by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Menjadi Aktivis Kesehatan Jiwa



Halo. Kali ini gw akan share pengalaman bagaimana gw akhirnya sampai menjadi aktivis bidang kesehatan jiwa dan apa yang terjadi pada diri gw sesudahnya. Tidak lengkap-lengkap amat sih karena bakal panjang banget itu hehe.

Gw didiagnosis bipolar oleh psikiater pada tahun 2009, saat gw kuliah semester 5. Saat itu dunia gw serasa runtuh. Ya bisa dibayangkan bagaimana gw pusing memikirkan nasib gw kedepan gimana, apa yang harus gw lakukan, bagaimana tanggapan teman dan keluarga, dan sebagainya. Diri gw berubah. Gejala-gejala depresi dan hipomanik datang bergantian mendominasi hidup gw.

Pada dasarnya, gw orangnya memang suka nulis dari kecil. Sejak mengalami gejala-gejala juga gw selalu tuliskan ke semacam jurnal harian. Apa yang terjadi hari itu dan bagaimana perasaan gw. Suatu hari gw kepikir ini tulisan sayang kalau ga ada yang baca, padahal beberapa isinya bisa bermanfaat untuk orang lain. Lalu terpikirlah untuk membuat blog. Terus gw mikir lagi, ini gw bikin blog isinya hal yang bisa dibilang private. Pengalaman-pengalaman, perasaan, isi hati. Apa gw siap untuk mengumbarnya, akhirnya gw memutuskan untuk membuat blognya anonim. Tidak menyebutkan identitas asli gw, Cuma nama “Inilah Diriku” aja. Jadilah gw mulai menulis blog dengan bebas tanpa khawatir orang tau apa yang sedang gw alami.

Niat awalnya memang sekedar share pengalaman aja, gw juga tidak membayangkan atau mengharapkan bisa menginspirasi banyak orang. Sebatas semoga bisa bermanfaat aja. Tapi ternyata, responnya diluar dugaan. Satu persatu muncul komentar di blog yang positif. Ada yang mengatakan ia mengalami hal yang sama, merasa tidak sendirian, menjadi semangat untuk terus berjuang, dan lainnya. Ya walaupun nggak selalu positif sih, ada juga komentar mengatakan “Dasar orang gila..!”

Melihat respon positif dari pembaca blog, gw jadi lebih semangat menulis. Dan mulai berpikir bagaimana gw bisa membantu mereka selain dari blog. Memang sudah jadi cita-cita gw dari kecil untuk bisa menolong sesama, makanya gw kuliah kedokteran. Mungkin sudah saatnya. Namun kendalanya, bagaimana ? Gw saat itu masih sendirian. Belum mengenal komunitas apapun. Akhirnya gw urungkan niat, gw hanya membantu lewat tulisan di blog saja. Walaupun besar sekali keinginan suatu hari nanti gw bisa mengenal ODB-ODB lain, berbagi kisah dan saling mendukung.

Lalu setelah mungkin kurang lebih 1,5 tahun berjuang sendirian, gw menemukan KPSI ( Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia ) di facebook. Menyimak isi diskusinya. Suatu waktu ada info acara psikoedukasi mengenai bipolar yang diselenggarakan RSCM. Gw pikir mungkin sudah saatnya gw memberanikan diri bertemu sesama ODB dan mendapat edukasi. Saat itu tahun 2011. Saat pertama bertemu ODB dan saling berbagi cerita di acara itu, gw bersyukur karena alhamdulillah ternyata masalah gw, gejala yang gw alami, bipolar gw, belum ada apa-apanya dibanding mereka. Yang gw temui saat itu mereka sudah lebih lama menderita bipolar, sampai waham, dirawat di RSJ, dll. Gw pulang dengan ilmu dan harapan baru. Selanjutnya gw datang lagi ke beberapa event KPSI seperti kopi darat dan melukis bersama. Disana gw mulai melihat berbagai problematika kehidupan seorang penderita gangguan jiwa. Mulai berpikir lagi apa yang bisa gw lakukan. Terpikir untuk membangun komunitas seperti KPSI tapi masalahnya gw masih sendirian. Ada sih beberapa teman KPSI yang bipolar juga tapi mereka tampaknya belum bisa diajak bikin komunitas khusus bipolar.
            
Dari tahun 2011 sampai awal tahun 2013 gw banyak belajar dari KPSI, beberapa kali gabung acara-acaranya. Lalu di bulan Mei 2013, terbentuk sebuah group khusus bipolar. Ada group whatsappnya juga. Gw gabung, berkenalan dengan foundernya dan member disana. Dalam hati gw bagus banget ini akhirnya ada orang yang mau membangun dan gw harap gw bisa kontribusi disana sesuai keinginan gw dari dulu. Namun ternyata karena satu dan lain hal, gw memutuskan keluar dari grup itu. Untungnya, ada 4 orang lainnya yang bersama dan sependapat dengan gw untuk membentuk komunitas baru. Jadilah Bipolar Care Indonesia. Gw menjadi satu dari 5 pendiri Bipolar Care Indonesia yang ( tanpa gw sangka ) berdiri dan berkembang sampai saat ini. Kira-kira begitu awal mulai bagaimana gw bisa menjadi pendiri BCI.
            
Bagaimana dengan ke-bipolar-an gw ? Di tahun-tahun awal sebelum BCI terbentuk, gw memang sedang kambuh-kambuhnya, heboh-hebohnya gejala muncul. Setelah BCI terbentuk, gw merasakan ada perubahan. Pertama, sekarang gw punya wadah untuk bisa berbagi kisah dan informasi khusus bipolar. Jadi nggak ngerasa sendirian lagi. Kedua, gw memiliki tanggung jawab untuk memajukan BCI sesuai impian gw dulu. Walaupun begitu, bukan berarti bipolar gw jadi sembuh. Belum.
            
Mungkin selama ini teman-teman melihat gw ( ini mungkin aja lo ya gw ga tau juga bener apa nggak ) bisa survive, mendirikan komunitas, stabil, jadi narasumber di acara-acara, cerita kisah hidup, dll. Padahal gw ya tetap seperti ODB lainnya. Konsultasi, minum obat, galau, sempet dirawat, pernah nyoba bunuh diri, dsb. Hanya saja gw tidak ingin berlarut dalam negatifnya, gw lebih fokus bagaimana membuat semuanya jadi hal yang positif. Tidak mudah memang. Sampai sekarang juga gw masih mengalami gejolak mood. Yang berbeda dibanding dulu adalah bagaimana gw menyikapi dan menghadapinya. Lama-lama bisa lebih bijak sehingga kalau muncul gejala gw bisa kelola. Masih bisa gw paksakan untuk tetap berfungsi. Gw pernah meeting dalam keadaan depresi atau mesti bercerita bagaimana gw bisa berjuang survive padahal dalam hati pengen bunuh diri. Semua itu gw alami.
            
Satu hal yang penting juga, gw pada akhirnya mesti berani. Yang tadinya gw bikin blog anonim karena masih ada kekhawatiran distigma dll, akhirnya gw cerita di media yang bisa dibaca di seluruh Indonesia bahwa gw mengalami gangguan jiwa. Itu bukan suatu hal yang mudah dan bisa dilakukan semua orang. Kenapa gw bisa nekat, prinsip gw hanya bahwa jika tidak ada seorangpun yang berani bicara, maka perubahan pun tidak akan terjadi. Bayangkan bagaimana orang akan peduli dengan kesehatan jiwa jika tidak ada yang menyuarakan isu tersebut. Gw gak peduli bagaimana teman-teman gw, keluarga, saudara-saudara dll akan melihat gw. Dalam hati gw niat gw berbagi adalah untuk kebaikan, gw yakin Tuhan bersama gw dan semesta akan mendukung kemana gw melangkah. Ternyata alhamdulillah banyak keajaiban-keajaiban serta bantuan yang gw temui.
            
Gw nggak pernah menyangka bisa membangun sebuah komunitas, apalagi kepikir bakal jadi narasumber di berbagai acara. Dari dulu impian gw sederhana kok, hanya ingin menolong orang. Lalu dari langkah-langkah kecil kini semakin besar dan mulai terlihat dampak positifnya. Gw syukuri semuanya.
            
Tantangan kedepan dan PR gw mashih banyak banget. Masalah kesehatan jiwa di Indonesia sangat kompleks. Perlu waktu panjang sekali untuk mengurainya. Ya gw harap kontribusi gw bisa bermanfaat. It’s ok menjadi seorang ODB, ga masalah masih suka galau-galau yang penting lakukan kebaikan sekecil apapun. Kalau dulu gejala bipolar mendominasi hidup gw, kini walaupun gejalanya masih ada, gw memilih untuk tidak membiarkan diri gw didominasi. Gw atur strategi untuk menghadapinya termasuk di dalamnya konsultasi, minum obat, terapi seni, dll. Sekian. *semoga bisa dimengerti ya hehe*