by Vindy Ariella. Diberdayakan oleh Blogger.

Jiwa Merdeka



Gw suka menulis, mengkonsep sesuatu, kalau kondisi bagus ide gw melimpah. Kadang malah kebanyakan sampai pusing sendiri. Ya bisa jadi itu kelebihan seorang bipolar. Dan kelebihan itu gw manfaatkan menjadi sebuah karya.

Dalam rangka memperingati Hari Bipolar Sedunia, Bipolar Care Indonesia mengadakan acara perayaan. Acara pertama udah gw bahas di http://www.tentangbipolar.com/2017/03/so-proud-of-myself.html nah kali ini gw akan bahas acara kedua yaitu Talkshow dan Art Performance.


Dalam talkshow, BCI menghadirkan dr. Hervita Diatri, Sp.KJ(K) psikiater dari RSCM ( yang juga merupakan dokter gw, beliau psikiater terbaik yang pernah gw temui ), Mas Anto Sg ( yang juga gw kenal di awal gw didiagnosa bipolar dan dia memberikan banyak motivasi ), dan Paramitha Rusady ( yang sejujurnya gw ga kenal-kenal amat karena artis beda era haha, tapi dia cantik sekali dan hebat bisa menjaga nama baik serta reputasinya sebagai diva ).


Panca Atis - Prof Hans Pols - Igi Oktamiasih - Paramitha Rusady - Anto Sg - dr. Vita - Ade Binarko


Ruang Graha Utama Gedung A Kemendikbud

Tahun ini kursi ada 350an dan sepertinya terisi penuh. Penonton antusias sekali menyimak talkshow dan memang narasumbernya keren sekali. Materinya bagus dan sharing kisahnya inspiratif. So far laporan yang masuk ke gw, pada bilang keren. Nah yang nggak kalah keren adalah penampilan teaterikal dari temen-temen ODB berjudul "Jiwa Merdeka".

Berawal dari ide gw untuk bikin performance mengenai Vincent Van Gogh ( yang sangat menginspirasi gw ). Disambut oleh 2 orang aktor dari Teater Popouler asuhan Slamet Raharjo, yaitu Kiki Narendra dan Eduwart Manalu.
 

Meeting Pertama

Mas Kiki ( baju putih ) ini adalah putra dari almarhum dr. Pandu Setiawan, Sp.KJ, seorang psikiater yang dedikasinya terhadap dunia kesehatan jiwa di Indonesia sangatlah tinggi. Beliau juga seorang kepala keluarga yang baik, gw kenal ( walaupun ga deket-deket banget sih ) dengan 2 putranya, keluarganya seru sekali. Sangat bisa menerima perbedaan dan tetap kompak. Kini dr. Pandu sudah tenang bersama Tuhan, meninggalkan kita semua karena sakit komplikasi. :'(

Nah Mas Kiki dan Bang Edo ini katanya sih sepaket gitu suka ngasih training2 dan jadi konseptor untuk performance di event-event gitu, selain bermain di teater popouler. Senang sekali mereka bersedia membantu performance untuk acara bipolar day 2017 ini

Meeting pertama bicara tentang ide mengenai Vincent van Gogh, lalu mereka langsung punya gambaran performnya bakal kaya apa. Setelah disepakati, akhirnya dipilihlah 4 orang orang dengan bipolar ( ODB ) yang akan menulis puisi dan membacakannya, dengan narasi dari Mas Kiki, dibalut konsep visual dll dari Bang Edo.  4 performer tersebut adalah gw, Egga, Hana Madness, dan Dini. Plus 1 pemain biola yaitu Rifki.

Kita berempat mulai menulis puisi masing-masing sesuai segmen yang disusun berdasarkan kisah hidup van gogh, yaitu masa kecil, saat mulai berbeda, memulai perjuangan, dan setelah ia meninggal. Bagian gw adalah saat kecil atau saat-saat bahagia. 

Ini adalah tantangan banget buat gw. Hidup gw dulu itu, mau senang atau sedih gw cenderung datar. Ga ekspresif, jaim, minder, pemalu. So, standart bahagia yang diharapkan Mas Kiki dan Bang Edo itu jauh dibawah standar paling bahagianya gw dulu. Tapi gpp, gw berusaha mengingat dan mensyukuri segala kebahagiaan gw dahulu dan jadilah puisi gw.


Latihan Pertama, Baca Naskah


Full Team Performer
Bang Edo, Gw, Mas Kiki, Hana, Egga, Dini, Rifki

Kami memulai latihan di sanggarnya teater populer. Bedah naskah masing-masing, mencoba menjiwai. Diajarkan olah nafas, olah tubuh, bangun koneksi, dll. Ternyata seru juga ya. Ini pengalaman pertama gw di dunia teater beneran. Tahun lalu gw juga ikut perform di bipolar day 2016, tapi saat itu konsepnya baca narasi lalu sisanya melukis, nah gw kan udah biasa melukis jadi masih di zona aman gw. Kali ini gw belajar something new. Dan asik !


Latihan lagi : ) 


Teteap aja kan gw jaim, ga bisa ekspresif berpose. Liat aja gw gitu doang haha

Selanjutnya, kami mulai latihan lebih serius. Mempelajari intonasi, penekanan di kata mana, cara menyampaikan emosi kita ke penonton, dsb. Peran gw adalah membawa suasana yang bahagia, playful, ceria, masa kecil yang menyenangkan, yang mana semua itu adalah hal yang jarang gw tampakkan lol. Gw itu orangnya cenderung serius, ya kadang lucu tapi basically itu buat mencairkan aja. Banyak orang mengatakan gw jutek, pendiam. Bahkan waktu kecil itu orang mendekati gw aja udah takut duluan. Lalu gw harus menjadi seorang periang.

Prosesnya memang ga mudah, gw dibantu untuk memvisualisasikan hal-hal yang membuat gw bahagia, menghadirkan kembali rasa itu untuk menjadi energi yang gw sampaikan ke penonton. Gw dengerin lagu upbeat termasuk Happy-nya Pharrel William berulang-ulang untuk membangun mood happy. I'll do my best.

Teman-teman performer lain juga pada akhirnya belajar untuk memaknai puisi yang ia tulis. Misalnya Dini yang mendapat bagian saat Van Gogh meninggal dan kisahnya menjadi inspirasi banyak orang, Dini harus release the pain, menerima keadaan. Padahal kadang sebagai seorang ODB masih suka diselimuti amarah. So kita semua belajar dari puisi masing-masing. Ini ga cuma berakting sesuai peran, tapi kita sendiri yang menulis puisi, kita yang membacakannya. Mungkin ini yang dimaksud dengan psikodrama. Semua hal tersebut dibimbing dengan sangat baik oleh Mas Kiki dan Bang Edo.

3 latihan, 1x gladiresik, dan show must go on. Apapun yang akan terjadi hajar ! Di belakang panggung ya sejujurnya kami nervous. Kata Mas Kiki kalau ga nervous malah ga wajar, karena kita ini kan manusia. Gw pas tampil juga gemeteran :"D

Gw nggak tau ya apakah gw berhasil membawa keceriaan dengan maksimal, kalau kata beberapa orang yang gw tanya menurut mereka berhasil. Menurut gw juga berhasil, mengingat gw tau banget diri gw sebenarnya itu ga ceria. Menurut Bang Edo yang ngeliat dari meja operator laptop berhasil. So, ya anggaplah berhasil haha.

Egga, Hana, dan Dini juga menurut gw bagus2, lebih maksimal dibanding pas latihan. Semoga penonton puas ya. : )


Mas Kiki


Me


Hana


Rifki


Dini


Egga

So, ternyata selain ilmu teater, dari performance ini juga gw mendapat ilmu kehidupan. Gw belajar bagaimana kebahagiaan itu bisa kita ciptakan dari rasa syukur, membayangkan hal yang menyenangkan, mengingat memori yang indah, dan banyak lainnya. Bahagian tidak melulu sesuai standart tinggi dari materi, kesuksesan, keberhasilan ini itu, apalagi kesempurnaan. Bahagia itu sederhana. Gw belajar untuk menjadi bahagia. Setiap kali gw merasa mood gw mulai turun, mungkin sekarang gw bisa berusaha menciptakan kebahagiaan gw sendiri. Gw bisa kok bahagian saat perform, itu artinya gw juga bisa bahagia dalam hidup gw. Pembelajaran berharga dari pengalaman perform kali ini. Thanks Mas Kiki dan Bang Edo yang sudah membimbing gw dan teman-teman. Tampaknya mereka juga puas dengan penampilan dari kami ODB remahan peyek yang ingin belajar dan terus maju. Dari daun kemangi pecel lele menjadi lelenya yang merekah ( ini jokes Mas Kiki yang ga tau kenapa kocak banget, gw improve ).


Jiwa-Jiwa Merdeka bersama penonton yang berbahagia. : )


Tak lupa gw ucapkan terima kasih dan acungan jempol buat panitia yang bekerja luar biasa, serta volunteer2 yang berdedikasi. Proud of you all !