by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Koas Jiwa

Sebagai seorang penderita gangguan jiwa bipolar dalam remisi yang harus koas stase jiwa itu sesuatu banget loh rasanya. Minggu pertama masuk, gw parno yang teramat sangat kalau tiba2 pas orientasi bangsal tiba2 ada pasien yang pernah dirawat bareng gw di RSCM nyamperin dan say hello. Hahaha. Untungnya gak ada. Lalu gw bertemu pembimbing yang baik hati dan ajaib. Thanks a lot dok atas bimbingannya selama 5 minggu koas di RSJSH. Beneran deh sesuatu banget apalagi pas sesi foto-foto di hari terakhir. 

Minggu kedua gw mulai sibuk dengan presentasi kasus pasien gw yang dihamili Tuhan Yesus, keluar sel telur disaat buang air kecil, dan terasa nafas bayi di perutnya. Selain itu, harus keliling bangsal untuk follow-up pasien. Yang paling seru adalah follow-up pasien bipolar juga yang lagi fase manik dengan ciri psikotik. Dia minta nomor rekening gw karena mau transfer duit 13 juta untuk bantu gw kuliah, yang mana adalah hanya waham dia semata bahwa dia kaya raya dan istri presiden SBY. 

Yang paling kasihan adalah pasien jaminan dinas sosial yang keadaanya menyedihkan sekali, gejala negatifnya dominan, dan keluarganya gak jelas. Bener-bener bisa bikin nangis kalau terlalu empati sampai akhirnya simpati sama pasien2 itu. Gak tegaa.. 

Yang membahagiakan, disaat setiap gw lewat, banyak pasien yang menyapa "Dokteer.. Selamat pagi.. Ngobrol yuuk.." atau "Dokter wajahnya cerah sekali hari ini.." atau "Wah dokter pasti bakal jadi dokter suskes.. Keliatan dari mukanya.." Mereka memang menderita gangguan jiwa seperti gw juga, tapi gw tahu hati mereka sebenernya tulus. *dan hati gw juga. hahaha* Semua membuat gw terharu. Pasien2 yang mengingat nama gw dan menanyakan saat gw belum muncul untuk wawancara dia juga bikin gw terharu.. 

Yang akan gw inget adalah ramalan dari salah satu pasien yang mengatakan bahwa nanti gw akan sukses walaupun mencapainya perlu proses yang nggak mudah ( bener banget gak siiih.. secara gw bipolar gituh.. ) dan nanti gw akan banyak rejeki dari suami jadi gw mesti sayang sama suami nanti. Itu gak akan gw lupakan. 

Oh ya, dan juga 3 orang temen sekelompok gw yang gw ceritain kalau gw bipolar dan akhirnya jadi 'berguru' ama gw. Love you all. 

Dan satu lagi, pasien-pasien pas yang dateng disaat gw jaga IGD. Satu pasien cuma ingin bicara dengan gw karena muka gw bercahaya dan gw muslim ( pasiennya fanatik agama gitu ). Satu lagi cuma ingin bicara dengan gw karena menurut dia gw adalah dokter yang 'bener', dokter jaganya 'gak bener'. Sebagai koas gw bener-bener nggak enak hati sama dokter jaga waktu itu.

Terakhir, ujian dengan dokter baik hati yang bilang status ujian gw bagus. Thanks a lot to psikiater gw yang udah bersedia memberikan tentir dan mengoreksi status ujian gw. Dan pasien gw yang pas ujian menceritakan semua keluhannya yang selama ini dia rahasiakan. Gw cuma ditanya apa hasil pemeriksaan wawancara dan malah gw yang disuruh tanya apa yang nggak ngerti ke penguji. Padahal gw pikir gw bakal dibantai. Nilai sih belum tahu. Yang penting *katanya sih* lulus, dan ujian sudah terlewati. Thanks a lot dokter..

Nggak menyangka gw bisa melewati 5 minggu tanpa hambatan berarti. Memang ada sedikit masalah dengan  "primary support group" alias keluarga di aksis IV. Tapi gw bisa bertahan. Alhamdulillah. Sekarang perasaan gw antara senang dan sedih. Senang karena bangga bisa melaluinya, sedih karena yah kok udahan ya stase jiwanya.. Hehe. Secara gw mencintai ilmu ini. Sekarang gw persiapan ngelanjutin rencana skripsi dan masuk stase berikutnya beberapa minggu lagi. Semoga kedepannya tetep lancar ya.. Wish me luck. Thanks. : )

Oh ya, hampir lupa. Tentang penderita gangguan jiwa, mungkin pada penderita gangguan jiwa yang mengalami waham, halusinasi, disorientasi, penurunan fungsi kognitif, dll, kami terlihat konyol dan menghibur dengan keanehan kami. Tapi sesungguhnya bukan keinginan kami untuk jadi seperti itu. Lihatlah kami sebagai manusia seutuhnya yang juga ciptaan Tuhan. Jangan remehkan kami seakan kami tidak lagi berguna karena gangguan yang kami alami. Benar2 tak ada satupun manusia yang ingin mengalami depresi, halusinasi, mood swing ekstrem, dll. Semua itu adalah campur tangan Tuhan. Mungkin kami memang punya masalah yang membuat kami rentan mengalami gangguan jiwa, tapi bukan berarti kami lemah. Belum tentu kalian yang normal bisa bertahan jika mengalami gangguan yang sama seperti kami. Jadi bijaklah dalam menilai kami. 

Gw akui gw memang geli saat mendengar waham-waham pasien gw, tapi gw mengerti. Di dalam hati mereka, mereka pasti tak ingin seperti itu. Mereka seperti itu karena penyebab yang kompleks yang sampai sekarang pun masih diteliti. Jadi jangan menjudge sembarangan. Dan gw tahu mereka semua ingin sembuh dan kembali ke keluarga masing2. Sayangnya mereka kadang tidak bisa mengurus diri sendiri atau mengontrol tindakannya ( misal  pasien halusinasi perintah yang mendengar suara yang menyuruh pasien untuk merusak barang ), keluarganya terpaksa membawa pasien ke RSJ karena membahayakan diri sendiri dan orang lain. Tapi gw tahu banget mereka sebenernya pengen bisa mengontrolnya dan hidup normal. Hanya caranya saja yang belum tepat atau obatnya belum adekuat. Semoga semua penderita gangguan jiwa di dunia ini bisa mendapat terapi yang tepat, dukungan yang kuat, serta diterima di masyarakat tanpa lagi ada stigma negatif, karena kami juga manusia. Amiiin. Oke ? Cheers.