewa dengan diriku ini. Kecewa mengapa aku harus menderita penyakit seperti ini. Penyakit yang membuat aku seperti bukanlah diriku. Aku ingin mama bahagia. Aku berusaha melawan penyakitku. Tapi disaat tertentu aku tidak berdaya ma.. Aku tak ingin menyandera mama.

Aku juga ingin sembuh. Aku ingin sekali diriku yang dulu kembali. Diriku yang dengan semangat pergi kuliah kedokteran dari pagi sampai sore tanpa lelah. Diriku yang aktif organisasi dan bergaul dengan banyak orang. Diriku yang selalu tenang menghadapi masalah. Diriku yang tegar mendengar cerita mama tentang papa. Diriku yang menguatkan mama saat mama menangis di hadapanku menceritakan duka mama. Aku merindukan diriku itu. Tapi kini aku rapuh. Aku butuh mama disampingku. Aku butuh mama seperti saat dulu mama membutuhkan aku saat mama sedih. Saat mama curhat kepadaku dengan air mata berlinang. Tidakkah mama ingat bahwa dulu disaat mama sedih aku yang menghibur mama. Aku yang menemani mama cerita sampai larut malam, menghabiskan berlembar-lembar tissue untuk menghapus air mata mama. Mengajak mama jalan-jalan untuk memberi mama hiburan. Kini saat diriku rapuh, kemana mama pergi ? Mama memang ada di sampingku. Tapi mengapa menganggap aku menyandra mama.. Aku sedih sekali.. Kuharap mama mengerti..”

Perasaanku lebih lega setelah menuliskan itu. Aku menuliskannya dengan berlinang air mata. Akhirnya aku bisa menangis setelah sekian lama tidak bisa menangis lagi. Aku sampai bisa menangis saking sedihnya aku. Aku kembali memanggil dokter residenku. Dia mengerti benar bagaimana perasaanku dan mengatakan bahwa akan membicarakan hal ini kepada mama saat mama datang menjemputku sore nanti. Semoga mama bisa memahami.

Sore pun tiba. Mama, papa, dan adikku berbicara dengan psikiater serta dokter residenku. Setelah itu baru aku dipanggil untuk bergabung berdiskusi. Aku sampaikan apa saja yang sudah kupelajari selama dirawat. Memang kali ini adalah perawatanku yang terlama, sampai 8 hari. Tapi memang banyak pelajaran yang dapat kuambil. Mama terlihat senang dengan perubahan-perubahan pada diriku. Walaupun aku belum sepenuhnya bisa berubah, tapi aku sudah menunjukkan ada niat menuju kebaikan dan berteman dengan penyakitku. Ya, berteman dengan penyakitku. Bipolar 2, gangguan pengendalian impuls, dan ciri kepribadian ambang. Jika aku melawan, artinya aku seperti menolak takdir. Tapi dengan berteman, artinya aku bisa menerima penyakitku. Diharapkan aku juga bisa mengontrol ‘temanku’. Jangan kebalikannya. Semoga aku bisa. Aku akan berjuang. Setelah mengurus administrasi, akupun diperbolehkan pulang.

Sudah 3 kali aku dirawat di bangsal psikiatri. Semuanya hanya berselang waktu 1 minggu. Setelah perawatan terakhirku yang juga merupakan perawatanku paling lama yaitu 8 hari, aku merasa mendapat banyak pelajaran berharga.

Pertama, aku memang sakit. Tapi masih banyak orang diluar sana yang sakitnya lebih parah dari aku. Terutama yang mengalami psikotik seperti pasien skizofrenia. Aku tak bisa membayangkan bagaimana rasanya berada dalam dunia yang tak sesuai realita. Bagaimana rasanya larut dalam halusinasi dan waham tanpa ada daya untuk melawannya. Hanya obat dan doa harapan yang tersisa. Aku bersyukur aku tidak mengalami gejala psikotik.

Kedua, aku belajar untuk disiplin. Aku dibangunkan pagi-pagi lalu mandi, sarapan, dan minum obat. Setiap hari seperti itu di jam yang sama. Makan siang dan malam pun dilakukan pada jam yang sama. Semua terasa lebih teratur dan disiplin. Kerja obat pun lebih baik jika waktu meminumnya tepat. Berbeda dengan saat aku dirumah, saat libur aku bisa bangun tidur jam 10, tidak sarapan langsung minum obat. Malamnya juga tidak menentu jam minum obatnya. Kini aku sadar arti dan manfaat sebuah kedisiplinan.

Ketiga, aku belajar arti dari kebersamaan. Pada jam makan siang dan malam, aku makan diluar kamar bersama pasien lainnya. Kami sama-sama makan walaupun menu makanan untuk pasien kelas I dan kelas III berbeda. Tapi kami tetap makan bersama sambil sesekali bercerita mengungkapkan perasaan masing-masing dan memberi support. Aku ternyata tidak sendiri.

Keempat, aku jadi menghargai keberadaan keluarga. Saat dirawat, dokterku melarang keluarga menjengukku. Selama berhari-hari aku tidak bertemu mama papa dan adekku membuat aku lebih menghargai keberadaan mereka saat sudah keluar bangsal.

Kelima, aku belajar untuk bersabar. Setiap hari pastinya aku merasa ingin pulang. Tapi kenyataannya aku harus dirawat demi kebaikanku. Aku jadi bisa melatih kesabaranku. Biasanya apapun yang kumau bisa kudapatkan. Tapi kalau di bangsal tak semua yang kuinginkan bisa langsung didapatkan, termasuk untuk pulang.

Masih banyak pelajaran berharga lainnya seperti pelajaran yang dapat kuambil saat melihat pasien mengamuk. Walaupun bangsal ini dihuni oleh orang-orang yang dianggap negatif oleh kebanyakan masyarakat, tapi ternyata orang-orang itulah yang telah memberikan aku pelajaran. Aku jadi lebih bisa menghargai orang lain bagaimanapun kondisinya. Semoga keadaanku membaik dan tidak sampai dirawat di bangsal psikiatri lagi. Awalnya aku membenci bangsal psikiatri. Tapi setelah 8 hari disana saat aku dirawat terakhir kali, aku berubah pikiran. Bangsal psikiatri adalah tempat yang tepat untuk pasien gangguan jiwa. Memang rasanya seperti terkurung dan tidak bebas. Tapi itu semua demi kebaikan pasiennya. Tak ada dokter atau perawat yang ingin mencelakakan pasiennya. Semua pasti ingin yang terbaik bagi pasiennya. Terima kasih bangsal psikiatri..